Karin dan fanny tiba-tiba saja terdiam setelah kepergian alfie dan raka tadi. sebenarnya mereka masih bertanya-tanya dengan apa yang terjadi dengan alfie.
menurut fanny itu bukanlah gejala alergi, karna gadis itu sudah banyak melihat gejala pasien alergi, tetapi tidak ada yang seperti alfie.
fanny tau itu karna ayahnya adalah seorang dokter dan banyak menerima pasien di rumahnya.
menurut fanny, yang terjadi pada alfie adalah masalah yang serius. jadi fanny memutuskan untuk mencari tau gejala yang di derita alfie kepada ayahnya nanti.
" fan " panggil karin halus
" iya rin? "
" kita pulang yuk " ajak karin lembut.
fanny mengangguk, lagi pula mereka sudah terlalu lama keluar. di tambah kedua gadis itu belum pulang ke rumah sejak sekolah selesai.
setelah menunggu lebih dari sepuluh menit akhirnya mobil yang menjemput fanny datang. sekalian fanny akan mengantar karin pulang dan memastikan gadis itu baik-baik saja.
di dalam mobil, kedua gadis itu duduk dalam keheningan. tidak ada yang bersuara, fanny maupun karin sama-sama terlarut dalam pikiran masing-masing.
keduanya duduk di pinggir dan menyandarkan kepala di jendela. yang mereka lihat hanyalah germelap lampu bangunan dan ramainya lalu lintas. hening? ya sangat hening sampai membuat sang sopir di depan kebingungan. karna tidak bisanya karin dan fanny diam seperti ini.
sampainya di depan rumah karin barulah gadis itu mengubah posisi duduknya. ia menoleh ke arah fanny dan tersenyum tipis, setelah itu ia keluar dan menutup pintu dengan pelan.
" fanny gue masuk dulu ya " pamit karin seraya tersenyum lembut.
fanny mengangguk." iya, cepat masuk sana."
" Hati-hati di jalan ya," setelah mengatakan itu karin membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari fanny.
sedangkan fanny, ia masih melihat punggung karin yang semakin menjauh dari pandangannya.
fanny gelisah, ia tau bagaimana keluarga karin. pasti orang tua gadis itu akan memarahinya.
membayangkan itu saja mampu membuat fanny mengeratkan tangan, ingin sekali rasanya ia memenjarakan ayah tiri karin.
" pak ayo jalan," perintah fanny pada sopirnya setelah keheningan sesaat melanda.
di satu sisi, karin sedikit ragu untuk masuk ke dalam rumahnya, gadis itu sudah berdiri di depan pintu hampir lima belas menit. entah kenapa ia memiliki firasat buruk saat ini. bahkan jantungnya terus berdetak dengan kencang seolah tengah menahan ketakutan.
di depan pintu, karin menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut. perlahan tangannya terangkat dan mulai menyentuh gagang pintu.
" assalamu'alaikum "
PLAKK!!
tubuh karin terpental ke lantai karna tamparan dari ibunya. tamparan itu berhasil membuat sudut bibir karin robek dan mengeluarkan darah segar.
karin mendongak menatap ibunya yang sedang berdiri bersama amel.
karin tidak tau salahnya dimana.
tapi ibunya langsung menyerangnya, rose menamparnya beberapa kali kemudian mengambil rambutnya kasar, menjambak dan membanting tubuhnya ke lantai. karin hanya bisa meringkuk dan membuat perlindungan seadanya dari kedua tangannya.
tidak sampai di situ, rose kemudian menarik paksa rambut karin sehingga gadis itu berdiri. kemudian, di cengkramannya kedua pipi karin dan mendorong gadis itu hingga membentur dinding.
" KEMANA SAJA KAMU HA?! " tanya ibunya dengan suara yang meninggi tepat di depan wajah karin.
karin tidak bisa menjawab, dirinya hanya bisa terisak.
" KARIN MAMA TANYA! " teriak rose
tubuh karin bergetar, ia tidak berani menatap mata Ibunya yang melihatnya dengan tatapan penuh kebencian.
" ka-karin main sa-sama fanny " lirih gadis itu nyaris tak terdengar.
" jangan bohong! kamu berduaan di pasar malam sama anak itu kan? "
mendengar ucapan ibunya, karin pun mengangkat wajahnya dan melihat kebelakang rose dimana amel sedang tersenyum mengejek ke arahnya.
jadi ini semua karna amel? pasti gadis itu yang mengadu pada ibunya.
karin tertunduk, jika begini yang ada tubuhnya akan semakin hancur. karna siapapun pasti akan lebih mendengarkan ucapan amel.
" t-tapi amel j-juga ada di sana," gumam karin masih tertunduk.
rose semakin mencengkramnya." dia pergi bersama dion, dan itu tidak masalah."
" sedangkan kamu! dari pulang sekolah langsung menemui cowok itu "
rose melepas tangannya dari wajah karin dan mundur beberapa langkah dari gadis itu.
" kamu memang w***********g!!"
deg!
sakit. hati karin sangat sakit sekarang, gadis itu menutup mulutnya dan semakin terisak di sana. tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
" hiksss "
" DIAM! JANGAN NANGIS!! "
" hikss "
walaupun sudah di larang tetapi tetap saja karin tidak bisa menghentikan tangisannya. hatinya hancur, begitu juga dengan fisiknya.
dan hal itu malah membuat amarah rose semakin besar. wanita itu bergerak ke sana kemari mencari sesuatu, hingga kemudian ia menemukan sapu di balik pintu dan berjalan mendekati karin.
" nyonya kumohon jangan! " ucap bi asa berusaha menahan tangan rose. tetapi dengan tidak ada hatinya, rose malah mendorong tubuh bi asa hingga wanita itu terpental ke belakang.
" nyonya! "
rose kembali melangkahkan kakinya ke arah karin yang sedang menyandarkan tubuhnya penuh ketakutan.
rose bisa melihat wajah sendu karin yang basah dengan air mata.
" mama jangan "
taak!
tak!
tak!
tidak peduli dengan kata-katanya karin, gagang sapu itu berhasil memukul tangan, punggung, dan kaki gadis itu. rose benar-benar memukul karin tanpa ampun, bahkan suara pukulan itu bergema memenuhi seisi ruangan.
" sakit "
" sakit mama " cicit gadis itu berusaha menahan tangisannya. ia menatap mamanya dengan mata yang sembab, sirat kekecewaan tentu sangat nyata di matanya.
" kamu itu buat mama malu, tau tidak! "
" kenapa kamu seperti ini ha! "
" kenapa gak amel aja sih anak mama!"
karin membakap mulutnya menumpahkan kesedihan dan rasa sakit yang ia terima. seperti ini? harusnya karin yang bertanya hal itu pada mamanya.
sedangkan rose, ia menatap karin yang sedang meringkuk dengan kepala yang dibenamkan di kedua kaki. siapapun bisa melihat bahwa tubuh gadis itu bergetar hebat. gadis itu menahan tangisannya, tapi tetap saja suara sesegukannya terus terdengar.
" JANGAN NANGIS! " bentak rose seperti orang kesetanan.
tidak, karin tidak bisa menghentikan tangisan ini.
" BERHENTI MENANGIS!! "
tangan rose yang memegang sapu kembali terangkat bersiap memukul karin.
sementara karin yang melihat itu langsung memeluk kedua kaki ibunya.
" M-mama, boleh marahin karin tiap hari. k-karin tau k-karin salah." kata gadis itu yang mengeratkan dekapannya di kaki sang ibu. ia seperti b***k yang mengemis pengampunan.
" karin minta maaf ma, k-karin salah tapi jangan pukul karin. s-sakit mama hikss " gadis itu hanya mampu memohon dan menangis.
" mama tubuh karin bisa h-hancur. j-jika mama pukul lagi nanti tu-lang karin patah "
rose terdiam, ia menatap karin dengan datar. namun tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
" Sudah! untuk kali ini kamu mama beri ampun!" rose menarik paksa kakinya dari pelukan karin sehingga kepala karin hampir saja membentur lantai.
rose berjalan menghampiri amel dan memeluk gadis itu tepat di depan karin. seolah ingin mengatakan bahwa amel lah anaknya.
karin tidak bersuara namun ia tersenyum penuh kekecewaan dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya. melihat ibunya yang memeluk dan mencium anak orang lain tentu saja sangat sakit.
" NONA! " teriak bi asa dan berjalan mendekati karin. wanita itu mensejajarkan tubuhnya dengan karin dan langsung mendekap tubuh rapuh itu.
tangan bi asa tak henti-hentinya mengelus rambut panjang gadis rapuh di depannya ini. bahkan air mata bi asa tanpa sadar jatuh dan membasahi pundak gadis itu.
bi asa juga tidak peduli dengan bajunya yang basah karna air mata karin. yang bisa bi asa lakukan hanyalah menyalurkan kehangatan dan kasih sayang padanya.
" bii, mama bi "
" kenapa mama seperti ini?" lirih gadis itu di balik punggung bi asa.
bi asa melepaskan pelukannya dan menatap mata yang sudah merah itu. tangannya terangkat dan menghapus air mata karin dengan kedua ibu jarinya.
" aku rindu mama bi "
bi asa mengangguk." bibi juga non, kita tunggu saja ya sampai nyonya berubah "
" tapi sampai kapan,"
" sampai kapanpun itu bibi akan selalu menemanin non karin."
" aku rindu ayah bi, hanya ayah yang menyanyangi ku dengan tulus "
" aku rindu semuanya tentang ayah, rindu sampai membuat ku ingin menemuinya," gumam karin dengan tatapan kosong.
bi asa sedikit terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut karin. gadis itu masih saja meneteskan air mata walau dengan pandangan kosong.
bi asa dengan perlahan membantu karin berdiri dan membawanya ke kamar. setelah memastikan karin duduk dengan tenang, barulah bi asa turun kebawah untuk mengambil air es.
bi asa juga membawa obat pereda nyeri dan obat luka. namun, sesampainya di depan kamar karin bi asa menghentikan langkahnya saat melihat gadis itu dari balik pintu.
di lihatnya seorang gadis yang duduk dengan pandangan kosong. sakit? tentu sangat sakit hati bi asa melihatnya. ia takut jika ini terus berlanjut akan berdampak pada kesehatan mental karin.
bi asa menghela nafas dan menatap baskom berisi air di tangannya. semua kenangan indah tentang rumah ini seketika bermain di kepalanya. bukan hanya karin, bi asa juga merindukan keharmonisan keluarga ini dulunya.
" tuan, apa tuan melihat karin dari sana? tuan , kebahagiaan karin seolah lenyap saat tuan pergi dari sisinya "
" dia menderita fisik dan hatinya ,tuan" batin bi asa, kemudian ia tersadar ketika melihat air di baskom itu bergerak. ternyata itu adalah air matanya yang jatuh ke dalam air. wanita itu menangis lagi.