Hati Perempuan

1007 Kata
"BERENGSEK! APA-APAAN ELO HAH?" Galih yang masih berdiri dengan raut tajam dan pandangan lurus ke arah pemuda yang tidak ia ketahui namanya tersebut. Sedangkan pemuda yang di depannya marah-marah kepada Galih. Di tempat duduknya Desta justru sibuk terkekeh geli melihat sahabatnya marah. "JANGAN DIAM AJA BANGSAT." teriakan itu kembali terdengar menggelegar memenuhi kafe. Beberapa orang melihat ke arah keributan, namun di antara mereka tak ada satu pun yang berniat melerai. "Elo mau gue bilang apa memangnya." Seru Galih dengan tampang datar. "MINTA MAAF SAMA GUE." bentak si mantan klien. "Sorry nih ya, Bro. Orang kaya elo emang pantes gue pukul. Maybe, elo harusnya dapat hal lebih dari ini. Elo nggak sadar hah. Kalau elo itu udah kelewatan. Dari awal ketemu nada bicara elo terus aja ngegas sama gue dan Melani. Terus sekarang elo mau gue minta maaf ke elo. Hey, sadar diri. Elo yang seharusnya minta maaf ke gue dan Melani." "BACOT NJING. ELO CARI MATI HAH." "Ck, nggak sadar diri banget." Decak Galih menggeleng heran kala menatap pemuda di depannya. "MELANI KENAPA ELO DIAM AJA HAH. DASAR CEWEK BERENGSEK." Mata Galih semakin gelap auranya. Melani yang merasakan jika pemuda di sampingnya ikut terpancing emosi buru-buru menggenggam tangan Galih, membuat pemuda itu tersentak kaget. "Kamu mau aku bilang apa, Hari. Sikap kamu saja nggak pernah berubah. Aku datang dengan baik-baik ke sini buat ketemu kamu aja. Kamu sudah kaya gini. Aku datang karena aku mau kamu sadar, aku sudah bukan pacar kamu lagi. Aku dan kamu sudah putus. Hubungan kita sudah berakhir, Hari." "GUE NGGAK TERIMA. GUE MASIH CINTA SAMA ELO." teriak pemuda yang di panggil Hari itu kembali marah-marah. Melani terlihat mendesah. "Itu hak kamu, tapi aku cuma mau kamu berhenti ganggu aku lagi. Aku bukan pacar kamu. Sekarang aku sudah punya pacar dan aku bahagia sekarang Hari. Kamu harus menerima dan paham hal itu." "DASAR CEWEK NGGAK TAHU DIRI. ELO ITU UDAH NGGAK PERAWAN KAN. MAKANYA ELO SOK NOLAK GUE DULU. CIH, DASAR CEWEK MURAHAN." Melani tersentak ke samping ketika genggaman tangannya yang ada pada Galih tiba-tiba terlepas. Dan gadis itu melihat kembali Hari sudah memekik kesakitan untuk kedua kalinya kala Galih ternyata kembali menonjoknya dengan sangat kuat. "MULUT SAMPAH." sentak Galih menggeram nyalang. Desta yang sama terkejutnya sontak berdiri dan ingin mendekat. Namun, pemuda itu urungkan ketika Galih kembali mengatakan sesuatu. "Jangan pernah dekatin cewek gue lagi. Kalau gue sampai lihat elo di sekitaran Melani. Gue jamin muka pas-pasan elo itu bakalan lebih jelek nantinya." Gertaknya penuh penekanan, lalu dengan cepat mengenggam tangan Melani dan membawa gadis ity pergi dari kafe tersebut. Desta yang melihat sahabat dan kliennya pergi pun ikut keluar kafe. Di luar Galih menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Melani pun melakukan hal yang sama. Gadis itu diam-diam melirik ke arah Galih yang terlihat semakin tampan di penglihatannya. "Galih." Panggilan itu menyadarkan keduanya. Dengan cepat Galih melepas genggaman tangannya lalu berbalik menatap Desta. Sedangkan Melani merasa hampa seketika. Tetapi gadis itu pun buru-buru menggeleng dan bergumam dalam hatinya. Astaga, sadar Mel. Jangan baper. "Gila elo, Gal. Gue kira elo yang bakalan di hajar sama tuh mantan g****k. Ternyata nggak dong. Hahaha, mantap Bro." Seru Desta tentu saja begitu heboh. "Cowok kaya gitu jangan di maafin. Mulutnya benar-benar kaya sampah. Bau, menjijikkan. Bikin mual Ucap Galih dingin sarkastis. Desta setuju, pemuda itu pun manggut-manggut kembali. Lalu beralih menatap Melani yang terlihat terpaku di tempatnya. "Hei, Melani. Are you oke?" Tanya menyentak lamunan gadis itu. Mengerjapkan mata, Melani menoleh ke arah Desta lalu mengangguk kaku. "Iya." Desta hanya tersenyum tipis. "Oh iya, gue minta maaf ya kalau seandainya elo kaget apalagi sampai nggak terima karena sikap Galih di dalam tadi. But, gue harap elo maklumin sama tindakan Galih tadi. Karena memang mantan elo sendiri yang nggak menyambut kalian dengan baik. Makanya, waktu gue lihat Galih mukul mantan elo itu. Gue nggak melerai. Karena, cowok modelan kaya mantan elo itu emang pantas di kasih pelajaran." Papar Desta seraya meminta maaf. Pemuda itu takut kalau kliennya tak terima dengan tindakan Galih di dalam tadi. Namun, Desta bisa menghela napas lega saat Melani meresponsnya dengan baik. "Tidak apa-apa, Desta. Seharusnya aku yang minta maaf. Karena ucapan Hari tadi bikin kesal. Dia memang seperti itu, makanya aku nggak kuat. Sekarang aku bisa berani menghadapi Hari berkat kalian berdua. Jadi nggak oerlu merasa tidak enak sama hal tadi." "Aman kok. Gue sama Galih juga santai aja. Tapi elo harus hati-hati ya, karena gimana ya bilangnya. Mmm ... mantan elo itu kayanya bukan tipikal orang yang mundah menyerah buat ngelakuin sesuatu. Kalau nanti dia berbuat hal jelek ke elo lagi. Telepon polisi langsung, oke. Jangan takut buat melaporkan cowok modelan Hari itu, paham." Melani mendengar nasihat Desta mengangguk mengerti. "Baik, Desta." "Hati-hati, jaga diri." pesan Galih dengan nada pelan. Ketiganya pun akhirnya memutuskan benar-benar pergi dari sana. Tujuan pertama mereka adalah mengantar Melani pulang ke rumahnya. "Terima kasih ya, Desta, Galih sudah bantuin masalah aku hari ini. Semogs jasa kalian berkembang dengan baik dan pesat." Doa Melani tulus metika mobil yang di tumpanginya sampai di depan rumahnya. Desta mengulas senyum lebar senang. "Makasih doanya ya, Mel." Serunya membalas riang. Gadis itu pun keluar dari mobil tersebut dan masuk ke rumah. Sedangkan Galih kembali menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari sana segera. "Hebat banget elo tadi, Gal. Gue kira elo yang bakalan di hajar sams itu cowok sialan. Eh, ternyata nggak." Ucap Desta menatap kagum ke arah sahabstnya tersebut. "Emang pantes, cowok kaya dia dapat hadiah dsri gue. Mulutnya benar-benar nggak bisa di jaga. Hati perempuan itu lembut harus bisa di jaga. Mereka itu mudah terluka dan sakit hati. Gue yang dengar itu cowok ngomong di kafe aja ikut sakit apalagi kalau gue posisikan diri gue sebagai perempuan. Mungkin gue udah nangis tadi." Seru Galih menjelaskan panjang lebar. Desta manggut-manggut setuju. Benar banget. Hati kaum hawa itu mudah banget tersenggol dan juga retak jika ada sesuatu hal yang jelek terdengar. Karena itu, Desta percaya kalau Galih bisa menyelesaikan masalah klien mereka hari ini. Gue harap kelak semakin banyak klien yang bisa kita bantu, Gal. Dan usahs kita juga sukses, amin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN