Ratu Intan Wijaya Kusuma tidak sadar berapa lama dia telah menghabiskan waktu untuk menangis dalam pelukan ibu yang setiap malam selalu dia rindukan. Tidak peduli, selama bertahun-tahun dia selalu menolak orang yang sama yang setiap beberapa hari sekali mampir ke gedung Pancabuwana Internasional hanya untuk menemuinya. Jika hal ini terjadi satu minggu yang lalu, Indira yang datang sambil memeluk tubuhnya, adalah hal yang amat Ratu hindari. Hanya saja, setelah kejadian di kontrakan, Putri, dan juga Prabu, dia merasa hari ini adalah hari tergagalnya menjadi seorang manusia. Ratu bahkan menangis memandangi bekal makan siangnya yang hampir basi. Entah apa yang terjadi pada kotak makan siangnya, dia tidak mengerti. Yang pasti, setelah dia tidak bisa lagi berbagi beban yang selama ini menumpu

