Lima menit usai keluar dari ruangan Prabu Damar Anggabaya, Ratu melangkah dengan lunglai menuju lantai enam gedung Pancabuwana Internasional tempat pimpinan perusahaan ekspor impor, Waluyo Handoko berada. Setelah mengetuk pintu dan mendapat perintah untuk masuk, wanita muda itu memberi salam saat ia menemukan sosok lelaki berusia lewat lima puluh lima tahun sedang bicara dengan wanita anggun berpakaian blus midi tanpa lengan warna persik matang.
Dua manusia itu berhenti bercakap-cakap setelah sadar ada tamu yang masuk dalam ruangan. Yang perempuan, berusia dua puluh tiga tahun menatap angkuh pada penampilan sederhana Ratu yang tersenyum kikuk sambil memutus kontak mata mereka. Perempuan itu bahkan mengerenyit ketika mendapati bulu-bulu halus milik Broto menempel di sepanjang siku kanan kemeja hitam milik Ratu. Dari raut wajahnya, kelihatan sekali bahwa dia yang berusia dua tahun lebih muda dari Ratu sudah siap mencerca, namun sang ayah sepertinya sadar dan ambil alih mencairkan suasana dengan meminta Ratu mendekat.
"Ratu, udah lama nggak main ke sini. Apa kabar?"
Waluyo Handoko yang kelihatan amat bugar, dengan rambut masih menghitam berjalan dengan langkah riang, meminta Ratu untuk duduk di sofa namun ditolak dengan halus oleh wanita muda itu. Putri mantan Abang Jakarta tahun tujuh puluhan itu memilih berdiri karena tahu, Putri tidak akan sudi melihatnya ikut duduk bersama mereka. Bagaimana pun juga, meski dia adalah anak dari istri sang direktur, empunya perusahaan, Ratu tetap tidak selevel dengan Putri yang notabene anak kandung bos. Bagi wanita itu, Ratu Intan Wijaya Kusuma hanyalah anak seorang pelakor.
"Alhamdulillah baik, Om." Ratu menjawab sopan. Ia masih menunduk bak karyawan kena setrap walau Waluyo kelihatan amat santai, tidak terpengaruh pandangan menusuk dari arah kursi di depan meja kerjanya, di mana anak perempuannya yang berwajah cantik dan amat berkelas sedang memandangi Ratu dengan penuh kebencian.
"Putri, kasih salam dulu sama mbak Ratu. Kenapa cemberut gitu? Jarang ketemu juga, kan? Sibuk travel, jadi lupa sama saudara sendiri."
Terdengar suara berdecak yang jelas-jelas tidak disembunyikan sama sekali oleh wanita yang bernama Putri itu. Ia malah langsung menskak Ratu dengan kalimat menyindir yang menyebalkan.
"Iya sih, tiap ketemu, taunya minta duit."
Rahang Ratu mengeras mendengar kalimat tersebut, tapi sebisa mungkin ia tahan emosi dan bicara dengan nada ramah, pada Waluyo, bukan Putri yang membuatnya berharap kehadiran Broto di sana, sekadar membantu mencakar bibir atau pipi mulus Putri, rasanya pasti menyenangkan.
Aduh, Kang. Pakabar bijik kakang?
"Nggak apa-apa, Om. Saya ngerti Oom sibuk."
"Ah, iya." Waluyo mengangguk-anggukan kepala. Ratu bisa melihat jok kursi sedikit melesak saat pria itu duduk. Waluyo Handoko tidak gemuk, tapi badannya yang jangkung dan perawakan yang mirip orang barat, membuatnya terlihat besar dari kebanyakan orang Indonesia.
"Jangan gitu. By the way, mami kamu kirim salam. Kapan-kapan main ke rumah. Papi sehat? Kontrol terus ke dokter?"
Sampai di situ, Ratu merasa tenggorokannya perih. Setiap Om Waluyo menyebutkan papi diantara obrolannya tentang mami, yang terbayang dalam ingatannya adalah detik-detik mami pergi, hanya membawa tas dan menggenggam tangan pria itu tidak peduli Ratu memohon sambil bersujud memeluk kaki sang ibu, terseret hingga beberapa meter di pelataran rumah mereka yang lama, sebelum akhirnya di jual untuk membiayai operasi papi. Saat di mana seorang Ratu Intan, ketua OSIS yang dikenal hebat dan kuat di mata teman-teman dan para guru, tidak lebih bagai pengemis di mata Indira, mami kandungnya.
"Mi, papi lebih butuh mami daripada Atu. Pulang, Mi. Atu janji bakal rajin, Atu nggak bakal lama-lama di sekolah. Atu bakal nurut, Mi. Atu minta tolong, jamgan tinggalin papi. Ya, Allah, Mi. Tolong, Atu. Atu nggak bisa ngurus papi sendirian, Mi. Atu mesti gimana kalau mami pergi? Mami nggak sayang lagi sama Atu? Sama papi?"
Balasan Ratu untuk pertanyaan Waluyo serta salam dari sang ibu hanyalah senyum tipis yang terkesan dipaksakan.
"Sudah makan? Om tadi pesan delivery, makanan Italy, kamu suka? Sekalian ikut makan, yuk?"
Ratu menggeleng dan membalas kalau dia sudah makan siang. Kehadirannya ke tempat itu hanyalah memenuhi panggilan yang membuat Putri berdecih lalu angkat kaki dari ruangan sang ayah tidak lama setelah ponselnya berdering nyaring. Ia sempat berbisik pelan di telinga Ratu, "Awas lo, kita belom selesai," saat melewati saudara tirinya itu. Setelah pintu tertutup dan tinggallah mereka berdua di sana, Ratu kembali melemparkan pandang ke arah ayah tirinya.
"Maafin Putri. Sifatnya nggak berubah, padahal sudah bertahun-tahun."
Ratu menyunggingkan seulas senyum tipis, berusaha tidak terlihat tersinggung karena sikap Putri barusan walau mustahil. Meski ia memasang wajah palsu, pura-pura senyum, dia yakin, Waluyo paham rasa tidak nyaman yang ia terima tiap Putri buka suara.
"Kepala kamu kenapa?"
Hanya gelengan, anggukan, yang menjadi senjata utama wanita seperempat abad itu. Ia tidak terlalu suka dengan sang ayah tiri, namun tetap berusaha sopan tidak peduli melihat wajah Waluyo selalu mengingatkannya pada sosok papi yang terkapar di kasur tipis, dengan popok sekali pakai penuh air kencing, kadang juga feses, sertaa mulutnya yang mengeluarkan liur saking otot mulutnya tidak lagi berfungsi normal.
"Nggak apa-apa, lecet dikit, Om." Dia menjawab sekenanya, berharap bisa cepat kabur dari ruangan ini. Jika bertiga dengan Putri seperti tadi membuatnya sesak, hanya berdua seperti ini membuatnya ingin marah, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Marah, kesal ataupun sedih adalah satu kesia-siaan belaka. Tidak akan pernah mengembalikan mami ke sisi papi. Mami tetap pergi dan papi tetap terbaring mengenang sisa kejayaan masa lalu yang telah runtuh.
Lagi pula, karena belas kasihan Waluyo Handoko lah dia masih bisa bertahan hidup, karena permohonan mami yang menemukan Ratu sedang menjajakan diri sebagai SPG rokok dengan balutan rok mini tidak lama usai pindah dari SMANSA JUARA ke sebuah sekolah swasta murah dekat rumah agar bisa merawat papi, ayah tirinya itu kemudian memasukkan Ratu sebagai staf tambahan tidak peduli usianya belum genap delapan belas ketika tamat sekolah.
Alasan yang sama yang buat dia harus menjauh dari sosok Damar karena permintaan Putri yang entah kenapa sejak rajin menguntit anak perempuan istri baru sang ayah, mulai menyukai Damar.
"Emak lo kan udah ngerebut papa gue, jadi lo tau diri, ga punya hak buat cinta sama Damar. Dia buat gue. Lo anak pelakor, gak pantes sama sekali, kayak emak lo, lo juga gak punya harga diri."
Sadar sikap Ratu makin kaku, Waluyo kemudian beranjak menuju meja kerjanya, "Udah gajian, kan?" Dijawab Ratu dengan anggukan sopan hingga membuat pria itu mendesah dalam hati. Ia berusaha tidak memikirkan semuanya dan bergerak menuju laci meja. Dari dalam sana, ia berhasil menarik sebuah amplop berukuran sepuluh kali lima belas yang sudah Ratu hapal apa isinya.
"Titipan mami kamu. Buat jajan. Gajinya pas-pasan buat berobat papi kamu, kan? Ini biar bisa beli baju, atau beli hape baru. Ambil yang kayak punya Putri, kameranya bagus."
Ratu merasa bibirnya asin dan ia tahu itu adalah darahnya sendiri. Tiap bulan, hal seperti ini selalu terjadi, membuatnya begitu tidak ada harga diri di mata Putri. Buat apa mami melakukan hal yang sama, setiap bulan, selama bertahun-tahun? Kalau wanita itu tahu, hasilnya akan tetap sama.
"Makasih, Om. Sampaikan salam saya buat mami. Gaji Ratu lebih dari cukup buat kami berdua. Om dan mami nggak perlu repot-repot. Ratu juga ada kerja sampingan."
Tangan Waluyo yang masih terulur, memegang amplop berwarna cokelat itu mendadak kaku. Ia tahu sejak pertama bekerja, Ratu selalu menolak pemberiannya. Alasannya pun selalu sama, gajinya lebih dari cukup dan ada pekerjaan sampingan yang ia lakoni hingga bisa terus bertahan hidup. Padahal Waluyo juga tahu, andai punya pilihan, meninggalkan perusahaan ini adalah hal yang paling anak tirinya itu lakukan.
"Nggak apa-apa, Ratu. Ini dari mami kamu, buat anak gadisnya. Ayo diambil."
Satu senti pun Ratu tidak bergerak dari tempatnya. Tidak peduli setelahnya, Waluyo yang mengalah, berjalan mendekat dan meraih tangan Ratu dengan harapan dia mau menerima, tapi respon gadis itu selalu di luar nalarnya.
"Om, bilang sama mami, terima kasih buat semuanya. Tapi Ratu nggak bisa terima dan berharap mami bisa ngerti. Uang tidak selalu jadi ukuran kebahagiaan buat Ratu."
Hanya beberapa kalimat pendek, lalu wanita muda itu undur diri. Tidak lama usai Ratu keluar, Waluyo meraih ponsel dalam saku jas lalu menelepon Indira, istrinya.
"Dia nggak mau terima. Mas udah berusaha loh, Dek."
Setelahnya, Waluyo tahu, Indira akan menangis terisak-isak tapi tidak sanggup melakukan apa pun. Sejak ia pergi meninggalkan rumah dan mantan suaminya, detik itu juga ia telah kehilangan sang putri.
Putri semata wayang yang ia lepaskan demi hasrat membara pada cinta pertama yang tetap perkasa dan jaya, tidak peduli sudah mesti mengorbankan semuanya.
Sementara Ratu yang keluar dari ruangan Waluyo segera menemukan Putri berdiri di depan ruangan sang ayah, memandanginya sambil bersedekap dan tersenyum mencemooh.
"Asyik nih, yang dapet jatah bulanan. Bisa foya-foya, ke salon, pirangin rambut. Minggu ini abu-abu, minggu depan warna ungu, itu rambut apa kemoceng bisa warna-warni?"
Suara Putri yang menggema terdengar sedikit keras, hingga membuat Stefani, sekretaris Waluyo menoleh penuh minat. Tukang gosip berbodi sintal itu selalu semangat mencari bahan perbincangan kala senggang, biar tambah akrab dan terkenal di jajaran sekretaris direksi. Untuk itu, Ratu hanya mengulas senyum. Tidak banyak yang tahu kalau dia adalah anak tiri sang pemilik perusahaan. Kalau pun ada yang tahu, semua menganggap hidup Ratu yang serba ceria adalah hal yang wajar.
"Kamu nggak pemotretan, Put? Sydney lagi musim apa?"
Basa-basi yang bikin pusing. Di depan tuan Putri, Ratu tidak pernah bisa bersilat lidah. Bisa buka mulut saja, dia amat bersyukur.
"Kenapa, lo kepo ama kerjaan gue? Duit gue banyak, nggak berseri. Gak perlu ngemis sama bapak tiri biar bisa modalin ke salon. Muka gue, dihargai ratusan juta. Nggak kayak lo..."
"Kamu udah selesai?"
Putri yang masih ingin menyumpahkan serapah pada Ratu mendadak diam saat mendengar suara pria yang paling ia rindukan selama berminggu-minggu. Ketika menoleh, di belakangnya sudah ada Damar yang membuat debaran jantung putri pemilik perusahaan itu berdetak amat kencang. Ia baru hendak menyapa saat Damar dengan santai berjalan melewati fotomodel terkenal itu dan menarik tangan Ratu yang masih berdiri tertunduk di depan Putri, tidak sadar kalau sedari tadi Damar berdiri dekat ruangan sang atasan, menunggui Ratu dalam diam. Hal yang ketika disadari oleh Putri, membuatnya amat panik.
"Mas Damar, apa kabar? Mama sehat?" Wanita itu mencoba basa-basi, walau yang ia dapat hanyalah kedikan tajam dari Damar yang berjalan melewatinya.
"Mas, kamu mau temenin aku jalan? Ada film bagus yang mau aku tonton, bareng yuk."
Penolakan Damar adalah jawaban yang ia dapatkan.
"Sori, Put. Saya ada rapat intern. Penting dan nggak bisa diganggu sampe malem."
Dengan tambahan gumam yang ia yakin, hanya bisa didengar oleh Ratu yang menolak mengangkat kepala, walau terus berusaha menarik tangannya yang digenggam Damar begitu erat, "Rapat intern sama calon istri yang ternyata punya banyak rahasia yang mesti aku bongkar..."
Ketika Ratu terpaksa mengangkat kepala, karena ucapan Damar barusan, pandangan mereka bertemu dan Ratu menyadari kalau mereka berdua sudah berada dalam lift.
"Jangan gila, Mas. Kamu jangan ngomong sembarangan."
Pintu lift yang hendak tertutup mendadak tertahan karena gerakan kaki Ratu yang amat tiba-tiba. Satu kali sentakan kuat, pegangan tangan mereka terlepas dan ia leluasa untuk melarikan diri. Ia bersyukur ketika keluar dari lift dan berlari cepat menuju tangga darurat, Putri masih di sana, memandanginya kabur dengan jantungnya berdenyut nyeri hingga ia yakin, jika saja dadanya dibelah, benda itu akan melompat keluar dari tempatnya.
Setelah berada di tangga darurat yang pintunya kini telah menutup, Ia lalu memutuskan untuk duduk, sekadar mengatur pernapasan dan juga menjernihkan pikirannya sendiri.
Apakah sudah waktunya, ia mesti pergi dari tempat ini dan memulai hidup baru jauh dari semua orang?
****