Hari Hilang?

1003 Kata
Keesokkan harinya. Suara ketukan dari luar kamar kembali menyentak Desta yang sudah bersiap akan keluar kamarnya. Pemuda itu membuka kamarnya lalu mendapati sang ibu Sekar di hadapannya. "Kenapa Ma?" Tanyanya langsung. "Itu di luar ada yang nyariin kamu." "Hah? Cari Desta? Galih?" Kerutan di dahi pemuda itu terlihat jelas. "Bukan. Anak perempuan." Wajah Desta semakin mengkerut dalam mendengar seruan sang ibu. Perempuan. Siapa ya. Batinnya dalam hati bertanya-tanya. "Ya sudah, Ma. Makasih ya." "Itu bukan pacar kamu kan Desta?" Celetukkan Sekar membuat pemuda itu tersentak kaget. "Nggak, Ma. Sekarang Desta lagi jomblo dong." Ujarnya dengan cengiran menyebalkan. "Bagus deh. Pokoknya kalau kamu punya pacar kenalin ke Mama. Nggak boleh kalau punya pacar tapi nggak di kenalin ke orangtua. Mengerti kan Desta." "Iya Mama sayang. Desta paham kok." Keduanya pun akhirnya berjalan pergi dari depan kamar Desta. Sekar memilih kembali ke dapur sedangkan Desta melangkah keluar rumah menemui tamunya. Alisnya terangkat naik terkejut melihat siapa yang ternyata datang. "Melani? Ngapain elo ke rumah gue?" Gadis yang di panggil namanya itu pun menoleh dan segera berdiri dari duduknya. Wajah sembab, mata memerah dan basah seperti habis menangis membuat Desta keheranan. Pantas saja, tadi ibunya bertanya apa gadis di rumahnya saat ini adalah pacarnya. Apa karena melihat wajah sembab Melani ya. Entahlah. "Desta, maaf aku ganggu kamu." Cicit gadis itu serak menahan tangis. "Nggak kok. Cuma gue bingung aja. Kok ada elo di rumah gue. Ada apa, Mel?" Raut wajah Melani mendadak berubah ragu. "Anu ... aku--" "Jangan bingung. Ayo ngomong aja. Nggak apa-apa kok, bilang aja." Potong Desta cepat. Melani tampak menganggukkan kepalanya pelan. Meskipun mimik ragu masih ada, gadis itu mulai memantapkan diri untuk bercerita. "Desta aku bingung, orangtua Hari semalam menelepon dan bilang Hari nggak pulang ke rumahnya kemarin. Orangtua Hari khawatir banget, aku juga sudah telepon semua teman Hari tapi meraka nggak ada yang tahu Hari dimana. Aku sekarang harus apa, Desta?" Mengerutkan wajahnya, Desta pun bergumam dalam hatinya. Kenapa Melani ikut khawatir sama itu cowok sialan. "Tenang dulu ya, Mel. Gue jadi ikut bingung juga nih. Mungkin aja si an-- ah maksud gue si Hari itu lagi sama temannya yang lain yang nggak elo kenal. Iya kan. Makanya elo nggak bisa dapat jawaban dimana Hari. Dan lagi pula ya, bukannya gimana-gimana Mel. Hari itu kan cowok, elo tahu lah ya. Gue juga suka pulang malam bahkan nginep di rumah teman kalau lagi bosan. Mungkin aja mantan elo itu lagi nginep di rumah temannya yang lain. Dan kalau pun Hari di bilang hilang sama keluarganya, biarpun elo ke kantor polisi kan belum 2x24 jam." Papar Desta menjelaskan penuh hati-hati kepada gadis yang ada di hadapannya tersebut. "Iya, aku ngerti Desta. Tapi--" "Dan kenapa orangtua Hari telepon elo. Memangnya mereka nggak tahu elo sama Hari itu sudah putus?" Tanya Desta penasaran. Melani menggeleng kecil. "Nggak. Mereka belum tahu kalau aku sama Hari sudah putus." Desta ber-oh ria mengangguk mengerti. "Begitu. Jadi gimana? Apa yang mau elo lakuin sekarang. Dan gue penasaran juga, bukannya elo udah nggak mau berurusan lagi sama mantan elo. Kenapa sekarang elo datang ke gue dengan wajah sembab kaya gini, Mel?" Desta menjeda sejenak. "Elo masih cinta sama mantan elo itu kan?" Lanjutnya telak. Melani tampak bingung ingin menjawab apa, namun tanpa gadis itu menjawab pun Desta sudah mengerti. Benar juga ternyata kata Galih kemarin. Kalau Melani masih ada perasaan sama cowok modelan kaya Hari itu. "Aku ...." "Udah nggak apa-apa, jangan elo jawab. Gue ngerti kok. Susah sih kalau hati masih sayang sama seseorang tapi kita harus mengakhirinya karena sebuah keadaan. But, gue yakin apa yang terjadi sama elo ada hal yang baik menunggu." Ucap Desta bijak. Mengangguk mengerti. "Sekarang aku harus bagaimana? Mama Hari masih ngehubungin aku. Bahkan sampai jam segini, Hari juga belum pulang. Nah, ini mama Hari telepon lagi Desta." Ujar Melani seraya menunjukkan layar ponselnya kepada Desta. Melihat itu Desta menatap ponsel itu dalam diam. "Bilang aja kalau elo sudah putus sama anaknya." Seru pemuda itu mengusulkan. Gelengan kecil di berikan oleh Melani beberapa saat. "Nggak bisa, mama Hari ada penyakit jantung. Aku nggak mau kalau aku bilang putus dan mama Hari minta penjelasan alasan kami putus. Aku nggak berani bilangnya. Aku takut beliau kenapa-kenapa nantinya, Desta." Mendesah berat, Desta menggaruk lehernya yang tidak gatal ikut bingung. "Ya udah, coba tunggu aja. Dan elo juga coba buat terus ngehubungin nomor telepon Hari. Sorry ya, gue nggak bisa langsung bantu elo, Mel. Soalnya gue ada jam kuliah sekarang." Ucapnya pelan-pelan. Mengerti. Melani tak memaksa Desta, kedatangan dirinya ke rumah pemuda itu pun secara tiba-tiba. "Sekarang elo istirahat aja dulu. Masalah Hari coba aja tunggu, mudah-mudahan dia ketemu dan pulang. Kalau Hari masih memikirkan keluarganya, gue yakin dia juga bakalan langsung pulang." "Iya, maaf sekali lagi ya Desta. Karena aku sudah ganggu waktu kamu di rumah." Desta menarik kedua sudut bibirnya ke atas sempurna. "Santai aja. Nggak apa-apa. Gue yang harusnya minta maaf karena belum bisa bantu buat soal ini." Sesalnya berucap. "Nggak kok. Justru kamu sudah sangat membantu aku. Makasih ya. Sekarang aku bisa lebih tenang. Dan aku akan coba menenangkan mama Hari dulu." Sahut gadis itu jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Sama-sama." Melani pun pamit pulang, gadis itu pun terus mengucapkan kalimat maaf karena sudah mengganggu waktu Desta bahkan sampai datang ke rumah pemuda itu secara tiba-tiba. Sedangkan Desta, masih berdiri heran menatap kepergian mantan klien keduanya itu menghilang dari pandangannya dalam diam. Susah juga kalau punya hubungan yang toxic relationship kaya gitu. Mau lepas pun rasanya berat. Semoga masalah mereka selesai dengan baik. Urusan balikan atau tetap pisah itu hak mereka. Batinnya bergumam. Desta pun masuk kembali ke dalam rumah, cercaan ibunya membuat pemuda itu mendesah pelan. "Kenapa temannya nggak kamu ajak masuk sih Desta? Kalau ada tamu itu di bawain minum, Desta? Sekarang teman kamu itu kemana? Kamu usir?" Ucap Sekar. "Sudah pulang, Ma. Di telepon mamanya." Balasnya malas. "Kok dia tadi muka sembab banget. Habis putus sama pacarnya ya? Atau berantem sama mamanya? Desta tahu?" Desta menggigit bibir bawahnya gemas mendengar pertanyaan ibunya yang tak berhenti-henti. Astaga Mama gue bawel banget sih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN