Setelah dari tempat pemancingan milik keluarga Karnila, kini di sinilah Desta dan Galih berada. Duduk berdua di kafe coffee tidak jauh dari lokasi sebelumnya.
Keheningan menyelimuti mereka, Desta yang terkenal cerewet pun kini terlihat tengah memikirkan sesuatu dalam otaknya. Tentu saja, itu adalah masalah klien baru mereka.
"Menurut elo, calonnya Karnila itu gimana?" Galih yang di tanya hal demikian hanya menaikkan bahunya tidak tahu.
"Entah. Gue belum liat orangnya secara langsung jadi ya nggak bisa langsung ngejudge kan." sahut Galih tenang.
Benar juga. pikir Desta.
"Jadi ... kita nggak apa-apa nih bantuin Karnila, Gal?"
"Gue nggak tau, Des. Ini kan elo yang terima dia waktu daftar. Gue nggak tau apa-apa. Jadi, gue cuma ngerjain yang menurut gue aja harus di kerjain." jawab Galih membuat Desta berdecak sebal.
"Ck, iya deh. Gue yang salah. Seharusnya gue nggak langsung iyain Karnila waktu daftar. Sorry deh ya."
"Udah terlanjur terjadi, Des. Mau elo apain? Yang bisa kita lakuin sekarang cuma kerjain aja dulu. Asalkan kita tau mana yang benar dan mana yang salah. Gue rasa udah cukup buat klien kita." ujar Galih tidak bisa berbuat apapun lagi selain mengiyakan ucapan sahabatnya tersebut.
Desta dan Galih tidak langsung pulang, keduanya menikmati hari libur mereka sambil menunggu kabar dari Karnila.
Sedangkan, di lain tempat di saat langit sudah mulai gelap. Karnila terlihat keluar dari dalam rumahnya mengenakan dress merah. Perempuan itu menghampiri mobil yang terparkir di depan pagar rumahnya. Senyuman menawan milik pria yang di cintainya itu menyambut kedatangannya. Karnila membuka pintu mobil dan duduk di kursi samping kemudi.
"Hallo, Mas."
"Hallo sayang. Wow kamu cantik sekali malam ini." puji pria itu dengan raut memuja seraya membelai surai Karnila lembut.
Karnila tersipu malu mendengar ucapan calon suaminya.
"Apa sih, Mas. Biasa aja kok."
"Cantik sayang. Kita berangkat sekarang." Karnila berdehem pelan merespons.
Mesin mobil pun kembali menyala, diam-diam Karnila melihat mobil milik Galih di jarak 3 meter darinya lewat kaca spion mobil.
"Besok kalau kita jalan, kamu nggak udah dandan cantik-cantik ya sayang."
"Loh? Kenapa Mas? Mas nggak suka kalau aku keliatan cantik ya?" tanya Karnila dengan nada sedih.
Gio calon suami perempuan itu terlihat menggeleng cepat. "Bukan begitu sayang. Mas cuma takut kalau nanti banyak yang suka sama kamu. Kamu kan cuma milik Mas seorang, Mas nggak mau bagi-bagi kecantikan kamu ke orang lain."
"Ihhh, apa sih Mas. Gombal terus deh." pria gagah dan tinggi itu pun terkekeh di tenpat duduknya.
Obrolan penuh dengan gombalan dari Gio masih terdengar hingga keduanya tiba di salah satu restaurant.
"Ayo, sayang." ajaknya.
Karnila melihat sekitar ada beberapa mobil terparkir di area parkir tersebut. Tak berapa lama mobil yang Karnila yakini milik Galih dan Desta pun berhenti di sana dan ikut terparkir rapih.
"Sepertinya lumayan ramai ya, Mas." ujarnya terdengar seperti pernyataan.
Gio mengangguk setuju.
"Hmm, sepertinya sayang. Tidak apa-apa Mas kan sudah reserved meja. Jadi kamu jangan cemas."
"Makasih ya, Mas."
"Iya sayang, sama-sama."
Pasangan kekasih itu terlihat masuk ke dalam. Sedangkan di area parkir, Desta dan Galih saling pandang satu sama lain beberapa saat.
"Turun nih, Gal?"
Menggedikkan bahu pelan, Galih pun tak tahu harus bagaimana. Desta menghela napas panjang.
Jika mereka masuk, mungkin akan menghabiskan banyak uang. Sedangkan, Jika di luar saja menunggu mungkin akan sangat lama. pikirnya bimbang.
"Gal mau kemana?" Desta setengah berteriak kala pintu kemudi terbuka dan sahabatnya itu keluar dari dalam mobil.
"Woy Galih. Mau kemana?"
Gemas.
Galih pun memutar badanya dan mendengkus kasar.
"Makanlah, elo kira gue mau ngapain di sini? Cepetan, gue udah laper."
"Hah? Makan di sini aja? Yakin? Bukannya di sini menu seafoodnya mahal-mahal ya?" cerca Desta masih ragu mengikuti ucapan sahabat karibnya tersebut.
"Kalau elo cuma mau duduk di mobil, ampe itu usus elo kering ga di kasih makan gara-gara kelaperan. Sana sendirian aja, jangan ajak-ajak gue." ketus Galih membuat Desta menggerutu karena.
"Idih dasar."
Dengan cepat, Desta mengikuti langkah kaki Galih.
"Gal, itu Karnila." bisik Desta menunjuk dengan dagunya ketika mereka sudah masuk ke dalam restaurant.
Galih hanya melirik sekilas, lalu mengendarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong tidak jauh dari bangku kliennya.
Malam itu kedua pemuda tampan itu akhirnya makan di restaurant tersebut hingga Karnila dan Gio juga selesai.
"Mas pulang dulu ya." pamit Gio usai mengantar Karnila sampai di depan rumahnya.
Perempuan cantik itu pun mengangguk, berdadah ria dengan calon suaminya. Hingga mobil Gio pergi.
Tepat 2 menit kemudian, mobil Galih juga berhenti di depan pagar rumah milik Karnila. Pintu penumpang tengah terbuka, Karnila masuk dan duduk dengan tak tenang.
"Ikutin mobilnya." pintanya.
Pasrah.
Galih menuruti permintaan sang klien, mengikuti mobil Gio dari belakang.
"Mau kemana sih kamu Mas?" tanya Karnila risau kalau GPS yang diam-diam di letakkam di dalam mobil menunjukkan arah berbeda dari rumah Gio yang Karnila tahu.
Terus dan terus, mobil Galih melaju mengikuti jalan yang sama di lalui mobil tersebut.
Sesekali suara dengan bergetar terdengar dari kursi penumpang.
"Kenapa kamu bohong Mas. Kamu mau kemana."
Seperti itu pertanyaan yang terus saja terlontar dari mulut Karnila yang tampak frustasi.
"Berhenti mobilnya." ujar Desta tiba-tiba.
"Ini dimana? Aku nggak tahu ini rumah siapa? Mas Gio nggak pernah ajak aku ke sini? Rumah orangtuanya juga bukan di sini?" Karnila terlihat kebingungan setengah mati.
"KUNCI GAL." teriak Desta mengejutkan Galih yang langsung mengunci pintu mobil segera.
"KAMU MAU KELUAR HAH? BUAT APA? BUAT BIKIN DIRI KAMU MALU, IYA? KALAU IYA, KAMU NGGAK PERLU PAKAI JASA KITA LAGI. KERJAIN AJA SENDIRI, MAU?" lanjut Desta lagi sedikit membentak sang klien.
"Tapi aku ... aku--"
"Kalau kamu mau keraguan kamu terbalas dengan jawaban jujur dari calon suami kamu. Tolong kamu juga harus bisa kerjasama, oke. Kamu harus bisa sabar menunggu di sini. Mengerti kan?" seru Galih tenang.
"Aku mengerti, Galih. Tapi aku--"
"Ssstt itu siapa?" Galih dan Karnila serentak menoleh cepat.
"Itu keponakannya. Eh, tapi kenapa mas Gio ke sini malam. Dan kenapa kakar ipar juga ikut peluk mas Gio? Kenapa mereka bersikap seperti itu?" bisiknya bertanya-tanya yang masih bisa di dengar oleh Galih dan Desta.
"Jadi ini rumah kakak iparnya?" tanya Desta menyentak Karnila yang tampak tengah menahan tangis merasa di bohongi.
"Aku nggak tahu. Tapi keapa mereka terlihat seperti keluarga? Nggak mungkin mereka?" seru Karnila menutup mulutnya, menggeleng-geleng kepala kuat menghalau bayangan yang mengganggu tidur nyenyak.
Ada hubungan apa kamu sama kakak ipar kamu, Mas. batinnya dalam hati resah.