Seharian Desta di buat pusing saat di kampus dengan mata kuliah dari dosennya. Kini, Desta memilih duduk di taman dekat kampusnya sendirian seraya menunggu kabar dari Galih yang belum membalas pesannya hingga sekarang.
"Ini bocah gede kemana lagi? Bikin kesel aja chat gue nggak dia balas. Bangke emang." Gerutu Desta meneguk minuman dingin di depannya dengan ekspresi menahan marah.
"Di larang ngumpat. Kaya orang di tinggal chat sama doi aja. Marah-marah aja lo, cepat tua baru mampus dah." Seloroh suara yang amat di kenalnya dari aray belakang.
Galih muncul dengan raut tanpa dosa membuat Desta geram dan rasanya ingin sekali mencabik-cabik wajah tampan namun menyebalkan sahabatnya tersebut.
"Sialan bener emang elo ya, Gal. Datang kaya jelangkung, ngapain elo ke sini. Sedangkan chat gue aja nggak elo balas njir. Bener-bener dah nih bocah. Nyebelin lo."
"Elo ngechat gue? Mana ada monyet." Balas Galih dengan ekspresi bingung bercampur sebal karena mendengar kata-kata Desta.
"Adalah, coba aja elo check dul-- AAARGGH sial gue salah kirim." Pekik Desta membelalakkan matanya kaget.
Galih mendorong kepalanya sedikit ke depan melihat layar ponsep sahabatnya lalu menyeletuk asal namun jujur.
"Wah bodoh."
Desta mendongak dan menatap Galih tajam. Pemuda itu buru-buru membanting ponselnya ke kursi geram.
"Daritadi gue nungguin balasan elo, dan ternyata gue sendiri yang salah kirim. Benar-benar--"
"BEGO." potong Galih cepat seraya menahan geli.
Desta cemberut.
"Untung aja nomor kak Galuh udah ganti. Jadi dia nggak akan liat isi pesan elo ke gue. Besok-besok kalau mau kirim pesan liat-liat dulu, benar apa nggak nomornya. Sudah hapus aja kontaknya. Kak Galuh juga nggak akan balas chat salah kirim untuk elo itu. Oke." Lanjut Galih lagi.
Desta manggut-manggut dengan raut meringis malu.
"Elo emangnya kirim chat apa?" Tanya Galih setelah lebih serius.
"Apa? Oh ini Gal, soal klien-klien baru kita. Gue udah kasih jadwal dan bagi waktu gimana menurut elo?"
"Ini semua klien baru kita?" Galih justru balik bertanya dengan alis mengkerut melihat daftar yang di berikan oleh sahabatnya tersebut.
Antara percaya dan tidak percaya di tempatnya.
"Iya, SEMUA." ujar Desta menekankan perkataannya.
Hening sejenak.
Galih sudah mengembalikan ponsel milik Desta. Kini pemuda itu tampak diam berpikir keras dengan memikirkan banyaknya jumlah klien barunya.
Suara dering ponsel Desta menyentak lamunan mereka. Desta tak langsung menerima panggilan tersebut membuat Galih ikut mengintip nama si penelepon.
"Melani? Ngapain lagi dia?"
Tersentak, Desta mendongak menatap Galih yang sedang memandang lurus ke arahnya.
"Hah? Oh ini dia ... sebentar Gal."
Karena suara dering yang tak kunjung berhenti, Desta dengan buru-buru menerimanya. Suara panik Melani klien keduanya itu membuat Desta ikut kebingungan.
"Hallo, Mel. Ada apa?"
"Desta gimana ini. Hari belum juga pulang. Aku harus gimana? Aku takut kalau Hari sampai nekat. Dia--"
"Tenang dulu, Mel. Bukannya tadi gue udah kasih tau elo, melapor pun percuma karena Hari belum 2x24 jam nggak ada kabar kan."
"Iya aku paham, Desta. Tapi perasaan aku nggak enak. Aku benar-benar takut kalau Hari nekat melakukan hal bodoh. Aku mohon bantu aku Desta. Please." Suara serak dengan penuh permohonan di ujung telepon membuat Desta mendesah mendengarnya.
"Oke, elo tenang dulu. Sekarang elo ada dimana?" Tanyanya yang langsung di beritahu oleh Melani dimana keberadaan gadis itu sekarang.
"Aku masih di rumah orangtua Hari. Tolong bantu aku Desta."
Desta berpikir sejenak sebelum mengangguk mengerti.
"Oke. Gue sama Galih ke sana. Jangan kemana-mana oke."
"Hmm, iya. Terima kasih Desta. Aku tunggu kamu."
Sambungan pun di putus oleh Desta. Pemuda itu menoleh ke samping dimana Galih sedang sibuk dengan ponsel genggamnya.
"Huh. Gimana ini Gal?" Keluh Desta membuat Galih sontak menatapnya heran.
"Kenapa?"
"Jadi begini Gal ...." Desta dengan perlahan menceritakan masalah Melani kepada sahabatnya itu mulai dari klien kedua mereka tersebut datang ke rumahnya tadi pagi.
"Hilang? Masa sih? Kok bisa itu cowok ngilang? Apa dia cuma lagi sembunyi aja, biar Melani cemas dan merasa bersalah."
"Soal itu gue nggak tahu, Gal. Nah, sekarang masalahnya. Orangtua cowok itu udah maksa Melani buat cerita, tapi di satu sisi dia nggak berani karena nyokapnya Hari itu punya penyakit jantung. Coba aja elo bayangin kalau Melani nekat bilang apa yang udah di lakuin sama anaknya beliau. Apa nggak langsung kambuh tuh sakit. Sekarang Melani masih di rumah cowok nyusahin itu. Dan terus bilang kalau Hari lagi sama teman-teman pemuda itu." Jawab Desta.
Galih pun ikut bingung jadinya. Pemuda tampan itu pun tak berkomentar apapun jadinya.
"Yang penting sekarang kita ke rumah itu cowok dulu buat ketemu sama Melani. Nih dia udah sherlock juga. Yuk Gal." Ajak Desta.
"Kita ke sana mau ngapain? Kan kita juga nggak tahu si Hari itu ada dimana? Emangnya elo tahu dia sekarang lagi dimana?" Ujar Galih seketika bertanya dengan nada penuh keheranan.
"Nggaklah. Ya kali gue tahu dimana cowok sialan itu. Sekarang yang penting kita kesana aja dulu. Urusan ketemu apa nggaknya tuh bocah urusan belakangan. Gue cuma mulai khawatir sama Melani. Dia yang terlalu b**o atau emang beneran cinta banget sama tuh bocah. Makanya dia sampai nggak tahu harus bersikap bagaimana."
Galih pun ikut mendesah kasar.
"Oke lah, gue ikut aja. Mudah-mudahan semua baik-baik aja."
Mengangguk setuju, akhirnya dua pemuda itu pun pergi meninggalkan area taman segera untuk menemui Melani.
Dalam hati mereka hanya berharap semua akan selesai dengan baik-baik.
Namun, kala keduanya sampai di rumah berlantai dua yang diberikan oleh Melani. Suara teriakan mulai terdengar dari dalam. Samar-samar mereka mendengar suara yang mereka kenal.
"Tante tenang dulu."
"GIMANA TANTE BISA TENANG. DARITADI KAMU BILANG KALAU HARI SEDANG KELUAR SAMA TEMANNYA. TANTE TANYA SIAPA KAMU SENDIRI NGGAK TAHU. KAMU PIKIR BISA BODOHIN TANTE, IYA. SEKARANG JAWAB PERTANYAAN TANTE, MELANI. DIMANA HARI? DIA ADA DIMANA?"
"Tante maafin Melani. Tapi Melani--"
"DASAR KAMU YA. BAWA ANAK TANTE KERUMAH. JANGAN SEMBUNYIIN HARI DARI TANTE. KAMU DENGAR KAN OMONGAN TANTE."
"Iya, Tan."
Dari luar Desta dan Galih sampai berjengkit kaget mendengar suara bantingan seperti pintu yang di tutup kencang. Tak berani menekan bel rumah tersebut. Desta berinisiatif menghubungi Melani saja. Dan ketika pintu utama terbuka, sosok Melani muncul dengan wajah sembab dan ada jejak tangan di pipi kiri gadis itu.
Hal yang tentu saja membuat Desta dan Galih syok melihatnya. Desta refleks memeluk klien keduanya itu kasihan.
"Aku harus bagaimana, Desta?" Lirih gadis itu lemah.
Berengsek banget keluarga ini. Batin Desta menggeram marah karenanya.