KAFE TWIN
Galih dan Desta baru saja sampai di kafe tersebut, keduanya masih duduk seraya meneguk minuman mereka menunggu kedatangan klien kedua mereka.
Wajah tidak sabar Desta terkadang membuat Galih kesal melihatnya. Namun, pemuda tampan itu tidak bisa berkomentar apapun.
Cukup lama keduanya menunggu kedatangan klien mereka. Hingga tiba setelah setengah jam duduk di kafe tersebut, dua orang gadis datang dan menghanghampiri mereka.
Kedua manik mata Desta seketika berbinar melihat kedua gadis cantik di depannya. Mungkin dalam hati Desta pun berpikir, jika bukan klien jasa sewa. Desta sudah menggaet gadis cantik di hadapannya sekarang.
Sedang dua gadis itu memandang kearah Desta dan Galih gugup. Jangan tanya bagaimana ekspresi Galih tentu saja pemuda itu hanya diam lempeng tanpa berlebihan seperti Desta.
"Anu ... maaf kami tadi kejebak macet." Seru salah satu gadis itu.
Desta yang sudah mengetahui nama dan profil gadis di depannya pun sontak menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"Santai aja kok, Melani. Ngomong-ngomong gue sama Galih udah senang akhirnya kalian datang juga. Iya kan Gal?"
Galih yang di tanyapun hanya bergumam sebagai respons.
Melani menoleh menatap ke arah Galih sejenak sebelum kembali menatap Desta yang sudah melakukan wawancara singkat dengannya via pesan beberapa saat lalu.
"Makasih, Desta. Oh iya, maaf ya aku ajak teman ke sini. Kenalin ini namanya Putri."
Desta terus saja mengumbar senyum menawan kearah gadis-gadis di depannya.
"Nggak apa-apa kok. Hai, gue Desta dan ini sahabat gue Galih."
Setelah selesai berkenalan, Desta pun mulai membahas soal jasa sewa pacar kepada Melani, kliennya.
"Jadi elo cuma mau mantan elo itu nggak ganggu elo aja. Padahal kalian udah putus sebulan lalu tapi dia masih aja suka neror dan ngestalk elo. Iya kan?" Melani yang di beri pertanyaan seperti itu pun mengangguk cepat.
"Iya. Aku capek. Soalnya dia suka mau tahu aku ada dimana dan sama siapa. Padahal jelas-jelas aku sama dia sudah putus." Seru gadis itu.
"Tapi elo belum bilang alasan utama elo putus sama mantan elo itu apa?"
Wajah Melani seketika berubah sedih, Desta yang mengajukan pertanyaan itu pun menggaruk lehernya yang tidak gatal tidak enak. Namun, pemuda itu juga harus tahu alasan utama kliennya putus. Agar bisa memikirkam tindakan atau sikap yang harus ia dan Galih lakukan.
"Mel, udah jangan sedih lagi." Seru Putru sahabat gadis itu yang tiba-tiba menyelak obrolan Desta dan Melani.
"Maaf, Melani. Kalau pertanyaan gue bikin elo sedih. Tapi, gue juga harus tau soal masalah elo dan mantan elo alasan kalian putus. Gue nggak mau nanti klo kita sudah ketemu mantan elo ternyata dia ngomong hal aneh, terus kami nggak bisa balas balik. Yang rugi nanti pasti elo juga kan." Ucap Desta tenang mencoba membuat Melani mau bercerita.
"Nggak apa-apa, Desta. Mmm, it's oke Putri, i'm fine. Cuma masih ke inget aja." Balas Melani pelan.
Desta masih menunggu gadis di depannya berbicara, sedangkan Galih hanya diam namun tetap ikut mendengarkan klien jasa sewa pacar mereka.
"Aku putus sama mantan aku karena dia hampir mau ...."
Kedua mata Galih dan Desta membelalak lebar nyaris keluar karena syok.
"Wah berengsek banget mantan elo ya." Celetuk Desta menggeleng tidak percaya.
Melani menundukkan kepalanya antara malu dan juga sedih.
"Jangan tundukkin kepala, elo nggak salah. Ngapain cowok kaya dia elo tangisin. Jangan jadi cewek bego." Timpal Galih datar pertama kalinya ikut berkomentar sejak mereka bertemu.
Mendengar itu, Melani pun mendongak dengan wajah menahan air mata gadis itu menganggukkan kepalanya pelan.
Tak tersinggung, Melani mengerti maksud perkataan Galih kepadanya.
"Oke, jadi sekarang kita mau ketemu langsung aja sama mantan elo itu atau bagaimana?"
"Apa bisa besok aja. Soalnya hari ini aku ada acara keluarga. Makanya aku tadi izin ke sini minta di temanin sama Putri karena mama papa tadi nggak kasih aku keluar." Papar gadis itu di balas anggukan kepala mengerti kedua pemuda di depannya.
"Oke deh. Besok elo kabarin gue aja ya."
"Iya, maaf aku sama Putri kayanya pamit duluan ya. Nggak apa-apa kan."
Desta mengangguk cepat dan membalas. "Boleh, nggak apa-apa kok. Hati-hati ya kalian berdua."
Kepergian dua gadis itu masih terus di perhatikan oleh Galih dan juga Desta.
"Gila banget tuh mantan. Gal, elo yakin besok bisa kasih pelajaran buat tuh mantan sialan. Kalau elo nggak bisa biar gue aja besok yang nemenin si Melani."
"Bisa." Jawab Galih tegas dan serius.
Desta menoleh dan manggut-manggut mengerti.
"Oke deh. Pokoknya elo tenang aja. Gue bakalan ada di dekat elo sama Melani kok. Nggak akan jauh. Jadi gue bisa langsung bantuin elo kalau aja tuh si mantan main kasar. Cowok kaya gitu tuh harus di kasih pelajaran biar kapok."
"Gue usahain nggak ada kekerasan. Elo jangan pancing keributan juga besok." Ucap Galih pelan.
Menggedikkan bahu sekilas . Desta pun berharap hal demikian.
Ia tidak akan turun tangan dan cari ribut kalau si mantan juga oke.
Liat besik aja. Gumam Desta dalam hatinya.
Dua pemuda itu pun pergi dari kafe tersebut dan pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Galih di sambut wajah kedua orangtuanya yang ternyata sudah pulang.
"Galih kamu darimana, Nak? Mama tanya bibi tadi katanya kamu izin keluar. Pergi sama Desta ya?"
Galih mendekati kedua orangtuanya dan mencium punggung keduanya.
"Iya, Ma."
"Kamu sudah makan? Mau Mama buatkan sesuatu?" Tanya sang ibu penuh perhatian.
Galih yang mendengar itu sontak menggeleng kecil.
"Nggak usah, Ma. Galih udah makan tadi sama Desta."
"Mama sama Papa baru pulang?" Lanjut pemuda itu bertanya ingin tahu.
Pasalnya Galih merasa heran karena kedua orangtuanya sudah berada di rumah. Padahal biasanya selalu pulang larut malam. Sibuk dengan pekerjaannya.
"Kuliah kamu bagaimana, Galih?" Suara bernada dingin itu terdengar membuat pemuda tampan tersebut sontak beralih menatap Akbar sang ayah yang berbicara namun tidak memandangnya.
"Lancar, Pa." Jawab Galih singkat.
"Papa harap kamu fokus kuliah, jangan buang-buang waktu untuk hal yang nggak berguna." Celetuk Akbar seakan penuh makna kala menoleh dan menatap putra keduanya tersebut.
Galih terdiam.
"Aduh ... Papa ini sudah pasti kuliah Galih anak kita lancar-lancar aja. Galih juga nggak akan nakal. Ya sudah sayang, kamu istirahat saja ya. Mama sama Papa sebentar lagi istirahat." Ucap Dewi sang ibu buru-buru mengusir putranya. Wanita paruh baya itu tampak enggan mendengar suami dan juga anaknya bertengkar.
Galih tak membantah, meskipun pemuda itu sedikit kesal dengan sikap sang ayah kepadanya barusan. Pemuda itu mencoba menahannya.
"Baik, Ma. Selamat malam, Ma, Pa." Pamit Galih yang langsung naik ke lantai dua kamarnya meninggalkan kedua orangtuanya cepat tanpa menoleh kebelakang lagi.
Baru beberapa langkah menaiki anak tangga. Pemuda itu mulai mendengar Dewi ibunya yang memarahi Akbar ayahnya.
"Papa jangan gitu sama Galih bisa."
"Gitu gimana? Aku biasa saja, Ma." Elak ayahnya saat itu.
"Mana ada biasa aja. Kamu tadi ngomong sama Galih dingin banget loh Pa. Kasihan Galih, jangan terlalu kamu protektivin Pa. Kalau nakal-nakal sedikit kan tidak apa-apa. Dia masih muda juga."
"Nakal kok kamu mau biarin. Jangan aneh deh Ma."
"Ihhh, si Papa. Aku nggak mau Galih semakin benci kita Pa. Kamu sendiri tahu kan, kalau kita terlalu sibuk kerja. Galih di rumah sendirian terus. Dia pasti kesepian Pa. Jadi jangan marah atau galak-galak ke Galih. Kasihan Galih, Pa."
Akbar menatap istrinya heran.
"Ck, kamu terlalu lebay Ma. Galih punya teman nggak mungkin dia kesepian."
"ASTAGA PAPA DENGARIN MAMA ATUH." pekik Dewi terakhir kalinya Galih dengar.
Menghela napas kasar, Galih pun menutup pintu kamarnya cepat daat tiba di lantai atas. Kedua tangan Galih terkepal kuat.
Ia berjalan ke arah tempat tidurnya dan membanting tubuhnya asal. Tangannya terangkat menutup kedua matanya lelah.
Dasar nggak pernah berubah. Batinnya menggeram malas.