Suasana tegang masing terasa di dalam mobil milik Galih. Ketiga penumpang mobil terlihat masih diam usai melihat Gio masuk ke dalam rumah dengan seorang wanita yang di yakini oleh kliennya adalah kakak ipar calon suaminya tersebut.
"Nggak mungkin mbak Lani selingkuh sama mas Gio. Mbak Lani bukan orang yang seperti itu, dia baik banget sama aku. Bagaimana ini Desta, Galih, aku harus apa?"
Sama-sama bingung, kedua pemuda pun tampak susah mengeluarkan pendapat mereka setelah melihat apa yang tidak seharusnya mereka tau.
"Coba telepon calon suami kamu? Apa dia akan jujur?"
Masih tidak percaya dan kecewa. Karnila mencoba menghubungi nomor Gio. Namun, sayangnya tidak ada sambungan yang terhubung.
"Kenapa mas Gio harus mematikan ponselnya? Apa yang mereka lakuin di rumah itu? NGGAK BISA AKU HARUS KELUAR. AKU HARUS LABRAK MEREKA." teriak Karnila tiba-tiba keluar dari dalam mobil membuat Desta dan Galih terkejut bukan main. Dua pemuda itu ikut turun dan berlari menahan Karnila cepat.
"Karnila." panggil Desta menggeram usai berhasil menahan lengan perempuan itu.
"LEPASIN! LEPASIN AKU DESTA. JANGAN HALANGIN AKU. AKU HARUS MELABRAK MEREKA. SEDANG APA MEREKA DI DALAM RUMAH. SUAMI MBAK LANI SEDANG DINAS, BUAT APA MAS GIO KE SANA?" bentaknya kencang, wajah Karnila sudah merah padam.
"Kita tahu. Tapi apa yang bakalan kamu dapat dengan datang marah-marah ke mereka. Apa kamu berharap mereka akan berkata jujur setelah kepergok sama kamu. Kamu harus punya bukti kalau mau kasih mereka pelajaran." seru Galih mendesis menahan raut kesalnya karena sikap Karnila yang menurutnya terlalu ceroboh.
"Benar kata Galih. Kits harus tenang oke. Kita tunggu apa Gio akan pulang atau tidak malam ini. Kalau Gio memiliki rasa sungkan dan takut dengan para tetangga. Dia pasti bakalan pulang. Jadi, kamu tenang dulu oke."
"Aku nggak terima kalau mereka ternyata bohongin aku selama ini. Kalau mereka punya hubungan, kenapa mas Gio mau menikah sama aku? Apa dia mau terus berbohong dan membuat aku seperti orang bodoh." seru Karnila ketus.
"Ya. Kita mengerti. Tapi kamu nggak boleh bertindak ceroboh, kamu mau tahu alasan dia menyetujui pernikahan bukan? Dan kamu juga tidak mau menjadi tameng untuk perselingkuhan kalau mereka memang benar-benar ada hubungan, iya kan?" ujar Galih tegas.
"Ayo kita kumpulin bukti mereka udah menipu semua orang termasuk keluarga besarnya." timpal Desta penuh semangat.
"Hmm, setuju."
Karnila tampak berpikir sejenak.
"Baiklah."
Menghela bapas lega. Desta segera membawa kliennya kembali masuk ke dalam mobil cepat sebelum terlihat oleh Gio.
Lama mereka menunggu, jam bahkan sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Karnila membetulkan duduknya yang jelas terlihat sangat tidak tenang tesebut.
"Kenapa mas Gio lama sekali di dalam sana. Apa yang mereka berdua lakuin?" serunya bertanya-tanya dengan nada marah yang tertahan.
Karnila tampak sangat putus asa, 2 jam menunggu di dalam mobil tanpa berbuat apapun sungguh membuat dirinya frustasi.
"Sudahlah, lebih baik kita pulang saja. Aku sudah tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Aku terlalu kecewa dan malu." serunya dengan nada sungguh-sungguh lemah tidak ada lagi tenaga.
Tidak membantah.
Mobil Gio segera meninggalkan area tersebut untuk di sterilkan.
Tidak ada yang berani mengeluarkan satu katapun selama di perjalanan pulang.
"Bodoh. Seharusnya aku tidak boleh dengan mudahnya percaya dengan laki-laki. Kenapa mas Gio tega membohongi aku hiks." Karnila terisak membuat Galih kebingungan.
"Nasi sudah menjadi bubur, Karnila. Meskipun kamu menyesal, semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu kamu tangisi. Kalau Tuhan membuka pintu hati kamu sekarang untuk melihat kebenaran yang sebenarnya. Itu artinya Tuhan masih melindungi kamu. Jadi ... kamu jangan pernah mengutuk kehidupan kamu sendiri." ujarnya memberi nasihat panjang lebar.
Desta mengangguk setuju.
"Benar Karnila, bukankah sekarang kamu sudah bisa terlepas dari hal buruk yang akan menjerat leher kamu jika saja pernikahan terjadi."
Ucapan dua pemuda tampan itu seketika menyadarkan Karnila.
Jika, kehidupannya sangatlah berharga. Dan seharusnya ia tidak mengeluh oleh apa yan sudah terjadi dalam kehidupannya tersebut.
"Terima kasih untuk hari ini. Maaf karena aku sudah memakai waktu kalian terlalu banyak. Untuk pembayaran sisanya aku akan transfer besok ya, Desta." ucap Karnila.
Perempuan itu pun turun dan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Desta dan Galih masih diam menatap punggung lemah perempuan itu kasihan.
"Ternyata di balik kehidupan berkecukupan pun, Tuhan masih menguji." bisik Desta lirih.
Pukul 01.00 Galih baru sampai di rumahnya, deheman keras seseorang mengejutkannya. Pemuda itu mengerenyitkan dahinya kala melihat Akbar yang berdiri dengan kedua tangan bersidekap d**a dan memandang dirinya dingin.
"Bagus jam segini kamu baru pulang." sindir sang ayah membuat Galih mendesah dalam hatinya.
"Papa ngapain masih di sini? Galih ada urusan mendadak, makanya pulang telat." jawabnya membalas seadanya saja.
"Urusan apa? Main detektif-detektifan seperti itu maksud kamu hmm?" cibirAkbar berhasil membuat tubuh Galih menegang sejenak.
"Bagaimana Papa. Astaga ... apa Papa masih menyewa orang untuk mengikuti aku? PAPA KETERLALUAN. PAPA NGGAK BOLEH NGELAKUIN HAL MENYEBALKAN ITU KE AKU." teriak Galih terlihat sangat marah.
Akbar tidak membalas amarah putranya dengan teriakan juga, pria paruh baya itu hanya mengatakan hal seadanya saja.
"Jika kamu merasa perbuatan Papa keterlaluan. Seharusnya kamu juga sadar, menerima uang dari jasa sewa pacar kamu pun, tidak baik, paham kamu."
Tubuh Galih mematung beberapa detik.
Benar sesuai dugaannya kalau sang ayah sudah melakukan hal yang kelewatan batas.
"Dan Papa juga sudah melanggar hak asasi manusia. Sekarang aku tahu kalau Papa orang yang terlalu egois, karena bersedia berbuat hal seperti ini sama aku. Meskipun Papa tahu aku bukanlah orang yang akan membalas kejahatan yang sudah menimpaku. Jadi aku berharap, Papa tidak lagi melewati batas kareana aku juga sudah tahu tindakan Papa selama ini."
"Kamu sebaiknya mendengarkan ucapan Papa, Galih. Jauhi Desta, anak itu hanya akan membuat semua hal bai dalam kehidupan kamu berantakan."
"Ck, sekarang Papa juga mau menghina Desta. Papa benar-benar kelewatan. Kenapa Papa sebenci itu sama Desta. Dia nggak punya salah apapun sama Papa, jadi jangan bawa nama Desta dan menjelek-jelekkan Desta di depan Galih, Pa. Karena Galih nggak akan terima dan tinggal diam, kalau Papa menyentuh apalagi menghina seseoranv yang jauh lebih peduli dan mengenal Galih daripada Papa. Apa Papa pernah berpikir satu kali, kalau Papa akan mengalah demi anak Papa? Nyatanya Papa nggak pernah melakukan hal itu. Yang Papa lakukan hanya terus saja membangun image baik orang ketika melihat keluarga kita. Tanpa mereka tahu kalau keluarga Papa itu sudah hancur karena rasa kecewa Papa ke kak Galuh. Dan kalian hanya sedang menjadikan Galih kambing hitam saat ini." desis Galih panjang lebar dengan tegas dan sorot mata tajam kala menatap sang ayah, Akbar.
Dan kamu melupakan kalau Papa melakukannya demi masa depan kamu aga4 tidak berantakan. Menjadi bodoh dan tidak memiliki kemampuan. Apa kamu pikir hidup semudah itu menjalaninya. Batin Akbar dalam hatinya.