Di tengah ramainya pengguna jalan, mobil yang di kendarai oleh Galih pun ikut menyusuri jalan menuju suatu tempat. Dengan pikiran yang berkecambuk, baik Galih maupun Desta dan juga Melani yang ikut bersama mereka hanya bisa termenung satu sama lain. Galih yang tidak terlalu memusingkan perihal Hari mantan kliennya tersebut memilih tidak berkomentar apapun. Ia hanya mengikuti Desta saja pikirnya.
Hingga mobil yang di kendarainya berhenti di sebuah jalan sempit dan cukup sepi. Melani dan Desta terlihat bersiap turun lebih dulu, sedangkan Galih memilih diam di dalam mobil saja.
Di tempatnya Desta dan Melani mendatangi sebuah warung kecil yang ramai remaja nongkrong. Dengan hati-hati Desta tetap menjaga sikap dan tetap waspada sebab daerah ini bukanlah wilayahnya. Dengan sopan keduanya bertanya pelan.
“Maaf permisi, saya mau tanya?” Melani berujar lebih dulu.
Suara gadis itu menyentak kerumunan tersebut hingga mereka semua menoleh serentak ke arah Melani dan juga Desta.
“Iya, ada apa?” seru salah satu dari pemuda-pemuda itu menjawab.
“Maaf begini, kalian kenal pemuda ini tidak ya?” ponsel genggam milik Melani di sodorkan ke arah pemuda tadi, beberapa dari mereka terlihat mengerutkan dahi dan saling beradu pandang satu sama lain sebelum menjawab.
“Kenal. Memangnya ada perlu apa ya kalian sama dia. Si Hari nggak bikin masalah sama kalian kan?” Ucap pemuda tadi lagi.
Tanpa sadar Melani dan Desta menghela napas lega saat mendengar jika mereka mengenal sosok Hari.
Menggeleng pelan, Melani pun membalas. “Saya mantannya, kebetulan orangtuanya Hari sedang mencarinya. Dia nggak pulang sejak kemarin. Mereka khawatir. Dan minta tolong saya buat cari Hari. Apa Hari ada datang ke sini ya?”
“Guys, kalian ada liat Hari nggak kemarin?” pemuda itu malah bertanya balik ke arah teman-temannya, serentak mereka pun menggeleng. Hal itu membuat Melani menghela napas resah jadinya.
Hari tidak datang ketempat ini. Lalu kemana perginya mantan kekasihnya tersebut.
Desta melirik Melani yang ada di sampingnya sekilas. Pemuda itu mendesah pelan dalam hatinya.
“Kalian beneran nggak ada yang liat Hari?” seru pemuda itu bertanya sekali lagi. Anggukan serentak para pemuda-pemuda di depannya membuat Desta ikut mengangguk memgerti.
“Oke. Boleh saya minta tolong kalau nanti kalian ada yang melihat atau ketemu Hari tolong telepon nomor saya.” Desta menyodorkan ponselnya kepada salah satu diantara para pemuda itu.
“Itu nomor saya.” Ujar Desta usai mendial nomor yang di berikan oleh pemuda tersebut.
Keduanya pun pamit meninggalkan area tersebut, dengan tanpa informasi yang mereka dapat soal Hari. Wajah lesu Melani membuat Galih yang menunggu keduanya di dalam mobil memasang mimik mengerti. Tanpa banyak bertanya pemuda tampan itu kembali mengendarai kendaraannya pergi dari sana.
“Hari kamu dimana?” bisikan Melani jelas tertangkap oleh indera pendengaran Desta dan juga Galih.
“Kita sabar aja ya, Mel. Jangan khawatir kita bantu cari mantan elo itu kok, oke.” Celetuk Desta di balas anggukan kepala patuh.
Tak tentu arah mobil Galih terus membelah jalan raya menyusuri setiap jalan yang mereka bertiga lalui dengan sebuah harapan baik, bisa bertemu dengan Hari.
"Elo kenal teman deketnya Hari banget nggak, Mel? Siapa tahu salah satu dari mereka ada yang liat bahkan lagi sama Hari?" Desta kembali bertanya kepada kliennya tersebut.
Terlihat Melani terdiam sejenak di bangku tengah, seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Ada. Tapi aku nggak deket sama dia." jawab gadis itu sedikit ragu.
"Elo tahu rumahnya?" tanya Desta lagi.
Masih dengan raut ragu, Melani kembali mengangguk. Gadis itu pun menyebutkan alamat rumah seseorang yang Desta dan Galih tak ketahui. Tak banyak membantah, Galih membawa kemudi mobilnya menuju tempat tersebut.
Kurang dari setengah jam mobil melaju, ketiganya pun berhenti di depan rumah berlantai dua yang tertutup rapat. Kali ini Galih ikut turun dari mobil, menemani keduanya.
Melani dengan gestur ragu-ragu menekan bel rumah tersebut. Desta diam-diam berbisik kepada sahabatnya.
"Kenapa Melani agak takut gitu ya, Gal." Galih pun hanya menggedikkan bahunya tidak tahu.
Pemuda itu hanya tetap mengawasi sampai keluar seorang gadis berwajah blasteran dari rumah yang mereka datangi tersebut.
"KAMU? MAU NGAPAIN KE SINI?" suara bentakan itu mengejutkan Desta dan juga Galih. Mereka tidak tahu kalau akan di sambut dengan nada tidak suka seperti itu oleh sang pemilik rumah. Kedua pemuda tersebut sontak melihat ke arah Melani yang terlihat gugup di tempatnya kala menghadapi wajah tidak enak gadis di depan mereka sekarang.
"Maaf kalau kita mengganggu waktu kamu. Kenalin saya Desta. Begini, apa saya boleh tanya sesuatu ke kamu?"
"MAU TANYA APA? SAYA NGGAK SUKA BERURUSAN SAMA HAL YANG NGGAK PENTING DAN BUANG-BUANG WAKTU." kembali ngegas membalas, Desta mencoba mengerti kala menghadapi sosok di hadapannya tersebut.
"Iya, saya mengerti. Begini, saya temannya Melani. Saya mau bertanya, apa kamu ada melihat Hari? Saya dan Melani sedang mencari Hari sejak kemarin, dan orangtuanya pun mencari Hari. Apa kamu ada bertemu dengan Hari?"
"Hari? Buat apa kalian tanya dia ke aku. Hubungan aku sama dia itu sudah lama lost. Lagi pula buat apa kalian cari anak kaya Hari. Dia itu memang nggak pernah benar. b**o banget aku dulu mau sama dia. Sudah di kasih hati minta jantung, dasar cowok sialan emang." seru gadis itu mencibir Hari di depan mereka tanpa ragu.
Desta mengulum bibirnya menahan tawa setuju. Rupanya gadis di depannya tersebut paham kalau Hari itu cowok berengsek.
"Jadi kamu beneran nggak ada ketemu atau berhubungan sama dia lagi?"
"NGGAK."
Desta menganguk mengerti.
"Selina aku mohon, aku yakin kamu tahu dimana Hari. Bukannya kalian masih berhubungan, bahkan sebulan lalu kamu sama Hari masih jalan?"
"HEY CEWEK BODOH, AKU NGGAK ADA KETEMU HARI SUDAH 6 BULAN. APA KAMU BILANG SEBULAN LALU? DAPAT INFO DARIMANA KAMU SOAL ITU HAH?" suara marah gadis yang di panggil Selina membuat Desta menggeram dalam hatinya kala melihat ke arah kliennya.
Kesal.
Karena Melani kembali memancing amarah gadis itu.
"Maaf, Selina. Kalau Melani ada salah, tolong kamu maafin ya."
"KALAU KEDATANGAN KALIAN CUMA MAU BUAT KERIBUTAN DI SINI LEBIH BAIK KALIAN PULANG. AKU NGGAK ADA HUBUNGAN APAPUN LAGI SAMA COWOK BERENGSEK ITU. DAN JANGAN CARI-CARI DIA KE AKU. KENAPA KAMU NGGAK CARI AJA KE SAHABAT BAIK KAMU ITU. AKU RASA DIA LEBIH TAHU DIMANA HARI."
"Hah? Sahabat aku? Maksud kamu apa, Selina?"
Enggan membalas dan memberitahu, gadis itu memilih kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan raut penuh keterbingungan Melani.
Desta dan Galih pun saling beradu pandang dengan tatapan tak mengerti.
"Sahabat aku, apa maksud Selina barusan. Nggak, nggak mungkin Putri." seru Melani dengan ekspresi yang tak bisa di jelaskan.
Putri. gumam Desta dan Galih serentak.