mengetahui kebenaran besar

1416 Kata
Selama seminggu ini alfie menginap di rumah sakit sampai keadannya membaik. awalnya lelaki itu menolak karna waktu untuk bertemu dengan karin akan terbuang sia-sia. ia terus memaksa raka untuk membawanya pulang. sungguh, jika menginap, kesempatan untuk bertemu dengan karin akan terlewat. lelaki itu terus menangis dan memohon, tetapi baik dokter maupun raka tidak ada yang mau membiarkan alfie pergi. " aaaaa!!... gue ingin pulang raka!! " raung alfie hendak turun dari ranjang, tetapi raka berhasil menahan tubuhnya. " jangan al, ingat kondisi lo " " kenapa lo gak ngerti!, gue akan kehilangan waktu raka! gue bukan manusia normal yang memiliki waktu panjang." alfie menggantung ucapannya dan mengusap air matanya. " mengertilah! gue pasti akan tiada cepat atau lambat, jadi jangan pisahkan gue dengan karin," " gue mau karin raka! dia pasti di siksa oleh keluarganya itu, gue mau bantu dia!" karna terus di tahan oleh raka, akhirnya alfie menyerah dan membaringkan tubuhnya di kasur. mata lelaki itu masih mengeluarkan cairan bening yang mengalir dengan deras. alfie menangis, ia menangis begitu menyedihkan. alfie adalah laki-laki pertama yang menangis dalam kehidupan raka. jika laki-laki yang menangis di sebut lelaki yang lemah, berbeda dengan alfie yang menangisi penyakitnya. " arghh... sakit... hikss... " ringisnya sambil memegang d**a. " rakaaaa.... sakit.... " biarlah orang-orang menilainya cengeng atau lemah. mereka hanya tidak tau bahwa alfie memilki monster di dalam tubuhnya. Ya, kanker hati itu lah monsternya. melihat temannya yang menangis seperti itu, tangan raka pun menjauh dari tubuh alfie. raka terus memperhatikan alfie dan juga ikut menangis. temannya itu terlihat seperti orang yang sangat putus asa. " raka hikss... kenapa? kenapa gue harus terkena penyakit ini? gue juga ingin hidup dengan normal raka... " aflie sesegukan dan sesekali mengelap ingusnya yang keluar. laki-laki itu terus bergerak ke kanan dan kekiri untuk menghilangkan rasa sakit yang menjalar. " lo pasti akan sembuh al," jawab raka walau ia tau itu mustahil. alfie menggeleng." Gak ka, tubuh gue udah rusak, gue bahkan merasa lelah yang teramat dengan tubuh ini." " hikss...gue iri sama lo. gue iri sama lo yang bisa makan sepuasnya tanpa larangan. gue iri sama lo yang hidup tanpa meminum obat. demi tuhan raka kapan gue merasakannya? " " a-al.... gue--" " mau dengar impianku yang tidak akan terwujud?" alfie memotong perkataan raka dan menatapnya. raka mengangguk pelan walau ia tau apa yang akan di katakan oleh alfie. alfie tertawa kecil, kemudian ia menoleh ke atas menatap langit-langit kamar. terlihat sangat jelas raut penuh lelah dan kecewa dalam wajahnya. " gue pengen membuat keluarga, ka. gue memang tidak mempunyai keluarga utuh, tapi gue pengen banget membuat kelurgaku sendiri. merasain bagaimana perasaan memiliki sebuah keluarga " " gue pengen mempunyai perusahaan besar dan menjadi seorang direktur di sana. gue pengen menikah dengan karin dan mempunyai anak dengannya." sejenak alfie terhenti untuk menghapus air matanya. " ketika gue udah nikah sama karin, setiap pulang dari kantor gue akan selalu membawakan hadiah untuknya. dia akan menyambutku dan mencium tanganku, setelah itu gue akan mencium keningnya dan memeluknya." " gue akan selalu berkata 'karin istriku aku sangat mencintaimu' " " sumpah ka, akan ku jadikan karin ratu di kerajaan ku kelak." Alfie tertawa kecil." kami akan mempunyai pangeran dan putri yang lucu, gue akan jadi ayah yang terbaik." alfie menatap raka dengan air mata yang berjatuhan dari pelupuk matanya." Gue pengan banget jadi seorang ayah , raka." raka memalingkan wajahnya ke samping lantaran tak tahan melihat wajah alfie. raka berusaha membekap mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun. " raka, lo baik, lo sempurna, lo sehat, lo ganteng. jangan pernah menangis ya raka." sungguh untuk kali ini raka benar-benar tidak bisa menahan tangisannya. lelaki itu mulai menangis sembari mengacak-acak rambutnya. " AKHHH!! ALFIEEE!!... " " jangan tinggalin gue plis.. " kali ini suara raka terdengar pelan. ia menatap aflie dengan berlinang air mata. ia menghapus air matanya dengan tangan kanan lalu tersenyum menyedihkan." Lo pasti bisa mengwujudkan mimpi-mimpi itu, al." alfie tertawa." kalau gue gak bisa... Lo mau kan gantikan gue? " raka menggeleng cepat, kemudian ia berdiri dan membelakangi alfie." Gue gak mau!! Kalau lo tiada, gue gak mau mempedulikan karin lagi! maka dari itu sembuh lah agar bisa melindungi karin." ia melangkah menuju pintu dan menutupnya dengan kasar. alfie masih terus melihat ke arah pintu. ia tau raka berkata seperti itu supaya alfie bisa memiliki semangat hidup. alfie kembali lagi menteskan air mata, ia capek. " ya tuhan, apa engkau menghadirkan ku ke dunia hanya untuk merasakan rasa sakit? " " sakit tuhan, hiksss... Sakit. sakit yang kau berikan tidak main-main. aku menderita dari kecil menahan sakit yang menggoroti tubuhku." " rasanya aku mau nyerah " ia tersenyum getir." malangnya nasib ku ini. tidak mempunyai orang tua, miskin, dan penyakitan." " tolong ya tuhan, dalam tiga bulan ini tolong ijinkan aku membantu karin." alfie mengatur deru nafasnya dan menghapus air matanya asal-asalan. ia tersenyum, itu bukan senyuman yang indah tetapi sebuah senyuman paling menyedihkan di dunia. " jika aku tidak di takdirkan menjadi pendamping karin. Maka Ijinkan aku menjadi sejarah untuk seorang karin senja." ***** di luar ruangan alfie, seorang laki-laki tengah berjongkok sambil menutup wajah dengan kedua tangan. ia bahkan tidak mempedulikan tatapan aneh dari para pengunjung dan dokter yang lewat. laki-laki itu masih setia pada posisinya itu. tubuhnya bergetar, rambutnya acak-acakan. ia seperti seorang laki-laki yang kehilangan arah. raka masih saja menangis walau alfie tidak ada lagi di hadapannya. sungguh, mengingat perkataan alfie dan mimpi besarnya membuat raka sangat terpukul. hanya dengan melihat kondisi dan suara alfie bisa membuatnya semenyedihkan ini. apalagi jika alfie sudah tiada, raka tidak tau apa yang akan terjadi padanya. bahkan membayangkan itu saja mampu membuat raka menangis semalaman dan tidak mempunyai semangat hidup. perlahan raka merasakan sentuhan di pundaknya. ia mengangkat wajahnya dan melihat seorang gadis yang sedang menatap ke arahnya. gadis itu adalah fanny, ia tadinya kesini untuk menemui ayahnya dan tidak sengaja melihat seorang cowok yang sedang terpuruk. raka terkejut. tapi fanny lebih terkejut lagi setelah melihat wajah dan kondisi raka. cowok itu benar-benar terlihat sangat berantakan. fanny dengan pelan membantu raka berdiri dan membawa cowok itu duduk di kursi. setelah itu ia merogoh tasnya dan memberikan sebotol air mineral pada raka. raka menerima air itu dengan lembut. ia segera membuka penutup botol dan meminumnya hingga habis. sementara fanny masih setia melihatnya, ia berpikir pasti masalah raka sangat berat hingga ia meminum air seperti itu. " raka, lo kenapa? " tanya fanny memberanikan diri setelah raka meminum air. raka melirik fanny sekilas, kemudian ia menatap lurus kedepan dan menghela nafas beberapa kali. Melihat hal itu fanny bisa menebak kalau ada seseorang yang raka khawatirkan. fanny menoleh dan melihat ruangan yang tertutup rapat. " apa ada kelurgamu yang sakit? " kali ini raka memilih menatap mata fanny." iya, dia keluarga gue yang berharga." " oh ya? Kalau boleh tau siapa? " " alfie " deg! jantung fanny berdetak tak karuan. fakta macam apa ini?. memang apa yang terjadi pada alfie. " A-alfie kenapa? " tanya fanny dengan suara bergetar. Raka menunduk dan menarik nafasnya dalam-dalam. ia berpikir mungkin seharusnya fanny tau tentang ini. " alfie terkena kanker hati dari bayi, dan kankernya terus menyebar hingga sekarang dan berada di tahap akhir." Ia menoleh menatap fanny dengan wajah sendu." umur alfie hanya tersisa dua bulan lebih, fanny " DEGGGG!! dada fanny seolah baru saja di hantam oleh batu besar. ia terkejut, sangat terkejut. bahkan mata fanny mulai berkaca-kaca. apakah ini memang benar? orang sebaik alfie kenapa harus di beri cobaan sebesar ini. " ka, jangan boh--" " gue gak bohong fan, alfie sangat menderita dan gue benci melihatnya menderita." ucap raka dengan keputus-asaan. fanny menutup mulutnya, cairan bening mulai berjatuhan membasahi pipinya. " a-apa karin su-sudah mengetahuinya? " raka menggeleng." Alfie tidak mau karin tau tentang kondisinya." Raka memegang kedua tangan fanny dan menggenggamnya dengan lembut. " tolong jangan beritahu karin fan, kumohon, berjanjilah padaku." pintanya memelas " tapi bukankah itu malah akan semakin membuat karin terluka? " " iya, tapi alfie tidak ingin karin tau. Alfie hanya ingin membahagiakan karin di sisa waktunya yang singkat ini " sungguh tidak tega fanny melihat raka memohon seperti ini padanya. apalagi mendengar permintaan alfie yang mau membahagiakan karin. tapi di satu sisi, fanny merasa kasihan pada karin, karna jika karin mencintai alfie, dia harus siap kehilangan alfie untuk selamanya. " karin, ternyata kamu memang hidup di antara luka. alfie akan menjadi kebahagiaan terbesar sekaligus luka terbesar dalam hidupmu. setidaknya berikanlah dia cinta di waktunya yang singkat ini." Batin fanny sambil memejamkan matanya sehingga air matanya semakin berjatuhan dengan deras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN