Klien Pertama Galih

1201 Kata
Mobil milik Galih berhenti di depan rumah sahabatnya, Desta. Pemuda itu melihat figur Sekar ibu Desta sedang menyapu halaman rumah. Dengan sopan, Galih menghampiri wanita paruh baya tersebut dan mencium punggung tangannya sopan. "Pagi, Tante." Sapanya. "Eh, kamu Galih. Pagi, Nak. Mau keluar sama Desta?" Tanya beliau yang sontak di balas anggukan kepala oleh pemuda tampan itu. "Iya, Tante." "GALILEO SAYANG." suara pekikkan heboh itu mengejutkan Galih dan juga Sekar. Wanita paruh baya itu pun sontak melotot menatap tajam putranya, sedangkan Galih hanya bisa menggeram dalam hatinya saja. "Desta yang benar manggil Nak Galih. Kamu ini ada-ada aja. Jangan bikin malu." Omel Sekar membuat Desta menekuk wajahnya. "Ihhh ... Mama." Ngambeknya. Kepala wanita paruh baya itu pun hanya menggeleng-geleng heran kala menatap tingkat laku putranya sendiri. "DESTA." Bentak beliau refleks jadi marah. "Ampun Ma. Iya Mamaku sayang. Desta cuma bercanda aja kok. Maaf Ma." Sesal pemuda itu membuat Sekar mendesah pelan. "Nak Galih, maafin Desta ya. Kalau dia ngomong yang aneh-aneh kamu pukul aja kepalanya. Tante nggak akan marah kok. Tenang aja." Seru beliau santai. Galih melihat ekspresi kesal Desta, namun pemuda tampan itu merespons dengan tersenyum kecil seraya mengangguk pelan. "Baik, Tante." "Udah ah, yuk berangkat Gal. Kita udah di tungguin." Ajak Desta cepat. Galih mengiyakan, keduanya kemudian berpamitan kepada Sekar. "Hati-hati kalau bawa mobilnya ya. Desta jangan iseng sama Nak Galih. Ngerti kamu kan?" Mengangguk paham, Desta mencium pipi ibunya sebelum pergi bersama dengan Galih. Mereka pergi menaiki mobil milik Galih. Di dalam mobil, Desta melirik kearah Galih yang terlihat masam wajahnya sekarang. "Kenapa Bro? Ada masalah?" Seru pemuda itu refleks bertanya. Seakan-akan Desta mengetahui kalau sahabatnya itu sedang ada masalah. Oleh sebab itu Desta berani memulai untuk bertanya soal keadaan Galih. "Aman aja kok." Sahutnya pelan. Desta tak percaya 100% di tempatnya. Pemuda itu tahu kalau sahabatnya, Galih pasti sedang ada problem. "Bokap elo kan?" Celetuknya tepat sasaran. Galih menoleh menatap Desta sekilas. "Biasa." Jawab Galih singkat dan padat. Manggut-manggut mengerti. Desta tak lagi mengajukan pertanyaan. Cukup tahu untuk Desta mengenai ayah sahabatnya itu. Om Akbar itu .... "Oh, iya. Semalam Melani kasih kabar katanya dia nanti ada ketemuan sama mantannya itu. Lebih tepatnya Melani mau ketemu buat minta mantannya itu stop ngestalk dia. Elo mengerti situasinya." Ujar Desta mengalihkan pembicaraan mereka. "Oke." "Melani juga nambahin sih katanya mantannya itu kemarin neror dan marah ke dia katanya nggak percaya kalau dia udah punya pacar baru. Ya maksudnya elo sebagai pacar bohongannya. Jadi ... dia minta elo bisa buat ngeyakini si mantan gilanya itu kalau elo sama Melani beneran pacaran. Kira-kira elo bisa nggak, Gal?" "Bisa." Sahut pemuda itu kembali singkat. Desta menggeram gemas. "Singkat banget sih jawabnya. Beneran nih elo yakin bisa? Kalau nggak yakin biar gue aja." "Bisa, tenang aja." Ucap Galih masih pada jawaban yang sama. "Oke. Kalau nanti tuh cowok main kekerasan, jangan takut Gal ada gue, oke." Gumaman pelan di berikan oleh Galih sebagai jawabannya. Mereka berdua pun tiba di depan rumah milik seseorang. Sosok Melani yang sudah di tunggu-tunggu pun muncul sendirian. Ya. Kali ini gadis itu menemui Galih dan Desta sendiri tidak bersama sahabatnya. "Maaf ya, aku lama. Tadi izin dulu sama mama papa, agak susah tadi." Serunya menjelaskan ketika sudah duduk di kursi belakang sendirian. "Santai aja, Mel. Yakin nih, nggak apa-apa pergi sekarang. Orangtua elo aman kan?" "Aman kok." Balasnya membuat Desta ikut mengangguk mengerti. "Oke deh. Yuk jalan lagi." "Mantan elo udah di tempat janjian kan, Mel?" Tanya Desta selanjutnya. Melani mengiyakan. "Sudah." "Nah, pokoknya nanti jangan canggung. Biar mantan elo percaya, elo bisa kok gandeng Galih. Tenang aja, Galih nggak akan gigit kok. Iya kan Gal?" "Dasar bege." Ucap Galih menyeletuk nyelekit. Desta tertawa geli, sedangkan Melani memandang sosok Galih malu-malu. Ketampanan pria itu cukup membuat dirinya gugup. Apalagi sekarang. Setelan kaos polos putih di padukan dengan kemeja berwarna hitam dan celana senada membuat pemuda itu terlihat semakin tampan saja. Tak kalah dengan Galih, sosok Desta juga sama tampannya. Dan Melani sedikit galau kemarin ingin memakai jasa siapa Galih atau Desta. Tapi setelah Desta menjelaskan dengannya semalam perihal siapa yang akan menjadi pacar bohongannya. Melani pun mengiyakan semua tanpa protes. "Oh iya, Mel. Nanti gue duduk di bangku nggak jauh dari kalian berdua. Jadi jangan takut soal mantan elo itu ya." "Baik, Desta. Makasih ya." Sepanjang perjalanan menuju kafe, Galih lebih banyak diam dan hanya fokus menyetir saja. Namun, pemuda itu tetap mendengarkan apa saja nasihat dan rencana yang di katakan oleh sahabatnya tersebut kepada Melani. "Huh, sampai juga. Kalian udah siap kan?" Seru Desta menatap Galih dan Melani bergantian. Kompak keduanya pun mengangguk. Mereka serentak turun. Desta membiarkan Galih dan juga Melani jalan lebih dulu masuk lalu di susul olehnya. Ketika Desta masuk ke dalam kafe, raut wajah tak suka seorang pemuda di hadapan kliennya. Sontak membuat Desta semakin penasaran atas apa yang akan di lakukan oleh sang mantan kliennya tersebut. Ada perasaan khawatir kala dirinya menatap punggung belakang Galih yang berdiri tegap tersebut. "INI PACAR BARU KAMU. ASTAGA MELANI MELANI ... KAMU KALAU PACAR ITU YANG KERENAN DIKIT DONG KAYA AKU." Suara lantang si mantan membuat beberapa pengujung menoleh penasaran begitu pula Desta. "Memangnya Galih kenapa? Dia ganteng, baik dan pengertian sama aku. Apa yang salah? Di tambah aku juga cinta sama Galih, dan Galih juga demikian." "ALAH BULLSHIT, PALING DIA CUMA MAU MANFAATIN KEKAYAAN KELUARGA KAMU AJA. SUDAHLAH PUTUSIN AJA DAN KAMU BALIK SAMA AKU, MELANI. DI DUNIA INI CUMA AKU COWOK YANG BISA NGERTIIN KAMU OKE." "Bacot." Potong Galih dingin membuat sosok pria di depannya membelalakkan matanya tajam. "b*****t NGOMONG APA ELO TADI HAH!" "BACOT." Tekan Galih. "Memangnya gue kenapa? Elo ngelihat gue nggak cocok sama Melani? Memangnya elo siapa sok nyuruh-nyuruh Melani. Lebih baik elo urusin aja mulut elo itu, kalau ngomong itu di jaga, Melani perempuan aja elo kasarin gimana ada orang yang bisa tahan sama elo hah?" "BERENGSEK." Galih mengalihkan pandangannya cepat. Sorot matanya seketika bersitatap dengan Melani. "Elo nggak bisa ya ngomong lembut sama perempuan. Nggak semua perempuan senang dengarnya bodoh. Coba aja elo ngomong keras kaya tadi ke ibu atau adik-kakak perempuan elo. Gue mau tahu apa respons mereka." Ucap Galih yang sontak di balas dengan bentakan lagi oleh si mantan. "BANYAK OMONG LO, NJING." Galih mendesah dalam hatinya. Mantan Melani kenapa modelannya kaya gini sih. Pikirnya keheranan. Sedangkan, Melani kembali terperanjat kaget karena suara mantannya tersebut. "HEY MELANI. KAMU ITU MASIH CINTA SAMA AKU. NGAPAIN PACARAN SAMA DIA. PUTUSIN COWOK GILA INI. DIA NGGAK CINTA SAMA KAMU, MEL." "...." tak mendapat respons dari Melani pemuda di depan Galih itu pun kembali berteriak heboh tak terima, sehingga semakin membuat mereka menjadi tontonan yang tidak menyenangkan fi kafe tersebut. "DASAR CEWEK b**o, SOK SUCI. NGGAK PERAWAN AJA ELO BANGGA, CIH." Rahang Galih mengetat kuat, pemuda itu sontak mencengkeram kerah baju pemuda di depannya dengan mata menatap nyalang. "Tarik omongan elo tadi, sebelum gue robek mulut busuk elo." "Ck, nggak sudi." Desis pemuda itu mencibir. Galih menoleh ke arah Melani sekilas sebelum sebuah suara retakan tulang yang bergeser terdengar nyaring, di susul oleh suara pekikan dari Melani yang kaget. Ya. Galih baru saja menonjok si mantan sialan tersebut. Pukulan yang berhasil membuat sudut bibir pemuda di depannya tersebut berdarah. Dasar cowok berengsek. Batin Galih tak suka dengan deru napas naik-turun cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN