mak comblang

1741 Kata
" ini benar nih rumahnya? " " iya fan, ini rumahnya alfie " " kok terkunci sih? kek kosong gitu? " " mungkin dia kerja." karin mencoba mengintip dari sela-sela jendela tetapi ia tidak melihat siapapun di dalam. " oh iya!! " seru fanny sembari memukul pelan jidatnya. " kenapa? " " hari ini kan jumat, pasti mereka lagi sholat," kata fanny membuat karin berpikir sejenak, kemudian mengangguk-angguk. " humm pasti... kalau gitu kita duduk aja," gadis itu mendaratkan bokongnya di kursi di ikuti oleh fanny yang duduk di sebelahnya. " memangnya kenapa lo mau kesini rin?," tanya fanny penasaran, karna memang karin belum memberikan alasan mengapa ia ingin menemui sosok bernama alfie. mendengar itu karin pun menghela nafas panjang, ia menoleh dan menatap fanny dengan sendu. " waktu alfie antarin gue pulang, mamaku malah mengusirnya." " usir? " " hu'um, padahal alfie sengaja menerobos hujan supaya gue cepat pulang," ia tertunduk sejenak lalu kembali mendongak pada fanny. " gue rasa gak enak fan," fanny bisa melihat wajah penuh sesal dari gadis itu. fanny tidak heran lagi dengan sikap ibunya karin, karna ia tahu kalau wanita itu adalah jelmaan nenek sihir yang bertemu dengan pangeran iblis. padahal dulu ibunya adalah seorang pamaisuri cantik nan lembut, tetapi terkena kututkan dan menjadi nenek sihir saat menikah dengan pangeran iblis yang mempunyai putri monster. setiap kali memikirkan itu fanny selalu terkekeh dan cekikikan. " kenapa lo? " " hehe gak kok," jawab fanny berusaha menormalkan perasaannya. ia tidak ingin karin tau kalau ia memiliki pikiran aneh tentang ibu gadis itu. " eh rin lo masih cinta sama dion?," tanya fanny mengubah topik. " ya begitulah, lo kan tau dia cinta pertama ku," jawabnya lesu nampak tak bersemangat. melihat itu fanny pun memajukan sedikit kepalanya dan menepuk-nepuk pipi karin." gadis manis kayak lo gak pantas dapat pria b******k kayak dia." " buang aja cintamu ya," pinta fanny sembari mengelus pipi lembut itu. karin tersenyum hambar, kemudian tangannya terangkat menyentuh tangan fanny yang berada di pipinya." gue usahain ya, tapi untuk saat ini cintaku masih terlalu besar." sungguh itu bukan jawaban yang ingin fanny dengar, tetapi karna karin mengatakan kalau ia akan berusaha jadi fanny ingin membuat usaha gadis itu semakin cepat. entah kenapa fanny ingin sekali melihat dion terbakar api cemburu. saat sedang asik dengan obrolan mereka, karin dan fanny tidak menyadari kalau alfie dan raka tengah melihat mereka dari balik pohon. alfie awalnya sempat terkejut melihat keberadaan karin di sana, ia ingin buru-buru menghampiri gadis itu tetapi raka menahannya. setelah merasa cukup memperhatikan kedua gadis itu, alfie dan raka memutuskan menghampiri keduanya dengan berjalan sangat pelan. sementara di satu sisi, karin yang lagi mengobrol sama fanny tersentak saat mendengar langkah kaki yang mendekat kearahnya. dan saat ia menoleh, ia melihat alfie dan raka sedang berdiri dengan sejuta senyuman. deg berdebar jantung karin melihat pemandangan di depannya. sosok alfie yang mengenakan baju kokoh dan sarung, terlihat sangat mempesona. wajah lelaki itu juga nampak bercahaya menambah ketampanannya. bukan karin saja bahkan fanny yang berada di sampingnya juga ikut melongo. mata gadis itu tidak berkedip sedikit pun melihat dua pangeran tampan di depannya. " rin, ini kayangan ya? kok ada pangeran?," lontar fanny tanpa sadar membuat karin reflek menoleh ke arahnya. ia menepuk pelan tangan fanny berusaha membuat gadis itu sadar. alfie dan raka tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan dari kedua gadis di depannya. alfie melepaskan sendalnya dan berjalan mendekati kedua gadis itu. " assalamu'alaikum," salamnya dengan nada lembut " Walaikumsalam," jawab karin dan fanny bersamaan. " sudah lama?," tanyanya masih dengan senyumannya yang manis. karin menggeleng." tidak terlalu kok " alfie mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian ia duduk di lantai tidak jauh dari karin dan fanny. karna kursi mereka hanya ada dua, jadi alfie terpaksa harus duduk di lantai. ya, tidak mungkin kan ia mengusir karin dan fanny?. " loh al jangan duduk di situ, di sini aja," kata karin hendak berdiri dari duduknya. " udah rin gak papa, kami udah biasa kok," sela raka sembari duduk di samping alfie. karin merasa tidak enak melihat sang tuan rumah harus duduk di lantai sedangkan ia sebagai tamu enak-enakan duduk di kursi. tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa karna pastinya alfie juga akan berpendapat yang sama seperti raka. " rin kenalin gue dong," bisik fanny sambil mencolek lengan karin. " iya bawel," karin memalingkan wajahnya ke arah alfie dan raka, di tatapnya kedua cowok itu dengan lembut." ka, al. kenalin ini sahabat aku namanya fanny." " aku fanny salam kenal," sapa fanny tersenyum cerah. alfie mengangguk." aku alfie, kalau dia raka." tunjuk alfie dengan jempolnya pada raka , sementara raka hanya mengangkat kedua alisnya pada fanny. " oh iya al, aku kesini mau minta maaf," ungkap karin " minta maaf apa? " " soal mamaku semalam," lirih gadis itu memalingkan wajahnya tidak berani menatap alfie. alfie yang mendengar itu pun langsung teringat dengan kejadian semalam. ia memang sedikit terbawa suasana dengan perkataan ibunya karin, tetapi ia tidak terlalu memikirkannya. namun ketika melihat karin yang penuh dengan rasa bersalah membuat senyum di wajahnya terbit. padahal itu bukan kesalahan karin tetapi malah gadis itu yang di liputi rasa bersalah. alfie bangga, ia tidak salah menaruh cintanya pada gadis imut di depannya ini. " aku maafkan kok, udah jangan sedih lagi," bujuknya yang membuat tatapan karin menoleh padanya. sejenak keduanya saling bertatapan dan melupakan fanny dan raka yang melihat mereka dengan tatapan aneh. " khmm," dehem fanny sontak membuat karin tersadar dan buru-buru memalingkan wajahnya ketempat lain begitu juga dengan alfie sudah terselip banyak rencana di kepala fanny untuk membuat karin dan alfie semakin dekat dan saling mencintai. ia akan melakukan apapun untuk mengujudkannya, bahkan ia siap menjadi mak comblang untuk karin. " kalian pasti lapar kan?," tanya fanny alfie dan raka saling pandang dan menggeleng pelan." gak juga, karna kita tadi makan kue di masjid." " kue doang? itu mah masih lapar," gadis itu berdiri dengan semangat dan menoleh ke arah karin. " kita pinjam dapurnya ya, gue dan karin akan memasak untuk kalian." tanpa menunggu persetujuan, fanny menarik tangan karin sehingga gadis itu ikut berdiri. " ehh gak usah," cegah alfie " iya gak usah," sambung raka. " udah ah, karin jago masa loh." setelah mengatakan itu fanny menarik tangan karin ke dalam rumah. tetapi belum sempat lagi mereka masuk, fanny kembali berbalik pada dua cowok itu. " kuncinya mana? " tanyanya sembari menadahkan tangannya. raka berdecak kesal tetapi tangannya tetap merogoh sakunya dan memberikan kunci rumah pada fanny. " tengkyu," fanny dengan cepat berbalik dan segera membuka pintu. setelah itu keduanya masuk dan lenyap dari pandangan alfie dan raka. " gak papa nih al? " alfie mengangguk." gak papa " * setelah menunggu lebih dari tiga puluh menit akhirnya kedua gadis itu kembali juga. masing-masing dari mereka memegang dua piring berisi nasi dan ayam kecap. hanya itu yang bisa mereka masak karna bahan-bahan di rumah alfie menipis, sepertinya cowok itu belum belanja. dengan hati-hati karin dan fanny menyajikannya di lantai dan kembali masuk untuk mengambil air minum. sementara alfie dan raka yang katanya tadi tidak lapar seketika ngiler melihat makanan di depan mereka. walaupun sederhana tetapi aromanya begitu menggugah selera. " ayo silakan di makan, ini karin buat special untuk orang special loh," ucap fanny yang membuat karin menyenggol bahu gadis itu. alfie tersenyum dan mulai memakan makanan yang penuh menggoda itu. senyumannya semakin lebar saat mengunyah satu suapan. sungguh alfie tidak berbohong, ini benaran lezat. " enak sekali rin," pujinya " iya, lo benar ini benar-benar enak," sambung raka yang memakannya dengan lahap. melihat itu karin pun tersenyum puas dan senang, ia bahagia melihat mereka bisa menikmati makanan buatannya. sejenak mereka makan dengan saling mengbrol dan saling bercanda. hingga tiba-tiba fanny memberi isyarat mata pada raka. tentu saja raka yang melihat itu tidak mengerti dengan maksudnya. tetapi setelah di perhatikan lagi akhirnya dia mengerti juga. " mmm raka, di sini ada yang jual es kelapa muda gak ya?," tanya fanny dengan berpura-pura mengibaskan tangan ke wajahnya. " panas soalnya," sambungnya. " ohh ada di sana, kalau lo mau gue bisa antarin," tawar raka bersiap berdiri dari duduknya. fanny mengangguk dan tersenyum." ide bagus." ia menoleh ke arah karin." rin gue pergi dulu ya sama raka, nanti gue bawain kalian es," tanpa menunggu jawaban dari karin fanny langsung berdiri dan pergi meninggalkan karin dengan alfie. karin bahkan tidak tau kalau fanny sedang tertawa bersama raka karna rencananya berhasil. untuk sesaat suasana menjadi hening, yang ada hanyalah suara dentingan sendok dan piring. keduanya sama-sama canggung dan tidak tau harus berbuat apa. duduk berdua seperti ini sebenarnya sangat tidak nyaman bagi keduanya. maklum, mereka baru saja bertemu dan belum terlalu dekat. karin merasa sangat canggung pada lelaki berwajah tampan itu, sementara alfie merasa tidak nyaman karna jantungnya berdetak tak karuan. " karin," panggil alfie dengan suara lembutnya. " iya? " sahut karin seraya menatap alfie selama beberapa saat. alfie tersenyum tipis." kamu harus tetap tegar ya, jangan terlalu pikirkan omongan orang." pesan alfie yang mampu membuat karin terpaku. kenapa alfie bisa tau dengan apa yang terjadi padanya?. apa fanny yang memberitahu? tapi kayaknya tidak mungkin. padahal emang karin saja yang tidak tau bahwa alfie sudah merasakan penderitaan lebih darinya. makanya hanya dengan melihat wajah karin alfie pun bisa langsung mengetahuinya. " makanan ini sebenarnya gak enak." lontar alfie seraya meminum air. " loh kenapa?," ia bingung padahal tadi alfie bilang enak. alfie tersenyum dan kembali menatap gadis berseragam sekolah itu. " iya gak enak kalau yang buat bukan kamu," gombalan lelaki itu berhasil membuat rona di pipi karin muncul. siapa sih yang tidak salting di gombalin seperti itu? apalagi yang menggombal dari seorang lelaki tampan nan manis. " alfie pandai menggombal ya." karin mencubit pelan tangan cowok berpakaian kokoh itu. " gak ada hari tanpa menggoda karin," sahut alfie tertawa . " ihh harusnya kamu kesakitan." bukannya sakit, tetapi cubitan gadis itu malah membuatnya geli. sampai-sampai alfie menjadi gemas di buatnya. perlahan tangannya yang besar itu menggenggam tangan mungil karin yang masih mencubitnya. beberapa saat keduanya terdiam dan saling memandang satu sama lain. hembusan angin menerbangkan rambut karin tetapi tidak di pedulikannya. entah kenapa karin merasa nyaman menatap mata teduh alfie. mata gadis itu bergerak mengikuti gerakan tangan alfie yang mengarah ke rambutnya. dengan hati-hati alfie menyingkirkan anak rambut karin ke belakang telinga gadis itu. setelah itu ia kembali menatap karin dan tersenyum penuh tulus di sana. " jaga senyumanmu rin, aku suka saat kamu tersenyum bukannya sendu," tutur cowok itu lembut dan entah kenapa karin malah mengangguk dan mengiyakan perkataan alfie.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN