UKS

1622 Kata
Setelah pergi dari drama pagi tadi, fanny tidak membawa karin ke kelas melainkan ke UKS. ia ingin memastikan gadis itu baik -baik saja setelah perundungan tadi. fanny tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ia telat sedetik saja . dengan hati-hati fanny mendudukkan karin di ranjang, setelah itu ia membuka seragam karin bermaksud mau mengeringkannya. karna baju karin tidak terlalu basah jadi mengeringkannya hanya membutuhkan waktu sebentar. fanny mengangkat kaki karin ke atas pahanya dan perlahan memijatnya. ia tidak tau apa yang terjadi, tetapi saat melihat karin yang berjalan ke susahan, ia bisa menebak jika kaki gadis itu sedang tidak baik-baik saja. sementara di satu sisi mata karin tidak lepas pada sahabatnya itu. ia terharu memiliki sahabat sebaik fanny, Satu-satunya orang yang tidak pergi dari kehidupannya karna kebusukan amel. sejenak karin mengingat masa dimana ia dulu sangat di sanjung dan memiliki banyak teman. seorang vanya dulunya sangat mengagumi karin. mereka bertiga adalah sahabat yang sangat dekat dan selalu pergi kemana-mana. tetapi semua itu berubah hanya karna satu orang, kenapa semua orang lebih percaya pada mulut seseorang yang baru mereka temui?. tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipinya. gadis itu tidak sadar karna pikirannya masih terbang terbawa kenangan lama. fanny yang tidak mendengar apapun dari karin menoleh ke arah gadis itu, ia sempat terkejut melihat pipi karin telah dibanjiri dengan air mata. perlahan tangan fanny terangkat dan menyeka cairan bening itu , hal itu membuat karin tersadar dan buru-buru menyeka air matanya. " ada apa rin?," tanya fanny lembut karin menggeleng pelan." gak, hanya mengingat masa sebelum semuanya seperti ini," mendengar itu fanny pun menghela nafas panjang. memang benar apa kata karin, kalau dulu semuanya terasa lebih indah. tidak ada karin yang termenung seperti ini, yang ada hanya karin yang selalu tersenyum dan ceria. ingin rasanya fanny membebaskan karin dari jerat semua ini. ia ingin melaporkan ayah tiri karin pada pengadilan, tetapi fanny tidak memiliki uang sebanyak itu untuk menuntutnya. karna pastinya ayah tiri karin akan menyewa pengacara terbaik. fanny bisa saja meminta uang pada ayahnya, terapi ia tidak ingin merepotkan keluarganya itu. tidak mungkin kan fanny meminta uang dengan jumlah yang sangat besar untuk hal ini. pernah terlintas di pikiran fanny untuk membawa karin kabur dan tinggal di kota lain. tetapi lagi-lagi ia menepis pikiran itu karna tidak mungkin ia membawa kabur anak orang. " lo seharusnya melawan rin kalau di rundung." saran fanny " gue bisa apa fan? gue sendirian, sedangkan yang membela mereka satu sekolah ini," jawab karin frustasi " tapi kalau lo diam mereka akan semakin menjadi-jadi," karin tertunduk." kan ada lo," lirihnya nyaris tak terdengar. " memang benar, tapi kita tidak tau seperti apa kedepannya." " jangan tinggalin gue ya fan! "pinta karin, terlihat raut ketakutan dari wajahnya. fanny mengangguk dan mengenggam jari jemari karin." gue akan selalu ada untukmu " jawaban fanny membuat senyum di wajah karin terbit, rasa takut yang bermunculan di hatinya tadi sirna begitu saja. mereka terdiam sejenak dan berada dalam kesunyian. karin dan fanny termenung dan berperang dengan batin masing-masing. hingga karin teringat akan satu hal. " sebentar lo temanin gue ya " " temanin kemana? " tanya fanny berkerut alis " gue mau minta maaf sama alfie? " alfie?." fanny semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan karin. karin mengangguk." alfie adalah cowok yang gue temuin seminggu yang lalu " " seorang lelaki yang begitu baik pada ku fan, lelaki yang memiliki senyuman manis," jelas karin sembari memandang atap membayangkan sosok alfie. sedangkan fanny yang melihat gelagat karin bisa menyimpulkan bahwa lelaki yang di ceritakan gadis itu pasti luar biasa. ya, karna karin tidak pernah memuji cowok lain termasuk dion. " cieeee ada yang fall ini love nih," ledek fanny tersenyum menggoda. " ihh gak gitu," elak karin kesal, padahal fanny bisa melihat rona merah dari pipinya. " heheh maaf, iya deh gue temanin," wajah kesal karin berubah menjadi senyuman tulus dan menghambur memeluk fanny." makasih beb," " iya," jawab fanny seraya membalas pelukan karin. *** fanny tetap setia berada di samping karin saat keduanya berjalan menuju kelas. suasana disekolah menjadi sedikit hening, mungkin karna jam pembelajaran telah di mulai. tetapi kedua gadis itu bisa mendengar suara bising dari kelas mereka. padahal jarak keduanya sedikit lebih jauh. apa kelas itu tidak belajar? kenpa bising sekali? seperti itulah pikir keduanya. " fanny lo masuk duluan aja," kata karin tepat setelah mereka sampai di samping kelas. " loh kenapa rin? " tanya fanny tidak mengerti " gak papa, gue mau ikat tali sepatu sebentar," jawabnya lembut, sebenarnya itu hanya alasan saja agar fanny tidak menjadi pusat perhatian ketika ia masuk nanti. karin yakin semua mata pasti akan tertuju padanya, sebuah tatapan tajam dan menusuk. makanya karin tidak ingin fanny juga kena imbasnya, jadi ia beralasan dan kebetulan sekali tali sepatunya lepas. " gak papa nih? " tanya fanny ragu " iya, sana masuk cepat! " desaknya mendorong tubuh fanny. fanny yang di paksa begitu hanya bisa menurut dan masuk sesuai perintah karin. tidak ada perubahan saat gadis itu masuk, karin masih bisa mendengar suara bising dari balik tembok ini. sejenak ia terdiam dan perlahan mendongak menatap langit. wajahnya yang sendu itu di terpa oleh angin, gadis itu menutup matanya dan tersenyum tipis sambil menikmati hembusan angin. setelah merasa cukup, akhirnya karin memberanikan diri untuk masuk. dengan langkah yang berat ia menginjakkan kakinya ke dalam kelas. saat karin memasuki kelas, tiba-tiba kelas yang tadinya berisik seperti di pasar seketika hening. semua mata tertuju pada gadis itu, termasuk sang guru yang juga menatapnya dengan tatapan tidak enak. fitnah tentang karin yang akan membunuh amel telah menyebar luas di sekolah. " uhhh gue pikir dia di penjara " " gue sih berharapnya dia di rumah sakit," " kalau gue kiranya di mati " " kenapa lo gak mati aja sih!! " hati karin terasa seperti di cabik-cabik. dengan kaki yang bergetar ia berjalan ke bangku paling belakang dan duduk di sana. " udah kalian jangan ejek dia lagi, gue aja udah memaafkannya," lontar amel dengan wajah selembut mungkin. namun hal itu malah semakin memicu kemarahan mereka pada karin. bahkan mereka tidak segan-segan melempar kertas dan menendang kursi karin. " adik lo baik banget sumpah! tapi lo busuk! " " jijik gue lihat dia " " lebih jijik lagi dulunya gue temanan sama dia," ucapan mereka membuat mental karin semakin jatuh, gadis itu hanya bisa tertunduk dan mengenggam erat jarinya. di satu sisi fanny ingin membantah mereka semua tetapi ia mengurungkan niatnya saat karin menggeleng pelan padanya. " SUDAHH DIAMM!!," tegas sang guru sehingga kelas yang bising itu hening pada detik itu juga. " ayo lanjutkan belajarnya," sambungnya dan kembali menerangkan pembelajaran di papan tulis. tiga puluh menit telah berlalu, bertepatan dengan selesainya para siswa mencatat contoh soal. saat ini kelas mereka sedang belajar fisika, sebuah pembelajaran yang kebanyakan di benci siswa kecuali karin. " baik, ada yang bisa menjawab," tanya sang guru setelah menulis satu soal yang sulit di papan. hening. tidak ada yang bersuara hingga pandangan mereka tertuju pada bangku belakang. " saya buk! " tunjuk karin mengangkat tangannya. karin sangat bersemangat akan menjawab soal itu, karna ia dengan mudah bisa mengetahui jawabannya. namun lagi lagi harapannya pupus saat sang guru menolak dan menunjuk amel. " saya gak mau kamu! amel aja " walaupun begitu karin tetap memasang wajah penuh senyumannya dan tidak kecewa sama sekali. ia fokus memperhatikan amel yang mengerjakan soal tersebut dengan waktu yang lama, padahal karin bisa mengerjakannya dengan cepat . " bagus, pandai sekali kamu," puji sang guru kepada amel, begitu juga dengan siswa yang lain. saat jam istirahat di mulai, karin dan fanny berencana akan makan di kantin.tapi, suasana kantin yang penuh membuat karin menjadi tidak nyaman. ya, karna dia pasti akan menjadi pusat perhatian. saat sedang memilih meja yang kosong karin tidak sengaja melihat dion dan amel yang lagi duduk berdua. mereka bahkan saling menyuapi dan tersenyum satu sama lain. sungguh itu adalah pemandangan romantis yang di berikan dion pada amel. lagi dan lagi setetes cairan bening tumpah mengenai wajahnya. melihat orang yang begitu ia cintai bersama saudara tiri yang memfitnahnya. sungguh karin ingin berteriak dan mengatakan kalau dunia ini tidak adil. karin dengan cepat menghapus air matanya dan masih menatap ke arah dua insan itu. hal itu bertepatan dengan dion yang menoleh ke arahnya, sejenak mereka bertatapan cukup lama hingga dion berkata dengan keras. " dengarin semua! " teriaknya membuat suasana bising itu hening dan semua mata tertuju padanya. " gue udah pacaran sama amel, gadis yang baik dan lembut, bukan seperti mantanku itu! " sindir dion melirik ke arah karin. tidak puas sampai di situ dion mendekatkan kepalanya pada amel dan memegang kedua pipi gadis itu. perlahan kepalanya semakin mendekat dan... cup sebuah ciuman mendarat tepat di bibir amel membuat suasana disana semakin riuh dan penuh sorakan. lelaki itu kembali melirik karin dan tersenyum miring, tangannya tanpa henti mengelus pipi amel. ingin rasanya karin berteriak dan menangis sejadi-jadinya. namun ia tahan semua itu walau matanya sudah memanas. kenapa? kenapa dion sengaja melakukan itu? kenapa cinta lelaki itu begitu dangkal padanya?. fanny yang merasa kesal sekaligus emosi langsung menarik tangan karin keluar dari kantin dan pergi dari para manusia bodoh itu. demi apapun dia akan membalas dion dengan membuat karin mencintai lelaki lain. dan di saat itu terjadi fanny akan tertawa puas penuh kemenangan kepada cowok itu. karna fanny yakin bahwa dion masih mencintai karin, hanya saja ia terhasut oleh tipu daya setan alias amel. fanny ingin melihat siapa yang akan merasa paling kehilangan saat itu terjadi , karin atau dion? tentu saja fanny bisa menebak kalau dion lah yang paling menderita nantinya. karna berlabuhnya cinta dion hanya karna ia membenci karin dan terpaksa menerima amel. sedangkan karin, suatu hari nanti akan berlabuh karna mencintai pria lain dengan tulus, fanny jamin itu. " tunggu saja dion "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN