Tetangga Jutek

1024 Kata
Malam semakin larut, Desta memilih membuka gorden kamarnya dan duduk di balkon dengan gitar di pangkuannya. Beruntung cuaca bagus penuh bintang menemani Desta malam itu. Satu, dua, tiga lagu pun pemuda itu nyanyika dengan suara fals bin ajaib miliknya. Petikan gitar Desta seketika terhenti kala ia kaca jendela lantai dua dari rumah sebelahnya terbuka, muncul sosok Acha gadis yang tadi makan malam bersama dengan ibunya. "Hallo," sapa Desta sedikit berteriak. "...." tak merespons, gadis itu terlihat hanya berdiri diam dengan earphone terpasang di telinganya. Sialan gue di cuekin. gumam Desta sebal. Malas nanti sakit hati demi dirinya sendiri, Desta pun memilih kembali memetik senar gitarnya dan bernyanyi tanpa mengajak anak tetangganya tersebut mengobrol. Tiba-tiba ponsel Desta berdering di atas meja samping tempat duduknya. Pemuda itu pun menekan tombol hijau di layar ponselnya. "Yoi, kenapa Gal?" "Besok gue nggak bisa ikut elo ketemu klien." "Lah? Kenapa?" "Bokap sama nyokap minta di antar ke Bogor." "Yah ... nggak seru dong. Terus kapan balik?" "Besok kali. Ya udah, gue tutup dulu." "Eh, tunggu ben-- ANJIR MAIN DI MATIIAN AJA NIH BOCAH." teriak Desta mendumel kesal dengan sahabatnya tersebut. Acha yang masih di balkon sempat menoleh melihat kearah Desta aneh. "Oopps, sorry gue berisik ya. Biasa ini temen gue emang nyebelin." "Aku nggak nanya." seru Acha datar membuat Desta nyaris mengumpat karenanya. "Sebenarnya gue pernah liat elo di lapangan badminton tadi pagi. Padahal gue cukup tertarik sama elo karena elo mirip teman gue, cuek abis. Tapi kayanya gue undur diri aja deh, soalnya elo kelewat jutek kayanya. Sayang banget sama muka cantik elo." celetuk Desta tak di filter membuat Acha menaikkan alis kesal mendengarnya. "Dasar nggak sopan. Sukanya mengkritik dan menilai orang lain. Sebelum kamu menilai aku seperti apa, lebih baik kamu intropeksi diri deh. Cowok kok mulutnya asal jeplak aja." balas Acha menyindir keras. Desta menggeram, kesal sekaligus malu dengan perkataan perempuan di depannya tersebut. "Awas nanti kalau elo sampai demen sama gue, sorry nih ya. Gue itu orangnya gampang ngangenin, bisa-bisa elo nanti malah suka sama gue lagi." "Dasar kepedean." sinis Acha membalas menggeleng kuat. "Besok aku kirimin kamu kaca yang gede, biar kamu bisa ngaca seganteng apa emangnya muka kamu sampai aku bisa suka sama kamu nantinya, cih." lanjutnya dengan ekspresi malas. Usai mengatakan hal tersebut, gadis itu pun memilih masuk ke dalam rumah membiarkan Desta yang mengumpat di seberangnya karena kesal. "Sial." Awas aja lo, kalau naksir sama gue, langsung gue tolak. Sok cantik banget. batin Desta geram keki sendiri. Sementara, Acha memilih membaringkan badannya. Gadis itu menscroll layar ponselnya beberapa saat sebelum gerakan tangannya terhenti kala menemukan ig milik seseorang. "Dia." bisiknya memperhatikan profil dan melihat isi photo di sosial media tersebut. "Jasa sewa pacar?" gumam gadis itu lagi, penasaran Acha menekan link yang ada di bio. Sebuah blog menyambutnya, ia terkekeh sinis melihat hal di depan matanya. Dasar nggak jelas. Acha memilih mematikan ponselnya. Gadis itu mencoba memejamkan matanya berharap bisa langsung tidur. Namun suara berisik dari kamar sebelahnya membuat Acha menggeram kesal. "Nyebelin banget, berisik." Kesal. Gadis itu menutup kepalanya dengan bantal dan berusaha tidur dengan mengabaikan suara-suara yang ia dengar tersebut. Suara ayam berkokok di pagi hari tak membuat Desta langsung bangun dari tempat tidurnya. Badannya terlihat malas bergerak, dan seperti biasa harus ada lonceng alarm alami dari luar kamar untuk membangunkannya. Suara menggelegar Sekar sang ibu menyentak Desta yang asyik tertidur. "DESTA BANGUN! BANTUIN MAMA NAK!" "ARRGHH RESE BANGET. MAMA, DESTA MASIH NGANTUK." balas pemuda itu tak kalah kencang. "BUKA DESTA, MAMA BUANG KOLEKSI MOBIL-MOBILAN KAMU KALAU NAKAL. Dasar bocah susah banget di mintain tolong." Dengan raut tertekuk, Desta bangun dari tempat tidurnya dan membuka pintu malas. Gelengan kepala langsung pemuda itu terima ketika ia membuka pintu tersebut. "Astaga Desta. Kamu tidur jam berapa memangnya hmm. Anterin Mama dulu ke pasar. Nanti siang keluarga om mau ke rumah main. Mama mau belanja persediaan makanan di rumah kita habis Nak. Cepat cuci muka aja. Nggak usah mandi, Mama tunggu di bawah." "Ah, Mama ... Desta capek Ma." "Hust, nggak boleh males. Cepet sana ke kamar mandi, Mama tunggu 5 menit. Ayo Nak." Menghela napas pasrah, Desta mau tak mau akhirnya menuruti perintah ibunya. Dengan langkah gontai pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi lalu keluar lagi dan mengambil jaket dari gantungan bajunya asal. Dibawah, Desta tak mendapati ibunya sama sekali berada di dapur. Alisnya terangkat kala melihat pintu utama rumahnya terbuka setengah, Desta pun mendekat. Dan suara ibunya mulai terdengar tengah berbicara dengan seseorang. "Aduh ... Mbak jangan repot-repot sampai bawain makanan juga." "Ah, tidak apa-apa kok Mbak. Justru saya mau ngucapin makasih banyak karena kemarin Mbak juga sudah bantu-bantu dan bawain saya sama anak-anak makanan. Acha bilang kemarin dia juga Mbak ajak makan malam, pantesan dia nggak mau makan lagi pas saya mau pesan makanan online." ujar orang yang berbicara dengan ibunya. Oh ada tetangga sebelah. "Ma ayo jadi kan." seru Desta memotong obrolan tersebut, namun seketika Desta memutar bola matanya saat matanya bersibobrok dengan Acha yang ternyata ada di antara ibunya. "Ya ampun anak Mbak ganteng banget. Hallo, nama tante Tita, mamanya Acha." "Oh, iya, pagi Tante. Saya Desta." "Ganteng ya, Cha?" bisik wanita paruh baya itu bertanya yang masih bisa di dengar oleh Desta dan sayangnya hanya di balas acuh oleh Acha. "Biasa aja." Anjir ini cewek bikin emosi aja. "Ngomong-ngomong Mbak Sekar mau kemana sama Desta?" "Kami mau ke pasar Mbak. Nanti ada saudara mau datang ke rumah, mau belanja bahan makanan aja." "Aduh ... kebetulan banget, pergi sama kami aja. Saya sama putri saya juga rencana mau ke pasar. Baru mau beli isi kulkas. Gimana, Mbak?" "Jangan ah, takut ngerepotin." tolak Sekar ibu Desta tak enak. "Nggak ngerepotin kok, mmm Nak Desta bisa bawa mobil?" "Bisa Tante." jawab Desta yang tersentak saat di tanya demikian. "Bagus kalau gitu, Acha kuncinya kasih ke Desta aja. Kamu tetap ikut Mommy ke pasar ya, kita pergi bareng Tante Sekar sama Desta. Ayo Mbak, Nak Desta." Desta menatap sang ibu, Sekar pun tampak tak enak hati. Dengan pasrah wanita paruh baya itu pun mengiyakan ajakan tetangga barunya tersebut. "Iya, Mbak. Ayo, Nak." ajak Sekar kepada Desta yang di balas helaan napas pelan pemuda itu. Huh, kenapa harus bareng sih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN