Dewi, wanita paruh baya itu tampak melihat ke arah suami juga putranya yang diam tak bersuara sejak tadi. Pagi ini, mereka sedang sarapan.
"Galih, semalam pulang jam berapa Nak? Kamu sama Desta kemana aja?" seru beliau bertanya dengan nada hati-hati.
Galih mendongak menoleh ke arah ibunya, raut beliau yang tampak sedikit ragu bertanya membuat pemuda itu pun menghela napas pelan.
"Iya, Ma. Galih pergi sama Desta. Nggak kemana-mana, Ma. Cuma keasyikan main aja jadi lupa udah malam banget kemarin." jelasnya.
Dewi mendengar jawaban putranya pun mengangguk mengerti.
"Tapi sayang, lain kali kalau kamu mau pulang telat kasih kabar ya. Mama dan Papa semalam khawatir banget sama kamu. Sampai Mama ketiduran karena nungguin kamu." ujarnya menasihati dengan lembut.
Galih hanya berdehem kecil mengiyakan.
Tiba-tiba ponsel Galih berdering, nama Desta tertera di layar. Dan di tempat duduk lain, Akbar sang ayah pun terlihat menatap dingin kearah ponsel milik Galih.
"Sebentar Ma, Galih terima telepon dulu."
"Ah, iya Nak."
Punggung putra bungsunya yang berjalan menjauh membuat Dewi sontak menoleh dan menegur suaminya.
"Mas kenapa lagi sama Galih. Masih pagi loh Mas. Apa semalam Mas sama Galih berantem lagi? Mas jangan keras-keras sama Galih. Kalau nanti Galih semakin berani melawan Mas bagaimana? Mas aku nggak mau kalau Galih juga pergi dari rumah, kamu mengerti kan Mas?" bisik wanita paruh baya itu kepada suaminya begitymu pelan.
"Tidak ada apa-apa." sahutnya membuat Dewi mendesah kasar.
Tak lama Galih kembali ke area ke meja makan dengan mimik panik.
"Ma, Galih pergi dulu."
"Hah? Eh, kenapa Gal-- GALIH ADA APA NAK?" suara wanita paruh baya itu pun seketika menggema di ruangan meja makan mereka.
Galih tak menjawab, pemuda itu memilih berlari keluar rumah membuat Akbar menggeram melihatnya.
"Dasar anak nakal." gerutu beliau kesal.
Sedangkan, Galih melajukan kendaraannya ke lokasi yang di berikan oleh Desta sahabatnya.
Sesampainya disana, Galih melihat Desta sedang berusaha melerai perdebatan seseorang sendirian. Suara jeritan, terdengar di antaranya. Dan Galih tertegun kala melihat penampilan dari Karnila yang sedang memakai gaun pernikahan.
"Karnila dengar dulu penjelasan Mas. Kamu salah paham sayang." bujuk suara berat pria berpakaian setelan kemeja rapih itu.
"AKU NGGAK MAU. KAMU SUDAH BOHONG MAS. KAMU SUDAH TEGA BUAT AKU KELIHATAN SEPERTI ORANG BODOH. KALAU KAMU MAU BERMAIN-MAIN. SILAHKAN CARI YANG LAIN. JANGAN AKU MAS."
"Kamu dengerin Mas dulu. Mas nggak ada ngapa-ngapain sama kak Lani. Kamu sendiri tahu dia itu kakak ipar Mas. Mana mungkin Mas berani mendekati kak Lani apalagi sampai berbuat yang tidak-tidak. Tolong kamu jangan berpikiran jelek dulu sayang, percaya sama Mas." seru pria bernama Gio itu berusaha membujuk Karnila.
Dalam hati Galih penasaran bagaimana Desta, Gio dan juga Karnila bisa berada di daerah ini, apalagi jam masih menunjukkan pukul 07.40.
"BULLSHIT! AKU BENCI SAMA KAMU, MAS. Kamu tahu kenapa aku memakai gaun pernikahan yang akan aku pakai nanti sekarang. Karena aku mau kamu lihat seberapa lelahnya aku dan keluarganya menyiapkan semua persiapan pernikahan kita. Dan kamu bersikap dengan santai tanpa membantu sedikitpun. Memangnya kamu pikir aku akan menikah dengan siapa hah? Aku capek dan hati aku sakit melihat kamu bermesraan sama wanita lain, yang bahkan itu kakak ipar kamu sendiri. Dasar gila kamu, Mas."
"Sudah aku bilang, aku dan Lani tidak mungkin bermain api, Karnila." sentak Gio mulai terpancing emosi.
"Maaf apa sebaiknya kalian bicara di rumah saja. Banyak anak-anak dan juga orang dewasa yang penasaran.
"NGGAK DESTA AKU NGGAK MAU. AKU MAU MASALAH LANGSUNG SELESAI DI SINI. AKU NGGAK PEDULI."
Mendesah kasar. Galih yang melihat sahabatnya tampak kesulitan pun akhirnya mulai melerai maju.
"Kalian berdua nggak punya malu ya bertengkar ditempat umum. Dan kamu Karnila, semalam kamu sudah janji tidak akan melakukan hal aneh apapun sampai kamu punya bukti kuat. Tapi apa sekarang? Kamu justru berbuat hal memalukan di pagi-pagi seperti sekarang hah." Karnila menunduk malu.
"Kamu siapa? Karnila mereka ini siapa?" cerca Gio heran, seraya memandang Galih dan Desta bergantian.
"Mereka teman aku." jawab Karnila cepat.
Gio berdecak. "Ck, teman? Sejak kapan kamu punya teman hah? Dan lagi kenapa aku baru tahu sekarang. Jadi selama ini kamu juga berbohong sama aku, begitu?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Mas. Kamu yang salah di sini. Dan aku mau pernikahan kita batal, aku nggak suka menjalani hubungan yang nggak sehat. Kalau kamu memang cinta sama mbak Lani silahkan. Aku nggak akan menghalanginya. Tapi satu hal yang perlu tahu, aku tidak akan menghalangi apapun perbuatan yang ingin kamu lakukan. Karena setelah ini hubungan kita sudah lagi berarti lagi. Kita sudah masing-masing." jelas Karnila tegas.
"Ya, aku memang berbohong soal teman aku. Mereka bukan temanku. Mereka hanya orang-orang yang sedang membantu aku mencaritahu soal kebohongan kamu selama ini. Dan sekarang aku tidak bisa melanjutkan apapun sama kamu Mas. Aku menyerah."
"TIDAK KARNILA. SEMUA SUDAH MAU SELESAI. KAMU NGGAK BISA MEMBATALKAN SEMUANYA." bentak Gio refleks.
Mendesah, Karnila menatap Gio lelah.
"Aku tanya sekali lagi sama kamu, Mas?" menjeda sesaat, Karnila terlihat diam memandang Gio lekat.
"Apa pernah kamu mencintaiku dengan tulus selama ini, Mas?"
Tubuh Gio tersentak sebentar. Pria itu mengalihkan matanya kearah lain. Karnila hanya bisa tersenyum miris melihat keterdiaman calon suaminya tersebut. Bahkan pertanyaan sederhana itu pun, Gio tidak bisa memberinya jawaban.
"Sudahlah Mas. Ini aku kembalikan." ujar Karnila melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya lalu menyodorkannya kepada Gio yang diam memandang cincin itu dalam.
"Ck, dasar menyebalkan. Bikin repot aja." bisik pria itu masih bisa di dengar oleh Karnila bahkan oleh Desta dan juga Galih. Pria itu mengambil cincin tersebut dengan menyentak kasar.
"Seharusnya aku membelikan cincin yang mahal dan bagus untuk Lani bukan kamu. Perempuan kampungan dan tidak modis seperti kamu bukan tipeku. Aku mendekati kamu hanya karena kasihan. Asal kamu tahu. Kamu benar Karnila, kalau aku tidak pernah mencintai kamu sedikit selama kita bersama. Karena aku hanya mencintai istri dan juga anakku seorang."
Tubuh Karnila menegang kaget, begitu pula Galih dan juga Desta. Mereka serentak memandang Gio yang tampak berbeda dengan raut yang sulit untuk di jelaskan. Terlalu mengejutkan hingga, mulut mereka pun terasa kelu untuk berkata.
Galih yang tersadar lebih dulu menoleh kearah Karnila, tepat di saat itulah air mata kliennya keluar dengan sorot mata kosong memandang lurus kearah Gio.
"Anda keterlaluan." desis Galih dingin.
"Dia yang justru keterlaluan, mendekati aku dan menggoda aku sampai aku terpaksa mengiyakan. Sampai aku harus meyakinkan istriku kalau aku akan menikah lagi. Dan kamu benar, semua orang yang datang dan aku katakan sebagai anggota keluargaku kala itu semua hanyalah kebohongan agar kamu puas, Karnila."
Benar-benar berengsek ini cowok.
.