“Justin, lepas!” Hana sudah memintanya berulang kali. Dia meronta dan menarik tangannya agar Justin lepaskan, namun pria itu menggenggamnya semakin erat. “Justin, kumohon.” “Tetaplah jalan dan jangan membuatku malu,” ucap pria itu tajam, dengan bisikan yang hanya Hana mampu dengar. “Tidak, di sini aku yang malu, jadi tolong lepaskan!” sahut Hana dengan suara yang tegas. Justin tidak mendengarkan. Sampai di dalam kantornya dia baru menghentikan langkahnya dan berbalik lalu melepas tangan Hana. “Apa berduaan dengan pria lain sedangkan pria itu tahu bahwa kau telah memiliki suami, tidak membuatmu malu sebagai seorang wanita?” Justin bertanya, dengan nada tajamnya setelah sedari tadi menahan diri. Hana terdiam, dia memijat pelan pergelangan tangannya di balik khimar yang ia kenakan. “T

