Sultan Bangsawan Gana Jati, seorang dokter hewan berusia lewat dua puluh delapan tahun, sedang memeriksa seekor kucing ras yang terkena jamur dan scabies saat Ratu Intan Wijaya Kusuma datang sambil membawa keranjang berwarna pink amat mencolok dan tertutup dengan suara ngeong berisik dari seekor kucing kampung yang kelihatannya amat panik. Isinya tak lain dan tak bukan, Kakang Broto tersayang yang ditangkap tepat jam sembilan, usai sang Mami kabur dari ruangan Damar. Ketika Broto ditangkap dan dimasukkan dalam keranjang, Ratu mesti bergulat dengan mahluk tukang cakar itu hingga kemeja hitamnya penuh bulu.
Untung saja, Broto tidak mencakarnya. Ia sudah amat beruntung tidak mendapat serangan tambahan. Memasukkan lelaki berbulu itu saja sudah merupakan perjuangan luar biasa sampai-sampai Lisa, sobat sebelah kubikelnya berkata, lebih baik antri sembako murah di pasar pas akhir bulan daripada berperang dengan bulu kucing yang bisa membuatnya bersin tanpa henti, walau aneh, dia tidak bersin saat Ratu yang kadang dipenuhi bulu Broto duduk disampingnya.
"Ada yang ngamuk." Ratu memberitahu saat dirinya sudah berada di dekat Sultan. Pria tampan itu dengan cekatan membantu Ratu mengeluarkan Broto dari keranjang. Untunglah lokasi kantor dan tempat praktek dokter hewan tidak terlalu jauh. Ratu hanya perlu berjalan kaki sekitar dua ratus meter dan ia telah sampai. Di tempat Sultan praktek juga terdapat petshop, satu alasan mengapa Ratu sudah kenal dan akrab dengan pria itu, dia telah lama kenal Sultan dan telah menjadi langganan membeli segala macam kebutuhan kucing, termasuk untuk kucing Uwak Ijah, Lebek dan Cenul, Broto dan beberapa kucing liar yang sering dia bantu dalam kegiatan street cat feeding, alias memberi makan kucing-kucing liar.
"Ngamuk kenapa?" Sultan yang telah berhasil mengeluarkan Broto, memberi usapan lembut di kepala dan di leher hingga membuat kucing setengah liar itu mendengkur tenang. Matanya bahkan terpejam karena menikmati kasih sayang dari dua orang penyayang binatang yang membuatnya langsung tunduk tanpa sadar, setelah ini akan ada bagian dari tubuhnya yang berpisah.
"Mana yang ngamuk?" Sultan tertawa saat menyadari Broto sudah bergulingan di meja periksa, membuat Ratu langsung mengomel panjang lebar, menceramahi kucing dua warna itu.
"Elu ya, Kang. Giliran ama pak dokter aja lemah. Dia itu laki, Kang. Laki. Masak lu jadi kucing homo. Jangan malu-maluin mami, deh. Ilang kredibilitas mami ngasuh kucing belok. Plis ya, Kang."
Sultan tertawa namun dengan cepat matanya kembali fokus pada Broto yang sudah pasrah hendak diapakan.
"Tangan Pak dokter ada peletnya ya, Kang lu ampe teler gitu. Giliran mami aja yang elus, nyokot dah."
Sultan yang masih fokus mengelus Broto sekarang juga sigap melakukan pemeriksaan mulai menanyai Ratu, termasuk tentang puasa karena biasanya kucing akan muntah jika diberi obat bius. Ratu kemudian menjawab kalau biasanya Broto selalu menunggu dirinya agar bisa makan, dan untuk pagi ini, kucing manja itu sudah dikurung sejak pagi. Pada akhirnya, setelah menimbang-nimbang, Broto akan "dieksekusi" menjelang sore dan kemungkinan akan selesai tepat saat sang Mami beradu pandang dengan mesin absen. Mendengar itu, Ratu mengangguk senang lalu mengarahkan pandangan pada Broto sebelum mengelus bulu kucing itu dengan penuh kasih sayang.
"Masih macho kan dia kalo dah steril, gue cemas, Bang. Serius asli, kaga tega, ih."
"Masih, masih bisa bikin cewek lumer, ntar tambah ganteng dia."
"Ah, Bang Sul, suka gitu." Ratu cengengesan namun kalimatnya barusan malah membuat Sultan yang masih memakai masker menaikkan alis, tidak terima dengan nama panggilan yang selalu Ratu sematkan untuknya.
"Masih aja panggil Bang Sul. Jelek banget itu, tau nggak?"
Lalu dimulailah debat panjang dari bibir Ratu, "Ih, lah emang situ namanya Sultan, dipanggil Bang Sul. Iya kali panggillannya diganti, Bangsawan, jadinya Bang Bang apa Abang Sawan, atau mau pake Gana? Jadinya Bang Ga? Sekalian pake nama Jati, jadinya Bang Jati..."
Sultan menyerah, ia tahu tak akan pernah bisa menang melawan Ratu. Sudah beberapa tahun mereka saling kenal dan wanita itu selalu keras kepala, dia tidak akan pernah berhenti walau dilarang sekalipun.
"Gendeng." Sultan membalas Ratu dengan omelan. Ia lalu memindahkan Broto yang sepertinya sudah teler karena mambu tangan sang dokter hewan ke sebuah kandang. Kucing itu butuh beberapa jam lagi puasa sebelum bisa disteril, di kebiri nama umumnya. Bahkan setelah berada di dalam kandang, Broto tampak sangat nyenyak tidur, membuat Ratu geleng-geleng kepala selagi menanti Sultan kelar membersihkan tangan dan melepas seragamnya. Untung setelah giliran Ratu, tidak ada lagi pasien yang datang.
"Udah makan?" Sultan bertanya saat ia keluar dari ruang praktek, membuat Ratu yang sedang membuka tasnya untuk membayar biaya steril Broto menggeleng cepat.
"Bang, kok keluar, sih? Mo bayar dulu biar nggak lupa." Dia berseru. Sayang, Sultan lebih memilih mengabaikannya dan mengajak Ratu menuju lantai dua ruko yang dijadikan tempat istirahat sang dokter kala penat. Ratu yang pernah beberapa kali ikut, saat bergabung dengan rombongan sukarelawan pecinta kucing, menolak.
"Bang, Maminya Broto gak bisa lama, nih. Bentar lagi waktunya masuk, ntar kena marah.
Sultan yang hendak naik tangga, melirik jam dinding dekat ruang praktek yang menunjukkan bahwa sebentar lagi pukul satu. Setelah itu ia menarik tangan Ratu untuk ikut bersamanya.
"Makan dulu. Tadi abang dibawain sop iga. Kamu kan kemaren bilang mau ke sini, jadi bilang sama ibu, minta dibanyakin."
Ratu merasa bingung sekaligus salah tingkah. Benar dirinya dan Sultan amat akrab bagai kakak adik, tapi kadang merasa malu karena pria itu tahu keadaan hidup Ratu yang sebenarnya selain Lisa. Sementara orang-orang yang lain, hanya tahu kalau Ratu adalah anak orang kaya, biang telat dan jago ngeles.
Ia senang orang-orang menganggapnya seperti itu, setidaknya mereka tidak pernah memandanginya iba karena kenyataan di lapangan sungguh berbanding terbalik.
"Nggak usah, Bang. Di kantor tadi udah." Ratu coba menolak lagi saat mereka sudah berada di lantai dua. Di sana mereka tidak hanya berdua, seorang asisten Sultan sedang asyik makan nasi dengan lauk yang sama seperti cerita Sultan sebelum ini. Melihat kedatangan Ratu, gadis muda itu tersenyum dan menawarinya makan dengan sopan.
"Eh, Mbak Ratu. Makan, yuk." Lastri, nama pegawai itu, memamerkan semangkok sop daging yang berada dihadapannya, membuat Ratu makin salah tingkah. Ia hendak kabur saat sedetik kemudian dirinya didudukkan di sebuah bangku jati, yang di depannya sudah siap nasi beserta lauk untuk disantap.
"Sok nolak. Biasanya juga kalo rame nggak malu. Ini cuma berdua bareng Lastri, malunya kayak apaan."
Ratu menggaruk tengkuk yang tiba-tiba kaku. Ia masih menyimpan bekal yang tadi sudah disiapkan sebelum berangkat, walau hanya nasi dan menu sederhana, tahu goreng sambel.
"Loh, itu jidatnya kenapa?" Sultan yang tadinya sedang memegang piring mendadak sadar kalau ada yang tidak beres di kepala Ratu. Selain poni yang menutupi dahi, ia melihat ada sedikit bengkak dan memar yang membuatnya mengurungkan niat menyendok nasi.
"Luka, ya?" Sultan tanpa malu menyibak luka di dahi Ratu yang sebelum ini tidak sengaja tampak karena gerakan tangan Ratu yang salah tingkah. Wanita itu makin salah tingkah karena Sultan terlihat sangat khawatir.
"Ini robeknya lumayan, kenapa ditutupin sama poni? Harusnya dibawa ke dokter, mesti dijahit."
Ratu semakin panik. Ia dengan cepat menggeleng dan berusaha bangkit dari tempat duduknya, namun Sultan yang tanggap lebih dulu mencegah, membuat Ratu terperangkap saat Sultan meneruskan bicara.
"Ini mau jadi Super Mami Kucing, tapi jaga diri sendiri nggak bisa. Kita obatin dulu lukanya, baru makan."
Ratu yang merasa tidak enak karena sudah mengganggu waktu makan Sultan langsung tidak setuju, "Bang, nggak usah. Lukanya udah kering kok, nggak apa-apa."
Sultan yang sudah kembali setelah mengambil kotak obat, menolak tawaran dari Lastri yang berkata ingin membantu hanya menanggapi Ratu dengan seringai.
"Di periksa dulu." Pria itu mulai membuka peralatan P3K, yang membuat Ratu semakin panik.
"Nggak usah, Bang. Serius ini nggak perlu. Lagian ngeri, tukang suntik meong mo meriksa gue, emangnya boleh? Ntar gue jadi vampir kena suntik rabies gimana?"
Suara tawa terdengar diselingi batuk-batuk yang kemudian tidak kunjung berhenti. Lastri sampai harus menenggak satu botol air agar pulih usai mendengar celoteh Ratu. Karena itu juga, Ratu langsung memandangi Sultan yang menyiapkan pembersih luka untuk wanita itu.
"Serius, Bang. Adek takut jadi vampir, tau nggak?"
"Nggak jadi Vampir," Sultan memotong selagi dia sibuk menotol-notol luka yang di sekitarnya masih terdapat rembesan darah, lalu bicara lagi.
"Kamu bakal jadi Hulkwati habis ini."
****