Empat puluh dua

2047 Kata

Prabu Damar Anggabaya mesti menunggu sekitar tiga puluh menit sampai akhirnya batang hidung kekasihnya muncul dari balik tirai pembatas yang memisahkan antara kamar sang ayah dan kamarnya sendiri. Ketika Ratu keluar menemuinya, gadis tersebut sudah mandi dan berganti pakaian. Dari tubuhnya menguar aroma sabun yang sepertinya asing di penciuman Prabu, tapi, dia tidak banyak berkomentar dan hanya melempar senyum tipis. “Kopi, Mas.” Ratu mengangsurkan secangkir kopi dalam gelas bening yang bawahnya dialasi dengan piring tepek hadiah dari detergen murah yang Ratu beli di warung dekat rumah. Prabu mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu menerima kopi pemberian Ratu. Dia sedang duduk bersandar di tembok. Di atasnya terdapat sepasang jendela dengan tirai warna cokelat yang diikat dengan pi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN