Pagi ini karin bangun dengan wajah yang lesu. semalam gadis itu baru di marahin habis-habisan oleh ibunya, karna perkara dekat dengan alfie doang. padahal karin sudah mengatakan bahwa dia dan alfie tidak memiliki hubungan apa-apa dan hanya sebatas teman saja. tetapi ibunya tetap kukuh dan terus memarahi karin.
bukan itu saja, waktu ia di marahin oleh rose, amel malah menonton adegan itu dan ikut mengompori rose agar semakin benci dengan karin. amel mengatakan bahwa karin suka bergonta-ganti cowok dan menjadi perempuan nakal. gila, padahal karin bukanlah wanita seperti itu.
jadi semalaman karin tidak bisa tidur karna memikirkan perasaan alfie yang di perlakuan tidak sopan oleh ibunya. ia tidak enak melihat alfie yang terlalu baik padanya malah mendapatkan perlakuan tidak baik oleh ibunya. jadi karin memutuskan setelah pulang sekolah nanti ia akan langsung meminta maaf pada alfie.
sesudah mengenakan seragam dan sepatu, karin mulai melangkah menuju pintu. namun ia terhenti sebelum tangannya meraih gagang pintu tersebut . karin terdiam sejenak memikirkan apa yang akan terjadi nantinya di sekolah.
ia takut, ia sudah absen selama seminggu karna takut dengan perkataan fanny kemarin. ia bisa menebak kalau seisi sekolah pasti akan kembali membullynya. sesaat tangannya bergetar, namun secepat kilat ia menahannya. ia menarik nafas dalam-dalam dan mulai membuka pintu.
" semangat lah karin," gumamnya menyemangati diri dan berjalan turun.
karin yang awalnya mengira akan melihat keluarganya di ruang makan meleset jauh karna ia tidak melihat siapapun di sana. kakinya melangkah ke dapur dan berkeliling mencari seseorang.
" dimana mereka? "
" apa jangan-jangan udah pergi ya? " tanyanya sendiri
Karin sedikit terkejut ketika mendengar suara dari pintu belakang. ia berjalan pelan ke sumber suara dan melihat bi asa yang baru saja kembali dari menyirami tanaman.
sebuah senyuman terbit di wajah karin melihat keberadaan bi asa. ia tadinya sempat takut karna mengira semua orang pergi meninggalkannya sendiri.
" loh non karin udah mau sekolah? " tanya bi asa cemas.
karin tersenyum dan mengangguk." iya bi, kalau kelamaan libur nanti ketinggalan "
" owalah iya juga, non karin sarapan dulu ya, bibi tadi ada buatkan sandwich enak," tawar bi asa sembari menuju wastafel untuk mencuci tangganya. setelah itu ia menuntun karin duduk di kursi makan.
dengan cekatan bi asa menyiapkan makanan ke piring dan memberikannya pada karin. ia bahkan duduk di samping karin untuk menemani gadis itu makan.
" makasih bi," ucap karin tulus dan mulai mengigit sandwich itu. sementara bi asa terus memperhatikannya dan sesekali menyingkirkan anak rambut karin ke telinga.
" bi yang lain mana? "
" mereka semua udah pergi dari tadi non "
" ohh pantas sepi ya "
" seperti hatiku hehe," gurau karin terkekeh, namun bi asa bisa melihat kejujuran dari kata katanya tadi.
setelah menghabiskan makanannya hingga tak tersisa, karin segera meminum air dan langsung berdiri. tangannya mengambil tas yang ia taruh di kursi samping dan berjalan keluar.
" bi aku pergi ya," pamit karin sembari menyalami bi asa.
" hati hati non,"
karin tersenyum dan mengangguk kecil , ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke pagar. tetapi, sebelum gadis itu keluar ia menyempatkan diri untuk berbalik dan melambaikan tangan pada bi asa.
bi asa yang melihat itu tentu saja membalas lambaian karin dan tersenyum, ia merasa lucu dengan gadis muda di depannya itu. pandangannya terus melihat ke arah karin yang berjalan semakin jauh darinya.
bi asa semakin iba, karna sekarang karin berangkat sekolah sendirian. padahal sekolah karin lumayan jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki.
tidak ada lagi dion yang datang menjemputnya, tidak ada lagi senyuman yang di berikan lelaki itu pada karin.
biarlah semua itu, bi asa selalu yakin karin pasti akan mendapatkan kebahagiaannya.
setelah menempuh waktu yang jauh akhirnya karin tiba di sekolahnya. ia bernafas lega karna saat kakinya masuk ke halaman, bel sekolah pun berbunyi, jadi itu artinya karin tepat waktu.
karin menguatkan dirinya ketika berjalan melewati siswa dan siswi lain. mereka semua menatap karin dengan tatapan tajam seolah karin adalah orang paling berdosa di sini.
banyak dari mereka yang mencela dan melempari karin dengan krikil. tetapi karin tetap membalas mereka dengan senyuman yang tulus.
tepat saat gadis itu mau masuk ke dalam kelas , ia terhenti saat mendengar suara wakil kepala sekolah memanggilnya dan berjalan menghampirinya.
" ada apa bu? " tanya karin
" kamu ikut saya menemui kepala sekolah," jawabnya ketus tidak ada ramah ramahnya.
alis karin berkerut, menemui kepala sekolah? apa kesalahannya hingga di panggil?. bahkan karin baru saja masuk sekolah hari ini.
karin mengikuti langkah bu riri dengan pelan, sesekali ia berlari kecil karna langkah wanita itu yang panjang.
" cepat!! jangan lambat!," bentak bu riri
" maaf bu," lirih karin dan berusaha menyusul langkah wanita itu.
sesampainya mereka di depan ruang kepala sekolah, bu riri langsung meraih tangan karin dan membawa paksa gadis itu masuk. sedangkan karin meringis karna genggaman tangan bu riri sangat kuat dan kasar.
tibanya di dalam , karin bisa melihat kepala sekolah yang sudah menunggunya dengan tatapan tajam. bukan itu saja, ada amel dan dion juga di sana. ada apa ini? karin tidak mengerti.
" duduk kamu! " perintah pak kepala sekolah
karin mengangguk dan duduk di depan pak haris. wajahnya terus menunduk karna tak kuat dengan tatapan menyeramkan yang di berikan oleh mereka semua, termasuk dion.
" saya sebenarnya mau keluarin kamu dari sekolah ini karin! " ucap pak haris yang membuat jantung karin berdetak dengan kencang.
perlahan ia mendongak menatap pak haris dengan tatapan bertanya-tanya.
" tapi karna amel melarang saya, jadi saya tetap membiarkan mu disini," lanjutnya
" a-apa maksud bapak?," tanya karin terbata
pak haris semakin menatapnya tajam." tidak usah berpura-pura karin! saya sudah dengar penjelasan dari dion dan amel kalau kamu mau membunuh amel waktu itu! "
DEGG
seolah ada batu besar menghantam dadanya, kenapa semua orang percaya dengan omong kosong itu. mereka bahkan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
mata karin mulai memanas, ia menoleh menatap dion yang memalingkan wajahnya dari karin. dan di sebelah lelaki itu ada amel yang berpura-pura menangis.
" hikss pak... sudah biarin aja, walau bagaimana pun karin kakak saya, jadi jangan hukum dia," lirih amel terisak.
" mulia sekali hatimu nak," puji kepala sekolah menatap amel dengan lembut.
karin melihat gadis itu dengan tatapan sendu dan tatapan tidak percaya. sebutir cairan bening tumpah mengenai pipinya namun secepat kilat karin menghapusnya.
" pergi kamu! " usir pak haris
" i-iya pak, sekali lagi makasih," balas karin lembut dan pergi dari sana. ia tidak membantah, toh juga tidak ada yang akan percaya padanya.
karin berjalan menuju kelasnya dengan tatapan kosong, ini semua sudah berlebihan. fitnah dari amel sudah berjalan sangat jauh, ia harus menelan cap sebagai seorang gadis yang hampir melakukan pembunuhan.
" dasar pembunuh huuu!! "
" mampus, keluar aja lo! "
" busuk banget sumpah, hati lo terbuat dari apa sih sampai iri kek gitu?! "
" perempuan busuk!! "
karin tidak menggubris mereka dan tetap berjalan dengan menunduk. hingga ia terhenti saat ada seseorang yang menghalangi jalannya. karin mendongak dan melihat vanya mantan sahabatnya itu berdiri dengan tatapan mengejek.
" lo penjahat rin! "
" ini semua tidak seperti itu," elak karin
" hahaha mana ada maling ngaku." gadis itu berjalan mengelilingi karin kemudian...
BRUKK
" ahhhkk," karin meringis saat vanya menendang betisnya dengan kuat hingga membuat bunyi yang cukup nyaring.
tangannya tak henti mengelus betisnya dan menahan rasa sakit yang luar biasa. wajah karin memerah, matanya berkaca-kaca ingin menangis namun ia tahan semua itu
" ehh lo! "
" arghhh!!... le--paskan," mohon karin berusaha melepaskan tangan vanya dari rambutnya. Vanya menarik rambutnya dengan sangat kuat. karin bahkan bisa merasakan kulit kepalanya hampir mau lepas.
tidak ada satupun yang ikut membantu, semuanya ikut tertawa dan bersorak dengan kejadian itu. bahkan guru - guru yang lewat di sana hanya diam saja dan tidak menggubris hal itu.
karin pasrah, jika memang rambutnya akan rontok nanti ia akan ikhlas menerimanya. air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi, cairan bening itu meluncur tanpa permisi membasahi pipinya.
" hentikan!! " teriak seorang lelaki , membuat vanya melepaskan tangannya dari rambut karin.
karin mendongak dan melihat seorang lelaki yang sangat ia rindukan. ia tersenyum lebar meski matanya masih mengeluarkan cairan bening. ia yakin dion pasti akan membelanya.
namun senyum di wajah karin luntur ketika dion maju mendekatinya dan menyiramnya dengan air mineral yang ia bawa.
" gadis jahat pantas mendapatkannya! " cela dion di sela-sela siramannya.
karin hanya bisa menutup matanya merasakan rambut dan bajunya yang mulai basah. hatinya remuk, kenapa dion harus ikut ikutan mencelanya. perubahan cowok itu membuat luka karin kembali terbuka, luka yang sedikit sembuh di hatinya kini terasa kembali. bahkan lebih pedih dari sebelumnya.
" SIALANN!!, JALANG!!, BIADAB!! "
semua mata serentak menoleh ke arah seorang gadis yang berdiri dengan amarah yang menggebu-gebu. rahang gadis itu mengeras dan tangannya terkepal kuat.
melihat itu, karin pun tersenyum dan tangisannya semakin pecah, akhirnya sang sahabat datang juga. ia sangat membutuhkan fanny saat ini.
" VANYAAA!! " teriak fanny berjalan mendekati gadis itu dan.
PLAKKK
suasana seketika hening. suara tamparan itu terdengar sangat nyaring.
tidak sampai di situ, fanny juga menjambak rambut gadis itu dan menariknya dengan sangat kuat.
" UDAH GUE BILANGIN JAUHIN KARIN ANJINGG!! "
" LO b***k HA?!! ".vanya tidak menjawab, gadis itu merintih kesakitan karna jambakan fanny .
fanny melepaskan jambakanya dengan kasar dan melihat satu persatu siswa yang ada di sini.
" PERGI DARI SINI!!," teriaknya melengking, membuat semuanya pergi kecuali dion.
fanny membantu karin berdiri, kemudian ia menatap dion dengan tatapan membunuh. wajah fanny bergetar karna saking marahnya
" lo salah dion "
" lo memang gak pantas untuk karin," tegas fanny menununjuk wajah cowok itu.
" dia yang tidak pantas untuk gue!! " murka dion menunjuk karin. ia mundur selangkah dan tersenyum miring.
" gue udah punya seseorang yang lebih pantas," perkataan cowok itu berhasil membuat mata karin mendongak ke arahnya.
" gue udah pacaran sama amel, dia gadis yang baik dan layak mendapatkan cintaku," ungkap dion membuat karin menutup mulutnya dan semakin menangis.
" aku cinta sama kamu dion, aku masih cinta. percayalah sama aku! " lirih gadis itu menyedihkan.
" cihhh jijik gue," hina dion sembari membuang ludah ke samping.
tentu saja hal itu membuat amarah fanny semakin menggebu, ia menarik nafas panjang dan mulai melangkah membawa karin pergi. tetapi, ia berhenti dan berbalik ke arah dion.
" lo akan menyesal dion, menyesal karna melukai hati karin dan melepaskan cintanya,"
" sungguh saat ini karin masih mencintaimu, tapi lihat saja nanti jika cintanya telah berlabuh dan kebenarannya terungkap...." fanny menjeda ucapannya sejenak dan menyeka air matanya.
" lo akan sangat menyesal dion gue jamin itu." setelah mengatakan itu ia pergi meninggalkan dion yang mematung melihat kepergian mereka.