Bab. 9 Marah dan Sedih

1583 Kata
Devan yang baru pulang dari Jepang merasa suntuk dan badmood sekali. Ia jadi marah-marah tidak jelas kepada bawahannya, padahal tidak melakukan kesalahan apa pun. Kesibukannya dalam bekerja telah membuat pikiran pria itu lelah sehingga tidak bisa mengontrol emosi. "Kamu bagaimana sih? Apa perlu saya yang turun tangan?" tanya Devan kepada salah satu manager dengan berang. "Maaf Pak, nanti saya perbaiki, permisi" ucap lelaki itu sambil pamit undur diri. Ketika manager itu keluar dari ruangan Devan ia tidak sengaja berpapasan dengan Steve. "Ada apa?" tanya Steve ketika melihat manager itu tampak kebingungan. "Saya kena marah Pak Devan, katanya laporan yang saya buat kurang lengkap. Coba Pak Steve lihat, ini sudah benar semua," jawab manager itu sambil menyodorkan laporannya. "Ya sudah, taruh di meja saya saja!" seru Steve yang segera mengambil alih. Steve kemudian masuk ke ruang kerja Devan dan melihat atasannya itu sedang duduk sambil memegangi kepala. “Sepertinya kamu butuh hiburan Dev!” ujar Steve ketika melihat Devan dengan muka yang kusut. “I’m fine Steve,” sahut Devan menunjukan jika dirinya tidak apa-apa. “Kamu memang baik secara pisik, tetapi tidak dengan mental mu?” timpal Steve apa adanya. Mendengar itu Devan jadi meradang dan bertanya, “Oh … kamu pikir aku sakit jiwa?” “Aku tidak bilang begitu, maksudku pikiran kamu lelah dan butuh refreshing?” jawab Steve sambil menyarankan. Tiba-tiba seorang lelaki datang ke ruang kerja Devan, “Dia butuh penyaluran Steve.” “Hai Darel, tumben kamu datang?” tanya Steve dengan heran. Ia kemudian segera mengambil dua kaleng softdrink dari dalam kulkas mini yang tersedia di sana. “Kebetulan lewat jadi sekalian mampir,” sahut Darel sambil duduk di sofa. Devan kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi dan mencibir, “Modus, bilang saja kalian mau janjian kencan." “Tahu saja kamu Dev, orang sibuk kerja seperti kita memang butuh penyaluran agar bisa merelaxkan diri,” ujar Darel sambil menerima sekaleng minuman dari Steve. “Penyaluran apa, hoby?” tanya Devan dengan seriusnya. “Ha … ha …” Steve mentertawakan Devan. Hampir saja ia menyemburkan minuman itu. “Kenapa tertawa, ada yang lucu?” tanya Devan dengan kesal. “It’s true, he … he …," sahut Darel terkekeh. Devan terlihat kesal sekali dan berseru, “Stop mentertawakanku atau kalian keluar! Bikin pusing saja," umpatnya kemudian. “Santai Dev! Otakmu terlalu tegang, jadi butuh penyaluran s*x,” jelas Darel yang membuat Devan paham. Devan terdiam mungkin benar kata Darel jika dirinya butuh melakukan s*x, tetapi ia tidak tahu mau berkencan dengan siapa? Haruskah dengan Mona? Devan tidak mau melakukannya lagi. Itu bisa merusak citra Mona sebagai wanita baik-baik, meskipun mereka pernah melakukannya atas dasar suka sama suka. Cukup sekali Devan menyentuh Mona, itu pun dahulu ketika mereka merayakan tahun baru bersama. Ia tidak mau terlalu jauh memberi harapan kepada wanita itu. Dirinya bukan lah lelaki yang suka menyakiti perasaan perempuan. Darel kemudian berdiri dan pamit undur diri, “Sepertinya waktu singgahku habis, jangan lupa nanti malam di tempat biasa Steve. Kamu mau ikut Dev?” tanyanya yang tidak di jawab oleh Devan karena masih tenggelam dalam pikirannya. Sementara itu Stave tampak mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum yang membuat Darel menggeleng. Setelah Darel pergi Devan baru tersadar jika lelaki itu sudah tidak ada. Dengan heran ia pun bertanya, “Ke mana Darel?’ “Sudah pulang,” sahut Steve dengan santai. “Datang tiba-tiba, pulang main pergi saja. Tidak sopan,” gerutu Devan dengan kesal. Steve tampak menggeleng dan menjawab, “Dia tadi sudah bilang, tetapi kamu asyik melamun saja.” Devan segera menyapu mukanya lalu menatap Steve dan berseru, “Cari kan aku teman kencan, tanpa harus saling mengenal dan hanya untuk satu malam. Ada tidak yang seperti itu?” tanyanya kemudian. "Kenapa tidak mau saling mengenal, takut di kasih alamat palsu lagi?" ledek Steve sambil tersenyum. Mendengar itu Devan tampak membulatkan matanya dan menatap Steve dengan tajam. Lalu ia berkata, "Aku sedang tidak ingin bercanda." “Ada, namanya ‘One night stand’ biasanya wanita kencan akan memasang tarif yang cukup tinggi. Apalagi yang masih virgin,” sahut Steve menimpali. “Tidak masalah, aku akan bayar berapa pun yang diminta asalkan bisa menghiburku,” timpal Devan dengan serius. “Oke, kalau begitu kamu mau ikut aku ke club Darel?” tanya Steve kemudian. Devan tampak mengernyitkan dahinya dan balik bertanya, “Sejak kapan Darel jadi mucikari?” Steve menepuk jidatnya, entah mengapa ia merasa otak Devan jadi lola sekarang. Lelaki itu berusaha sabar dan menjelaskan, “Darel tidak jadi mucikari Dev, tetapi di clubnya banyak wanita cantik yang bisa dijadikan teman kencan.” “Oh … begitu, kamu atur saja lah. Aku tahunya tinggal beres!” sahut Devan sambil berseru. "Oke, aku akan carikan teman kencan yang special buatmu. Mau yang sudah berpengalaman atau masih segelan? " tanya Steve kemudian. "Terserah!" sahut Devan sambil memijit pangkal hidungnya. Steve kemudian berdiri dan hendak berlalu dari ruangan kerja Devan seraya berujar, "Kalau begitu kamu perlu minum obat, biar ku--" "Terus!" potong Devan sambil melempar pulpen ke arah wakilnya itu yang langsung berlari menghindar. Ia terlihat sangat kesal dengan Steve yang selalu saja membuatnya naik darah. Memang bagi sebagian kalangan atas, jika sedang lelah dalam bekerja mereka akan menyalurkannya dengan menghibur diri. Seperti minum dan berkencan adalah hal yang sudah biasa. Apalagi bagi yang belum mempunyai pasangan hidup, alias jones terutama bagi kaum prianya. Asalkan mereka puas maka uang seperti air yang mengalir. *** Sementara itu di sebuah kamar rumah sakit, Mami Rosa melihat Keyza yang baru pulang entah dari mana. Lalu ia pun bertanya, "Kamu dari mana sayang?" "Habis dari rumah Mi, mengepak barang-barang dan mengirimnya ke tempat tinggal kita yang baru," sahut Keyza sambil menghampiri ibunya. Mami tampak menghela nafas panjang dan berkata, "Seharusnya kamu tidak menjual rumah dan mobil Nak, itu semua punya kamu." "Keyza mohon jangan dipertanyakan lagi Mi, aku tidak mau terjadi sesuatu sama Mami," pinta Keyza, "Harta masih bisa dicari, tetapi kehilangan Mami aku tidak akan pernah sanggup," sambungnya yang membuat Mami Rosa terharu mendengar hal itu. Mami Rosa mengerti akan tindakan Keyza. Putrinya tidak salah dalam hal ini karena jika keadaan dibalik, ia juga akan melakukan hal yang sama. Padahal wanita itu berharap kemarin cepat dipanggil menghadap Sang Khalik agar tidak menjadi beban Keyza dikemudian hari. "Terima kasih ya Nak, atas apa yang telah kamu lakukan untuk mami," ucap Mami Rosa yang merasa bangga mempunyai putri yang sangat pengertian akan kondisinya saat ini. "Itu sudah kewajiban ku dan semuanya belum seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang Mami lakukan kepadaku sedari kecil," sahut Keyza sambil mencium tangan ibunya. Mami Rosa kemudian mengelus kepala putrinya seraya berkata,"Apa pun akan mami berikan buatmu sayang." Mendengar itu Keyza segera memeluk ibunya dengan haru dan berucap, "Mulai saat ini Keyza berjanji akan membuat Mami bangga dan bahagia." [Ya Allah berikan lah aku hidup sampai menyerahkan putriku kepada lelaki yang tepat. Aaminn ...,] doa Mami Rosa di dalam hatinya. "Oh ya, kita mau pindah ke mana?" tanya Mami Rosa penasaran. Dengan semangat Keyza pun menjawab, "Nanti mami juga akan tahu, pokoknya tempat itu sangat tenang. Kita akan memulai hidup baru di sana." "Sebaiknya kamu konsultasi ke dokter. Tanyakan kapan mami boleh pulang!" saran Mami Rosa kembali. "Aku ingin mami tetap di rumah sakit sampai pulih dulu ya!" sahut gadis itu yang ingin ibunya sembuh. "Mami sudah merasa lebih baik, nanti kita berobat jalan saja buat kontrol," ujar Mami Rosa kembali. Akhirnya Keyza mengikuti kemauan ibunya untuk cepat pulang dari rumah sakit. Ia kemudian menemui dokter yang menangani mami dari awal. "Ibu Rosa sudah boleh pulang Mbak, ingat pesan saya harus tetap teratur minum obat agar lukanya bekas operasinya cepat kering dan tidak boleh mengerjakan yang berat-berat ya!" ujar dokter itu memberitahu. "Terima kasih Dok, saya akan jalani semua pesan dari dokter," ucap Keyza sambil menjabat tangan dokter itu dengan erat. Keyza kemudian menyelesaikan admistrasi dari hasil penjualan perhiasan ibunya. Ternyata biayanya cukup menguras kantong. Kini ia hanya punya uang yang tersisa di tabungannya saja. Sepertinya itu cukup untuk menyewa rumah dan buat pegangan sehari-hari. Gadis itu berharap Semoga cepat mendapatkan pekerjaan. Mentari tampak meninggi, ketika Keyza sedang mendorong ibunya dengan menggunakan kursi roda menuju ke lobi rumah sakit. Ketika sedang menunggu taksi online, tiba-tiba sebuah mobil polisi berhenti di hadapan mereka. Terlihat dua orang dengan perawakan tegap turun dari mobil. Lalu menghampiri Mami Rosa dan Keyza. "Selamat siang!" ucap seorang polisi, "Kami datang kesini untuk menahan Ibu Rosa dengan tunduhan keasusilaan. Ini surat perintahnya," tutur aparat penegak hukum sambil menyodorkan selembar amplop kepada mami. Mami tampak gemetar menerima surat itu. Dengan perlahan ia membuka dan membacanya. Wanita itu sangat terkejut melihat namanya tertera di sana. "Tunggu Pak!" kami baru keluar dari rumah sakit dan ibu saya tidak melakukan apa pun hampir sebulan ini," sergah Keyza yang tidak terima ibunya akan ditangkap. "Maaf ya, Mbak! Kami hanya menjalankan tugas. Silahkan jelaskan di kantor nanti" Seorang Polwan menjawab dengan tegas. Mami Rosa terlihat pasrah ketika dipapah untuk masuk ke mobil polisi. Sebagai warga negara yang baik, meskipun dalam keadaan seperti ini. Ia akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Melihat ibunya dibawa polisi, Keyza jadi sedih dan meminta untuk ikut. Mungkin saja kesaksiannya akan berguna di kantor Polisi. "Tolong izinkan saya ikut Pak!" gadis itu terlihat memohon dengan mengatupkan kedua tangannya. Akhirnya polisi mengizinkan Keyza untuk turut bersama. BERSAMBUNG Hai para pembaca setia, Takdir Cinta Gadis Malam akan post dua hari sekali. Tenang saja, nanti akan post setiap hari, tetapi tidak dalam waktu dekat ini. Nanti ku kasih tahu lagi kapan sudah fixnya wat dayli. Ikuti terus cerita ini yang bikin kalian nanti baper habis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN