Masih Di Pantau?

1049 Kata
"Gue langsung balik." Desta yang baru saja turun dari mobil Galih sontak menaikkan alis heran. "Tumben buru-buru banget. Belum malem Gal. Kaya anak mommy aja lo." Seru Desta di selingi tawa mengejek. "Sialan lo." Umpat Galih kesal. Setelahnya Desta benar-benar tertawa kencang di depan pagar rumahnya seperti orang gila. "Oke lah, hati-hati ya Abang sayang." "Najis." Sumpah serapah Galih kesal. Puas menggoda sahabatnya, Desta masuk lebih dulu ke dalam rumah tanpa menunggu Galih memutar mobilnya untuk pulang. Sedangkan Galih harus kembali mempersiapkan dirinya jika nanti bertemu Akbar ayahnya. Namun helaan napas seketika keluar dari mulut Galih saat hanya mendapati ibunya saja di rumah. Dan Akbar sedang keluar menemui seseorang kata Dewi sang ibu. "Galih kenapa baru pulang? Mau makan Nak?" Tanya Dewi dengan nada perhatian. Galih hanya diam. Entah mengapa dirinya tidak senang mendapat perhatian itu dari sang iby. Mungkin jika perhatian itu ia dapatkan sebelum Galuh kakaknya pindah, Galih akan senang menerimanya. Tapi nyatanya .... "Galih sayang, kenapa diam aja?" "Galih masih kenyang, Ma." Sahut pemuda itu akhirnya. Dewi mendengar hal tersebut pun ber-oh ria seraya mengangguk mengerti. "Kamu tadi ketemu sama tante Sekar? Gimana kabarnya tante Sekar?" Seru wanita paruh baya itu tiba-tiba bertanya soal ibunya Desta sahabatnya. "Kabar tante Sekar baik, Ma." Sahut Galih seadanya saja. Kembali menganggukkan kepala, Dewi terlihat mencoba mencari bahan untuk percakapan dengan putranya. Sedangkan Galih yang sadar jika ibunya tengah berusaha mengobrol dengannya pun akhirnya ikut duduk di sofa bersama beliau dan mulai mengajukan pertanyaan. "Mama kenapa nggak istirahat?" "Oh, Mama lagi nungguin papa kamu, katanya sebentar lagi pulang." Jawab beliau. Galih ber-oh ria mengerti. "Galih, kamu jangan sakit hati ya kalau ada omongan papa kamu yang nggak enak di dengar. Mama yakin kalau Galih mengerti bagaimana kondisi perasaan papa. Memang sikap mama dan papa sudah salah selama ini. Kamu mau kan memaafkan Mama, Nak." Galih diam sejenak. "Galih nggak marah sama Mama atau pun papa. Galih hanya nggak suka kalau kalian selalu membawa nama kak Galuh. Padahal kak Galuh yang berbuat dan bikin papa marah, tapi kenapa yang kena imbasnya selalu Galih. Galih bahkan nggak pernah minta apapun sama Mama dan papa. Karena Galih tau perhatian kalian semua sudah tertuju ke kak Galuh. Jadi percuma kalau Galih bilang apa yang Gakih lalui selama ini. Mama pasti mengertikan?" Wanita paruh baya itu pun tertegun mendengar hal yang di ucapkan oleh putranya. "Maafin Mama, Nak." Entah, Dewi pun mendadak kebingungan bagaimana cara menjawab perkataan putranya. Galih dan Galih memang dua putranya yang memiliki sifat berbeda. Dan Dewi seketika merasa tertampar dengam hal yang ternyata selama ini telah terjadi. Sedangkan, Galih mendesah pelan. Tak berharap kalimat atau pun kata-kata manis yang untuk ia dengar dari semua sikap orangtunya selama ini. "Galih maafin Mama dan papa ya, Nak. Kita mulai dari awal lagi ya, Sayang. Mama janji tidak akan menyinggung apalagi menyakiti hati kamu." "Lihat saja nanti, Ma." Balas Galih tidak begitu tertarik dengan janji sang ibu. "Ma, boleh Galih ke kamar. Galih capek banget." Lanjut pemuda itu izin pamit kembali ke kamarnya. Dewi yang mengerti, mengiyakan. Dan Galih langsung berdiri dari duduknya lalu naik ke lantai dua rumahnya. Punggung lebar putranya yang semakin menjauh dan menghilang membuat Dewi menghembuskan napas berat. Wanita paruh baya itu benar-benar merasa bersalah sudah memperlakukan putra keduanya dengan demikian. "Maaf, Nak." Sesalnya. Di kamar, Galih merebahkan tubuhnya lelah. Ponselnya berdering, ternyata Desta meghubunginya dan memberitahu kalau sahabatnya itu sudah mentransfer sejumlah uang dari jasa sewa pacar mereka. "Gal, gue udah transfer ke rekening elo. Tadi Melani kirim tambahan juga, padahal gue udah bilang ke dia jangan. Tapi tetap aja dia transfer. Terpaksa deh gue terima." Jelas Desta di ujung telepon sana. "Gal." "Hmm." Balas Galih bergumam pelan. "Ck, ya Allah. Elo irit banget sih balas omongan gue." Decak Desta terdengar sebal kepadanya. Galih yang tiba-tiba teringat soal Melani pun berucap pelan. "Gue rasa Melani masih cinta sama mantannya itu deh." "HAH? Nggak mungkin. b**o banvet kalau dia masih cinta sama cowok kaya gitu. Ngomong sama cewek aja dia nggak bisa pelan. Ngegas aja, memang nggak masalah sih dan bukan urusan kita juga kalau mereka masih saling cinta. Itu hak mereka. Tugas kita kan cuma ngebantu biar si cowok sadar dan menjauh aja kan, Gal. Ngapain juga kita repot-repot ngurusin soal perasaan mereka, Gal. Yang penting kita di bayar sesuai harga. Udah kan itu aja." Ucap Desta panjang lebar. Benar juga. Bukan urusan mereka juga kalau kliennya masih cinta dengan mantannya. "Oke." Sahut Galih singkat. "Ya sudah sekarang kita jangan ikut campur sama urusan hati mereka aja. Kalau nanti mereka balikan pun itu terserah aja, Gal. Toh jasa kita masanya sudah berakhir sama Melani. Jadi elo jangan pusing-pusing mikirin soal mereka berdua." Desta menjeda di ujung telepon. "Ngomong-ngomong elo nggak ada masalah lagi kan sama orang rumah?" Lanjutnya bertanya hati-hati. Galih mendesah. "Sedikit. Cuma ngobrol singkat aja sama mama tadi. Bokap lagi keluar." Desta ber-oh ria di seberang telepon. "Oke deh. Besok elo jogging kan? Ikut gue ya." "Idih, ngapain? Sok mau ikut, kaya elo bisa bangun pagi aja." Cibir Galih membuat bibir Desta tertekuk manyun di tempatnya. "Jahat banget sih, Gal. Bisalah. Jelek banget sih omongan elo, Gal. Boleh ya, gue ikut?" "Terserah elo aja. Gue nggak mau nungguin elo, pokoknya gu mau ke Gor habis subuh." "Ck, iya gue tahu sayang. Gue janji nggak telat. Habis subuh gue langsung ke rumah elo. Pake sepeda apa nggak nih?" "Nggak usah. Gue lagi malas pakai sepeda." Jawab Galih cepat. Desta manggut-manggut. "Oke deh. Gue besok langsung otw ke rumah elo. Jalan dari rumah elo aja kan?" "Hmm, terserah." Obrolan dua pemuda itu pun terus berlangsung. Sampai akhirnya Galih mematikan ponselnya saat terdengar suara ketukan pintu di depan kamarnya. Pemuda itu membukanya dan wajah datar Akbar sang ayah terpampang di depan matanya. "Boleh Papa masuk, Galih." Tak mengerti ada apa. Pemuda itu segera menggeser tubuhnya membiarkan ayahnya masuk ke dalam kamar. Sedangkan Akbar tampak menoleh ke sekeliling kamar putranya sesaat. "Galih, apa kamu sedang melakukan sesuatu hal yang aneh akhir-akhir ini?" Seru beliau bertanya demikian. "Sesuatu yang aneh apanya, Pa?" Balik Galih bertanya. "Papa yakin kamu tahu itu apa. Papa masih memantau apa yang kamu lakukan Galih. Jadi jangan pernah berbuat hal aneh yang bisa mengganggu kuliah kamu, paham." Seketika rahang Galih mengetat kuat, seakan pemuda itu mengerti maksud dari ucapan ayahnya tersebut. Akbar sang ayah masih memata-matai dirinya. Sial.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN