bakso

1738 Kata
Karin tidak tau kemana lagi ia akan membawa alfie, sejujurnya masih ada rasa sesal di hatinya karna telah membiarkan alfie terkena pukulan dari dion. dan dengan kejadian tadi, karin baru saja sadar bahwa dion tidak sebaik yang pernah ia kenal dulu. sosok dion yang dulu sudah lenyap dan pergi entah kemana, dan sekarang hanyalah dion yang buruk. karin terus mencoba menghubungi nomor fanny yang sialnya gadis itu tidak kunjung mengangkatnya. memangnya kemana fanny dan raka pergi? padahal hari sudah malam. lihat saja nanti kalau bertemu dengan mereka, karin akan memarahi kedua insan itu. sekarang yang karin pikirkan ialah dimana ia akan makan malam bersama alfie. ia sedikit kebingungan karna alfie tidak menyebutkan makanan apa saja yang dia suka. kemudian pandangan karin tidak sengaja melihat gerobak bakso yang mangkal di samping kedai boba. terseliplah ide di otaknya untuk mengajak alfie makan di sana. karna menurutnya rata-rata orang Indonesia menyukai bakso, jadi alfie pasti juga akan menyukainya. " al , kita makan di sana ya," tunjuk karin sehingga alfie mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk gadis itu. " yang mana? " tanya alfie, karna di sana juga terdapat banyak makanan, seperti somay, pempek, dan lain-lain. " bakso al, kita makan bakso ya " deg! jantung alfie berdetak kencang, tubuhnya mendadak kaku dan tenggorokannya seperti tercekat. bakso? itu adalah salah satu makanan yang harus alfie hindari. ya, karna bakso mengandung lemak, dan alfie tidak di perbolehkan mengonsumsi makanan tinggi lemak. untuk penderita kanker stadium awal mungkin bisa saja sesekali mengkonsumsi makanan lemak. tetapi alfie, ia berada di tahap akhir dimana dengan satu kesalahan saja akan membuat nyawanya terancam. karin yang melihat alfie diam mematung menjadi sangat kebingungan. ia tidak tau apa yang ada di dalam pikiran alfie. dan kebingungannya bertambah saat alfie mengeratkan genggamannya. " al, kamu gak papa? " " eh..gak papa kok," " tapi kamu terlihat tidak baik-baik saja." bukan tanpa alasan karin berkata seperti itu, karna memang alfie terlihat seperti orang yang sedang memendam masalah yang begitu besar. alfie menggeleng." aku hanya lapar kok," ucapnya beralasan. mendengar hal itu wajah karin pun berbinar dan menggoyang-goyangkan lengan alfie." kalau begitu ayo kita makan bakso." tanpa menunggu persetujuan alfie, karin langsung menarik lengan lelaki itu dan membawanya ke gerobak bakso. sedangkan alfie, ia hanya pasrah saja ketika tangannya di tarik oleh gadis itu. " rin tunggu dulu." alfie menahan tangan gadis itu tepat beberapa langkah dari gerobak bakso. " loh kenapa? " tanya karin berbalik menghadap cowok itu. " aku gak suka bakso," " benarkah? " " i-iya " karin menghela nafas berat, gadis itu tersenyum walau kekecewaan nampak sangat jelas di wajahnya. " yaudah, kalau begitu kita cari tempat lain aja," balasnya lalu kembali menarik tangan alfie. tapi bukannya bergerak, alfie malah tetap diam. " ada apa? " " kita makan bakso aja," jawab alfie sembari tersenyum manis pada karin. " tapi kamu tidak suka kan?." gadis itu menatap alfie dengan tatapan yang bertanya-tanya. alfie mengangguk." iya, tapi kalau sesekali sepertinya tidak masalah." perkataan alfie berhasil membuat senyuman di wajah karin mengembang. ia senang, sangat senang. karna sedari tadi karin ingin sekali memakan bakso, apa lagi mencium aroma bakso yang membuat perutnya terus berbunyi. melihat pemandangan indah di depannya membuat alfie merasa sangat senang. awalnya ia memang menolak ajakan karin, tetapi setelah melihat wajah kecewa gadis itu alfie pun menjadi tidak tega. jadi ia memutuskan untuk memakan makanan berlemak itu, walau harus menahan sejuta sakit yang akan datang. alfie perlahan mendaratkan bokongnya di kursi tanpa melepaskan pandangannya dari karin. dilihatnya gadis cantik itu yang sibuk meracik baksonya. senyum karin terlihat sangat lucu seperti anak kecil yang mendapatkan permen. " alfie lihat baksonya gede! " seru karin yang tengah melihat mas-mas penjual bakso menuangkan beberapa bakso ke mangkoknya. " mas, tambahin tetelan dong! " " banyak atau sedikit neng? " " sedang aja deh mas." kepala karin berbalik ke arah alfie yang sedang duduk menunggunya. " alfie mau pake tetelan juga? " " gak usah rin " tolak cowok itu menggelengkan kepala. setelah selesai dengan meracik baksonya, kini alfie sudah siap memakan bakso yang menggoda itu. ya, alfie akui kalau bakso itu sangat mengunggah selera, tetapi ia juga sadar bahwa itu salah satu senjata mematikan. " ayo makan," karin segera memasukkan satu buah bakso ke dalam mulutnya. dan seperti wanita pada umumnya, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya karna begitu menikmati. " emmm enak al." wajah gadis itu terangkat dan menetap alfie. sedangkan alfie, ia dengan tangan bergetar mulai memakan bakso itu. ia yakin pasti setelah ini sakitnya akan kambuh lagi. apa lagi melihat kuah baksonya yang penuh dengan lemak dan berminyak. beberapa menit telah berlalu dan karin lah yang terlebih dahulu menghabiskan makanannya. meskipun gadis itu sudah penuh dengan keringat, tetapi ia tampak sangat segar dan sehat. setelah meminum segelas air kini pandangan karin beralih pada alfie yang baru memakan beberapa suapan. di lihatnya cowok itu lamat-lamat yang seperti menahan sesuatu. " loh sudah selesai? " tanya karin ketika alfie menaruh bakso yang tersisa setengah itu dan meminum air. " a-aku kenyang rin " jawaban pelan " kamu baru makan sedikit loh " " t-tidak..... p-papa.. " ucap alfie menahan rasa sakit di tulang belikat kanannya. apalagi kepalanya serasa ingin hancur. dia kesakitan, rasa sakitnya menghantam sekujur tubuhnya. d**a sesak, mual, perutnya sakit, dan semua itu ia tahan supaya karin tidak mengetahuinya. tapi tetap saja walaupun di tutupin seperti itu, karin bisa mengetahui ada yang tidak beres dengan alfie. wajah yang pucat dan mata yang berair itu pasti akan membuat siapa saja sadar. " A-al kenapa? " tanya karin terbata-bata, sungguh ia sangat khawatir saat ini. " aku baik rin," jawab alfie tersenyum menyembunyikan rasa sakitnya. " karinnn!!! " karin dan alfie reflek menoleh ke sumber suara di mana fanny dan raka sedang melambai ke arah mereka. kedua remaja itu tampak sangat bahagia. di tangan fanny terdapat banyak boneka dan makanan ringan lainnya. sepertinya mereka baru saja memenangkan banyak permainan malam ini. fanny dan raka perlahan berjalan dan berdiri di depan karin dan alfie. sejenak raka menatap karin dengan lembut, lalu ia beralih menatap alfie yang sedari tadi tertunduk. " al lo kenapa? " tanya raka perlahan alfie mendongak menatap mata lelaki itu dengan senyuman yang di paksakan. dan di saat itu juga mata raka membola melihat keadaan alfie yang terlihat sangat kacau. tidak ada lagi wajah penuh kegembiraan di wajah raka, semua itu kini berganti menjadi raut penuh kecemasan. " all kenapa bisa begini? " raka memegang kedua pundak alfie. " allll? " panggilnya lagi karna cowok itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan. sementara fanny yang mendengar itu sontak ikut beralih menatap alfie. dan sama seperti raka, tubuh gadis itu terkejut melihat alfie yang tampak seperti mayat hidup. melihat alfie yang terus terusan diam raka pun menoleh dan baru sadar di mana ia berada sekarang. mata lelaki itu mulai memanas, tangannya terkepal erat. ia menatap alfie dengan rahang yang mengeras. " KENAPA LO MAKAN INI!!? " murka raka mengagetkan karin dan fanny. " alfie gue tanya! " ia memelankan suaranya " aku yang suruh dia makan, emangnya kenapa? " bukan alfie, tetapi karin yang menjawab. sedangkan raka, ia yang mendengar penjelasan dari karin hanya bisa menghela nafas berat. cowok itu menggerutui kebodohannya yang meninggalkan alfie sendiri. walau bagaiamana pun ini semua bukan salah karin. gadis itu baru saja berkenalan dengan alfie jadi sudah pasti dia tidak tau apa pun tentang sahabatnya ini. " ayo kita pulang " raka menatap fanny dan karin bergilir." maaf rin, kami harus pulang duluan." ia mulai membawa alfie pergi, namun langkah mereka terhenti. " tapi jawab dulu kenapa dengan alfie? " tanya karin dengan nada yang sedikit tinggi. raka tersenyum tipis." dia alergi bakso " jawabnya dan langsung membawa alfie pergi. karin mengangguk dan sedikit percaya dengan perkataan raka, tetapi tidak dengan fanny. fanny tau betul bahwa sesuatu yang terjadi pada alfie bukanlah sekadar alergi, tetapi sesuatu yang lain. kali ini raka membawa alfie ke rumah sakit. dengan hanya melihat kondisi alfie yang seperti ini tidak memungkinkan untuk raka harus merawatnya di rumah. " k-ka.... sa-sakit! " rintih lelaki itu saat di dalam mobil " lo b**o!! demi karin lo mau mempertaruhkan nyawa lo? ingat gue juga al.... ingat gue!! " bentak raka menekan setiap kata katanya. " akhhhh!!..... shhhhh...!! " alfie terus memegang perut sebelah kanannya. cowok itu berusaha untuk mengambil nafas yang panjang, ia terus bergerak karna tidak tahan dengan rasa sakit ini. sementara raka yang melihat itu tidak dapat lagi membendung air matanya. cairan bening itu tumpah dengan deras membasahi pipinya. hatinya sakit harus melihat temannya tersiksa karna penyakit mematikan ini. " al bertahanlah " lirih raka sesegukan, membuat mata alfie yang tadinya terpejam kini terbuka melihat sahabatnya itu. alfie tersenyum tipis, tangannya terangkat dan menghapus air mata di pipi raka." lo n-nangis? ..... masa raka nangis sih hihi " kekehnya sungguh makin teriris hati raka, bisa bisanya alfie terkekeh dengan kondisinya yang seperti ini. " ka, lo pasti capek kan ngurusin cowok penyakitan kayak gue? " bisik alfie dengan mata terpejam. " gue aja capek kalau jadi lo " sambungnya " jangan banyak omong " ketus raka, sebisa mungkin menyembunyikan kekhawatirannya. setelah sampai di rumah sakit, alfie langsung di bawa ke ruang UGD oleh dokter yang selalu menanganinya selama ini. sementara raka tetap setia menunggunya di kursi tunggu dan selalu berdoa di dalam hati. ia sesekali mondar mandir dan meramas kuat rambutnya. setelah lama menunggu akhirnya dokter fajar keluar juga dari ruangan itu. dan dengan tergesa-gesa raka langsung menghampirinya. " ikut ke ruangan saya! " perintah dokter fajar sebelum raka berucap satu kata pun. raka tidak mengerti tetapi ia tetap mengikuti langkah dokter itu hingga sampai ke ruangannya. raka duduk dengan tubuh yang bergetar karna tatapan dokter fajar sangat menakutkan. pria itu menatap raka dengan tajam dan seperti menahan amarah. " kenapa ini terjadi? " " sudah saya bilang anak itu tidak boleh makan makanan yang saya larang!! " raka membeku, ia yang lagi tertunduk perlahan mengangkat wajahnya." maafkan saya pak, saya lalai tadi " dokter fajar menghela nafas berat." untung kamu bawa dia secepatnya, jika tidak saya tidak tau lagi apa yang akan terjadi dengannya." dokter fajar berdiri dan mendekat ke arah raka. " jagalah temanmu itu ka, habiskan waktu dengannya sebelum tiga bulan ini berakhir." katanya lalu pergi meninggalkan raka yang diam mematung. tanpa sadar raka kembali meneteskan cairan bening, namun ia buru-buru menghapusnya. " tidak ada harapan lagi ya? " " bahkan dokter fajar selalu mengatakan tiga bulan " " jadi memang waktunya hanya tiga bulan? "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN