Tutup?

1086 Kata
Keesokkan harinya. Galih baru saja bangun, pemuda itu bersiap mandi. Namun langkah kakinya terhenti ketika ponselnya berdering. Alisnya naik ke atas melihat nama Desta tertera di layar. Dengan malas, Galih menerima sambungan telepon dari sahabatnya tersebut. "Hmm." "Idih, hmm langsung aja. Assalamualaikum, Galih sayang." "Najis." desis Galih kesal. Terdengar suara tawa geli di ujung telepon. Galih mendengkus. "Marah bae masih pagi Bang. Oh iya, nanti gue ke rumah elo ya. Ada nyokap bokap elo nggak?" "Ngapain? Gue mau basket dulu sama anak-anak kampus." balas Galih memberitahu. "Anjir ... nggak di ajak gue. Wah parah elo Gal. Tega kamu mas, kamu jahat." ucap Desta di buat-buat dramatis. Galih nyaris melempar ponselnya, jika saja dia tidak sabar menghadapi kegilaan Desta. "Gue matiin ya." "Ya ampun becanda Bang. Ya udah, elo main dimana? Gue nanti ke sana aja deh. Bosen nih di rumah sendirian, nyokap lagi pergi ke tempat om Haikal." "Hmm, tempat biasa." jawab Galih di balas anggukan kepala oleh Desta cepat mengerti. "Bye bye sayang." Sambungan diputus sepihak oleh Desta, Galih hanya bisa menghela napas pendek di buatnya. Dasar edan. gumamnya menggeleng heran. Kembali melanjutkan kegiatannya, Galih masuk kedalam kamar mandi dan bersiap-siap. Suara seseorang terdengar di lantai bawah rumahnya, ternyata sudah ada Desta yang tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa memberitahu lagi. Hal itu mengejutkan Galih yang baru saja bersiap untuk berangkat ke lapangan badminton. "Desta? Ngapain lo kesini?" "Kata Nak Desta kamu mau main badminton? Makanya Nak Desta ke sini, iya kan Nak?" Dewi ibu Galih bertanya membuat yang di tanya mengangguk cepat. "Iya, Tante. Ayo nyet-- eh Gal." Desta menutup mulutnya malu ketika kebablasan memanggil Galih demikian. Sedangkam Dewi ibu Galih hanya tertawa geli mendengarnya. "Ma, Galih berangkat dulu." pamit Galih kepada sang ibu. "Ya sudah kalian hati-hati. Galih jangan bawa mobil kencang-kencang ya Nak." seru beliau menasihati. "Hmm iya, Ma." Sesampainya di luar, Galih bertanya dengan nada heran kepada Desta lagi. "Katanya elo mau nyusul aja? Ngapain ke rumah gue?" Menarik sudut bibir cengengesan, Desta menjawab. "Males gue kesana sendirian, enak bareng aja sama elo. Untung tadi pas telepon elo gue udah bangun gara-gara nyokap pamit pergi." serunya. Tak protes, Galih akhirnya membiarkan saja Desta ikut pergi bersamanya hari itu. Sepanjang perjalanan, hanya di isi dengan suara fals Desta yang bernyanyi. "Semalam gue dapat pesan dari Melani, dia bilang makasih ke elo sama gue. Karena kita udah bantuin dia. Dan dia juga nggak bilang-bilang udah kirim uang ke rek gue sebagai bentuk ucapan terima kasih." "Balikin aja." Desta memasang raut tidak enak. "Maunya sih gue balikin, Gal. Tapi Melani ngelarang gue buat kirim balik ke dia. Katanya nggak apa-apa buat kita. Emangnya elo nggak mau, Gal?" Tanpa di duga, Galih justru menggeleng mengejutkan Desta melihatnya. "Nggak. Buat elo aja." tolak Galih tidak berminat. "Hah? Beneran buat gue aja? Mayan Gal duitnya buat jajan beli paket kuota." ucap Desta cepat. Gelengan kepala di berikan lagi oleh Galih. "Gue mau kita berhenti buka jasa." "APA?" teriak Desta tiba-tiba mengejutkan Galih yang menoleh dengan mata melotot tajam. "Sialan bikin kaget aja." omelnya. "Lah elo yang bikin kaget njir. Berhenti gimana maksud elo? Jangan aneh deh, Gal. Kita udah terima banyak klien baru loh. Udah pada DP juga masa gue balikin semuanya." "Ngapain elo mintain DP segala njir." Galih mengomel lagi. "Ya, mana gue tahu kalau elo tiba-tiba mau kita berhenti. Tapi Gal, bukannya gue sayang sama duitnya. Elo kan tahu sendiri kita buka jasa juga untuk bantuin cewek-cewek yang patah hati kan. Niat kita baik loh, buktinya kemarin aja kita bantuin Melani nyelesaiin masalahnya. Bahkan Melani akhirnya bisa tahu mana orang yang benar-benar tulus berteman sama dia, dan mana yang enggak." papar Desta berbicara sesuai fakta yang terjadi. "Gue tahu, Des. Tapi setelah gue pikir-pikir gue nggak bisa ngelanjutin lagi. Gue nggak mau ikut terseret sama masalah orang lain lagi kaya kemarin." ujar Galih terlihat serius mengatakannya. Desta yang mendengar hal itu jelas saja kelabakan di buatnya. Bingung bagaimana membujuk Galih agar mau melakukan pekerjaan sebagai jasa sewa mereka. "Please, Gal. Jangan udahan dulu. Gimana kalau begini aja. Kita tutup kalau masalah-masalah klien kita yang udah deal sama gue via chat dan bayar DP kita selesaiin dulu. Setelah semua beres, kita nggak terima klien lagi. Mau ya ya ya, please Gal." ucap Desta mencoba membujuk sahabatnya tersebut memohon. Menghela napas panjang, Galih tampak berpikir sejenak. Melihat raut bingung Desta usai dirinya mengatakan untuk stop jasa mereka, sedikit membuat Galih bersalah. Di tatapnya sekilas raut wajah Desta di sampingnya, sebelum akhirnya Galih menganggukkan kepala pelan pasrah. "Oke. Sampai semua selesai saja. Kalau udah beres semua, gue mau kita fokus kuliah aja, oke." Desta tersenyum lebar mengangguk penuh semangat. "Oke, Bang Galih. Siap laksanakan." Galih tak lagi berdebat, pemuda itu memilih fokus menyetir kendaraannya saja. Sedangkan Desta tersenyum senang dalam hatinya. Alhamdulillah, uang jajan tambahan gue nggak melayang. kekehnya dalam hati. Suasana ramai lapangan outdoor badminton menyambut kedatangan keduanya. Desta memilih mencari tempat duduk sedangkan Galih sudah berjalan mendekat kearah rekan main badmintonnya. "Gue kira elo nggak jadi datang, Gal." ucap pemuda di hadapan Galih tersebut. "Gue kan udah janji sama elo, Rif." pemuda itu kembali membalas kali ini dengan senyum tipis tercetak di wajahnya. "Dateng sama siapa elo, Gal?" tanyanya ingin tahu. "Desta." balas singkat Galih. Arif pemuda itu pun merasa sedikit awkward bertanya, akhirnya ia pun memilih langsung saja mengajak Galih untuk bermain dengannya. "Yuk langsung main aja." Deheman pelan Galih di berikan sebagai respons. Di tempat duduknya Desta melirik ke segala arah. Cukup ramai, ada beberapa yang datang dengan pacar, adik bahkan teman. Desta pun memilih bersantai dengan ponselnya sesekali melihat ke arah Galih bertanding dengan teman kampusnya. "Tumben banget si Galileo mau di ajak main sama yang lain. Ini bocah biasanya ogah-ogahan. Paling juga maraton aja kegiatan olahraganya. Ck ck ck, kesambet apa tuh bocah." gumam Desta pelan. "Gila ganteng banget cowok yang itu." "Semua elo bilang ganteng." "Apasih, beneran tau kali ini guanteng bingit deh." "Terserah elo aja, Na." "Ah, nggak seru ajak elo ke sini lagi. Nggak bisa di ajak cuci mata sama yang bening-bening." "Dasar aneh, cuci mata pakai air sana. Biar ilang debu elo, biar ga jelalatan liat cowok." "Anjir, Ca sadis amat sindiran elo." "Ck, dasar bege. Udah ah, awas gue mau ke toilet dulu." "Ya udah sana pergi, hati-hati jangan omelin orang sembarang di jalan." Desta menutup mulutnya malu-malu karena menguping pembicaraan dua perempuan di sampingnya, yang jelas sudah pasti ia ketahui perhatian keduanya tertuju untuk Galih sahabatnya. Desta mendongak menatap punggung perempuan yang pamit pergi itu penasaran. Itu cewek cuek banget kaya si Galih. kekehnya dalam hati geli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN