Bab. 14 Hari Kebebasan

1506 Kata
Malam mulai merambat jauh ketika sebuah mobil berhenti di depan salah satu apartemen kelas menengah ke bawah. Seorang gadis turun dari kendaraan itu dan segera masuk ke dalam. Keyza membuka pintu kamar apartemen Dina dengan perasaan yang lega. Ia segera ke kamar mandi untuk membasuh dirinya. Entah mengapa ia merasa tubuh gerah sekali. Setelah selesai membasuh diri, Keyza mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Kemudian ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Tiba-tiba pandangan gadis itu tertuju pada bibirnya yang telah ternoda. Keyza tidak menyangka jika Devan yang pertama menyentuhnya. Keyza tidak dapat memungkiri dengan ciuman saja, hampir membuatnya lupa diri. Pantas saja Dina bilang akan susah untuk lepas dari lembah itu. Ternyata bisa membuat orang yang lemah imannya jadi ketagihan, ingin dan ingin lagi. "Astagfirullahalzim ...," ucap Keyza atas sebuah dosa yang telah ia lakukan. Apa yang sudah terjadi biarlah berlalu. Keyza berharap Allah mengampuni atas perbuatan, meskipun hanya melakukan ciuman saja. Kini dirinya tinggal menunggu waktu pagi tiba karena sudah tidak sabar untuk menghubungi nomor yang ada di kartu nama itu. Waktu telah menunjukan pukul dua dini hari. Keyza belum juga bisa memejamkan matanya. Padahal ia sudah menyibukkan diri untuk beberes pekerjaan rumah. Setelah itu merapikan barang-barang dan menatanya. Berulah sekitar pukul tiga gadis itu mulai merasa mengantuk. *** Keyza tampak tersentak ketika bangun kesiangan. Ia segera menuju ke kamar mandi dengan tergesa-gesa. Gadis itu terlihat sibuk sendiri. Dina hanya menyaksikan dari meja makan, sambil menikmati segelas teh manis panas. "Kenapa tidak bangunin gue subuh?" tanya Keyza sambil menghampiri Dina. "Tidak tega, tidur lu pulas banget. Pasti cape, masih sakit?" sahut Dina sambil bertanya. Keyza yang mengerti arah pembicaraan Dina segera menjawab, "Sedikit." "Berapa duit pria itu bayar lu?" tanya Dina ingin tahu. "Gue tidak minta bayaran, tetapi bantuannya. Pria itu akan mengirim pengacara hari ini buat dampingi mami," sahut Keyza mejelaskan Mendengar itu Dina membelalakkan matanya dan menyahut, "Apa, cuma minta itu?! Ya ampun Key, beruntung banget tuh cowok cuma bayarin pengacara doang." "Gue bingung, cuma kepikiran itu," timpal Keyza memasang wajah lugu. Dina kemudian menepuk jidatnya dan bertanya, "Terus berapa kali?" "Dua kali," jawab Keyza tanpa menjelaskan jika Devan menciumnya sebanyak dua kali. Dina hanya bisa menggeleng menyayangkan apa yang telah di dapatkan oleh Keyza. Padahal menurutnya gadis itu akan dibayar minimal 500 juta. Namun, semua sudah terjadi dan tidak bisa dinego lagi. "Sepertinya nanti gue akan besuk mami lagi. Sekalian ketemu sama pengacara itu," ujar Keyza memberitahu. Sebelum menimpali lagi, tiba-tiba pandangan Dina tertuju pada leher Keyza yang mempunyai tanda beberapa tanda merah. Lalu ia mengingatkan, "Jangan lupa tutupin tuh leher lu!" Keyza segera meraba lehernya dan bertanya, "Leher gue kenapa?" "Lihat saja di kaca!" seru Dina kemudian. Keyza segera menuju ke kaca dan melihat beberapa tanda merah. Kemudian gadis itu berkata, "Sepertinya gue digigit serangga, tetapi kok tidak gatel ya?" ia menggosok bagian itu dan tetap saja masih ada. "Tidak akan bisa hilang, tunggu beberapa hari!" ujar Dina memberitahu. Keyza kemudian segera kembali dan berkata, "Tidak usah ditutupin, bilang saja habis digigit semut terbang." Dina tampak mengeleng seraya berkata, "Kalau lu bilang begitu ke anak SD pasti percaya, tetapi kalau mami yang lihat habis lu Key." Keyza mulai mencerna kata-kata Dina, tetapi tetap saja ia tidak mengerti. Tanpa sungkan gadis itu bertanya lagi, "Maksud lu apa sih?" "Itu kissmark Key yang bikin ikan cupang," jawab Dina dengan jelas. Keyza baru mengerti sekarang, ia ingat ketika Devan mencium lehernya semalam. Gadis itu tidak menyadari jika pria itu membuat jejak. "Menyebalkan, mami tidak boleh sampai tahu," gerutu Keyza dengan kesal. Dina tersenyum dan berkata, "Pasti keenakan tuh sampai tidak sadar sudah ditato. Gue tidak bisa ikut, ngantuk berat ni. Nanti kalau mami sudah bebas kabarin! Gue akan jemput," sambungnya sambil menguap. "Oke, sudah tidur sana!" sahut Keyza sambil berseru. Dina kemudian segera berlalu ke kamar. Tidak lama kemudian ia sudah tertidur dengan pulesnya. Setelah memastikan Dina sudah terlelap, Keyza kemudian menghubungi nomor yang tertera dikartu nama yang Devan berikan. [Hallo selamat pagi, apakah benar ini Pak Yoga?"] ucap Keyza sambil bertanya. [Iya dengan saya sendiri, ada perlu apa Mbak?] sahut seorang pria dengan balik bertanya. [Saya hanya ingin tahu, kapan bapak akan datang untuk membebaskan seorang wanita bernama Rosa?] jawab Keyza sambil bertanya kembali. [Oh ... silahkan beritahu kronologi kejadian dan di mana wanita itu sedang ditahan sekarang!] seru Pak Yoga yang sepertinya sudah diberitahu oleh Devan. Keyza kemudian menceritakan semua dengan sejelas-jelasnya. Mengenai profesi mami dahulu dan tuduhan yang berujung pada penangkapan terhadap ibunya. [Baiklah, kalau begitu sekarang juga saya akan datang. Tolong Mbak siapkan berkas pembayaran dan dianogsa dari rumah sakit. Kita ketemu di sana ya!] seru Pak Yoga dengan serius. [Baik Pak, saya akan siapkan semuanya,] sahut Keyza dengan harapan yang begitu besar dan panggilan itu pun terputus. Keyza segera bertindak cepat, ia membawa apa yang telah dipersiapkannya semalam. Sebelum pergi gadis itu melihat Dina yang sedang tidur dengan seulas senyum mengembang. *** Ketika sampai di tempat ibunya ditahan, Keyza langsung bertemu dengan seorang lelaki paruh baya yang tidak lain adalah Pak Yoga. "Pak Yoga," tebak Keyza yang dijawab anggukan oleh pria itu, "ini berkas yang bapak minta." Ia menyodorkan sebuah amplop coklat kepada pengacara handal itu. Pak Yoga menerima dan membuka isi amplop itu. Lalu membacanya dengan saksama. Kemudian ia tampak mengangguk kecil dan berseru, "Mbak tunggu di sini dan jangan ke mana-mana! Saya akan segera mengurus semuanya." "Baik Pak," sahut Keyza dengan patuh. Pak Yoga segera masuk menemui tim penyidik. Sementara itu Keyza tampak menunggu, ia terlihat harap-harap cemas dengan mulut yang terus berkomat-kamit. Semoga ibunya bisa bebas hari ini juga. Sesekali mata indah itu memandang ke arah pintu keluar dengan harapan yang begitu besar. Otak Keyza terus berputar untuk melakukan tindakan apa selanjutnya jika Mami Rosa sudah bebas dari jerat hukum. Ia kemudian tampak sibuk mengirim pesan lewat ponsel dan menghubungi seseorang yang entah siapa saja. Mentari kian meninggi, tetapi belum ada berita baik yang terdengar. Gadis itu pun terlihat pasrah, akan apa yang terjadi di dalam hidupnya nanti. Akhirnya usaha dan doanya berbuah manis. Ia melihat Pak Yoga dan ibunya keluar dari kantor polisi. Dengan senangnya Keyza menyambut kebebasan mami. "Mami!" Keyza memanggil sambil setengah berlari dan memeluk ibunya dengan erat. Mami Rosa pun membalas pelukan putrinya dengan hangat dan kemudian berkata, "Mami sangat kangen sama kamu, Nak." Keyza melihat Pak Yoga tersenyum ke arahnya. Ia segera melepas pelukan dan merangkul mami. Setelah itu dirinya menghadap ke arah pengacara itu dan mengucapkan, "Terima kasih Pak, atas bantuannya." "Sama-sama Mbak, ini sudah tugas saya," jawab Pak Yoga yang terlihat bijak. Mami menatap Pak Yoga dengan kagum. Sepertinya lelaki itu pengacara hebat. Terbukti dari cara bicara yang sangat tertata, lancar dan pintar dalam memberikan argument dan alasan pada saat membelanya tadi. "Saya juga mengucapkan terima kasih. Jika tidak ada Bapak mungkin, saya tidak bisa bebas sekarang," ucap mami dengan ramah, "oh ya, maaf kalau saya boleh tahu. Siapa orang yang telah menyewa Bapak untuk mendampingi saya?" "Sama-sama ibu, saya adalah pengacara keluarga--" "Pengacara keluarga teman aku, Mi," potong Keyza cepat sambil melirik ke arah Pak Yoga yang langsung terdiam dan mengangguk pelan. "Ya, sudah, kalau ketemu sama teman kamu, bilangin salam dari mami ya!" seru Mami Rosa sambil mengelus pipi putrinya dengan lembut. Keyza mengangguk sambil sesekali menoleh ke arah Pak Yoga. "Oh, ya kalau begitu saya permisi dulu Bu." Pak Yoga berpamitan. "Jika ada apa-apa segera hubungi teman anda Mbak!" pesannya kemudian sambil tersenyum. "Baik Pak, terima kasih atas semuanya," ucap Keyza dengan ramah. Pak Roy pun mengangguk dan segera pergi dari tempat itu. Keyra segera menyetop sebuah taksi yang melintas. Setelah membantunya memasukan koper di bagasi kemudian, ia meminta supir tersebut untuk mengantar mereka ke suatu tempat. "Kita mau ke mana sayang?" tanya Mami Rosa ketika berada di dalam mobil yang sedang meluncur. "Ke tempat tinggal kita yang baru," sahut Keyza dengan antusiasnya. "Oh ya Dina kenapa tidak ikut?" tanya wanita paruh baya itu dengan heran. Untuk sesaat Keyza terdiam lalu ia pun menjawab, "Dina nitip salam buat Mami katanya maaf tidak bisa menjemput." Mami Rosa tampak menghela napas panjang dan berpesan,"Sayang, jika suatu saat kamu sudah sukses. Tolong bantu Dina untuk kembali ke jalan yang lurus. Sebenarnya dia wanita yang baik dan ringan tangan, tetapi trauma masa lalunya membuat Dina jadi seperti itu." "Tentu Mi, aku banyak berhutang budi sama Dina. Sampai kapan pun tidak akan terlupakan, dia adalah teman terbaikku," sahut Keyza yang sebentar lagi akan merindukan wanita itu. Taksi yang membawa Keyza dan ibunya terus meluncur meninggalkan kota Jakarta. Kendaraan roda empat itu menuju ke sebuah taman yang berada di kota Bogor. Setelah membayar ongkos, gadis itu dan Mami Rosa tampak menunggu sejenak. Tidak lama kemudian sebuah Xenia berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka. "Hai Key, Tante," sapa seorang pemuda berkaca mata sambil turun dari mobil itu. "Hai," balas Keyza sambil tersenyum melihat orang yang menjemputnya sudah datang. Mami Rosa tampak mengingat dan menebak, "Kamu temannya Keyza kan?" "Iya Tante, ayo saya antar!" jawab pemuda itu sambil mengajak. Keyza dan Mami Rosa segera naik ke mobil. Mereka kemudian meluncur ke rumah yang baru dan tentu untuk menjalani kehidupan yang baru pula. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN