Di dalam kamar yang temaram itu, disinari hanya dari cahaya bulan yang menembus gorden putih di jendela. Suara isakan kecil terdengar. Mata Justin saat ini tertuju pada seorang wanita yang sedang terduduk di lantai yang dilapisi sejadah. Bahunya bergetar dan suaranya tidak berhenti menyebut-nyebut nama Allah dalam sebuah bisikan. Justin terhenyak, seperti terpaku dan mematung di sana. Tiba-tiba kehilangan suaranya. Hana. Nama itu terucap begitu saja di benaknya, mengirimkan perasaan bersalah dan sedih yang mendalam. Apa dia telah menyakiti perempuan ini? Sejauh mana? Justin tidak suka pada apa yang saat ini kepalanya pikirkan. Dia telah menjadi seorang muslim, untuk Hana, apa itu tidak cukup untuk menebus rasa bersalahnya?! Justin mengumpat dalam hati, sialan! Dia kalah telak lagi.

