Melani masih tidak percaya atas apa yang di katakan oleh Selina, perempuan yang baru saja ia temui.
Tidak mungkin Putri tahu dimana Hari. pikirnya dalam hati.
"Kita kemana lagi, Mel?" Desta mencoba bertanya kepada gadis yang sedang termenung tersebut di kursi belakang.
Galih ikut memperhatikan mimik wajah gadis itu.
"Kalau mau pulang dulu juga nggak apa-apa, Melani. Jangan dipaksa." ujar Galih ikut menimpal mencoba mengerti situasi yang sedang di alami oleh kliennya tersebut.
"Ah, nggak apa-apa. Maaf, apa bisa antar aku ke rumah Putri?" anggukan kepala Galih berikan.
Tidak melarang, pemuda itu pun segera membawa kendaraannya menuju alamat yang di beritahu oleh Melani.
Selama perjalanan tidak ada yang memulai pembicaraan. Menghabiskan waktu sekitar 45 menit di jalan, mobil mereka akhirnya tiba di salah satu rumah yang berada di tengah-tengah kota.
"Kalian mau kan nemenin aku sebentar ketemu sama Putri. Aku takut tiba-tiba marah sama Putri waktu tanya soal Hari."
Desta dan Galih mengangguk paham. Ketiganya akhirnya serentak turun. Namun kedua pemuda itu membiarkan Melani melangkah lebih dulu di depan.
Tak lama dari dalam rumah keluar seorang gadis yang pernah bertemu dengan mereka. Hal itu membuat kedua pemuda tersebut saling melirik satu sama lain.
"Loh, Mel. Kok elo ke sini? Mau ngapain?" ada sirat nada terkejut dari sahabat kliennya tersebut. Seakan-akan, kedatangan mereka begitu mengagetkannya.
"Putri. Kamu mau kemana?" balik tanya Melani yang di balas cepat oleh gadis di depan mereka.
"Mau ke depan. Gue mau ke minimarket. Kenapa, Mel? Elo sendiri ngapain ke rumah gue. Nggak ada bilang apapun, kalau gue nggak ada dirumah gimana? Kan elo nanti capek bolak-balik jadinya."
"...." ketika tak ada jawaban dari Melani, Galih menyikut tangan Desta pelan memberi tanda.
Tersadar jika gadis di depannya sedang termenung, sontak saja Desta mewakilkan berbicara.
"Maaf ya, kalau kedatangan kita bikin elo kaget. Hmmm, sebenarnya begini Putri ...." Desta pun menjelaskan apa yang tengah terjadi tanpa mengatakan kalau mereka curiga kepada gadis itu.
"Hilang? Terus ngapain kalian kesini carinya. Lagi pula ngapain sih Mel cari-cari cowok kaya dia. Please deh lupain aja. Masih banyak cowok di luaran sana yang gue yakin bisa jagain elo. Hari itu nggak banget deh, Mel." ucapnya dengan nada tidak enak di dengar.
"Put."
"Hmm, apa?"
"Kamu masih sahabat aku kan?"
"Hah? elo ngomong apa sih, Mel?" balas Putri dengan raut tidak mengerti sedikit kesal.
Melani berusaha memberanikan diri untuk bertanya soal Hari. Gadis itu tampak sekali enggan membuat sahabatnya salah paham atau marah.
"Ya iyalah kita masih temenan. Emangnya kenapa? Elo nggak mau temenan lagi sama gue?" lanjut Putri bertanya dengan nada yang mulai meninggi.
Gelengan kepala kuat di berikan oleh Melani. "Nggak, Put. Aku ... aku cuma--"
"Cuma apa? Elo kenapa sih? Ngomong yang bener deh, ada apa?"
Melani melirik kearah Desta dan Galih sekilas. Anggukan kecil gadis itu dapatkan dari keduanya.
"Put, aku minta maaf sebelumnya kalau kamu nanti jadi tersinggung sama pertanyaan aku. Tapi aku nggak ada maksud buruk ke kamu. Mmm ... begini, apa Hari ada bertemu kamu? Apa kamu tahu dimana Hari? Karena ada yang bilang kalau kamu tahu dimana Hari sekarang."
"APA? SIAPA YANG BILANG, MEL?"
Tersentak, Melani sempat terlonjak kala mendengar suara bentakan Putri sahabatnya. Begitu pula dua pemuda di dekatnya. Desta dan Galih.
"Putri aku--"
"JADI SEKARANG ELO LEBIH PERCAYA SAMA OMONGAN ORANG LAIN DARIPADA GUE HAH? GILA ELO, MEL. ELO SENDIRI TAHU KAN GIMANA HUBUNGAN GUE SAMA MANTAN ELO ITU. MUAK GUE KALAU DEKAT-DEKAT SAMA DIA. Dan sekarang elo berpikir gue tahu keberadaan tuh cowok?" potong Putri menggeleng-gelengkan kepalanya kala menatap Melani dengan raut tidak percaya dan marah.
Melani hanya bisa menelan ludah susah payah mendengar nada marah dari sahabatnya tersebut.
"Maaf, Putri. Aku tahu seharusnya aku nggak percaya sama omongan orang lain yang mungkin sedang berusaha mengadu domba kita berdua. Dan aku percaya kalau kamu nggak mungkin bohongin aku soal Hari. Aku hanya lagi bingung, Put. Aku nggak tahu dimana Hari sekarang, dan orangtuanya marah sama aku sekarang. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi buat cari keberadaan Hari." seru Melani putus asa sedih.
Putri tampak membuang napas kasar sesaat.
"Elo seharusnya nggak boleh langsung percaya dengan ucapan orang lain. Gue nggak pernah menjerumuskan elo ke hal jelek, Mel. So, buat apa juga gue sembunyiin Hari. Kalau pun gue tahu soal Hari, buat gue itu juga nggak penting banget iya kan?"
Ragu, Melani mengangguk pelan mengiyakan. Meskipun dalam hatinya ia masih memikirkan ucapan Selina kepadanya.
"Sekarang elo nggak usah deh berurusan sama tuh si Hari. Dan gue nggak tahu dia dimana sekarang. Jadi elo jangan mikir jelek soal gue oke, Mel. Gue sahabat elo, dan gue nggak mungkin nusuk elo dari belakang. Elo harus percaya sama gue." ucap Putri tegas.
Mengangguk pelan. Melani pun menjawab pelan. "Iya, aku percaya sama kamu."
Mengulas senyum Putri mendekat dan memeluk Melani erat.
"Elo gue aja yang antar pulang ya. Kebetulan gue kan mau ke minimarket. Sekalian aja." Ujar Putri setelah melepas pelukannya kepada Melani. Lalu, pandangan gadis itu beralih menatap Galih dan Desta.
"Makasih ya, kalian udah mau nemenin Melani. Biar nanti Melani gue yang antar pulang." lanjutnya berbicara tertuju kepada kedua pemuda di dekatnya tersebut.
Desta mengangguk pelan mengerti.
"Oke."
Tak banyak ikut campur, Galih dan Desta pun pergi lebih dulu. Mereka melihat Melani masuk ke dalam rumah itu sebelum akhirnya Galih membawa mobilnya melaju kembali membelah jalan raya.
"Kenapa gue nggak yakin sama itu cewek ya?" gumam Galih sedikit tertangkap oleh Desta yang sontak saja membuat sahabatnya itu menoleh heran.
"Emangnya cewek tadi kenapa, Gal? Wajar sih dia marah kaya tadi, bisa di bilang kalau Melani tadi curiga sama dia. Makanya itu cewek kesal, untungnya hubungan mereka tetap baik ya nggak pecah."
"Tapi, gue ngerasa kalau itu cewek ada yang dia sembunyiin deh."
"idih ... Babang Galileo sok mau jadi detektif nih ya ceritanya. Udahlah Gal, yang pasti sekarang kita istirahat dulu cari si Hari. Kita tunggu aja sampai tuh cowok berengsek keluar dari tempat persembunyiannya. Hobi banget ngerjain orang. Kalau ketemu gue bakalan getok sama centong nyokap gue, nyebelin banget kan."
Galih tak langsung membalas sedikit candaan Desta barusan.
Sampai suara nada dering dari ponsel milik Desta terdengar, Galih melirik sekilas lalu kembaki fokus menyetir sampai suara pekikkan Desta yang memekakkan telinga mengejutkannys hingga decitan ban pada aspal jalan menyahut karena Galih mengerem mendadak di jalan yang beruntung sepi.
"GILA BENERAN DIA?"