"Sial bener dah itu cewek, nyebelin banget kan Gal. Itu Cewek yang gue bilang mirip sama elo kalau ngomong suka nyelekit tapi dia lebih parah sih." gerutu Desta seraya memberitahu jika Acha adalah perempuan tersebut.
"Hmm, wajarlah kalau dia marah sama kita tadi. Meskipun konteksnya kita nggak sengaja ngeliat dia sama kakaknya berantem tadi."
"Itulah dia, asal emosi aja anaknya. Huh untung gue sabar jadi tetangganya." keluh Desta mengusap dadanya pelan seraya menghela napas kasar.
Galih terkekeh melihat hal itu.
"Awas naksir." selorohnya bercanda.
"Uhuk, anjir sialan. Amit-amit Gal. Arrghh elo bikin gue makin kesel aja."
Kembali terkekeh, Galih pun berucap lagi.
"Tapi dia cantik juga kan, Des. Bukannya dia sesuai kriteria elo ya?"
"Idih, ogah Gal. Mana mau gue sama modelan kaya dia. Bisa-bisa gue darah tinggi deh, gara-gara berantem terus sama dia." ujar Desta seraya menggeleng kuat tidak bisa membayangkan jika dirinya berpacaran dengan Acha dan harus ribut setiap hari.
"Nanti kan terbiasa juga, Des." komentar Galih membuat Desta mengambil bantal sofa dan melempar asal ke arah sahabatnya itu. Galih kembali memungut bantal tersebut dan meletakkannya.
"Gue masih bisa cari cewek modelan lain, Gal. Gila aja lo njir kalau gue sampai jadian sama dia." seru Desta lagi terlihat tidak tertarik.
"Dari pada buat gue, bagus buat elo aja Gal? Kan elo belum pernah pacaran kan?" lanjutnya mengusulnya yang kini Galih lah merespons dengan dengkusan kasar.
"Nggak minat. Gue belum mau pacaran, Des. Elo sendiri tau gimana nyokap sama bokap. Gue males kalau harus mikir otak buat dapatin izin sama orangtua buat hal yang pasti udah mereka anggap bakalan mengganggu pendidikan."
"Orangtua elo kolot juga ya njir. Masa masih mikit kaya gitu, kan belum tentu juga pendidikan kita anjlok hanya gara-gara pacaran. Selama kita bisa mengatur waktu dan bisa membedakan mana yang harus di dahulukan kayanya nggak masalah tuh pacaran. Tapi untungnya nyokap gue fine-fine aja, selama gue nggak ngerusak anak orang dan bisa dewasa dalam menjalani hubungan nyokap setuju-setuju aja."
"Ya iyalah, tante Sekar kan emang baik orangnya Des. Elo harusnya bersyukur punya nyokap kaya tante Sekar. Gue aja yang cuma sahabat elo, nggak pernah mau bikin beliau kecewa. Gue harap elo bisa jadi kebanggaan nyokap elo, Des. Jangan nanti kalau orangtua elo berubah dan nggak lagi peduli elo pasti nyesel." seru Galih tulus benar-benar menghargai dan sayang kepada Sekar ibu sahabatnya tersebut.
Mengangguk mengerti setuju.
"Pasti, Gal. Jangan sedih dong Bro. Gue yakin orangtua elo juga mau yang terbaik buat elo. Mereka mungkin takut elo jadi anak nakal kaya gue, makanya mereka suka was-was kalau elo lagi sama gue. Gue pahamlah kekhawatiran bokap dan nyokap elo."
"Mereka bukan khawatir sama gue, Des. Tapi mereka takut malu sama anak-anak om dan tante gue. Elo sendiri tau gimana keluarga bokap gue kan. Mereka itu seakan saling berlomba mencari siapa yang baik dari yang terbaik dari anak-anak mereka. Padahal bokap lebih percaya ke kak Galuh tapi nyatanya mereka di kecewain sama anak kesayangan mereka. Dan sekarang gue jadi kena imbasnya." seru Galih tanpa sadar sudah bercerita panjang lebar kepada Desta.
"Kenapa elo nggak coba ngomong dan bertukar pendapat sama orangtua elo. Mereka pasti ngerti kok Gal. Mereka juga pasti paham kalau elo sama kak Galuh itu beda." Balas Desta mencoba mengerti situasi yang tengah di alami sahabatnya.
"Huh, udahlah Des. Jangan bahas orangtua gue. Kenapa kita jadi bicarain mereka sih." desah Galih mulai lelah.
Tersentak, Desta menggaruk pipinya bingung.
Benar juga, kenapa sekarang mereka jadi membahas orangtua Galih. Padahal tadi sedang membahas Acha. Astaga. batinnya pelan.
Tak berapa lama kemudian.
"Assalamualaikum, Desta bantuin Mama, Nak." suara Sekar terdengar dari luar menyapa di susul dengan mata membelalak lebar melihat sosok Galih berdiri di hadapannya.
"Waalaikumsalam, Tante. Sini Tante biar Galih bantu." ucap Galih tiba-tiba menyelak membuat Sekar terkejut.
"Astaga! Galih ada di sini, Nak. Apa kabar Nak?" tanya Sekar penuh perhatian.
Galih tersenyum, pemuda itu tetap membantu membawakan paper bag milik beliau.
"Baik, Tan."
"Desta kemana Galih?" tanya wanit paruh baya tersevbut mencari putranya.
"Lagi ke kamar mandi, Tan." jawabnya asal.
Sekar terlihat mengangguk mengerti. Menit berikutnya terdengar langkah kaki mendekat tampak Desta muncul dan mulai berbicara.
"Kok pulangnya cepet, Ma?"
Dengan kerutan di wajahnya, Sekar menjawab pertanyaan putranya tersebut.
"Memangnya kenapa kalau Mama pulang cepat. Tadi Mama memang sebentar saja kok di sana. Makanya Mama langsung pulang pas sudah selesai."
Desta mengangguk-angguk di tempatnya berdiri.
Dua pemuda itu pun kembali duduk di ruang televisi, beberapa saat kemudian Sekar muncul membawa piring berisi potongan kue.
"Ini di makan ya, Nak Galih."
"Makasih Tante."
"Aduh ... seharusnga Tante yang bilang makasih buat kamu sama mama kamu. Makasih ya oleh-olehnya, Tante suka." ujar beliau dengan tulus berterima kasih kepada sahabat putranya tersebut.
Galih mengulas senyum menawan.
"Sama-sama, Tante."
Desta menatap interaksi sahabat dan ibunya dalam. Senang karena kedekatan hubungan yang dimiliki oleh dirinya sendiri dengan Galih.
Meskipun, Galih terkadang mengatakan kata-kata nyelekit. Namun, niat pemuda itu jelas baik untuknya.
"Desta kamu ngapain liatin Nak Galih kaya gitu, Nak?" suara itu menyentak lamunan Desta. Pemuda itu mendongak melihat Sekar tengah melihat ke arahnya dengan sorot heran.
"Nggak ada apa-apa kok, Ma."
"Beneran? Awas ya kalau kamu ngerjain Nak Galih. Mama potong uang jajan kamu nanti, paham?" Desta mendengkus mendengar kalimat ancaman andalan sang ibu.
"Mama sukanya ancam-ancam Desta terus ih. Orang Desta nggak ada niat apa-apa kok sama Galih. Desta cuma senang aja liat Mama sama Galih dekat, akrab, udah itu aja kok." serunya jujur.
"Ya harus akrab dong, kalian itu kan sudah sahabatan lama. Masa Mama nggak bisa dekat sama Galih. Lagipula selama ini Mama sudah menganggap Nak Galih itu anak Mama sendiri. Makanya Mama selalu negur, kalau kamu mau jahilin Galih. Mama nggak mau anak-anak Mama berantem nantinya."
"Mama sayang banget ya sama kita berdua?"
Sekar menatap putranya heran dengan pertanyaan yang di berikan tersebut.
"Jelas sayang. Orangtua mana yang nggak sayang sama anaknya. Mama bahkan bersyukur masih di berikan umur panjang untuk tetap menjaga kamu dan Galih. Mama bahkan selalu berdoa, agar Mama bisa melihat cucu-cucu Mama kelak dari kalian berdua. Hanya itu harapan Mama sekarang, kalian harus bisa jaga kesehatan. Kalian ingat ya, sehat itu mahal. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan Tuhan yang memberikan umur panjang, serta kesehatan buat kita mengerti."
"Mengerti Ma."
"Baik, Tante." sahut kedua pemuda itu serentak.
Sekar tersenyum lebar di tempatnya duduk. Beliau memandang kedua putranya dengan sorot mata hangat dan teduh.
Ya Tuhan, tolong jaga anak-anakku dari segala hal buruk amin.