Suara musik berdentum keras. Di ruangan itu temaram, dengan lampu-lampu sorot yang dinyalakan. Suara riuh orang-orang di sana menyatu dengan musik yang diciptakan oleh sang DJ. Wanita-wanita dengan pakaian minim dan riasan tebal datang silih berganti pada pria yang saat ini duduk termangu di bar dengan botol berisi air mineral di tangannya. Beberapa pria memandangnya dengan seringaian mengejek, berbeda dengan para wanita yang sedari tadi terus saja berusaha menggodanya, namun pria itu tidak menggubris. “Justin, sudah saatnya kau pulang.” Pria di samping pria itu menyentuh bahunya. Justin termangu, tatapannya kosong, tapi ucapan Albert barusan terdengar jelas di telinganya sekalipun keadaan di sekitar mereka begitu bising. Pulang? Entah pulang kemana yang dimaksud Albert. Justin merasa d

