4. Aku Buat Jasa, Ma

1028 Kata
Happy reading Typo koreksi **** Sinar matahari yang semakin naik mulai menyusup mengintip dari balik jendela sebuah yang masih tertutup rapat siang ini. Seonggok tubuh membelakangi tirai terlihat masih nyaman bergelung di bawah selimut tebal berwarna abu-abu miliknya, serta tidak peduli dengan suara gedoran pintu yang lambat laun semakin kuat tak lupa dengan seruan kesal sosok di luar pintu yang memanggil-manggil nama si pemilik kamar tersebut. Tok tok tok "DESTA! ASTAGA, YA TUHAN. ANAK SATU INI." "DESTA BANGUN." Tok tok tok Eungghhh Merasa terusik, Desta yang namanya sejak tadi di panggil pun akhirnya terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia melenguh sekali lagi, sebelum akhirnya menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Dengan nyawa yang masih setengah sadar, ia pun turun dari atas tempat tidurnya melangkah ogah-ogahan menuju pintu. Dalam hatinya Desta mendumel karena suara ketukan di luar pintu kamarnya begitu mengganggu waktu tidurnya. Ceklek Desta sudah memasang wajah masam ketika berhasil membuka pintu kamarnya. Hal yang menyambutnya adalah ekspresi kesal sang ibu, Sekar. "Ma, masih pagi, Desta masih ngantuk." Serunya sebelum akhirnya ia mendapat pukulan di bahu lebarnya oleh Sekar kuat-kuat. Bugh Bugh "Pagi? Dasar anak nakal, kamu lihat dulu jendela kamu itu. Sudah siang Desta. Astaga ... apa kamu nggak malu sama ayam tetangga yang sudah berkokok dari pagi tadi hah." Omel Sekar dengan nada mencibir putra semata wayangnya tersebut. Wajah Desta yang semula masam, melotot memandang kesal sang ibu. "Apa hubungannya ayam sama Desta, Ma?" Bugh Gemas. Sekar memukul lengan putranya kali ini sekali lagi. "Ck, dasar. Itu Mama cuma kasih kamu perumpaan. Biar malu, kamu sudah dewasa bukannya bangun pagi bantuin Mama atau apa. Kamu justru asyik bikin pulau di bantal, ck ck ck." Sekar menggeleng membuat sosok yang di ejek sejak tadi semakin suram saja ekspresi. "Mama tega banget sih sama Desta. Ma, Desta anak Mama loh. Kenapa di bully terus sih." "Dih, dasar kamu terlalu lebay. Sudah sana mandi, Mama tunggu di bawah. Kamu bilang ada jam kuliah siang hari ini. Kamu jangan bolos ya, Desta. Mama potong uang saku kamu nanti kalau sampai bolos." Menggerutu, Desta membalas ibunya. "Iya, Ma. Jangan acam Desta terus dong Ma, nggak seru ah." Sekar tidak menanggapi ucapan putranya, wanita paruh baya tersebut memilih turun menuju lantai satu rumahnya. Membiarkan Desta yang masih memandang dirinya dengan ekspresi tidak enak di pandang. "Ih, Mama jahat!" Teriak Desta menekuk wajahnya. ***** "Ayam tetangga elo masih aman kan, Des?" Desta yang namanya di panggil pun sontak menoleh cepat, ia langsung bersitatap dengan sahabat karibnya. Galih. Pemuda itu memandang dirinya dengan ekspresi yang menurut Desta sangat menyebalkan. Dengan wajah datar, pemuda itu melempar sampah kulit kacang ke arah muka Galih membuat pemuda itu akhirnya terkekeh karena berhasil membuat dirinya kesal. "Terus aja, Gal. Terus ketawanya." Galih masih tertawa pelan, ia bahkan tidak bisa menahan rasa gelinya kepada Desta yang marah. "Tapi, benar juga kata nyokap elo, Des. Tuh ayam tetangga kasihan juga ya untung nggak sakit tenggorokkan dia. Udah pagi-pagi berkokok keras-keras buat bangunin elo yang rumahnya bersebelahan tapi tetap aja kesiangan. Lama-lama pensiun jadi ayam dah tuh." "BANGKE." umpat Desta kuat. Galih tersenyum, kini kedua pemuda itu tengah berada di area taman belakang rumah Desta. Kebetulan tadi, ketika Desta dan Sekar ibunya selesai sarapan siang. Galih datang. Dan di sinilah mereka sekarang, sebelum Desta nanti berangkat kuliah. "Laptop buat apaan?" Tanya Galih, yang memperhatikan Desta sejak 5 menit lalu mengotak-atik laptopnya. "BUKA SITUS ESEK-ESEK." jawab Desta ketus. Mata Galih membelalak. "Dih, najis." "Elo yang najis, bangke. Gue lagi edit gambar buat jasa sewa kita lah, njir." Ucap Desta masih dengan sisa-sisa nada kesalnya. Galih manggut-manggut seadanya setelahnya. "Nah, Gal. Gimana? Bagus nggak?" Desta memutar laptopnya ke arah Galih. "Gambar apaan itu? Des, elo jangan aneh-aneh lah." Keluh Galih membuat Desta memutar bola matanya malas. "Aneh-aneh apaan, nyet? Orang cuma gambar meme doang aja. Aneh darimana coba. Keren gila ini." Balasnya. "Ya, tapi nggak usah pakai gambar kan bisa, Des. Cukup tulisan aja, gue rasa udah pas kok. Tanpa embel-embel gambar meme yang elo edit-edit." "Kalau cuma tulisan doang nggak pake gambar gimana bisa narik cewek-cewek yang mau pakai jasa kita bangke. Ah, protes aja elu njir." Gerutu Desta mendengkus. "Terserah." Komen Galih menggeleng, enggan berdebat. Hening kemudian. Galih hanya duduk diam menatap sahabatnya yang masih sibuk dengan laptop di depan pemuda itu. Terdengar langkah derap kaki datang mendekat, Galih mendongak. Melihat sosok Sekar ibu Desta datang membawa nampan berisi kue. Dengan sigap, Galih berdiri menghampiri beliau. "Ya ampun, Tante. Kenapa repot-repot. Galih cuma sebentar aja kok, Tan." Sekar tersenyum ramah. "Aduh ... nggak apa-apa kok, Galih. Kebetulan tadi pagi Tante habis buat kue bolu. Sen-di-rian." Tekan Sekar di akhir kalimatnya membuat Galih melirik Desta yang bibirnya tampak di manyunkan ke depan karena ucapan ibu pemuda itu. "Sindir aja terus." Sekar yang juga mendengar gerutuan putranya barusan hanya mendengkus geli dalam hatinya. "Kalian sedang apa? Nak Galih ada kuliah siang juga?" Tanya beliau kepada pemuda tampan di dekatnya tersebut. "Galih baru aja pulang dari kampus, Tan." Sahut Galih. "Oh begitu. Desta kamu sibuk ngapain sih?" Desta yang namanya di sebut ibunya mendongak sekilas. "Aku kenapa lagi sih, Ma? Aku lagi sibuk." "Sibuk apaan kamu? Bukannya siap-siap. Kamu ada kuliah kan?" Desta mendesah berat. Pemuda itu melipat tangannya di atas meja dengan mata menatap lurus ibunya. "Ma, Desta lagi bikin proyek berdua sama Galih. Jadi jangan ganggu dulu." "Proyek apa? Benar itu, Galih?" Galih melotot ke arah Desta. Pemuda itu hanya balas acuh sebelum kembali sibuk dengan laptopnya, tidak membalas pertanyaan Sekar membuat Galih ingin mengumpat sekarang. "Anu ... Tante, mmm sebenarnya bukan proyek yang wah banget kok, Tan. Cuma buat jasa kecil-kecilan aja." Jawab Galih terlihat bingung. Di tempatnya, Desta menyeringai kecil tidak terlihat. "Jasa apa? Jasa ojek?" Desta tertawa, hal itu membuat Galih dan Sekar menoleh kearah pemuda itu. "Kamu kok ketawa, Desta. Mama tanya jasa apa?" Desta mendongak memandang ibunya lagi. "Iya, Ma. Semacam jasa ojek online gitu." Alis wanita paruh baya itu mengkerut dalam, di tatapnya wajah putra dan juga sahabat putranya dengan mendalam. Sebelum ucapan yang keluar selanjutnya berhasil mengundang tawa lebar Desta anaknya. "Oh, gitu. Bagus kalau begitu, kapan-kapan Mama sewa jasa kalian ya. Antar Mama ke pasar aja, dekat kok. Mau kan, Nak Galih?" HAHAHAHA. ***** bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN