"Kenapa Papa masih memantau kegiatan Galih. Lagi pula Galih tidak melakukan hal aneh di luaran sana. Jadi Papa nggak perlu memata-matai Galih." Seru Galih terdengar tidak senang atas tindakan sang ayah.
"Apa salahnya kalau Papa melakukan itu. Ini semua juga demi kebaikan kamu. Masa depan kamu harus cerah Galih. Jangan buat Papa dan mama malu, sudah menyekolahkan kamu tapi kamu justru jadi anak yang tidak benar." Ujar Akbar sang ayah beralasan.
Galih menggeram muak.
"Bilang saja Papa takut Galih jadi seperti kak Galuh kan. Galih tahu kalau Papa sebenarnya sudah tahu keberadaan kak Galuh. Kenapa Papa lampiaskan perasaan kecewa Papa buat kakak ke Galih. Galih juga punya kehidupan Galih sendiri Pa. Galih juga nggak suka di atur. Kalau Papa marah sama kak Galuh, bawa kakak pulang, marahin sepuasnya bukan melampiaskannya ke Galih."
"Galih kamu bicara apa hah." Desah pria paruh baya tersebut menjeda, pandangan Akbar menatap putranya tidak percaya. "Papa melakukan ini demi kebaikan kamu. Agar kamu mengerti, kehidupan di dunia ini nggak mudah Galih. Kalau kamu tidak punya tekad, skill bagaimana cara kamu memenuhi kebutuhan hidup. Di luaran sana banyak orang yang kena PHK dan mereka harus mati-matian mencari uang untuk keluarganya, banyak orang yang meminjam uang kesana-kemari dan harus gali lubang tutup lubang demi menyambung hidup. Semua Papa lakukan agar kamu tidak menyia-yiakan ilmu yang kamu terima selama kamu menuntut ilmu. Bersyukur Papa dan mama masih hidup, bagaimana kalau kami tidak ada Nak. Papa sebagai orangtua kamu memikirkan masa depan yang baik bukan semata-mata karena Galuh kakak kamu."
"Ya. Memang benar Papa tahu keberadaan kakak kamu, apa sekarang hal itu penting. Karena yang saat ini sedang Papa bicarakan itu adalah soal kamu Galih. Papa tahu apa yang kamu kerjakan sama Desta. Pertanyaan Papa untuk apa kalian melakukan hal tidak berguna itu. Apa karena uang? Bicara dengan Papa, Papa akan bantu kalian. Papa mengerti dengan kondisi keluarga Desta. Tapi Papa tidak ingin kamu juga ikut melakukan kegiatan yang tidak berguna itu Galih."
"Galih suka melakukannya. Jadi Papa jangan larang-larang Galih apalagi Desta. Masalah kuliah, Galih nggak akan mengecewakan Papa. Papa bisa pegang janji Galih." Ucap pemuda tampan itu tegas kepada sang ayah.
Akbar terlihat mendesah di tempatnya.
Pandangannya masih tampak serius kepada putra keduanya tersebut.
"Baiklah, untuk kali ini Papa nggak akan melarang kamu Galih. Tapi ingat peringatan Papa, jika saja nilai kamu menurun. Papa nggak akan segan-segan memarahi Desta karena Papa yakin semua itu adalah idenya." Ucap Akbar penuh nada peringatan.
Galih terdiam, tak lagi membantah ayahnya. Dalam hati pemuda itu ia akan meningkatkan nilainya agar pria paruh baya yang ada di hadapannya sekarang tidak akan mencari masalah dengan sahabatnya. Galih tentu saja tidak menginginkan sahabat dan juga orangtuanya bertengkar hanya karena soal ini.
Dan Akbar memilih keluar dari kamar putranya, setelah puas menasihati dan memperingati putranya tersebut.
Kepergian sang ayah membuat Galih menghela napas kasar.
Gue nggak boleh biarin hal buruk terjadi nanti. Gumam pemuda itu dalam hatinya pelan.
Di tempat lain, Desta baru saja selesai membersihkan diri dan kini tengah duduk di depan meja belajarnya. Laptopnya ia biarkan terbuka menyala menampilkan beberapa file tugas kampusnya.
Hembusan napas kasar terdengar dari mulut pemuda itu ketika menangkap banyak file di depannya.
"Huh, kenapa kepala gue tiba-tiba sakit sih. Sial bener dah, ini tugas kenapa banget banyak njir." Gerutu Desta terlihat mual kala menatap laptopnya sendiri.
Suara notifikasi ponselnya yang bergetar mengalihkan perhatian Desta, pemuda itu sontak mengambil telepon genggamnya cepat.
Pemuda itu membacanya lalu deretan pesan lain masuk berhasil membuat kedua mata Desta membelalak saking terkejutnya.
"Gila ... gila. Apaan nih, MAMA DESTA DAPAT DUIT BANYAK!" Teriakan menggelegar Desta mengagetkan Sekar sang ibu yang sedang menonton televisi. Wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam kamar Desta dengan raut kesal karena gangguan suara putranya barusan.
"YA TUHAN DESTA KAMU BIKIN MAMA KAGET AJA. DASAR ANAK NAKAL." Omel beliau menatap garang putra semata wayangnya tersebut.
Desta terkesiap, pemuda itu mendorong kursi belajarnya mundur ke belakang kala melihat sang ibu masuk dan mendekatinya dengan tangan siap menjewer.
"Maaf Ma. Desta refleks tadi nggak sengaja." Ujarnya memelas meminta maaf.
Sekar menggeram pelan. "Lain kali jangan kaya gitu, kalau Mama punya penyakit jantung gimana? Kamu mau Mama masuk rumah sakit?"
"Ampun Ma. Jangan bilang kaya gitu Ma." Seru pemuda itu lagi kali ini memasang wajah sedih.
"Kamu teriak apa tadi? Awas kalau yang aneh-aneh ya. Mama pukul kamu nanti."
Desta meringis mendengar ancaman Sekar ibunya.
"Ah, itu Ma. Desta sama Galih dapat orderan sewa banyak. Makanya tadi Desta teriak karena kaget."
"Sewa ojek yang kamu bilang waktu itu sama Galih? Syukurlah Alhamdulillah kalau dapat banyak pelanggan." Tanya beliau polos membuat Desta nyaris tertawa terbahak karenanya. Tapi pemuda itu berusaha menahannya.
Astaga mamanya benar-benar masih mikir itu sewa ojek. Batin Desta menggeleng tidak percaya.
"Iya, Ma." Sahut Desta pelan dengan raut menahan geli.
Sedangkan Sekar terlihat sangat senang mendengar hal tersebut. Bahkan beliau terus menasihati putranya untuk membawa kendaraan dengan baik jika sedang bersama penumpang.
"Bawa motornya nggak usah ngebut-ngebut. Nanti bilang juga sama nak Galih, ojek mobilnya juga jangan bawa ngebut-ngebut demi keselamatan kalian."
Desta hanya bergumam mengiyakan nasihat dan wejangan sang ibu. Pemuda itu tampaknya tak ada niat sedikitpun untuk menjelaskan soal jasa sewa pacar bohongannya.
Ya.
Hitung-hitung sebagai hiburan. Pikirnya.
Kini, Desta kembali sendirian di dalam kamar. Pemuda itu sudah puas tertawa usai sang ibu keluar dari dalam kamarnya.
Pandangan Desta kembali tertuju pada layar ponselnya. Ia melihat lagi ada sekitar 20 chat yang belum di bacanya.
Dengan perlahan pemuda itu membuka isi chat dan membacanya tak lupa ia pun membalas satu persatu, bernegosiasi soal pembayaran dan tempat untuk janji temu. Dengan penuh ketelatenan, Desta benar-benar mengurutkan kliennya dari chat paling bawah hingga atas. Pemuda itu pun melupakan layar laptopnya yang sudah redup dan mengabaikan tugas kuliah yang harus ia kumpulkan esok.
Dalam pikiran Desta saat ini adalah pelanggan nomor one.
Entah apa yang akan di terimanya tidak mengerjakan tugas kuliahnya. Yang penting Desta tidak pusing memikirkan soal-soal di laptopnya.
Pemuda itu juga segera mengirim pesan untuk sahabatnya Galih. Desta yakin kalau Galih juga bakalan syok melihat screenshot yang ia kirim dan daftar nama-nama calon kliennya.
Yuhu money money. Batin Desta berseru girang berdendang.