aku menyerah

1404 Kata
Hujan turun membasahi bumi dengan deras pada malam hari. jalanan yang tadinya di lewatin banyak orang mendadak sepi. pedagang kaki lima juga banyak yang tutup lebih awal. jika orang-orang akan memilih untuk berteduh menghindari hujan, berbeda dengan seorang lelaki yang berjalan dengan pelan di bawah guyuran hujan. di malam yang dingin itu ia berjalan tanpa mempedulikan tubuhnya yang basah. pandangan lelaki itu kosong, wajahnya penuh menahan kepedihan. alfie berjalan dan sesekali menendang kerikil di depannya, ia menghentikan langkahnya sembari menatap genangan air di tanah. " apa? berharap apa lo? " " hahaha jangan kepedean lo, dasar penyakitan. kenapa gak mati aja sih!!!," ia tersenyum getir." merepotkan raka! pantas saja lo gak ada orang tua! gue benci sama lo alfie! mati aja sana biar tenang gue!! " lelaki itu menangis dalam diam. merasakan rasa sakit yang luar biasa . tubuhnya sudah di gerogoti oleh berbagai macam masalah. sebuah rasa sakit yang tak kunjung bisa di sembuhkan. lelaki itu menangis begitu menyedihkan di bawah hujan, ia seolah mengeluh dan melampiaskan rasa sakit yang terpendam di hatinya. tidak ada yang mendengar suaranya, karna jeritan lelaki itu terbawa angin dan tenggelam di derasnya hujan. hal itu lah yang membuat alfie begitu menyukai hujan. di sela-sela tangisannya , tangan alfie reflek menyentuh dadanya saat merasakan nyeri luar biasa menyerangnya. ia menggigit bibirnya kuat menahan rasa sakit itu. " ss-sakit " cowok itu memaksa diri untuk berjalan dengan langkah gontai. walaupun sesekali harus berhenti karna kelelahan, alfie tetap menguatkan diri untuk segera pulang. ia bisa saja berteduh sejenak di bawah bangunan, namun ia tidak ingin melakukan itu karna yang alfie inginkan hanyalah rumahnya. alfie tau kalau ia sampai berteduh sebentar saja, sudah di pastikan dia pasti akan langsung pingsan. alfie berhenti dan mulai mengatur nafasnya yang mulai tidak terkontrol. lelaki itu batuk beberapa kali sehingga membuat dadanya semakin nyeri. wajahnya merah padam menahan segalanya, mata lelaki itu terus berlinang. alfie memejamkan matanya dan mendongak ke atas membiarkan hujan turun tepat mengenai wajahnya. kaki dan tangannya bergetar, alfie tidak tahan lagi. ia serasa ingin mati detik itu juga. perlahan mata cowok itu terbuka dan menatap rintikan hujan bersamaan dengan air matanya yang kembali menetes. " TUHANNNN!!! " " SAKITT TUHAN!! " " KENAPA ENGKAU TIDAK MENGAMBIL KU WAKTU MASIH BAYI?!! " " KENAPA ENGKAU MEMBIARKANKU TERSIKSA LEBIH DARI DELAPAN BELAS TAHUN?!!." raungnya frustasi " ARGHHHH!!!." " hikkss.. aku capek!," lirih alfie bergetar. ia terduduk dengan rapuh , tanganya beberapa kali memukul kepalanya merasa lelah. alfie mengangkat wajahnya dan memandang lurus kedepan. wajahnya pucat pasi, bahkan bibirnya berubah warna, tampak seperti manusia paling menyedihkan di bumi. suara hujan seakan mendukung isakan dari seorang lelaki yang sedang meratapi penderitaannya. " jika bunuh diri bukanlah sebuah dosa, aku pasti sudah lama membunuh diriku sendiri." cowok itu perlahan berdiri dan kembali melangkah walaupun sedikit kesulitan. alfie akhirnya tiba juga di depan kosnya setelah menempuh waktu yang lebih lama. dengan langkah gontai ia melangkah ke depan pintu dan mengetuknya beberapa kali. " iyaaaa tungguin! " sahut raka dari dalam. ckrek raka yang baru membuka pintu sontak membulatkan matanya setelah melihat pemandangan mengerikan di depannya. alfie benar-benar berantakan sekarang, kenapa? padahal cowok itu tadinya sangat ceria setelah bertemu dengan karin. " al " panggil raka bergetar tetapi alfie tidak menggubrisnya. lelaki itu berjalan pelan melewati raka dan berhenti di ruang tamu. raka masih menatap punggung bergetar itu dari belakang. mata raka mulai memanas, ia ingin mendekat tetapi ragu karna alfie seperti tidak ingin di dekati. " raka " panggil alfie lirih " y--ya? " alfie memutar kepalanya kebelakang." gue mau mati ka " " gila lo! " " gu--gue capek." lelaki itu terdiam, perlahan mata alfie mulai tertutup dan tak lama cowok itu terjatuh ke lantai. " ALFIEE!! " teriak raka melengking, cowok itu dengan segera menghampiri alfie dan menepuk-nepuk pipinya. " alfie komohon bangun buka matamu," sungguh raka sangat ketakutan saat ini. " alfie? " masih juga tidak ada sahutan " alfieee!! " panggil raka frustasi. dengan sekuat tenaga ia mengangkat tubuh alfie dan membawanya ke kamar. walau saat ini raka sangat shock dan ketakutan tetapi ia tetap menormalkan perasaannya untuk membantu alfie. setelah tubuh alfie terbaring di kasur, raka dengan segera melepas pakaian cowok itu dan menggantinya dengan pakaian hangat. waktu sudah berjalan cukup lama namun tidak ada tanda tanda akan kebangunan alfie. kedua mata raka tidak lepas melihat perut alfie, memastikan perut cowok itu masih bergerak atau tidak. tangan raka tidak hanya diam, ia terus mengusap tangan dan kaki alfie agar memeberi kehangatan. di samping lelaki itu juga ada nampan berisi air dan obat-obatan untuk alfie. " alfie," panggilnya bergetar " alfie bangun," masih dengan suara bergetar, raka tersenyum hambar. " jangan buat gue nangis plis," sebisa mungkin raka menahan air matanya agar tidak tumpah. raka memijat pangkal hidungnya dan memejamkan matanya. suasana kamar itu sunyi, tidak ada suara yang terdengar kecuali deru nafas alfie . " ra--ka " raka yang lagi terpejam terkejut mendengar suara halus nan lirih itu. ia membuka kedua matanya dan melihat alfie sedang menatap ke arahnya. alfie seperti berusaha bangun dari tidurnya dan bersandar ke dinding. kedua mata raka membesar, senang melihat sahabatnya telah siuman. tapi tunggu, cowok itu terbatuk hebat , di tambah wajahnya penuh dengan keringat. " al?.....gue akan bantu lo," tawar raka mencoba membantu alfie dengan menepuk punggungnya. " uhukkkk....." raka masih setia membantu alfie walau jantungnya sudah berdetak tak karuan. " uhuukkkk....... Uhuukkk!! " mata raka membulat lebar, jantungnya nyaris copot dari dadanya. tepat pada batuk terakhir tadi, mulut alfie mengeluarkan darah. telapak tangan alfie hampir penuh dengan cairan kental berwarna merah itu. alfie batuk darah, dan hal itu adalah sesuatu hal yang tidak ingin raka lihat. alfie menoleh menatap raka, ia tidak dapat lagi membendung air matanya. " raka gue mau nyerah " " sakit ka " tangis raka akhirnya pecah, ia sudah merasakan hal yang tidak enak sejak tadi. jadi ia hanya menggeleng tidak setuju dengan ucapan alfie. " jangan katakan itu al " " lo harus minum obat." sambungnya sambil menyodorkan obat dan segelas air. alfie yang melihat itu sontak tersenyum tipis dan segera meminum obat pemberian raka. jika bukan karna dipaksa raka, pastinya alfie tidak akan pernah mau menyentuh obat itu. " gue mau nyerah ka," lirih alfie menatap lurus kedepan sehingga raka bisa melihat wajah menyedihkan itu dari samping. " dunia gak adil, gue capek " " alfie lo--" " gue menderita raka! " sela alfie dengan suara meninggi memandang wajah raka. raka bungkam, tentu saja ia bisa melihat penderitaan yang di rasakan oleh sahabatnya itu. alfie menunduk dan menangis dengan sejadi-jadinya, bahkan ia menepis kasar tangan raka yang mencoba menenangkannya. " alfie tenanglah " " hikssss...... ahhaha... hikss " . walau sudah berusaha menghentikan tangisannya, namun isakan terus keluar dari mulutnya . di tambah air matanya mengalir dengan deras tanpa di minta. alfie capek, alfie ingin bebas, alfie menderita. ia sakit yang tidak bisa lagi di sembuhkan. jangan lupakan bahwa ia menderita kanker hati stadium 4, dimana kankernya sudah menyebar ke seluruh organ. " ALFIE!!," tegas raka berhasil membuat alfie teridam dan menatapnya. raka memalingkan wajahnya sebentar karna tidak tega melihat wajah menyedihkan alfie. raka menarik nafas panjang sebelum ia berkata . " jangan merasa paling menderita, karna dunia adalah realita, dan yang merasakannya bukan kamu aja ". " hikksss... lo gak mengerti, ka." tangis alfie kembali pecah. kenapa orang-orang tidak mengerti dengan keadaannya?. " gue capek ka, seumur hidup harus meminum obat, di tambah tubuh gue perlahan serasa mau mati aja. lo gak paham dan gak akan pernah paham! " " tapi pikirkanlah karin! " alfie membisu, oh iya kenapa dia melupakan si cantik hatinya? bukan kah itu menjadi penyemangat hidup alfie. seseorang yang membuat semangat hidup alfie berkobar-kobar. seseorang yang mencuri hati alfie, dan seseorang yang bisa membuat alfie tersenyum bahagia di tengah penderitaannya. alfie menyeka air matanya asal, ia menjadi lebih hidup hanya dengan mendengar nama karin saja. alfie terdiam sejenak membiarkan ruangan itu sunyi dengan keheningan. begitu juga dengan raka yang terdiam sambil tertunduk. " karin," panggil alfie sendu, membuat mata raka yang tadinya tertunduk naik menatap lelaki itu. " aku akan hidupmu untukmu " " aku akan bertahan selama dua bulan ini." alfie terdiam, jari jemarinya bergerak seperti menghitung sesuatu. " tersisa 79 hari lagi rin, akan ku gunakan waktu itu untuk mencintaimu." satu butir air mata berhasil lolos di pipi alfie namun secepat kilat cowok itu menghapusnya. mendengar itu raka pun tersenyum tipis walau kata-kata alfie tadi seperti batu besar yang menghantam dadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN