Hari ini Galih baru saja tiba di depan rumahnya, setelah mobil terparkir rapih. Dua penumpang di kursi belakang lebih dulu keluar, di susul dirinya ikut turun.
"Galih, nanti jangan lupa antar oleh-oleh buat mamanya Desta ya." pesan Dewi sang ibu.
Galih yang mendengar itu pun mengangguk mengerti.
"Baik, Ma."
"Kamu buat apa repot-repot bawa oleh-oleh sih."
Dewi menatap Akbar suaminya dengan mata sedikit melotot seakan wanita paruh baya itu tengah memberi isyarat agar suami tak memulai pertengkaran dengan putra mereka.
"Aduh ... Papa gimana sih, nggak apa-apa kok. Lagipula nggak banyak kok." "Ssttt Papa jangan mulai deh." lanjut Dewi berbisik nyaris tak terdengar kepada suaminya.
Di tempatnya berdiri Galih hanya mendesah pelan kala sang ayah berbicara dengan nada yang tidak enak di dengar tersebut.
"Galih masuk duluan." pamitnya membuat Akbar memandang punggung putranya tajam.
"Dasar anak na--aww." Akbar memekik kaget ketika pinggangnya di cubit oleh Dewi. Pria paruh baya itu pun menoleh ke samping dan melotot marah.
"Sakit Sayang." desisnya tertahan.
"Habisnya kamu bikin aku gemes aja, Mas. Bisa tidak kamu nggak ajak Galih gelud terus, kita baru sampai rumah, anak kita juga capek Mas nyetir sendirian. Di tambah kamu banding-bandingin Galih sama sepupu-sepupunya. Mas, Galih itu anak baik, dia nggak pernah nakal, selalu dapat menyelesaikan pendidikannya dengan bagus dan baik. Jadi jangan tambah beban pikiran sama anak kita dengan pendapat kamu dan watak keras kamu, Mas." beliau menjeda tangannya menggenggam lengan sang suami erat. "Maaf kalau aku harus berbicara seperti itu. Aku hanya nggak mau Galih semakin jauh Mas. Di keluarga kita kira-kira siapa yang dekat dengan Galih. Tidak ada Mas, aku sama kamu sama-sama sibuk. Sedangkan kakaknya sibuk dengan dunianya. Aku harap kamu mengerti Mas." lanjutnya pelan dengan sorot mata teduh kala menatap suaminya.
"Baiklah, maaf Sayang."
Dewi pun tersenyum lebar mendengarnya.
"Ya sudah, yuk masuk Mas."
"Ayo."
Di dalam kamarnya, Galih baru saja mengirim pesan kepada Desta. Jika dirinya nanti main ke rumah.
Setelah istirahat sejenak, Galih pun berganti pakaian dengan kaos oblong warna abu dengan celana jeans hitam, pemuda itu pun mengambil jaket denim dari dalam lemarinya.
Sampai di lantai bawah, Galih tidak melihat kedua orangtuanya.
Mungkin sedang istirahat. pikirnya.
Tak ingin menganggu, Galih pun memilih pergi dengan meninggalkan note yang ia tempel di kulkas. Galih pun tidak ingin membawa kendaraannya. Karena jarak rumah Desta yang dekat, Galih pun hanya berjalan kaki dengan paper bag di tangannya.
Pemuda itu sesekali menganggukkan kepala, kala ada yang sekedar menyapanya. Galih tidak ingin bersikap berlebihan jika ada yang memperhatikannya, karena hal itu ia pun memilih mempercepat langkah kaki agar segera sampai di rumah Desta.
Baru sampai di depan pagar suara pekikkan Desta yang cukup kencang mengejutkannya.
"WOY BRO!" Galih hanya bisa mengelus jantungnya yang terkejut pelan.
"Sekalian pakai toa masjid aja sana." sindirnya di balas suara gelak tawa Desta.
"Ya elah, sensi amat. Sabar atuu Babang. Ayo cepetan masuk."
Menghela napas pelan, Galih memilih kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke rumah sahabatnya tersebut.
"Nyokap elo mana?"
"Lagi keluar."
"Nggak elo anterin?" Desta yang tanya hanya menggeleng kecil.
"Nggak mau nyokap. Biasalah, elo kaya nggak kenal nyokap gimana aja." Desta menjeda matanya seketika berbinar melihat paper bag yang ada di tangan Galih.
"Wih ... bawa apa nih? Repot-repot amat sih Galileo sayang bawa oleh-oleh."
"Apasih, Des. Bukan buat elo, ini titipan mama buat nyokap elo." seru Galih menjauhkan paper bag tersebut dengan gerakan cepat.
Berdecak, Desta menggembungkan pipinya. "Ck, nggak sohib lo, Gal. Bawain oleh-oleh buat gue kek. Ini kagak ada, dasar sahabat laknat lo."
"Penting banget gue bawa oleh-oleh buat elo. Kaya gue kemana aja." sahut Galih santai membuat Desta menatap sahabatnya itu tidak percaya.
"Tante Dewi kayanya kudu masukin elo ke dalam perut lagi deh, Gal. Biar jadi lebih baik dari sekarang." seloroh Desta asal jeplak.
"Dasar gila." desisnya menahan kesal.
Heran.
Dengan otak Desta yang terkadang suka melebihi kapasitas.
Tiba-tiba terdengar suara ribut dari depan pagar rumah sebelah.
"Siapa yang ribut tuh?" seru Desta kepo, pemuda itu berdiri dan melongokkan kepalanya ke depan untuk melihat.
"Ck, dasar. Ribut sama siapa lagi itu si Acha." gumamnya masih terdengar oleh Galih yang ikut melihat siapa yang di lihat oleh sahabatnya tersebut.
"Tetangga baru?"
"Hmm, iya. Kayanya itu kakaknya si Acha deh."
"Acha?" ucap Galih bingung.
Seakan mengerti, Desta pun tersenyum tipis paham.
"Acha itu nama anak rumah sebelah, itu yang pakai baju hitam. Tapi kalau yang satunya lagi gue nggak tahu belum kenalan." jelas Desta di balas anggukan oleh Galih.
"MASUK SANA ELO."
"Kamu yang masuk duluan, jangan keluar-keluar rumah lagi."
"HEH NGAPAIN ELO JADI IKUT NGATUR-NGATUR GUE."
"Semua demi kebaikan kamu."
"ALAH BULLSHIT! ELO SAMA MOMMY SAMA AJA. JADI STOP IKUT CAMPUR URUSAN GUE, NGERTI LO?"
"Masuk aja dulu, Kak. Kamu nggak malu di liatin orang-orang?"
"BODO AMAT GUE NGGAK PEDULI. DASAR SIAL."
Desta dan Galih saling pandang kaget ketika suara bantingan pintu pagar terdengar keras dari dua orang yang saling berdebat tersebut.
"Datangin nggak Gal? Siapa tahu butuh bantuan?" ujar Desta setelah sadar mengusulkan.
Terlihat, Galih berpikir sejenak.
"Nggak perlu deh kayanya. Itu kan urusan pribadi mereka, kayanya cuma ribut sama saudara aja." serunya berusaha tidak ikut campur.
Desta pun manggut-manggut, ketika sosok Acha berbalik ingin masuk ke dalam rumah tanpa sengaja matanya bersibobrok dengan Galih. Dan gadis itu langsung membentak pemuda yang tidak salah apa-apa tersebut dengan nada kesal.
"NGAPAIN KAMU LIAT-LIAT HAH? MEMANGNYA INI TONTONAN?"
Tersentak, Galih nyaris akan membalas sebelum akhirnya suara Desta lebih dulu menyahut perkataan gadis di rumah sebelah tersebut.
"GEER BANGET SIH. MAKANYA KALAU MAU BERANTEM ITU DI DALAM RUMAH, BIAR NGGAK JADI TONTONAN. MALAH NYALAHIN ORANG LAIN, KALAU KESAL SAMA SAUDARA ELO JANGAN DI LIMPAHIN KE ORANG LAIN." balas Desta berteriak dengan geram.
"Kamu diam aja deh." sentak Acha dengan wajah merah padam.
Entah karena malu atau marah.
"Lah malah nyuruh orang diam. Mulut-mulut gue, ya suka-suka gue lah."
"Sssttt Desta udah woy. Sorry kalau elo merasa tersinggung. Kita berdua nggak sengaja dengar tadi. Tapi kita nggak ada niat ikut campur jadi elo tenang aja." potong Galih seraya memukul bahu Desta gemas.
Sahabatnya itu benar-benar suka sekali cari ribut. Dan sekarang malah memancing amarah tetangga rumahnya sendiri.
"Bilangin teman kamu buat nggak nyebelin. Suka banget bikin orang emosi." usai mengatakan itu, Acha pun masuk ke dalam rumah meninggalkan Desta yang menggerutu karenanya.
"Rese banget itu cewek, sok cantik. Mentang-mentang emang mukanya cantik. Nyebelin kan, Gal." dumel Desta di tempatnya berdiri.
Galih hanya tersenyum geli melihat sikap sahabatnya tersebut.
Dasar ada-ada aja. batinnya.