Pasrah

1038 Kata
Suara gelak tawa Desta tak kunjung berhenti ketika Sekar ibunya sudah kembali masuk ke dalam rumah mereka. Hal itu jelas saja mengundang sorot mata tajam Galih kepada pemuda tersebut. "HAHAHA ANJIR JASA OJEK." "Mayan tuh Gal udah dapat pelanggan." Ejek pemuda itu selanjutnya membuat Galih sontak melempar remehan bolu di tangannya kearah Desta kesal. "Berisik njir. Nyokap elo itu bego." Omelnya. "Ya habis mama ada-ada aja, ya kali muka ganteng anaknya di suruh jadi kang ojek." Ucap Desta seraya menggeleng-geleng kepala heboh. "Ojek juga kerjaan halal monyet." Celetuk Galih langsung mengingatkan. "Iya tau, Galileo sayang." Desta menjeda mencoba meredakan tawanya. "Ngomong-ngomong, elo beneran dari kampus nih Nyet?" Tanyanya lagi. Galih menganggukkan kepalanya. "Hmm." Balasnya berdehem pelan. "Yah ... nggak asik dong. Habis ini elo mau langsung pulang?" Lagi Galih hanya menganggukkan kepalanya pelan, seraya berdehem mengiyakan. "Woke deh." Sahut Desta mengerti. Pemuda itu pun kembali menyelesaikan hal penting yang ada di layar laptopnya sekarang dan tentu saja masih dengan ditemani oleh Galih. Meskipun, sahabatnya itu hanya diam tanpa bicara apapun. 10 menit kemudian, Desta berseru heboh. "YES SELESAI! BAGUS KAN GAL?" Galih tersentak sesaat, pemuda itu menatap layar laptop sahabat karibnya tersebut. "Hmm." Komentarnya yang membuat Desta seketika mendengkus kasar di tempatnya. "Ck, dasar komen yang bener kek." Decak Desta namun raut wajahnya tampak puas menatap layar laptopnya yang masih menyala. Bagus juga kerjaan gue. Pujinya kepada diri sendiri bangga dalam hati. Galih kembali ke rumahnya setelah dari Desta berangkat ke kampus. Pemuda itu juga tak luput berpamitan dengan Sekar ibu Desta. Wanita paruh baya itu selalu balas ramah dan hangat. Hal yang selalu membuat Galih nyaman berada di rumah Desta sejak dulu. Mungkin karena Galih sendirian di rumah, dan kedua orangtuanya sibuk bekerja membuat Galih sedikit kesepian jika berada di rumahnya sendiri. "Main saja kesini ya, Nak Galih. Kalau kamu lapar makan di rumah Tante saja." Kata yang selalu di ucapkan oleh Sekar kepadanya. Perhatian kecil yang membuat hati Galih nyaman dan senang tentu saja. Waktu masih berjalan seperti biasa pada hari itu. Hingga ... Ke esokkan harinya. Galih baru saja turun dari mobilnya ketika ia sampai di kampus. Kakinya melangkah pelan memasuki area tempat pemuda tampan itu menuntut ilmu. Ponselnya tiba-tiba bergetar dan berdering. Merogoh saku jaketnya, Galih melihat siapa yang menghubunginya. Ketika nama sahabatnya tertera dilayar. Galih sontak menekan tombol hijau dengan cepat, suara heboh Desta membuatnya sedikit menjauhkan ponselnya karena terkejut. "GALIHHHH." "Gal, Gal. Hallo, Gal? Jawab elah." Heboh suara itu di ujung telepon. "Berisik bangke." Ketus Galih membalas. Di seberang sana Galih mendengar Desta terkekeh geli karenanya. "Jangan marah dong sayang. Masih pagi nih. Elo di kampus kan? Gue ke sana ya." "Ngapain?" Tanya Galih datar. "Ada yang mau gue bilang ke elo nih." Ujar Desta lagi. "Apa? Soal situs itu lagi?" Galih langsung menerka tepat sasaran. Di tempatnya Desta tersenyum lebar senang karena Galih langsung mengerti maksudnya. "Sayang aku pinter banget deh. Makin cinta deh." Pekik Desta senang. "Najis, gue matiin nih teleponnya." Kesal Galih akhirnya lagi. Desta tertawa di ujung sana sebentar, sebelum kembali berbicara dengan nada serius kali ini. "Oke oke. Maaf. Gue ke kampus elo ya. Nanti gue jelasin ada apanya oke." "Terserah." Sahut Galih langsung menutup sambungan telepon mereka tanpa basa-basi. Sedangkan di sana, Desta menggeram gemas karena ulah sahabatnya tersebut. Namun, detik berikutnya binar di kedua mata Desta kembali cerah. Melihat notifikasi yang masuk bertubi-tubi ke ponselnya. "Mantap, tambahan uang jajan makin banyak nih." Gumamnya. Kedua manik tajam dan dingin milik seorang Galih terpancar kala menatap siapa lagi kalau bukan Desta sahabatnya. Pemuda itu datang memberitahu kabar yang Galih anggap adalah kabar buruk untuknya. Namun, dirinya tidak bisa berbuat banyak ketika semua sudah terjadi karena ulah Desta. Helaan napas berat berkali-kali terdengar dari mulut Galih. Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke kursi taman dekat kampusnya seraya memandang lurus ke arah Desta. Sedangkan pemuda di depannya, membalas dirinya dengam raut senang seraya bercerita. "Gila banget kan, Gal. Benar-benar kita kayanya bakalan sukses deh karena jasa ini. Nggak sia-sia gue sampai rela edit-edit blog kemarin." Ucapnya penuh semangat memberitahu kepada Galih. "Terus elo mau apa lagi selanjutnya?" Tanya Galih yang mulai mempertanyakan, soal kelanjutan apa yang harus ia ambil dalam menyikapi soal jasa tersebut. "Gue masih tanya-tanya mereka yang mau pake jasa sewa pacar kita. Alasan mereka putus dan soal mantan mereka. Jadi nanti kita cuma tinggal ketemu dan langsung eksekusi aja tuh mantan sialan." Manggut-manggut mengerti, Galih hanya bisa merespons sedemikian meskipun Desta sudah menjelaskan dengan nada riang dan penuh semangat kepadanya. "Klien selanjutnya mau elo yang ambil nggak? Tenang aja gue temenin juga kok, kaya waktu kita bantu Ayu. Setuju nggak?" Pasrah. Galih kembali menganggukkan kepalanya pelan. Pemuda itu jelas tidak tahu harus bersikap bagaimana menanggapi persoalan ini. Di tambah, pengalaman Galih yang di bilang nol tentu saja. Ia jelas mengharapkan keberadaan Desta di dekatnya jikalau nanti berhadapan dengan klien mereka. "Terserah elo aja." "Nah, bagus. Nanti sore malam, gue jemput elo kita ke Kafe Twin. Nanti klien kita nunggu di sana katanya. Tenang aja. Gue cari kasus yang nggak ribet banget soal mantannya untuk elo, Gal. Jadi jangan khawatir oke." Ujar Desta tenang. Tak banyak protes. Galih berdehem pelan mengiyakan saja. Tiba-tiba suara decakan Desta terdengar seperti mencibir kearah Galih. Hal itu membuat pemuda tampan jurusan arsitek itu mendongak dengan alis terangkat heran. "Ngapain berdecak?" Celetuknya bertanya. "Nggak apa-apa. Cuma penasaran aja, kok elo bisa ya tenang aja sikapnya. Padahal di sini banyak banget cewek cantik di kampus elo curi-curi pandang. Ck ck ck sayang banget mereka kalau elo cuekin nyet." Seru Desta dramatis dengan tangan bertopang dagu kala melihat beberapa mahasiswi melintas. "Dasar ogeb. Elo pikir gue ke kampus ada niat buat tebar pesona kaya elo apa. Jangan ngadi-ngadi deh." Seloroh Galih membalas. Bibir Desta manyun seperkian detik. "Gue bukannya tebar pesona Galileo sayang. Tapi ya emang mereka pada suka aja sama ketampanan gue. Ya meskipun masih kalah ganteng sama elo, gue tetap harus percaya diri dan jadi yang terdepan dalam urusan cewek. Betul nggak?" "Dasar ogeb. Bodoh di pelihara." Sahut Galih berdecak menggeleng heran. Tak marah apalagi tersinggung. Desta justru merespons dengan suara gelak tawa kencang membuat mereka menjadi tontonan. Sontak Galih membuang wajahnya dengan raut sebal. "Hahaha ... Galih lucu banget." Udah Sinting nih bocah. Batin Galih keheranan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN