Ratu kembali ke kantor lima menit menjelang waktu istirahat makan siang selesai. Sambil berjalan mengendap-endap, dia bersyukur ketika mencapai kubikel tidak menemukan Damar yang biasanya berdiri di depan pintu ruang kerjanya, mengawasi siapa saja yang belum duduk di kursi masing-masing saat waktu kerja dimulai. Sejauh ini, selalu Ratu yang jadi korban, padahal dia tahu, banyak pegawai lain yang datang telat tapi tidak pernah kena jatah kena omel hingga harus masuk ruangan pria itu hingga bermenit-menit.
"Selamet." Ratu menggumam setelah pantatnya menempel di jok kursi. Lisa bahkan menyeringai melihat rekan kerjanya itu masih ngos-ngosan mengatur napas yang tidak karuan. Sayang, satu menit kemudian, saat asyik menggunakan satu map kosong sebagai kipas, kepala Damar muncul dan mulai memanggilnya.
"Panjang umur, langsung dicariin." Lisa terkikik setelah Ratu terpaksa bangkit sambil mencebik. Apa dia sebaiknya protes, karena sudah tiba lima menit sebelum jam masuk? Tidak seharusnya Damar lancang memanggil.
"Assalamualaikum." Ratu mengetuk pintu ruang kerja Damar sebelum masuk. Setelah balasan dari sang atasan tampan dia terima, Ratu memilih berjalan sambil menundukkan kepala. Raut wajahnya yang cantik masih tertekuk tanda tidak suka diperlakukan seperti itu, tapi apa boleh buat, anak buah cuma menurut dan di sini lah dirinya, berdiri di depan meja pria yang pernah amat ia sukai di masa lalu.
"Duduk, Tan." Damar menyuruh selagi dia memeriksa berkas. Baru setelah Ratu menarik kursi dan menghenyakkan b****g, ia menoleh.
"Loh, kepalanya kenapa? Tadi pagi masih nggak apa-apa?" Damar mulai panik melihat perban di jidat wanita muda itu. Setelah adu argumen panjang kali lebar menolak bantuan dari Sultan sang dokter hewan yang amat tidak Ratu percayai kredibilitasnya untuk menangani luka emak Broto, ia akhirnya menurut saat Sultan menawarkan opsi pengobatan darurat yang tidak melibatkan jarum dan benang walau hasilnya malah membuat Damar cemas.
"Abis cakar-cakaran sama haters Puteri Indonesia. Berantem deh tadi."
Wajah Damar terlihat sekali tidak senang dengan jawaban itu namun Ratu tidak peduli. Biar saja dia terlihat bagai wanita urakan dan suka berkelahi. Bukankah dengan begitu, Damar akan jijik dan menjauh. Setelahnya dia tidak akan direcoki oleh Putri.
"Nggak selesai-selesai kamu ngurusin kontes-kontes beginian? Liat akibatnya, kepala malah bocor. Coba kamu ngerjain sesuatu yang bermanfaat. Dukung puteri-puteri itu, apa hasilnya buat kamu? Kerjaan jadi terbengkalai, nggak ada untungnya sama sekali. Buang-buang waktu."
Alis Ratu sedikit naik mendengar balasan dari Damar. Mendengar nada bicara pria itu saja dia merasa seperti habis dimarahi papi gara-gara terlalu asyik bermain dan lupa pulang, walau papi di dunia nyata tidak akan bisa marah. Lagipula kenapa Damar harus sewot? Mereka bukan siapa-siapa, kan?
"Yah, namanya juga pendukung setia, Mas. Kalau wakil kita dikatain, ya dibela dong. Masak diem aja."
Ratu bisa melihat Damar menggeleng-gelengkan kepala mendengar kalimatnya. Pria itu mulai bicara saat Ratu sadar, bulu Broto yang rontok menempel di kemeja hitam miliknya. Refleks, wanita itu menepuk lengan kemeja membuat Damar yang baru mengucapkan sepatah kata memandanginya dengan bingung.
"Maunya saya, kamu fokus kerja. Waktunya ngantor, ya datang tepat waktu. Kamu kerja udah paling lama dibanding yang lain. Saya aja baru sadar, dari tamat SMA kamu udah di sini, sudah senior, seharusnya udah naik jabatan, nggak cuma staff purchasing aja. Cuma kalau gini, suka mangkir, gimana mau dapet promosi."
Kalimat yang Damar paparkan membuat Ratu akhirnya mengangkat kepala, memberanikan diri menatap wajah pria yang selalu ia takut untuk melihat wajahnya lebih dari dua detik. Bagaimanapun juga, selain Putri, bagian dari tubuhnya selalu mengingatkan untuk mundur dan menyerah tidak peduli ia paham, sejak kepindahan Damar ke kantor ini empat bulan lalu, pria itu telah menaruh hati padanya.
"Kan saya cuma telat pagi tadi, Mas. Siangnya saya datang tepat waktu, kurang lima menit malah. Itu, Sugi ama Darto malah belum nongol pas saya ke sini, Mas kok cuma nyalahin saya?" Selesai membela diri, Ratu segera melempar pandangan ke arah meja yang kacanya memantulkan bayangan wajah Damar. Memandangi pria itu dari sana jauh lebih baik daripada secara langsung.
"Yah, alasan lainnya kan kamu tahu."
Jawaban lain yang keluar dari bibir Damar sempat membuat sudut kecil di hati Ratu bersorak. Hanya saja, cepat-cepat ia menahan semuanya, mematikan harapan yang mulai bertunas, menginjak tunas itu sebelum ia lancang tumbuh dan berkembang karena tahu, makin ia subur, Ratu akan kesulitan untuk menghindar.
"Ya udah, kalau gitu saya pamit, Mas. Besok-besok saya usahain datang cepat dan makan di meja aja, biar jadi karyawan teladan."
Ratu baru hendak bangkit saat Damar menahan, "Nggak cuma itu, dari tadi Pak Waluyo nyari kamu. Disuruh mampir ke ruangannya, kayak biasa. Jadi habis ini langsung aja ke atas."
Ratu mengangguk lalu memutuskan undur diri. Ia baru berjalan dua langkah ketika sadar Damar sudah menyusul dari belakang.
"Udah makan siang?" Ia bertanya dan Ratu membalas dengan anggukan. Sultan sudah memaksanya makan sop iga yang jika ditolak, ia tidak akan menangani Broto. Gara-gara itu juga ia nyaris terlambat.
"Nggak bohong? Tadi saya beli makan siang buat kamu, nanti dimakan kalau sempat. Sudah saya tarok di meja. Dekat wadah bolpen kamu yang gambar kucing itu."
Ratu merasa tenggorokannya tercekat. Damar selalu memperlakukannya seperti itu, seolah penolakannya selama ini tidak berarti sama sekali. Bagaimana caranya ia bisa menghindar? Apa harus jadi orang jahat dulu supaya Damar jijik dan menjauh?
"Duhileeh, mentang gajian. Baek bener. Bikin baper ih, serius ngasih aku?"
Damar membenarkan. Senyumnya terlihat semringah dan meneduhkan hati, membuat Ratu sedikit goyah tapi ia memutuskan bertahan.
"Makasih ya, Mas. Aku bisa nabung buat beli tiket nonton Miss Universe."
Kalimatnya barusan ternyata mengundang bencana karena wajah Damar jelas terlihat tidak senang.
"Kamu mau nonton Miss Universe? Langsung?"
Tentu saja Ratu langsung mengiyakan, "Iya dong, deket sini, kok. Thailand, sekalian mo ketemu ladyboy, mau pegang susunya, penasaran aku. Hihi, dibolehin nggak, ya?"
Melihat Ratu cekikikan mengkhayalkan sesuatu yang Damar tahu adalah sekumpulan pria transeksual yang rela mengubah jati diri mereka jadi perempuan membuatnya sedikit marah.
"Kamu berani minggat ke luar negeri cuma buat jadi tim hore-hore sampai lupa tugas yang utama?"
Wajah Damar terlihat amat serius saat bicara, sesuatu yang membuat Ratu ingin tertawa. Apakah pria itu sedang cemburu atau memang takut kalau ia memutuskan untuk ke Thailand? Kenyataannya kan amat tidak mungkin. Tapi membuat Damar panik, membuatnya amat bahagia.
"Mas, kata emak di rumah, tugas utama seorang wanita itu pas dia resmi jadi bini. Berhubung di dunia ini mata lelaki sudah buta, jadi saya terbebas dari kewajiban jadi bini orang, so jangan repot ngurusin saya."
Wajah Damar yang amat terkejut mendapat balasan seperti itu adalah hiburan buat Ratu. Ia baru hendak melangkah saat tangannya ditarik pelan oleh pria berjambang halus itu.
"Ih, Mas, ngapain pegang-pegang? Haram tau, nggak. Mas suka banget deh, narik-narik tangan aku kayak gini. Kalo kata Pak ustadz tuh ya, bukan mahram. Kudu kawin dulu, baru boleh nyosor-nyosor."
Setelahnya Ratu langsung menutup mulutnya sendiri, merasa menyesal telah bicara berlebihan. Ia tahu kalimat barusan tidak bisa ditarik kembali saat melihat Damar menyeringai penuh kemenangan.
"Oke, mulai besok dan seterusnya, siapkan diri kamu. Suatu saat saya datang melamar, kamu harus siap. Jadi istri seorang Prabu Damar Anggabaya akan buat kamu nggak akan bisa lagi sekedar dukung puteri-puteri itu. Seluruh waktu kamu bakal habis karena meladeni saya, sampai nggak akan ada lagi waktu buat kontes apa pun. Itu juga kalau kamu masih sanggup bertahan, tentu saja."
Ratu bahkan lupa menutup mulutnya sendiri saat Prabu tanpa malu menarik kepala wanita itu, memilih bagian yang tidak terkena perban lalu mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan.
Sedetik kemudian ponselnya berbunyi nyaring hingga membuat Ratu refleks mendorong Prabu dan tidak heran lagi setelah tahu siapa si penelepon itu.
CCTV yang lebih hebat dari pengawai dan tukang mata-mata paling handal di dunia sekalipun.
"Mas Damar jangan mimpi, deh. Nanti penggemar aku patah hati. Gawat, kan? Dadah, Mas Damar, makasih traktirannya."
Ratu lalu berlari meninggalkan ruangan Damar dan bergegas menuju kamar mandi untuk mengangkat panggilan yang dari tadi tidak kunjung berhenti. Ia tahu akibatnya kalau berani menolak, maka dari itu, setiap Putri menelepon, suka atau tidak, Ratu harus menahan hati dan merendahkan diri hingga ke level terbawah, lalu mengangkatnya.
"Halo, Put..."
"p***k, lo. Cepet ke kantor Papa sekarang. Kita liat sampai mana lo bertahan di kantor ini. Papa pilih gue, anak kandungnya atau lo, anak selingkuhan yang bikin mama gue mati bunuh diri."
Usai sambungan telepon terputus, Ratu kemudian menghempaskan diri ke lantai, jatuh terduduk sambil menghela napas keras-keras.
Sekuat apapun dia berontak tidak akan pernah bisa lepas dari mereka semua.
Damar.
Putri.
Om Waluyo.
Dan tentu saja, ibu kandungnya sendiri.
****