Kejujuran Itu Mahal

1066 Kata
"DASAR BERENGSEK KAMU MAS. TEGA KAMU MAS." "DIAM KARNILA, AKU YANG SEHARUSNYA MUAK SAMA KAMU. ASAL KAMU TAHU AKU NGGAK PERNAH BAHAGIA SAMA KAMU. WALAUPUN AKU HARUS MENYESAL SUDAH MENGELUARKAN BANYAK UANG. TAPI PERNIKAHAN KITA HARUS BATAL." Karnila menatap Gio penuh kekecewaan. Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan hal sedemikian kepadanya. "Seharusnya aku sadar lebih awal kalau ternyata kamu memang bukan pria baik-baik, Mas." serunya mendesah berat. "Sudahlah, aku tidak ingin berlama-lama di sini bersama kamu. Hubungan kita sudah berakhir bukan. Jadi selamat tinggal Karnila." usai mengatakan itu, Gio pergi meninggalkan Karnila yang menangis sesegukkan setelahnya. Galih dan Desta saling bersitatap bingung. "Karnila, jangan menangis di sini. Ayo kita pergi dari sini dulu." ajak Desta pelan seraya membimbing perempuan itu berjalan menuju mobil milik Galih berada. Saat ini, mereka sedang berada di taman tidak jauh dari area pemancingan ikan keluarga Karnila. "Gal, bawa Karnila ke tempat usahanya. Gue ikutin kalian dari belakang." ujarnya memberitahu. Galih mengangguk mengerti. "Oke. Elo hati-hati bawa motornya ya, Des." Desta pun berdehem menjawab. Mereka pergi meninggalkan taman tersebut, dengan kondisi Karnila yang masih menangis. "Kamu jahat, Mas hiks. Tega kamu, Mas hiks." lirihnya terisak. Galih diam membiarkan Karnila meluapkan rasa sakit dan kecewa yang perempuan itu rasakan sepuasnya. Mungkin jikw nanti kondisi sudah lebih tenang, Galih baru akan berbicara. "Kenapa aku harus bertemu dengan laki-lqki seperti dia. Kenapa Tuhan." Hanya sekitar 10 menitan saja, mobil milik pemuda tampan itu sampai di tempat usaha keluarga Karnila. Di belakang mobil Galih, motor Desta pun sudah ikut terparkir rapih. Desta mendekati mobil lalu membantu memindahkan Karnila masuk ke dalam tempat pemancingan usaha keluarga perempuan itu. Sepi. Tentu saja, sebab jam operasional belum di buka. Dengan hati-hati, Desta mendudukkan Karnila di salah satu gazebo dekat pinggiran kolam ikan. Raut sedih kliennya masih bisa di lihat oleh dua pemuda tersebut. "Apa nggak sebaiknya kamu pulang aja ke rumah?" Galih bertanya dengan sangat hati-hati. Gelengan kepala kecil di berikan oleh Karnila dengan wajah sendu. "Tidak. Aku belum siap buat bilang ke mama dan papa soal mas Gio." "Lalu kamu mau sampai kapan menanggung dan berbohong sama mereka. Karena aku yakin lambat laun mereka akan tahu. Pernikahan kalian sudah 85% bukan persiapannya dan mereka pasti akan semakin sedih dan kecewa kalau kamu memberitahu mereka belakangan." ujar Galih lagi menasihati pelan-pelan. "Iya. Aku mengerti. Beri aku waktu untuk berpikir di sini sebentar, aku pasti akan bilang ke mama dan papa soal masalah ini. Dan menceritakan semuanya. Tapi apa nanti kalian berdua bisa menemani aku bicara sama mereka. Aku takut banget." Kompak, Desta dan Galih mengangguk kuat setuju. "Baik, kita berdua pasti bantu kamu bicara sama orangtua kamu." balasnya. Karnila mengulas senyum kaku. "Berpikirlah dulu, yang harus kamu ingat sekarang adalah. Kejujuran itu mahal sekali, tapi jika kamu sudah jujur niscaya semua akan membuat perasaan kamu jauh lebih lega dan tenang. Oke." Perempuan di hadapan Galih dan juga Desta itu pun kembali menganggukkan kepalanya paham. Sementara Galih dan Desta menunggu di luar, Karnila masih terlihat berpikir sendirian di dekat gazebo tadi. Lalu, tiba-tiba suara teriakan seseorang mengejutkan Desta serta Galih yang langsung berdiri dari duduknya. "KARNILA. DIMANA KAMU? KARNILA." "Siapa kalian hah? Oh ... jadi kalian yang sudah membuat anak saya berubah pikiran untuk menikah iya hah?" "Apa?" serentak Desta dan Galih kaget di cerca pertanyaan demikian. "Maaf Bu, sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Kami bukan--" "ALAH SAYA SUDAH DENGAR SEMUA DARI CALON MENANTU SAYA. KALAU KALIAN YANG SUDAH MENCUCI OTAK ANAK SAYA. SEKARANG DIMANA ANAK SAYA HAH?" Galih menatap wanita paruh baya di hadapannya tersebut heran. Kenapa sekarang justru dirinya dan Desta lah yang di cap sebagai biang onar. Padahal pria sialan itu yang sudah berbohong. pikirnya kesal. "MAMA APA-APAAN SIH? KENAPA MAMA TERIAK-TERIAK DI SINI? MAMA NGGAK BOLEH MARAH KE MEREKA. DESTA DAN GALIH NGGAK SALAH APA-APA." "Ternyata benar kata Gio, kamu pasti sudah di pengaruhi sama dua bocah ini iya kan? Karnila kamu jangan seenaknya saja membatalkan pernikahan. Kamu nggak mikir bagaimana malunya Mama dan papa nanti hah? Untung saja papa kamu belum tahu, kalau papa kamu tahu, papa pasti marah besar ke kamu." omel beliau marah-marah kepada putrinya. Karnila mendesah kasar. Pasti Gio sudah berbicara yang aneh kepada ibunya. Sehingga sang ibu datang marah-marah seperti sekarang. "Mama lebih percaya sama mas Gio? Ma, disini aku yang sudah di bohongi. Bukan cuma aku saja Ma. Tapi dia sudah bohongin kita semua, aku, Mama dan juga papa. Dan Mama masih mau dan memperbolehkan aku menikah dengan laki-laki seperti itu? Ma, aku nggak mau hidup berumah tanggaku di mulai dengan kebohongan. Mas Gio selama ini menutupi statusnya. Aku di tipu sama mas Gio, Ma. Mama harus percaya sama aku." "Bohong apa? Masalah Gio itu duda? Kalau itu Mama dan papa sudah tahu. Kami sengaja tidak memberitahukan kamu karena Gio sudah lebih awal jujur ke Mama dan papa perihal itu. Dan kami tidak melarangnya." "APA? DUDA? MAS GIO BILANG DIA DUDA KE MAMA? Ma, semua itu bohong. Mas Gio itu suami orang Ma. Dia masih sah suami orang bukan duda. Mama jangan mau tertipu sama dia, Ma. Mas Gio sudah berbohong sama kita." "Diam kamu Karnila, Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjelek-jelekkan orang. Nak Gio sudah bilang ke Mama dan papa sebelum kami menerima lamarannya. Seharusnya kamu bangga bisa mendapatkan calon suami yang baik dan dewasa seperti nak Gio. Mama harap kamu tidak berbuat onar dengan membatalkan pernikahan. Karena acara kalian akan tetap berjalan. Mama dan papa akan tetap melanjutkan semuanya." "MAMA!" teriak Karnila menatap tidak percaya kearah sang ibu. Bagaimana bisa ibunya lebih percaya kepada Gio di bandingkan putrinya sendiri. "Jangan membantah, besok kamu pergi dengan Mama untuk ukur baju lagi. Dan kita akan buang gaun yang kamu pakai ini, anggap saja keluarga kita sedang membuang kesialan. Mama nggak mau kamu memakai gaun ini lagi, paham." "Ma, aku nggak mau menikah. Aku nggak mau melanjutkan pernikahan yang nggak akan sehat ini, Ma. Mas Gio sudah berbohong Ma sama kita. Aku nggak mau niat jelek mas Gio tercapai. Aku yakin kalau dia mau menguasai usaha keluarga kita. Karnila nggak mau, Ma." "Karnila jangan ngawur kamu. Sudahlah, pokoknya Mama tidak ingin mendengar apapun dari kamu lagi. Kamu dan Gio akan tetap menikah titik." "AKU NGGAK MAU MA! AKU NGGAK SUDI MENIKAH DENGAN LAKI-LAKI YANG SUDAH BERBOHONG DAN MASIB BERSTATUS SUAMI ORANG. AKU NGGAK MAU JADI PELAKOR MA." jerit Karnila mengeluarkan semua emosinya kepada sang ibu yang terlihat tertegun karenanya. Desta dan Galih saling melempar pandangan. Huh makin rumit. batin keduanya sepemikiran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN