Angin bertiup kencang, mengirim udara dingin yang mengelus kulit dengan sangat lembut. Kelambu putih di jendela menari-nari, sumber angin itu masuk. Di balik selimut tebal, bergelung seorang perempuan dengan kerutan di dahinya, yang diikuti dengan peluh yang mengalir dari pelipisnya. Napas gadis itu berat seiring dengan wajahnya yang memucat, hampir seputih kapas. “Hana?” “Nenek...” “Tunggu, apa kau benar-benar Hana?” Perempuan itu terlonjak kaget dari tidurnya. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai menyakiti dadanya, matanya menatap nyalang ke depan, napasnya pun ikut memburu. Nenek, Hana membatin. Apa yang dia impikan tadi benar-benar buruk. Hana bermimpi dirinya pulang ke Palestina, namun tidak satupun orang mengenalnya, termasuk neneknya sendiri. Seakan tertarik dari dunia

