" karin "
" iya al? "
" hujan "
karin mengkerutkan keningnya setelah mendengar ucapan alfie. memang benar yang di katakan oleh lelaki itu, bahwa saat ini hujan sedang turun membasahi bumi.
namun hujan yang turun bukanlah hujan yang deras. tetapi hal itu cukup membuat alfie dan karin berteduh di salah satu tenda permainan.
hari sebentar lagi akan menjelang malam, namun tidak ada tanda-tanda akan berhentinya hujan.
pandangan alfie terus menatap ke arah langit dan menadahkan tangannya merasakan dinginnya hujan.
" karin, jika misalnya kita terpisah, coba lihatlah hujan karna aku akan berada di sana," ucap lelaki itu memecah keheningan di antara keduanya.
" kenapa berkata seperti itu? " karin bertanya karna ucapan alfie sedikit membuatnya kebingungan.
alfie tersenyum tipis tanpa melepaskan pandangannya sedikit pun dari hujan. sementara karin yang berada di sampingnya bisa dengan jelas melihat senyuman lelaki itu dari sini.
" seandainya aja rin "
" hihihi "
alfie memalingkan wajahnya ke arah karin yang sedang tertawa kecil.
" kamu berbicara seolah akan menyatu saja dengan hujan dan pergi dari sini," ungkapnya masih tertawa.
seketika alfie terdiam, di lihatnya karin dalam-dalam dengan tatapan sendu.
" kamu benar rin, aku akan segera pergi," batin lelaki itu.
" hmm lihatlah hujannya berhenti," seru karin seraya menunjuk ke arah langit.
" pulanglah rin sebelum malam,"
" aku gak mau al, nanti aja deh," tolak gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
alfie mengehela nafas berat, kemudian jarinya naik memijat pelipisnya yang sakit.
Alfie lelah, sangat lelah. ia harus cukup istirahat karna tubuhnya tidak sekuat manusia normal.
sekarang saja ia sedang menahan rasa sesak dan sakit di perutnya. bahkan wajahnya sedikit pucat dengan pelu keringat yang mulai membasahi wajahnya.
alfie tidak tau apakah karin menyadari perubahan tubuhnya ini.
" rin ini sudah malam "
" iya, tapi kita makan dulu ya," pinta gadis itu sembari memandang alfie dengan tatapan memohon.
melihat wajah memohon itu membuat hati kecil alfie menjadi luluh. tidak mungkin ia menolak permintaan sang pujaan hati kan?.
terselip sebuah ide dalam kepala alfie untuk mengerjai gadis itu. sebuah ide yang akan membuat hati karin perlahan jatuh padanya.
" hmm baiklah , tapi ada satu syarat," ujar lelaki itu sembari mengeliling tubuh karin.
" syarat apa? "
alfie berhenti tepat di depan karin dengan sejuta senyumannya. wajah lelaki itu nampak begitu bersinar dan penuh dengan harapan.
sedangkan karin malah menatapnya dengan wajah penuh kebingungan.
" janji dulu kamu tidak akan tolak," kata alfie sambil mengangkatnya jari kelingkingnya.
" iya aku janji." karin menautkan jari kelingkingnya pada jari alfie.
alfie tersenyum." kita akan berjalan dengan bergandengan tangan. Kamu harus menggandeng ku layaknya sepasang kekasih "
karin melebarkan matanya setelah mendengar permintaan dari alfie. ia mundur selangkah ke belakang dan mulai mencerna setiap ucapan cowok itu.
" kamu gak mau? " tanya alfie yang melihat karin seperti bimbang.
karin tidak menjawab tetapi hanya diam, dan hal itu membuat alfie merasa bersalah.
" rin maaf, gak papa deh ayo kita mak--" ucapan alfie terhenti ketika merasakan gerakan di tangannya.
pandangannya turun kebawah dan terkejut melihat tangan karin sudah menggenggam erat tangannya. alfie tidak mengerti, padahal gadis itu tadinya kelihatan tidak senang.
perlahan alfie mendongak menatap karin yang lagi tersenyum hangat padannya.
" aku setuju dengan syarat mu," gumam gadis itu
Ingin rasanya alfie berteriak karna saking senangnya, tetapi ia tahan karna itu akan sangat memalukan.
jika bagi orang ini adalah hal yang simpel untuk di senangi, berbeda dengan alfie karna ini adalah sesuatu yang sangat berharga. karna waktunya tidak banyak lagi untuk merasakan tangan lembut ini.
aflie mengangguk dan tersenyum." Ayo kita makan, kamu yang akan memilih menunya," pungkas alfie seraya membawa karin keluar.
kedua remaja itu berjalan dengan penuh keromantisan di bawah sinar bulan. ramainya pengunjung membuat genggaman mereka semakin erat.
" karin cantik "
" iya, alfie juga ganteng kok "
" karin cantik sama kayak bintang "
" loh, aku beda dengan bintang "
" iya, karna bintang itu ada di langit sementara karin adanya di hatiku,"
" alfie pandai banget ya gombalnya," balas karin memalingkan wajahnya. apa alfie tidak tau bahwa wajahnya sudah memerah karna gombalan lelaki itu? .
" cieee ada yang malu," goda alfie lagi
" alfie menyebalkan," geramnya, kemudian tertawa bersama alfie
karin dan alfie yang sedang tertawa tiba-tiba saja terhenti saat mendengar suara dari depan mereka. dan saat keduanya menoleh, mereka sama-sama terkejut melihat dion dan amel.
dan karin lebih terkejut lagi saat melihat dion dan amel sedang bergandengan tangan dan memakai baju yang sama.
sakit? tentu saja hati karin sakit, tidak semudah itu untuk melupakan cintanya.
sedangkan alfie, ia perlahan melirik ke arah karin dan memandang wajah gadis itu dalam. alfie sedih, karna ia yakin bahwa hati karin masih tertuju pada lelaki di depannya ini.
ya alfie sadar kok, dia gak mungkin juga memaksa karin menjadi miliknya.
ia hanya ingin berada di samping karin sebelum tiga bulan ini berakhir. alfie tidak ingin hari-hari terakhirnya ia lewati dengan hampa.
sedangkan amel yang melihat pemandangan di depannya, membuat rasa bencinya bertambah besar pada karin. ya, alasannya cuman satu, yaitu alfie. amel tidak tau kenapa karin selalu beruntung dalam segala hal. dan kali ini ia mendapatkan lelaki yang sangat tampan bahkan melebihi dion.
tanpa karin ketahui, saat ini dion tengah menahan amarah yang memburu di hatinya. ia geram melihat karin berdua dengan lelaki lain, apalagi sampai sedekat ini.
tapi lagi-lagi ia sadar kalau karin itu adalah saudara yang jahat dan tak layak mendapatkan cintanya.
dion memperhatikan alfie dengan rinci dari atas sampai bawah. ia seperti pernah melihat cowok ini sebelumnya tapi lupa di mana.
dion terus mencoba mengingat tentang alfie hingga ia tersadar bahwa alfie adalah seorang pelayan di kafe favoritnya bersama karin dulu.
senyum jahat di wajah dion pun mengembang. cowok itu menatap remeh ke arah alfie.
" lo memang perempuan murahan ya. setelah putus dari gue malah dapat pelayan," hina dion sambil tersenyum miring menatap alfie dan karin bergilir.
" loh yang, dia pelayan ya? " tanya amel sok polos
" iya, dia pelayan rendahan dan karin pantas mendapatkannya." dion berbalik menatap amel bermaksud memanasin karin." dan kamu pantas mendapatkan ku dari pada wanita jahat itu."
alfie tidak menyangka dion bisa mengatakan hal sekejam itu pada wanita yang dia cintai dulu.
dan kata-kata dion tadi telah membangkitkan amarah yang sudah lama alfie pendam.
Ia menoleh ke arah karin dan sedikit terkejut melihat gadis itu sedang tertunduk dan menahan air matanya. teriris hati alfie melihatnya, sungguh ia akan menjauhkan segalanya yang menyakiti hati karin.
alfie semakin mengeratkan genggamannya dan kembali menatap dion dengan tajam.
" lo boleh menghina ku tapi tidak dengannya," tegas lelaki itu sehingga semua mata tertuju padanya.
dion tertawa." dia pantas di hina! "
" CUKUP!." alfie menunjuk wajah dion dengan jari telunjuknya." yang pantas itu lo bukan dia! "
" hahaha , lo siapa sampai berani belain cewek jahat kayak dia? emang lo pacarnya."
" iyaa, gue pacarnya." perkataan alfie berhasil membuat karin tersentak begitu juga dengan dion.
hal itu justru membuat amarah dion semakin membara. ia cemburu, sangat cemburu. biar bagaimanapun cintanya belum hilang sepenuhnya pada karin. dan karin adalah gadis tercantik yang pernah ia temuin.
dion perlahan melangkah mendekati alfie dengan rahang yang mengeras. kedua tangannya terkepal kuat, dan setelah sampai di depan cowok itu ....
bugh
" ALFIEEE!! " teriak karin shock
pukulan itu berhasil membuat genggaman alfie terlepas dan tersungkur ke belakang.
" apa yang kau lakukan dion!!, kenapa harus sampai memukul!! " murka karin menatap tajam lelaki itu, kemudian ia membantu alfie berdiri.
kedua tangan alfie terkepal kuat, apa dion sedang mencari masalah dengannya? Jika benar, ia tidak akan segan-segan melawannya apa lagi dalam hal untuk melindungi karin.
alfie ingin membalas pukulan dion tetapi ia mengurungkan niatnya saat karin menahan tubuhnya . wajah gadis itu di penuh dengan air mata, ia menatap alfie sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
hal itu membuat alfie tersadar bahwa ia tidak boleh tersulut oleh emosi. membalas dion hanya akan membuat situasi semakin kacau. dan juga akan membuatnya sama dengan lelaki itu.
alfie kembali menatap mata teduh karin, wajah yang tadinya penuh dengan amarah kini berganti menjadi senyuman tipis. tangannya perlahan terangkat dan menghapus air mata karin.
" jika kamu menangis karna aku, itu akan membuat ku senang. tapi jika kamu menangis karnanya, aku akan sangat sedih," bisiknya yang masih bisa di dengar oleh dion dan amel.
" rin, jangan buang air matamu untuk orang yang tidak menghargaimu, karna itu hanya akan sia-sia. dan kamu harus tau ada banyak yang peduli tentangmu."
" jika kamu terus terfokus pada orang yang melukaimu, kamu akan melupakan orang yang selalu ingin membuat mu bahagia."
ucapan alfie mampu membuat karin tertunduk dan merasa malu. karna memang benar ia juga menangis karna perlakuan dion dan terbakar api cemburu.
tapi sekarang ia sadar, bahwa dion memang tidak pantas mendapatkannya. dan untuk alfie, karin bertekat akan melupakan cintanya pada dion walau sedikit sulit.
" alfie maafkan aku,"
" tidak ini bukan salahmu..... dan untuk kedepannya aku akan selalu melindungimu dari orang seperti dirinya," ujarnya seraya melirik ke arah dion.
" tersenyum lah rin, aku suka melihat senyumanmu," pinta alfie
karin tersenyum hangat." makasih." Ia kembali menautkan jarinya pada jari alfie." ayo kita pergi "
tentu saja alfie tersenyum dan mengangguk dengan ajakannya. apa lagi melihat karin yang dengan sendiri berinisiatif menggandengnya tanpa ia minta.
sedangkan dion, ia semakin geram melihat karin menggandeng lengan alfie. ada sebuah rasa ketidarelaan dalam hatinya.
" kenapa mereka harus berpacaran?! " gumam dion
" memangnya kenapa sih kalau mereka pacaran?bukankah itu akan menguntungkan bagi kita," jawab amel sambil menggandeng dion dan menempelkan tubuhnya pada lelaki itu.
" sayang, kamu jangan lupa kalau karin hampir membunuhku waktu itu." amel menunjukkan bekas sayatan di tangannya.
melihat itu dion pun terpaku, kemudian ia menghela nafas panjang dan tersenyum ke arah amel.
" kamu benar, dia adalah wanita rendahan. aku akan selalu berterimakasih padamu karna telah menyadarkan ku." ia menarik tangan amel dan mengecup bekas jahitan itu.