"Cukup sabar gue selama ini menahan diri buat liat elo kalau lagi sama Hari mesra-mesraan di depan gue, Mel. Dan elo pikir enak jadi gue hah." sentak Putri menggeram sebal.
Masih dalam keterpakuannya, Melani hanya bisa diam ketika Putri mengatakan hal demikian kepadanya.
"Gue udah suruh Hari buat lepasin elo, tapi apa? Kalian berdua justru semakin lengket dan itu adalah hal yang paling gue nggak suka. Hari seharusnya bisa jaga perasaan gue, tapi dia sama sekali nggak mikirin hati gue. Gue benci sama kalian berdua, gue nggak terima karena dia tiba-tiba mutusin gue dan bilang kalau dia bener-bener udah cinta sama elo. Dan cuma mau pacaran sama elo aja. Menurut elo apa yang harus gue perbuat hah? Diam aja kaya orang b**o gitu dan pasrah, begitu maksud elo?" geramnya dengan nada penuh kekesalan. Putri masih dengan raut marah dan kecewa itu bersidekap menatap ke arah sahabatnya.
Melani menundukkan kepalanya dalam-dalam di tempat duduknya, pikirannya mendadak kosong.
Desta dan Galih saling beradu pandang sesaat.
Sampai salah satu dari mereka pun berceletuk dengan nada penuh geraman tertahan dan raut tidak suka.
"Bukan berarti cara elo nusuk Melani di belakangnya itu di benarkan." Desta menoleh menatap Galih yang terlihat memandang Putri tidak suka.
"Kenapa kalian ikut campur, padahal kalian bukan siapa-siapa dia. Kalian itu cuma pacar sewaannya aja kan. Tapi bagus deh karena bantuan kalian, Hari mau balikan lagi sama gue."
"Jadi kamu sekarang sama Hari, Putri." bisik Melani mendongak tak percaya bertanya.
Dengan dagu mengenadah ke atas angkuh, Putri yang selama ini Melani kenal seketika berubah hanya dalam sekejap mata karena masalah laki-laki.
"IYA. KENAPA ELO NYESEL UDAH PUTUSIN HARI?"
Menggeleng pelan, Melani pun membalas dengan nada nanar bukan karena Hari melainkan karena perubahan sahabatnya tersebut.
"Nggak, Putri. Aku nggak pernah menyesal putus dari Hari. Tapi aku menyesal karena aku sekarang harus rela kehilangan kamu yang selama ini sudah aku anggap saudara kandungku sendiri. Aku kira hubungan kita akan tetap baik, tapi bahkan untuk sekarang pun aku sendiri masih bingung harus bagaimana menghadapi kamu, Put. Kenapa kamu nggak jujur aja. Kalau kamu memang cinta sama Hari dan sejak awal aku tahu kalau kamu itu pacar Hari. Aku nggak akan mungkin meminta kamu mengenalkan aku sama Hari, Putri. Maaf kalau aku selama ini nggak peka sama kamu. Aku janji. Sekarang aku nggak akan ganggu hubungan kamu dan Hari lagi. Tapi aku hanya minta tolong satu hal sama kamu, Put. Tolong bawa Hari pulang kerumahnya, orangtuanya khawatir sekali sekarang, Put." seru Melani panjang lebar dengan nada pelan bergetar.
Putri terlihat mendesis di tempatnya, "Ini yang nggak gue suka dari elo, kenapa semua orang cepat suka sama elo. Bahkan diam aja pun elo masih jadi pusat perhatian."
"Karena Melani memang baik." selak Galih mengutarakan fakta jujur.
"GUE NGGAK TANYA KALIAN. DAN GUE NGGAK MINTA PENDAPAT KALIAN BUAT NILAI SIAPA DI SINI YANG BAIK ATAU NGGAK. KARENA GUE CUMA MAU AMBIL LAGI, APA YANG SEHARUSNYA JADI MILIK GUE, MELANI." teriak Putri menatap marah kearah Desta dan Galih yang menurut gadis itu terlalu menganggu urusannya.
"Ambil hak? Dasar gila, emangnya elo istrinya Hari gitu. Kalau gue jadi Hari pun gue bakalan mikir-mikir buat punya pacar modelan kaya elo. Dan yah ... bagus sih karena Melani tetap.putus sama Hari. Cowok bodoh dan mata katarak kaya dia pantas buat dapetin cewek modelan kaya elo. Kalian sama-sama cocok." ejek Desta mencibir dengan menahan tawa geli.
Kedua tangan Putri terkepal kuat mendengar seruan penuh nada ejekan dari pemuda di depannya tersebut.
"Sialan." umpatnya cukup keras yang langsung membuat Desta justru akhirnya tertawa lepas.
"Kenapa? Elo nggak terima?"
"Makanya jadi orang jangan sok paling drama. Elo merasa paling di sakitin di sini, padahal justru elo itu sebaliknya. Kalau elo sejak awal memang punya hati, elo nggak akan mungkin tetap ngenalin Melani ke Hari cowok elo itu. Dan sampai buat mereka jatuh cinta Jadi jangan pernah merasa kalau Melani udah jahat ke elo. Karena semua itu elo sendiri yang buat, paham." lanjut Desta kali ini tegas tak lagi tertawa mengejek gadis di depannya.
Putri menoleh ke samping menatap Melani marah.
"Gue harap elo nggak ganggu hidup gue lagi, Mel. Elo jangan khawatir gue bakalan bilang Hari buat pulang nanti. ingat ya. Jangan pernah elo dekat-dekat lagi sama Hari dan keluarganya, ngerti?"
"Apa elo nggak ada sedikit pun itikad baik buat minta maaf ke Melani heh?" sindir Galih memandang remeh gadis di hadapannya tersebut.
Benar-benar tidak tahu adat.
"Buat apa? Bukan salah gue, dan gue pasti bakalan terus ngawasin elo, Mel. Gue pasti bakalan langsung labrak elo kalau elo ketemuan sama Hari lagi di belakang gue. Ingat, hubungan kalian itu sudah berakhir. Begitu juga persahabatan kita, paham." usai mengatakan itu, Putri bangkit dari duduknya. Gadis itu melirik sekilas kearah Melani sebelum beranjak dari sana tanpa kembali menoleh kearah Melani yang terpaku di tempatnya. Sorot mata sedih dan terluka jelas terlihat di kedua manik indah milik Melani yang berkabut.
"Putri." lirihnya menahan tangis membuat Desta dan Galih merasa tidak enak kepada klien kedua mereka tersebut.
"Mel, sudah jangan sedih lagi. Orang kaya Putri itu nggak pantes elo tangisin apalagi elo cegah buat pergi. Elo harus percaya kalau elo juga berhak bahagia, elo berhak dapat seseorang yang bisa melindungi elo dan menjaga elo penuh cinta. Perjalan elo masih panjang, oke. Jangan patah semangat." ujar Desta memberi semangat.
Melani mengangguk kecil dengan rasa terima kasih.
"Makasih, Desta, Galih. Berkat kalian aku jadi tahu semua fakta yang selama ini nggak aku ketahui. Aku sedih karena harus kehilangan sahabat sejiwa yang selama ini aku sayang. Aku menyesal karena nggak bisa buat Putri bahagia. Aku kecewa dengan diriku sendiri yang terlalu egois dan melupakan orang-orang yang ada di sekitar juga penting." serunya.
"Jangan bicara seperti itu. Bukan salah elo, Mel. Tapi cewek itu aja yang salah, dia juga udah mengambil semua tindakan tanpa pikir panjang. Dia juga nggak memikirkan perasaan elo." ujar Desta dengan helaan napas kasar membayangkan wajah menyebalkannya milik Putri saat itu.
"So, elo jangan merasa bersalah oke." lanjutnya.
Kata-kata dan dukungan penuh moril gadis itu terima dari Desta.
Melani merasa senang dan bersyukur masih di kelilingi oleh orang-orang baik sampai saat ini.
"Desta, Galih terima kasih banyak." serunya tulus.
Kedua pemuda itu mengangguk kompak dengan senyum terbit di wajah tampan mereka.
"Sama-sama, Mel. Tetap semangat ya."
Ternyata hubungan percintaan anak-anak sekarang itu rumit ya. gumamnya pelan.