Tetangga Baru

1077 Kata
"Nyari siapa lo?" celetuk Galih yang baru saja selesai bermain dengan Arif. "Hah? Nggak nyari siapa-siapa. Lawan main lo mana?" "Arif maksud lo. Itu lagi ke stand beli minum katanya." Desta yang melihat arah yang di tunjuk Galih ber-oh ria mengangguk mengerti. "Gal, tadi gue liat cewek mirip banget sama elo." "Mirip apaan?" Galih menatap heran sahabatnya tersebut. "Mirip Gal, cuek plus juteknya kalau ngomong mirip banget sama elo hahaha, tapi sayang gue nggak sempat kenalan. Keburu pergi dia tadi sama temannya." ujarnya memberitahu penuh semangat. Galih mendengkus, seruan seseorang membuat dua pemuda itu menoleh kompak. "Apa kabar, Bro?" sapanya yang ternyata adalah Arif, teman kampus Galih. "Oh, hallo, Bro. Baik." sahut Desta dengan santai. Ketiga pemuda itu pun mengobrol beberapa saat kala itu hingga menjelang sore. "Makasih ya Babang Galih yang ganteng udah mau antar dedek gemes pulang." "Najis, sialan lo. Masuk sana." umpat Galih kesal mengundang tawa geli pemuda itu tentu saja. "Iya iya gue masuk. Hati-hati dah elo." ujar Desta dengan senyum geli melihat ekspresi jijik Galih kepadanya. Mobil Galih pun memutar arah menuju rumahnya tanpa lagi memperdulikan kejahilan Desta. Membalikkan badan, Desta nyaris masuk ke dalam rumahnya sebelum akhirnya samar-samar ia mendengar suara tidak asing di telinganya dari tembok pembatas rumah sebelah. "Bantuin dong, Ca. Males banget sih elo." omel seseorang terdengar sebal. "Itu bukan barang gue." balas suara perempuan tak kalah dingin. "Iya tau itu bukan punya elo tapi punya gue, masa elo nggak mau bantuin sih elah sama kakak sendiri juga." "Manja banget." "Njir asal jeplak aja lu bocah. Tolongin kenapa, MA ACHA NGGAK MAU BANTUIN NIH." "ACHA BANTUIN KAKAK KAMU DULU, NAK." Desta mengerutkan dahinya, perasaan rumah sebelah kosong deh. "Apa udah ada yang isi rumahnya ya." gumamnya bertanya pada diri sendiri. "Desta ngapain berdiri di depan pintu, Nak." teguran suara Sekar sang ibu membuat pemuda itu tersentak. "Eh, Mama. Mama mau kemana?" tanya Desta balik. "Mama mau ke sebelah. Rumah di sebelah kan sudah ada yang isi Sayang. Ini Mama mau antar kue. Kamu mau ikut antar?" ajak beliau di balas gelengan kepala oleh putranya tentu saja. "Nggak ah, Ma. Desta gerah mau mandi dulu." tolak pemuda itu di balas anggukan kepala cepat sang ibu. "Ya sudah sana masuk, Mama ke rumah sebelah dulu ya." "Hmm, iya Ma." Desta hanya melirik sekilah punggung ibunya yang menjauh sebelum akhirnya ia pun ikut masuk ke dalam rumah. Jam makan malam pun tiba, Desta yang baru saja menyelesaikan tugas kampusnya turun kala Sekar ibunya berteriak memanggil namanya. Desta duduk di kursinya ketika hidangan makan malam sudah tertata rapih di atas meja. "Wih ada sayur asem. Tumben Mama masak sayur asem?" tanyanya yang langsung di jawab oleh sang ibu. "Tapi kamu minta sayur asem kemarin. Itu sudah Mama masakin plus sesuai request kamu banyak jagungnya." jawab beliau membuat Desta tersenyum sangat lebar. "Wow makasih Mama ku sayang." ujarnya heboh. Obrolan ibu dan anak itu pun tertunda ketika terdengar suara bel dari luar. "Sudah kamu duduk aja, biar Mama yang buka." Patuh. Desta pun tetap duduk, tak berapa lama suara ibunya yang berseru heboh terdengar. Bahkan langkah kaki mendekat ibunya membuat Desta menoleh dan seketika bola mata Desta nyaris keluar dari rongganya ketika melihat dengan siapa ibunya datang. "Anjir jodoh." gumam pemuda itu dengan raut takjub membuat seseorang yang datang bersama Sekar sang ibu terlihat mengerutkan dahinya heran. "Desta, kenalin ini anaknya tetangga baru kita. Nama kamu siapa tadi cantik?" tanya Sekar. "Acha, Tante." "Ah, iya Nak Acha. Kamu mau kan ikut makan malam sama Tante dan Desta. Oh iya, ini anak Tante namanya Desta." "Acha. Hmm, maaf Tante kayanya aku pulang aja Tan. Nggak enak kalau ganggu waktu keluarga Tante." "Eh, nggak ganggu kok. Tante juga cuma berdua aja sama Desta. Anak Tante juga nggak keberatan kok, iya kan Desta?" "Ah, iya Ma." sahut Desta mengangguk cepat. Pasrah. Gadis yang datang bersama ibunya itu pun akhirnya mau ikut bergabung. "Jangan sungkan ya, Cantik. Makan yang banyak." ucap Sekar lembut dan penuh perhatian. "Terima kasih, Tante." Senyum bahagia tercetak di raut wajah wanita paruh baya tersebut. Desta diam-diam melirik gadis bernama Acha tersebut. Ini cewek yang di lapangan tadi kan. Gila banget kenapa bisa ketemu lagi, malah jadi tetanggaan pula. Galih wajib banget ketemu nih cewek. batin Desta menatap Acha dengan mimik menahan geli. "Enak, Nak Acha?" Sekar bertanya di tengah makan malam mereka. "Enak, Tante." "Syukurlah kalau sesuai sama lidah kamu, biasanya kalau Tante masak, Desta selalu komentar bilang nggak enak ke Tante." "KAPAN DESTA BILANG GITU SIH MA." pekik Desta tak terima. Sekar sang ibu hanya terkekeh di tempatnya, sedangkan Acha melirik Desta sekilas tanpa minat. Acara makan malam dadakan yang dilakukan oleh Sekar ibunya pun akhirnya selesai. Desta melihat bagaimana gadis bernama Acha itu tampak tidak nyaman di tempatnya kala menunggu Sekat yang tengah mengambil sesuatu di dalam kamarnya. "Maafin nyokap gue ya. Nyokap emang gitu kalau ketemu sama anak perempuan. Excited banget jadinya." seru Desta memecah keheningan. "Iya, nggak apa-apa." "Elo mirip banget sama sahabat gue." Acha menaikkan alis matanya sebelah heran. "Ah, maksud gue bukan mukanya. Tapi cara bicara elo, yang singkat padat dan kadang cuek gitu." "Memangnya kamu tahu saya kaya gimana?" selaknya bertanya dengan nada tidak suka dan sedikit ketus. "Ah, maaf jangan tersinggung. Gue bukannya mau jelek-jelekin elo kok. Santai aja." seru Desta mencoba tidak membuat gadis yang mirip dengan Galih itu marah atau tersinggung karenanya. "Kamu orangnya sok kenal sok dekat kayanya. Aku paling nggak suka di banding-bandingkan sama orang yang nggak aku kenal, apalagi sampai di jelek-jelekin juga. Aku ikut makan malam, karena aku nggak enak sama mama kamu. Beliau baik banget, beliau juga welcome sama keluarga aku padahal kami baru kenal. Jadi aku nggak akan marah sama kamu hari ini karena udah sok menyama-nyamain aku sama seseorang yang nggak aku kenal. Jadi lain kali diam aja, oke." "Wah ternyata elo bisa juga ngomong panjang lebar. Gue kira nggak. And sorry nih ya, bukannya gue mau banding-bandingkan elo sama orang lain. Kalau elo merasa tersinggung dan nggak suka, oke sorry gue minta maaf ya. Anggap aja gue nggak pernah ngomong apa-apa sama elo ya." Gadis bernama Acha terlihat hanya memandang lurus kearah Desta dan menoleh ketika suara Sekar kembali menyapa memanggilnya. "Aduh ... maaf ya Cantik kalau Tante kelamaan. Ini ada hadiah buat kamu, Tante harap kamu suka ya. Ini Tante sendiri yang buat loh cantik." gadis itu menatap lekat kotak di tangannya. "Terima kasih banyak, Tante." Diam-diam, Desta memperhatikan gadi di dekatnya tersebut dalam. Bikin penasaran aja nih cewek. gumamnya tersenyum dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN