Hubungan Keluarga

1033 Kata
Ke esokkan paginya. Suasana rumah Galih hari ini tampak tenang, ketika pemuda itu turun pemuda itu hanya melihat ayahnya Akbar sedang membaca koran di ruang tengah. Galih pun menyapa sang ayah. "Pagi, Pa." Akbar mendongak sekilas sebelum kembali fokus membaca, dan pria paruh baya itu pun hanya bergumam pelan. Galih mendesah dalam hatinya. Namun, pemuda itu enggan mencari masalah dengan ayahnya di pagi hari. Ponsel Galih bergetar, nama Desta tertera di layar. Pemuda tampan itu pun menerimanya seraya berjalan keluar rumah dan duduk di teras rumahnya. "Hallo." "Abang Galih sayang sudah bangun?" Suara manja yang di buat-buat oleh Desta di ujung telepon membuat Galih mendengkus tapi tetap saja pemuda itu membalas dengan nada pelan. "Sudah." "Wih, singkat amat Bang." Goda Desta menyebalkan terdengar oleh Galih. "Kenapa?" Tanya pemuda itu cepat to the point dengan nada ketus. Desta terdengar tertawa renyah. "Hahaha, sabar dong. Basa-basi dulu, buru-buru banget kaya orang lagi kejar setoran aja." Serunya di sela gelak tawa geli. "Gue tutup nih." Ancam Galih dingin di balas cepat oleh Desta. "Ya elah. Nggak seru ah." "Jangan marah-marah dong. Oke oke, gue ke rumah elo ya nanti." "Jangan. Biar gue yang ke rumah elo aja." Selak Galih membalas cepat dengan nada melarang. "Lah, kenapa? Ah, ada bokap nyokap elo ya?" Celetuk Desta bertanya tepat sasaran. Galih hanya bergumam, seolah mengerti Desta di ujung telepon mengangguk paham. "Okelah, gue tunggu elo di rumah ya Bro ganteng. Jangan lama-lama. Soalnya gue mau bahas soal Melani." Ujarnya memberitahu. "Hmm." Respons Galih yang segera memutuskan sambungan telepon mereka. Ponselnya Galih simpan di saku celana, pandangan pemuda itu tertuju ke depan. Hari baru saja menunjukkan pukul 08.00. Lalu seseorang tiba-tiba memanggilnya. Galih menoleh ke samping seraya mendongak. Pemuda itu melihat sosok wanita paruh baya sedang menatapnya. Dewi, ibunya. "Galih ngapain di luar, Nak?" "Mama. Nggak ada, Ma. Cuma duduk aja, tadi habis terima telepon Desta." Tampak beliau manggut-manggut mengerti. "Oh, begitu. Yuk makan dulu Sayang. Mama sudah siap masak." Galih menurut, pemuda itu bangun dari duduknya dan ikut masuk ke dalam. Di lihatnya Akbar sudah duduk di kursi kepala meja makan. Galih mengambil tempat duduk di kursinya seperti biasa. "Galih mau makan apa, Nak? Mama masak cumi goreng tepung kesukaan kamu nih. Mau Nak?" Galih melihat piring di depannya, pemuda itu pun mengangguk mengiyakan. "Boleh, Ma." Jawabnya. Dewi lebih dulu mengambil piring suaminya dan menyendokkan cumi goreng tepung juga untuk pria paruh baya itu. Ya. Galih dan Akbar sama-sama menyukai cumi goreng tepung. Sarapan pagi itu pun terdengar hening, hanya dentingan sendok dan piring yang beradu sajalah yang terdengar. Meskipun sesekali Dewi bertanya hal kecil kepada putranya. Dan di balas singkat tentunya oleh Galih. "Galih nanti izin ke rumah Desta ya Ma." Seru pemuda itu di sela sarapannya. "Desta? Mau ngapain, Nak? Kamu nggak mau di rumah aja. Istirahat atau baca buku di ruang baca?" Tanya Dewi dengan nada heran. Galih menggeleng cepat. Ya. Rumah berlantai dua milik orangtuanya tersebut terdapat perpustakaan kecil. Namun isinya cukup amat lengkap. Biasanya Galih akan menghabiskan waktu di sana jika di akhir pekan. Tapi kali ini, kegiatan pemuda itu tampaknya akan perlahan berubah sejak Desta membuka jasa sewa pacar bersamanya. "Nggak, Ma. Galih udah punya janji sama Desta tadi Ma." Dewi mendengar jawaban putranya hanya bisa mengangguk kecil. Tak memaksa. "Ya sudah kalau begitu." "Jangan melakukan hal nggak berguna sama anak itu, Galih." Seruan tiba-tiba pria paruh baya dengan nada nyelekit membuat Galih menoleh dan mengerenyitkan dahi tak suka. "Desta namanya Pa. Sahabatku itu punya nama." Dingin Galih membalas dengan nada tertahan. Dewi yang melihat hal tersebut pun buru-buru melerai suami dan juga anaknya. "Aduh ... sudah-sudah masih pagi. Galih mau nambah lagi Nak?" Seru beliau memotong. Galih pun menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak, Ma. Galih sudah kenyang." Sahutnya mencoba meredakan rasa tidak suka di dalam dadanya barusan. Dewi mengulas senyum kecil seraya mengangguk pelan. "Oh begitu, ya sudah." "Galih sudah selesai, Ma. Galih pergi dulu ya Ma." Ucapnya langsung pamit yang sontak membuat Akbar membanting sendoknya kasar di atas piring hingga suara memekakkan telinga mengejutkan Dewi dan juga Galih. "Aduh! Papa bikin kaget aja." Omel sang ibu kepada Akbar ayahnya. Akbar tak merespons istrinya, pria paruh baya itu pun hanya mendongak melihat ke arah Galih yang sudah berdiri dari kursinya. "Apa kamu tidak bisa duduk diam dulu. Menunggu Papa dan Mama selesai?" Galih memandang piring kedua orangtuanya sejenak. Lalu mendesah pelan. "Galih ada janji Pa. Lagi pula Papa juga sudah mau selesai kan sarapannya." Akbar tampak tidak suka mendengar ucapan putranya. "Kamu harus bersikap sopan bicara dengan orangtua kamu, Galih. Kamu seharusnya contoh Galuh. Dia tidak pernah membantah Papa sekali pun." Ujar Akbar membanggakan putra pertamanya. Ya. Galuh adalah kakak Galih. "Kak Galuh? Ck, Papa itu terlalu membanggakan kakak. Papa nggak tahu kan kalau kakak memilih kuliah jauh-jauh di luaran sana bukan tanpa alasan. Kakak nggak mau Papa terlalu mendiktator dia. Mengatur ini itu. Makanya kakak memilih kabur menjauh dan hidup mandiri." "GALIH JANGAN BICARA SEMBARANG KAMU." bentakan Akbar membuat suasana semakin mencekam di meja makan. "Lihat? Sekarang aja Papa bentak aku cuma karena aku menjelekkan kakak sebentar. Papa mau aku seperti kak Galuh juga? Pergi dari rumah ini, kakak saja nggak pernah pulang. Dan Papa masih terus mau membanggakan kakak yang nggak pernah ingat orangtuanya. Menelepon Papa saja, kakak nggak pernah lakuin. Seharusnya sekarang ini sikap Papa harus bagaimana? Jangan melampiaskan rasa kecewa dan marah Papa untuk kak Galuh ke Galih Pa. Coba Papa marahin anak kesayangan Papa itu. Apa Papa bisa?" Galih menjeda menatap tajam sang ayah, pemuda itu pun mengalihkan pandangannya melihat ke arah ibunya yang tampak kaget. "Galih pergi dulu, Ma. Maaf." Lanjutnya kemudian pergi meninggalkan ruang meja makan dengan atmosfer yang kurang menyenangkam tentunya. Helaan napas berat keluar dari mulut Galih. Pemuda itu dengan cepat menaiki mobilnya dan keluar dari halaman rumahnya cepat. Tanpa peduli jika kedua orangtuanya masih terdiam di dalam rumah. Di satu sisi, Akbar masih terpaku dan Dewi sudah terduduk dengan bahu lemas. Wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya menatap sang suami dengan mata berair. "Kenapa kamu mulai bandingin Galih lagi, Pa. Galih dan Galuh itu berbeda Pa." Bisik Dewi sedih. Akbar masih diam tak merespons. Dalam hati pria paruh baya itu masih meyakini apa yang ia yakini selama ini. Galuh itu anaknya yang baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN