Desta berdiri 1 meter di belakang ibunya, Sekar. Sedangkan di samping wanita paruh baya itu ada Acha dan juga orangtua perempuan itu. Ketiganya tengah memilih bumbu-bumbu dapur.
"Desta bisa nggak kamu ke tempat pak Sholeh, beli udang setengah sama ikan nila 6 ekor aja." seruan bernada perintah ibunya itu membuat Desta berdecak.
"Kenapa nggak Mama aja sih, Desta bawain barang-barang aja deh. Desta nggak bisa nawar Ma." sahut pemuda itu membuat Sekar melotot seketika.
"Pak Sholeh kan sudah tau kamu siapa, tinggal kasih uang aja. Mama udah langganan sama pak sholeh. Mama masih mau cari sayur di sebelah sana."
"Huh, iya iya Ma."
"Nah gitu dong, nurut bantuin Mamanya."
"Acha kamu ikut juga deh sama Desta belikan Mommy ikan nila juga ya."
Terlihat gadis bernaa Acha itu menekukkan wajah enggan. Namun, tanpa membantah ibunya gadis itu hanya bisa pasrah dan mengambil uang pemberian sang ibu.
Kedua wanita paruh baya tersebut saling beradu pandang dengan senyum tipis ketika melihat anak-anak mereka berjalan beriringan menuju penjual ikan.
"Susah nggak sih Mbak punya anak laki-laki kebetulan di rumah anak saya perempuan dua-duanya. Jadi nggal tahu gimana rasanya urus anak laki-laki."
"Aduh Mbak, begitulah susah-susah gampang. Kayanya mau kita urus anak laki-laki atau pun perempuan sama saja Mbak. Yang penting sing anak sehat sudah lebih dari cukup Mbak."
"Benar juga ya, Mbak."
Sementara, Desta dan Acha berjalan bersebelahan menuju tempat penjual ikan langganan Sekar ibu Desta.
"Assalamualaikum, Pak Sholeh."
"Waalaikumsalam, Mas Desta. Tumben nggak sama mamanya Mas?"
"Sama mama kok, Pak. Cuma mama beli sayur dulu katanya. Pak aku minta udang setengah sama ikan nila 6 aja kata mama."
Mengangguk mengerti, terlihat pria paruh baya di hadapan Desta pun mulai mengerjakan pesanan pemuda itu.
"Pak saya pesan ikan nila 8 ekor aja." seru Acha.
"Iya, Neng. Sebentar ya Neng."
"Pacarnya ya Mas?" celetuk Pak Sholeh asal membuat Desta melotot begitu pula dengan Acha yang menoleh kearah Desta lalu mendengkus kasar.
"Nggak banget." gumam gadis itu tidak sadar terdengar oleh Desta yang menggertakkan giginya tertahan.
"Bukan kok, Pak Sholeh. Mana mau saya sama cewek jutek Pak. Calon pacar saya harus lemah lembut Pak. Biar bisa ngimbangin saya yang superaktif Pak." ujar Desta sengaja dengan nada penuh penekanan.
Hal itu tentu saja membuat Acha melirik pemuda tetangganya tersebut tajam dan dingin.
"Ya ampun, Mas Desta teh jangan pilih-pilih atuh Mas. maaf ya Neng jangan marah sama Mas Desta. Mas Desta itu suka banget bercanda."
"Ah, iya tidak apa-apa Pak." balasnya pelan.
Meskipun dalam hatinya, tentu saja Acha tak terima di cap jutek oleh Desta sembarangan.
"Ini, Pak uangnya."
Kedua anak adam dan hawa itu pun segera membayar pesanan mereka. Acha mengambil plastik miliknya lebih dulu cepat.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Neng." balas paruh baya tersebut ramah.
Desta menggelengkan kepalanya ketika melihat Acha sudah bersiap pergi dan meninggalkan dirinya.
"Buru-buru banget, bareng dong."
"Ngapain kamu mau bareng sama aku. Bukannya kamu bilang kalau aku itu jutek kan. Jadi ya sudah, sana jauh-jauh." usir Acha kesal membuat Desta tertawa mendengarnya.
"Ngambek nih. Becanda kok."
"Ck, dasar nyebelin." decak Acha menggeram sebal dengan kaki di hentak-hentakkan.
Sedangkan Desta menggigit bibir dalamnya menahan senyum geli karena tingkah gadis tersebut yang tampak kesal dengannya.
Semua sudah sampai di rumah, Desta langsung ke kamarnya dan membersihkan diri. Kemudian, pemuda itu membuka room chat dengan Galih.
Desta
Udah sampai Bogor, Bro.
Galih
Hmm.
Desta
Pelit amat jawabnya Bro.
Oh iya, Gal.
Lo inget kan pas di lapangan badminton gue bilang ada cewek mirip sama elo.
Galih
Hmm.
Desta
Ck, cewek itu ternyata penghuni baru rumah kosong yang di samping rumah gue.
Gokil kan.
Galih
Biasa aja.
Nggak penting juga.
Desta
Penting Bro.
Dan elo harus tau kalau dia itu nyebelin banget anaknya.
Jutek abis.
Seketika ponselnya menjadi hening, Desta mengerutkan dahinya ketika Galih tak lagi membalas pesannya. Pemuda itu pun kemudian berdecak pelan.
"Ck, kemana nih bocah ngilang-ngilang aja."
Kesal.
Merasa di cuekin lagi oleh sahabatnya, Desta melempar ponselnya asal di atas kasur. Lalu ia keluar balkon sejenak, pandangannya seketika tertuju pada jendela milik seseorang yang tertutup rapat.
Tanpa sadar Desta sedikit penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh anak tetangganya tersebut. Bahkan, ketika di mobil saat pulang dari pasar, Acha gadis itu sangat pendiam.
Kemana itu bocah ya.
Sementara yang di cariin sedang duduk di ruang televisi sendirian. Sampai suara sang ibu mengejutkannya.
"Acha, menurut kamu Desta itu kaya gimana anaknya?"
Yang di tanya mendongak kaget, sebelum menggedikkan bahu acuh tak tahu.
"Nggak tahu, Mommy. Memangnya kenapa Mommy tanya pendapat aku? Mommy naksir itu anak?"
Tita, wanita paruh baya itu terlihat membelalakkan matanya kaget.
"Hust, sembarang saja kamu kalau ngomong, Sayang. Bukan buat Mommy. Tapi buat kakak kamu Sintia. Mommy rasa nak Desta cocok sama kakak kamu. Gimana?"
Acha terlihat menggeleng seraya menggedikkan bahu pelan.
"Acha juga nggak tahu, Mommy. Kalau Mommy mikir itu cowok sosok sama kak Sintia, ya coba aja jodohin. Tapi kalau Acha pribadi nggak suka sama sifatnya. Anaknya nyebelin."
"Hah? Nyebelin? Kamu berantem sama Desta?" beliau terlihat tak mengerti.
"Nggak. Ya sudahlah Mom, yang pasti Acha nggak mau ikut campur sama niatan Mommy mau deketin kakak sama cowok itu."
"Aduh ... Acha kamu itu harus bantuin Mommy dong Nak. Kalau Mommy sendirian yang ngelakuinnya, pasti kakak kamu nggak tertarik nanti sama nak Desta. Mau kan kamu bantuin Mommy sayang?"
Helaan napas kasar terdengar, Acha menatap sang ibu lelah.
"Acha nggak janji, Mom."
"Ih kamu ini, pokoknya kamu harus bantuin Mommy."
"Acha nggak mau, Mommy. Mommy aja sendiri yang deketin mereka." tolak gadis itu malas.
Beliau pun memandang putrinya gemas.
"Jangan bantah Mommy, Acha. Kamu pokoknya harus bantuin Mommy. Besok Mommy mau kenalin kakak kamu sama nak Desta. Acha harus bantu Mommy, oke?"
"Mommy emangnya tahu kalau kakak pasti mau? Bukannya dia udah punya pacar?" pertanyaan gadis itu membuat raut wajah Tita berubah tidak suka.
"Mereka sudah putus. Mommy nggak suka sama anak laki-laki yang penampilannya kaya berandalan. Apalagi sampai pakai anting-anting segala. Huh, Mommy nggak suka ngeliatnya. Pokoknya Mommy yakin kalau kakak kamu pasti gampang buat suka sama nak Desta. Benar-benar cocok buat kakak kamu." ucap Tita sang ibu penuh semangat.
Kenapa sih Mommy semangat banget mau jodoh-jodohin kakak sama tuh cowok, nyebelin banget. bisiknya dalam hati tidak suka.