Suasana ramai di tempat pemancingan umum membuat Desta dan Galih saling beradu pandang beberapa saat. Mereka baru saja tiba setelah menerima pesan dari salah satu klien baru.
Melangkah lebih masuk, mereka mengendarkan pandangan ke segala arah mencari calon kliennya.
Di antara banyaknya pengunjung hanya ada satu pengunjung perempuan. Dan orang itu baru saja merapikan alat pancingnya. Desta mengajak Galih untuk mendekat ke arah perempuan itu.
"Kayanya itu deh, Gal." serunya seraya menunjuk kearah yang di maksud.
Mengerti, Galih menganggukkan kepalanya pelan.
"Hai, siang. Kamu Karnila kan?" ucap Desta menyapa lebih dulu.
"Iya, oh kalian pasti dari jasa sewa pacar kan. Tunggu sebentar ya, saya mau bereskan ini dulu."
"Iya." sahut Desta.
Keduanya memunggu perempuan bernama Karnila itu merapikan alat-alat pancing miliknya.
"Maaf ya lama, kita ngobrol di dalam saja."
"Oh iya. Yuk, Gal." seru Desta mengajak Galih terlihat sibuk memperhatikan sekitar.
Mereka melewati beberapa pondok kayu yang di bangun untuk para pengunjung duduk dan makan lesehan.
"Ini tempat siapa ya?" tanya Desta yang penasaran.
Karnila terlihat tersenyum tipis.
"Ini bisnis keluarga, saya kebetulan hari ini sedang cuti. Makanya saya minta kalian datang ke sini. Silahkan duduk, kalian mau minum apa?"
"Terima kasih, apa saja boleh."
Perempuan itu tampak mengangguk mengerti. Lalu pergi dan kembali lagi membawa minuman kaleng di atas nampan.
"Anu, bagusnya kami panggil anda--"
"Ya ampun, panggil Karnila aja. Umur kita paling cuma beda dua tahun aja deh. Saya baru lulus kemarin." jelasnya.
"Oh begitu. Soalnya tadi pakai kata saya, jadi nggak enak kalau asal manggil."
"Santai aja." seru Karnila.
Desta mengangguk mengerti dengan helaan napas lega.
"Oke, begini Karnila. Boleh cerita lagi permasalahan kamu apa?"
Mengangguk, terlihat Karnila menarik napas panjang sebelum bercerita.
"Bulan depan aku mau menikah, semua persiapan sudah 85% tapi." Karnila terlihat menjeda sejenak. "Entah kenapa akhir-akhir ini aku dapat pesan yang bilang kalau calon suami aku itu sebenarnya sudah punya istri. Padahal selama kami menjalani hubungan semua baik-baik saja. Aku di kenalkan dengan keluarga besarnya dan aku percaya dia. Hanya saja ... mungkin karena aku perempuan dan aku terlalu sensitive dengan hal itu. Selama semingguan ini aku sering mengikuti calon suamiku. Dan dia selalu pergi ke tempat yang nggak pernah aku datangi. Aku mau minta tolong kalian untuk bantu aku caritahu apakah calon suamiku berbohong selama ini. Aku tidak mau menyesal dan membuat kedua orangtuaku malu nantinya." paparnya lagi menjelaskan.
Waduh, serius banget ini masalahnya. gumam Desta tampak bingung.
Galih yang menyadari raut kebingungan sahabatnya pun berujar membalas.
"Tapi kami bukan sewa jasa detektif-detektifan."
"Iya aku tahu." sahut Karnila mengerti.
"Jujur aku tidak punya sahabat dekat. Sejak lulus kuliah, semua teman kuliahku lost kontak. Karena itu aku memilih membantu usaha orangtua saja, lalu aku tidak sengaja kenalan dengan calon suamiku yang pelanggan di pemancingan ini. Tapi, beberapa hari terakhir dia nggak datang ke sini. Katanya ada kerjaan yang nggak bisa dia tinggal. Aku terlalu percaya dan nggak pernah menuntut lebih penjelasan darinya. Namun, sampai semalam akhirnya aku mulai bertanya-tanya. Kenapa calon suamiku itu keluar masuk rumah sakit? Apa sebenarnya dia sedang sakit? But, kenapa dia nggak cerita ke aku. Aku ini calon istrinya, kenapa dia memilih diam-diam ke sana?"
"Anu ... benar kata Galih tadi. Kita berdua paham, kalau ini masalah pribadi kamu dan cukup serius. Tapi tadi bukannya kamu bilang, kamu sudah di kenalkan dengan keluarga besarnya? Masa kamu nggak punya kontak mereka satu pun? Kamu bisa bertanya dengan mereka bukan?" seru Desta mulai kembali bersuara.
"Tidak ada."
"Hah? Nggak ada nomor telepon mereka?" Karnila mengangguk membuat Desta dan Galih semakin keheranan.
Bagaimana bisa kliennya yang akan menikah sebulan lagi. Tapi tidak ada menyimpan nomor keluarga calonnya.
"Coba sekarang kamu hubungin calon kamu, tanya dia ada dimana? Sebelumnya aku sama Desta nggak bisa janji akan bantu kamu mencaritahu masalah ini. Tapi kita coba sebisanya saja. Karena kami bukan jasa sewa detektif, kamu mengertikan?" Karnila yang mendengar hal itu pun hanya bisa mengangguk mengerti.
Salah dirinya.
Namun, Karnila merasa tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan dari jasa sewa pacar untuk memecahkan masalahnya.
"Loudspeaker ya, Kar." ujar Desta meminta.
Terdengar nada sambung terhubung, sampai suara berat di ujung telepon pun muncul terdengar.
"Hallo sayang."
"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Karnila dengan nada tenang.
"Di kantor, ada apa sayang? Kamu sendiri dimana?" balik pria di ujung telepon tersebut bertanya.
"Di pemancingan aja. Mama sama papa lagi pergi ke rumah tante." jawab Karnila seadanya.
"Hmm, ya sudah. Nanti malam aku main ke rumah ya? Ah, atau kita makan malam di luar saja nanti. Kita kan sudah jarang banget ketemu, bagaimana?"
"Boleh. Jemput aku ya sayang." balas Karnila dengan nada manja membuat dua pemuda yang ada di dekatnya tersebut memilih membuang muka ke arah lain tak nyaman.
"Oke. See you, honey."
Sambungan terputus, Desta melihat pipi Karnila berseri.
Kayanya Karnila cinta banget sama calonnya. Tapi dia harus dapat ujian soal kejujuran calonnya sendiri menjelang pernikahannya sendiri. batin Desta kasihan seraya menatap wajah Karnila lekat.
Tersentak, Karnila tersenyum malu-malu. Karena tersadar dirinya sudah tersipu oleh perkataan calon suaminya.
"Maaf ya, kalian jadi dengar percakapan nggak penting aku sama mas Gio."
"Oh ... nama calon kamu Gio." seru Desta tersenyum maklum.
Karnila mengangguk cepat.
"Jadi, kamu mau ketemuan dulu sama mas Gio nanti malam? Terus kapan kira-kira kita baiknya mencaritahu soal mas Gio?" tanya Desta lagi ingin tahu.
"Nanti malam saja bagaimana?"
"Hah?" serentak dua pemuda itu menganga tidak mengerti.
"Nanti malam aku bakalan coba letak GPS di mobil mas Gio. Jadi setelah makan malam kita bisa liat mas Gio kemana lagi, bagaimana?"
"Gimana Gal, menurut elo?" tanya Desta kepada sahabatnya tersebut.
"Kita coba aja dulu. Tapi kita nggak bisa terlibat terlalu jauh, tugas kita berdua cuma mencaritahu, setelahnya itu tergantung keputusan kamu oke."
"Hmm, iya aku mengerti. Aku tahu ini masalah serius dan ini juga masalah pribadi aku yang nggak seharusnya aku bagi ke kalian. Tapi aku hanya mencoba untuk menyelesaikan prasangka yang muncul akhir-akhir ini. Aku hanya ingin tahu kalau mas Gio itu jujur atai tidak ke aku dan keluargaku. Jika nanti rencana pernikahan kami batal setidaknya tidak sampai membuat malu orangtuaku. Aku yakin mereka akan mengerti jika kemungkinan terburuk nanti terjadi." serunya dengan sorot mata teduh.
Bagaimanapun hasilnya aku akan terima itu semua.