Asmara Anak Muda

1012 Kata
"Ada pelanggan baru lagi nih, Gal. Teima nggak?" Kepala Galih yang sedang menikmati mie goreng di hadapannya pun mendongak. Terlihat Galih sedang berpikir sejenak mendengar hal tersebut. "Gimana, Gal?" Seru Desta kembali mengulang bertanya. "Terserah elo aja." "Woke, tenang aja klien kita selanjutnya kan gue yang maju." Ucapnya memberitahu jika klien berikutnya adalah Desta yang akan maju nantinya. Kembali kedua pemuda itu makan dengan sesekali bergurau. Tiba-tiba saja Desta berdering dan nama Melani kembali muncul. Alis Desta terangkat naik heran. Tapi dengan cepat ia pun menerimanya. "Hallo." "DESTA TOLONG." Dahi Desta sontak mengkerut mendengr teriakan tersebut. "Melani ada apa?" Lalu, terdengar suara tangisan ketakutan setelah Desta bertanya demikian. "Hiks Desta tolongin aku. Hiks di depan rumah ada Hari dia ... dia ngancam aku mau bilang yang bukan-bukan ke mama papa hiks. Aku harus gimana Desta hiks. Mama papa lagi keluar." Bola mata Desta melebar kaget, "elo tenang dulu, Mel. Tarik napas dulu lalu buang perlahan oke. Sekarang gue ke sana ya. Jangan khawatir kalau cowok sialan itu ancam-ancam elo cuekin aja oke." "Hiks iya, Desta." Sahut Melani mengangguk masih dengan nada bergetar karena menangis. Desta segera memutuskan sambungan telepon miliknya lalu mendongak menatap Galih yang sedang melihat kearahnya dengan tatapan ingin tahu. "Ada apa, Des?" "Itu Melani minta tolong katanya di depan rumahnya ada si Hari. Itu cowok sialan teriak-teriak dan ancam-ancam Melani. Untung orangtuanya lagi nggak ada di rumah, tapi dia masih takut. Dia minta kita bantuin dia sekali lagi." Jelasnya di balas anggukkan kepala mengerti oleh Galih. "Ya udah ayo." Desta dan Galih pun bergegas berdiri dan pergi dari kafe tersebut. Meninggalkan sisa makanan mereka yang tinggal sedikit lagi. Benar saja. Sesampainya di sana mereka melihat sosok mantan Melani tengah berteriak dari luar pagar. "Biar gue aja," ucap Galih kala Desta juga hendak keluar. "Nggak ah, gue juga ikut. Kalau itu cowok lebih nekat gimana. Biar aman kita samperin berdua aja Gal." Pasrah. Galih akhirnya tidak membantah ketika Desta juga ikut keluar dari dalam mobilnya. "WOY BIKIN ONAR DI DEPAN RUMAH ORANG. NGGAK MALU LO HAH!" Sentak Desta langsung. Kedatangan dua pemuda itu sontak membuat mantan Melani tersebut menoleh dan menatap tajam keduanya. "CIH DASAR BERENGSEK. KALIAN NGAPAIN KE SINI HAH. ELO LAGI SIALAN. SIAPA HAH JANGAN IKUT CAMPUR." "Ck, beneran ya mulut elo itu kaya sampah. Wajar aja kalau Melani minta putus. Cowok modelan kaya elo itu cocoknya di buang ke laut." Decak Desta menggeleng-geleng heran. "b*****t DIAM LO." Bukannya takut, Desta justru tertawa mendengar suara bentakan penuh kebencian dari pemuda di depannya tersebut. "Lebih baik elo pergi sekarang, sebelum gue telepon polisi kalau elo udah bikin onar di rumah cewek gue." "GUE NGGAK PERCAYA KALAU ELO ITU PACAR BARU MELANI. CEWEK BODOH KAYA DIA NGGAK MUNGKIN BISA DAPAT COWOK BARU." "Kayanya emang pantes sih kalau elo di putusin sama Melani. Mulut elo itu nggak bisa di jaga, sama perempuan aja elo nggk bisa bicara lembut. Menjelek-jelekkam sesuatu yang sebenarnya kebalikan dari hati elo kan. Kalau elo cinta sama cewek nggak boleh kaya gitu, Bro. Wajar kalau Melani mutusin elo. Karena elo nggak bisa menghargai perasaan Melani." "ALAH BACOT LO, SIALAN." Galih mendesah mendengar nada marah-marah pemuda itu lagi. "Galih, Desta." Suara lembut namun masih terdengar bergetar itu muncul dari dalam rumah. Ketiga pemuda yang berada di luar pagar sontak menoleh serentak. Melihat kedatangan Melani membuat pemuda bernama Hari berbinar. Galih menangkap ekspresi pemuda itu. Dalam hatinya Galih mendesah pelan. Dasar. "MELANI. BUKA PINTUNYA. AKU MAU BICARA BAIK-BAIK SAMA KAMU. AYO CEPAT BUKA!" Gelengan kuat di berikan oleh gadis itu. "Nggak mau." "BUKA MELANI." "Nggak. Aku nggak mau." "BUKA!" bentak Hari lagi marah. Galih sontak memegang bahu pemuda di depannya tersebut cepat. "Jangan cari ribut di rumah orang. Melani udah bagus nggak laporin elo ke polisi. Karena sikap elo sekarang ini sudah sangat mengganggu. Jadi sebelum elo kita laporin lebih baik elo diam sekarang. Perlu elo ingat, kesabaran manusia itu ada batasnya. Gue nggak mau bikin elo jadi repot sendiri sama polisi. Ngerti." "GUE NGGAK TAKUT." sahut Hari masih aja berteriak. Desta yang mulai gemas akhirnya ikut maju dan menahan bahu pemuda itu sebelahnya. Kini Hari sudah berhadapan dengan Galih dan desta sekaligus, namun pemuda itu tetap saja memandang keduanya tidak suka. "DASAR CEMEN, MAU MAIN KEROYOKAN HAH?" Alis Desta terangkat heran, lalu tersenyum miring setelahnya merasa dapat ide bagus. "Kenapa? Elo takut? Gue bukan tipe orang yang suka keroyokan, tapi kayanya ngadepin modelan kaya elo emang harus keroyokkan." Jawab Desta membuat Hari mengeram mendengarnya. "BERISIK LO." "Hari tolong kamu pulang saja. Aku nggak mau ketemu apalagi kalau kamu sampai nekat cari ribut di sini. Please Hari hubungan kita sudah berakhir. Aku berdoa dengan tulus supaya kamu segera dapat pengganti aku yang jauh lebih baik. Akh minta maaf, tapi aku nggak bisa sama-sama kamu lagi, Hari." Mendengar suara lembut mantannya tentu saja membuat Hari mendadak di serang perasaan tidak nyaman. "Tapi aku nggak mau kita putus, Mel." Ucap pemuda itu berubah kalem. Dari balik pagar, Melani terlihat diam sejenak. "Aku nggak mau maksa hubungan ini lagi, Hari. Hubungan seperti itu nggak akan sehat. Lagi pula sekarang aku sudah punya pacar baru. Aku nggak mau kamu dan Galih berantem seperti tadi. Jadi aku mohon, lepasin aku Hari. Ini semua demi kebaikan kamu juga." Suasana mendadak berubah hening. Pemuda bernama Hari itu pun tak lagi berteriak-teriak kencang yang membuat orang terganggu karenanya. Desta dan Galih yang sudah melepas pegangan di bahu pemuda itu pun hanya bisa saling beradu pandang kala melihat raut sedih di mata Melani dan juga Hari. "Apa kamu sekarang bahagia?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontak mengejutkan Melani. Ada jeda lama gadis itu saat akan menjawab. Sebab, sampai sekarang pun Melani masih bertanya apakah dirinya yang sekarang sudah bahagia. Apakah lepas dari Hari membuatnya bahagia. "Baiklah, aku harap kamu bahagia sekarang, Mel." Ucap Hari tanpa menunggu jawaban sang mantan pacarnya tersebut. Dan tanpa perlu berteriak membalas atau pun mengusir dengan kasar, pemuda bernama Hari itu pergi secara sukarela meninggalkan rumah tersebut membuat Galih dan Desta keheranan melihatnya. Pandangan dua pemuda itu menoleh melihat sosok Melani yang menundukkan kepalanya dalam. Astaga benar-benar asmara anak muda zaman sekarang penuh dramatis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN