Raut cemas Desta belum hilang setelah pemuda itu membaca pesan dari seseorang di ponselnya.
flashback on.
Bola mata Desta nyaris keluar usai berteriak hal itu sontak saja membuat Galih yang terkejut harus mengerem mendadak. Omelan pun di terima oleh Desta dari Galih.
"Sialan bikin kaget aja, bangke."
Desta tak menggubris seruan sahabatnya tersebut, pikirannya masih melayang entah kemana.
"DESTA ADA APA?" kesal, Galih menyentak pemuda di sampingnya lebih keras dari sebelumnya.
Terperanjat, Desta menoleh melihat ke arah Galih yang memasang raut kesal kepadanya.
"Sorry, Gal. Kayanya kita harus balik lagi ke rumah Putri." serunya membuat Galih mengerutkan dahi heran.
"Balik lagi? Ngapain?"
"Ini elo liat aja sendiri." jawab Desta yang justru hanya menyodorkan ponselnya kearah sahabatnya tersebut.
Galih menatap layar tersebut dan ikut membelalak kaget melihat pesan tersebut.
"Hari sama Putri?" cicitnya bingung.
Desta mengangguk pelan.
"Iya, ternyata kemarin ada yang liat Hari jalan sama Putri, dan mereka ke hotel. Ini juga nggak sengaja di photo katanya." jelas Desta dengan nada sama masih tidak percaya.
"Ngapain si Putri sampai bohong tadi?"
Menggedikkan bahu tidak tahu, Desta pun berujar membalas.
"Gue kirim photo ini dulu deh ke Melani. Biar dia tahu kalau sahabatnya itu tukang ngibul."
"JANGAN DULU, NYET." selak Galih cepat.
"Lah kenapa?"
Desta menatap Galih heran.
"Kalau kita langsung kirim photo itu ke Melani. Gue takut di baca lebih dulu sama Putri. Lebih baik kita telepon Melani dulu, terus susulin dia. Nah baru kita kasih tahu photo tadi." Mengerti, Desta pun mengangguk paham. Pemuda itu sontak segera menghubungi nomor Melani.
Dahinya tiba-tiba mengkerut dalam, sebab nomor Melani mendadak tidak aktif. Padahal jelas-jelas Desta ingat kalau ponsel Melani masih penuh baterainya.
"Nggak aktif Njir."
"Susul aja deh." lanjutnya panik.
Setuju, mobil Galih pun kembali melaju membelah jalan raya dengan kecepatan sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
flashback off.
Disinilah kedua pemuda itu berada sekarang, mobil Galih sudah berhenti di depan rumah Putri kembali. Sedangkan Desta terlihat masih berusaha menghubungi nomor Melani lagi.
"Masih nggak aktif juga? Apa Melani udah pergi ya sama temannya itu?" gumamnya bertanya-tanya memecah keheningan.
"Masuk aja deh. Siapa tahu masih ada di dalam mereka." seru Galih menimpal.
Sepakat kedua pemuda itu sontak keluar dari dalam mobil dan mencoba menekan bel rumah di depan mereka.
Lama, tak kunjung ada yang menjawab membuat kedua hati pemuda itu semakin resah di buatnya.
"Telepon lagi, Des." ucap Galih tiba-tiba menyuruh.
Kaget, Desta pun mengikuti apa yang di katakan oleh sahabatnya tersebut.
"Nyambung, Gal. Hallo, Mel?"
"Iya, Desta."
"Elo dimana?"
"Hah? Aku lagi di jalan sama Putri, tadi handphone aku jatuh mati. Makanya ini baru hidup lagi. Ada apa?"
Helaan napas lega tanpa sadar keluar dari mulut Desta saat Melani menjawab telepon darinya.
"Elo mau kemana?"
"Hmm aku mau balik ke rumah Hari dulu. Habis itu pulang ke rumah." jelas gadis itu di ujung telepon memberitahukan tujuannya.
Desta terlihat mengangguk mengerti.
"Oh gitu, bisa nggak Mel, kalau kita ketemu sebentar di kafe gitu?"
"Ketemu? Sekarang?"
Desta berdehem pelan mengiyakan. Hening sejenak, sebelum akhirnya Melani pun menjawab ajakan Desta barusan.
"Oke, kita ketemu di kafe Xtra aja. Kebetulan nggak jauh dari rumah Putri tadi. Sebentar lagi aku sampai di sana. Aku tunggu kalian ya." ujar gadis itu setelahnya sambungan keduanya pun terputus.
Tujuan kedua pemuda itu kali ini adalah kafe Xtra, seperti yang di katakan oleh Melani di telepon.
Benar saja.
Sudah ada Melani dan Putri di kafe tersebut ketika Desta dan Galih tiba di kafe tersebut. Pandangan kedua pemuda itu sontak tertuju pada salah satunya. Masih menggeleng tidak percaya atas apa yang sebenarnya terjadi usai memandang raut tidak bersalah milik gadis bernama Putri tersebut.
"Hei, ada apa? Kenapa kalian natap Putri kaya gitu?" seloroh Melani kala melihat kedua pemuda itu tampak serius memandang kearah sahabatnya.
"Nggak ada apa-apa kok, Mel." sahut Desta dan mulai duduk di ikuti oleh Galih tentu saja.
Ke empatnya duduk berhadapan, Desta tak langsung berbicara.
"Mel, gue ke toilet dulu ya."
Kepergian Putri membuat Desta mengambil kesempatan itu dengan mengeluarkan ponselnya dan langsung memberitahu soal photo yang ia terima beberapa saat lalu.
"Kenapa, Desta?"
"Elo liat aja, Mel."
Melani mengerutkan dahinya sejenak sebelum akhirnya melihat ke layar ponsel Desta yang menyala. Kedua bola matanya membelalak, tubuhnya sedikit limbung ke samping karena terkejut melihat apa yang tidak baik untuk ia lihat.
"Putri sama Hari? Kenapa mereka berdua? Kenapa ... kenapa mereka ke ho--hotel?" tanya Melani tergagap tidak mengerti.
"Kita juga nggak tahu, Mel. Gue dapat photo ini dari salah satu pemuda yang ada di warung nongkrong tadi. Makanya gue minta elo langsung ketemuan. Mumpung elo lagi sama Putri, lebih baik kita tanya sama dia baik-baik."
"Tapi kenapa mereka berdua--"
"Ssstt, ada Putri." potong Desta memberi kode kedatangan gadis yang sedang mereka bicarakan itu dari arah toilet.
Wajah Melani berubah lesu dan suram. Putri yang melihat perubahan itu pun langsung bertanya dengan nada khawatir.
"Mel, elo kenapa? Hei, kalian apain sahabat gue hah?" sentaknya kearah Desta dan Galih yang masih duduk hadapannya.
"Seharusnya kita yang tanya ke elo? Kenapa elo tega bohongin Melani? Dia aja masih berusaha buat percaya sama elo yang katanya sahabatnya sendiri. Padahal di belakang Melani elo ketemuan sama Hari, iya kan?" sindir Desta ketus.
"MAKSUD ELO APAAN SIH?" bentak Putri marah.
"Coba elo jelasin, maksud dari photo ini apa? Ngapain elo ketemuan sama Hari? Padahal tadi elo bilang sama Melani kalau elo nggak pernah ketemu sama Hari. And what the hell, ngapain kalian ke hotel hmm?" cerca Desta membuat Putri menatap pemuda itu nyalang.
Sialan. umpat gadis itu.
"Putri, kenapa kamu harus bohong sama aku? Kalau kamu memang ada ketemu sama Hari it's oke. Aku nggak akan marah, Put. Tapi, kenapa kamu nggak jujur saja. Aku nggak mau berpikiran jelek tentang kalian. Aku cuma mau tahu Hari dimana, kasihan orangtuanya bingung cari dia." seru Melani dengan nada bergetar seraya memandang sahabat karibnya dengan perasaan yang sulit di jelaskan.
"Kalau gue kasih elo alasan semuanya, apa elo akan terima, Mel?"
"Apapun itu, kamu bisa cerita sama aku Put. Hubungan aku sama Hari sudah berakhir."
"Yakin berakhir hmm? Gue tahu gimana perasaan elo buat Hari. Tapi gue nggak bisa terima itu sekarang. Karena gue sama Hari itu jauh lebih dulu jadian di bandingkan elo."
"Hah? Maksud kamu apa Putri?" Dengan raut tidak mengerti Melani menatap sahabatnya lekat.
"Gue itu pacar pertama Hari. Dan elo itu pacar kedua Hari." ucap Putri dengan nada santai tanpa beban.
Menegang kaku, Melani menatap Putri dengan wajah tertegun.
Aku pacar kedua Hari. batinnya bergumam miris.