HARI YANG KELAM

993 Kata
*** Tuan Wintama dan Dante mendatangi rumah sakit mengecek keadaan Adelia. mereka bertemu Dokter terkait hasil visum. "maaf sebelumnya Tuan Wintama Tuan Alexander saya harus berkata jujur, luka yang didapat nona Wintama seperti bekas cambukan dan beberapa bagian memar akibat benda tumbul, luka sobekan dipelipis seperti dibenturkan pada sesuatu yang keras dan____ kesuciannya terjadi robekan" Dokter sangat berhati-hati dengan perkataannya dua bangsawan didepannya tidak bisa diremehkan. "maafkan saya tuan saat ini hanya itu yang bisa saya sampaikan perihal keadaan yang menimpa nona muda kami tim dokter akan terus melakukan observasi. Dokter tertunduk tidak berani beradu tatap dengan dua orang yang memiliki kuasa sangat berpengaruh di negara ini. Rahang Dante mengeras tangannya terkepal kuat menghadapi kenyataan calon tunangannya mengalami kekejaman begitu berat. tak jauh berbeda dengan Tuan Wintama bisa dipastikan dikepalanya penuh siasat menghancurkan pelaku penganiayaan putri kesayangan. "tutup semua informasi tentang Adelia jangan sampai bocor kepublik" Sean melihat Dante dan Tuan Wintama keluar dari ruangan Dokter kepala. "apa bidadari anak Tuan Wintama, pantas saja aku seperti tidak asing saat pertama kali bertemu gadis itu" gumamnya "Dante... Selamat malam Tuan Wintama" sapa hormat Sean. "Dad ini Sean saudara sepupuku dia yang menangani Adel" "Hhmm lakukan yang terbaik untuk calon istrimu aku percaya kalian" Tuan Wintama bergegas pulang khawatir kondisi istrinya. Dante tertidur disisi ranjang Adelia tangannya mengelus jemari sahabat yang sebentar lagi menjadi tunangannya. Adelia terbangun mengerjap matanya memperhatikan sekelilingnya. "aaaaaaa_____ pergi!!!!" "Pergiiiiiii_____ jangaaaannnnn!!!" Dante baru terlelap sontak terbangun. "Adel ada apa" mencoba menenangkan "Jangaaaaaaaaaaaannnnnnnn" lirih Adel terisak menarik selang infus yang melekat ditangan kirinya. "Adel tenanglah" Dante menahan tangan Adelia agar tak menarik infusnya. "TIDAK JANGAN SENTUH AKU!!!" Adel tersedu-sedu. Dante berdiri lalu memeluk erat, Adel melawan memukul lemah d**a Dante. pelukan semakin dipererat. "Adel kau aman sekarang aku disini" bisik Dante tubuhnya Adel terlalu lemah kemudian kembali pingsan. Dante masih memeluknya mengelus rambut gadis yang lama dikenalnya. namun hatinya tergelitik ada perasaan yang sulit dijelaskan hatinya terasa hangat mendekap Adelia. dikecupnya pucuk kepala sahabatnya. lidahnya mengaku Adel sahabat tapi hatinya berkata lain. Tubuh lemah yang tadi meronta kini terkulai saat dia merenggangkan pelukannya. ditekan tombol diatas ranjang memanggil perawat. lalu dibaringkan Adel perlahan bak kristal rapuh. perban putih yang membalut luka berubah merah. hati Dante seperti tertusuk seribu anak panah yang menghujam sekaligus. Sean dan seorang perawat tiba diambang pintu. "biar aku memeriksanya Dante" Sean memeriksa Adel dengan seksama. "Dia berteriak saat terbangun lalu pingsan" jelas Dante pada Sean "Aku akan berdiskusi dengan psikiater, pulang istirahatlah Dante aku akan menjaga kakak ipar" Dante menggeleng, Sean mendesah kemudian Sean dan perawat meninggalkan Dante pasrah tak bisa berbuat banyak memaksa Dante yang keras kepala dan sulit ditaklukkan. *** Sudah lebih delapan bulan Adel terbaring.kondisinya sangat memprihatinkan, terbangun lalu pingsan lagi, teriakan tak luput keluar dari mulutnya. tubuhnya semakin kurus makanan dan obat selalu dibuang. Hari ini pukul 05:00 Adel terbangun merasakan sakit luar biasa dikepalanya dan sekujur tubuh. sekuat tenaga mencoba duduk didapatinya Dante tertidur di sofa. sekejab ingatannya pada malam tragis bayang-bayang wajah Eldrian menakutkan serta menjijikkan setiap siksaan tergambar jelas bagaimana rasa sakit saat Eldrian menyiksa melecehkan seperti binatang. "Sakiiiiittt___Jangaaaaaaaaaaaannn!!!" Dante melompat dari sofa nyawanya belum terkumpul genap berjalan sempoyongan. "Adelia__" Dante memeluk gadis yang dirawatnya dengan kasih sayang segenap hatinya tercurahkan. banyak pekerjaan yang tertunda demi mendampingi Adelia. "Dante aku takut" Adelia membalas pelukan Dante tersedu-sedu tangis gadis tersebut. "aku menjagamu Adel tenanglah" Adelia kembali terbayang malam kelam itu merasa jijik pada dirinya sendiri lalu melepaskan pelukan mendorong Dante. "pergi Dante jangan ganggu aku" Dante kaget setelah sekian lama baru ini Adelia menolak dirinya. "tidak Adel" Dante mempersilah pelayan masuk membawa sarapan untuk Adelia dan dirinya diletakan dinakas lalu mengambil mangkuk didekat pada Adelia. menyendoki oatmeal dengan potongan buah-buah diarahkan kebibir Adelia. "apa bisa memakannya sendiri Dante" Adel meraih sendok namun Dante menjauhkan dari gapaian Adel. "kau belum pulih biar aku bantu" namun Adelia mengunci mulutnya menolak suapan Dante. "Adel demi tubuhmu makanlah sedikit" Adelia tetap menolak membuang pandangan kearah lain. "aku bisa sendiri Dante!!" "Baiklah" Adelia mengambil mangkuk dari genggamnya Dante. "keluar aku ingin sendiri" Dante menghempas nafas pasrah. "Aku akan pergi setelah kau menghabiskan sarapanmu Adelia" "jangan memerintahku Dante keluar sekarang" Adelia mengacungkan jari arah pintu tanpa melihat pada Dante. sepeninggal Dante Adelia ke kamar mandi menatap pantulan dirinya dicermin. semakin dia melihat bayangannya semakin merasa jijik. diguyurnya tubuhnya dibawah shower. Ditarik rambut panjangnya helai demi helai terlepas dari kepalanya. tak kuat menompang kakinya tubuhnya terduduk dibawah guyuran air dingin. kulitnya mulai mengkisut bibirnya membiru giginya mengeretak satu sama lain. Dante mulai panik mondar mandir didepan kamar perawatan Adelia. demi menutupi berita Adelia bocor ke publik Tuan Wintama menyediakan tempat khusus dokter dan perawat datang setiap hari dijemput menggunakan helikopter. Kecemasan Dante bertambah karena tak mendapati Adelia diranjangnya dan makanannya belum tersentuh sama sekali. mencoba mencari ke kamar mandi. Adelia kini terduduk dilantai tanpa sehelai benangpun tubuh bergetar matanya terpejam. Diselimutinya Adelia dengan handuk diangkat ke pembaringan dikeringkan tubuh sedingin es itu tanpa ada perlawanan sedikitpun. dipakaikan baju agar tubuh Adelia menghangat. dari kejauhan terdengar suara helikopter Dante sedikit merasa lega. *** Tok...tok... "Masuk" "maaf tuan muda Dokter sudah tiba" "hhhmmm" pelayan mempersilakan Dokter masuk. "Adel kedinginan terlalu dikamar mandi" "baik Tuan muda saya akan memeriksa nona" Dokter memasangkan infus dan menyuntikan obat. "Maaf Tuan muda, nona sangat lemah beberapa suntikan sudah saya berikan semoga setelah terbangun nona akan lebih baik, saya pamit tuan" "hhhmmm" Dante duduk memijat pelipisnya setelah delapan bulan baru kali ini Adelia berbicara dan menolaknya. apa Adelia sudah menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. diraihnya ponsel menghubungi Sean. Kring! "Sepupu ada apa sepagi ini, bagaimana kabar kakak ipar?" "Sean aku ingin menanyakan sesuatu hal datanglah aku akan menyuruh orang menjemputmu" "eeemmm bisa kau suruh mereka membawa beberapa pengawal aku takut diculik saat diperjalanan" "aku akan menyuruh pengawal membuangmu dikelaut agar menjadi santapan hiu" "heiii!!!!" "helikopter menjemputmu" "baik sepupu aku akan membawa beberapa setel baju untuk liburan kali ini" "bawa semua barangmu akan mudah membuangmu dari atas" tut.....tut..... tut.... "Dasar sepupu gila!!!" maki Sean saat panggilan telpon diputuskan sepihak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN