Ketika sampai di kantor polisi, Keyza langsung meminta ibunya dibebaskan, tetapi keingginan gadis itu di tolak karena mami sudah jadi target dari kemarin minggu. Keyza tidak menyerah ia terus memberikan alibi jika ibunya sudah meninggalkan pekerjaan itu.
Namun, para penegak hukum bersikukuh untuk memproses mami lebih lanjut karena berdasarkan bukti serta keterangan beberapa wanita malam yang tertangkap. Mereka mengaku sebagai anak buah Mami Rosa. Maka dari pada itu, Keyza disarankan untuk menyewa jasa pengacara buat mendampingi ibunya.
"Ibu saya tidak bersalah Pak, jadi lepaskan beliau sekarang juga!" pinta Keyza agar ibunya tidak ditahan.
"Maaf Mba hukum harus tetap berjalan," sahut seorang polisi yang menolak keinginan gadis itu.
"Key, mami tidak apa-apa Nak. Kamu jangan takut dan khawatir!" ujar Mami Rosa agar putrinya tidak cemas.
"Akan tetapi Mami masih dalam masa pemulihan. Kalau mami ditahan dan drop lagi siapa nanti yang akan merawat?" sahut Keyza yang kembali terlihat sedih.
Mami Rosa mengelus kepala Keyza dan berpesan,"Kamu jangan pikirkan itu sayang! Mami akan baik-baik saja, ada obat-obatan dari dokter. Sekarang lebih baik kamu pulang dan fokus untuk mencari pekerjaan serta
Jaga diri baik-baik ya!"
Keyza tampak menggeleng dengan air mata yang jatuh begitu saja. Ia memeluk ibunya dengan erat. Melihat itu beberapa polisi jadi ikut terharu. Bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Akhirnya mami kemudian ia di bawa ke ruang tahanan untuk menungggu tindakan hukum selanjutnya.
"Mami," panggil Keyza sambil memandangi ibunya sampai hilang dari pandangan. Setelah menitipkan obat kepada petugas sipir, Keyza kemudian keluar dari kantor polisi.
Keyra terlihat putus asa, gadis itu tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membebaskan ibunya. Dirinya tidak punya uang untuk menyewa pengacara. Rasa cemas dan kesedihan terlihat jelas dari wajahnya. Tentu ia sangat memikirkan keadaan mami yang masih butuh perawatan Apalagi samar tadi Keyza mendengar kalau besok akan ada konferensi pers soal penangkapan ibunya.
"Ya Allah, tolong mami!" pinta Keyza sambil menyeka air matanya.
'Sudah jatuh tertimpa tangga' mungkin itu ungkapan yang tepat buat Mami Rosa saat ini. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Keyza mencoba berpikir untuk melakukan sesuatu. Tiba-tiba gadis itu pun teringat seseorang. Tanpa membuang waktu ia segera pergi ke suatu tempat.
***
Dina terlihat sudah cantik untuk pergi ke club malam ini. Wanita itu hendak mencari teman kencan yang baru. Setelah om yang selama ini menjadi kekasihnya sudah tidak menghubunginya lagi. Itu tidak masalah bagi Dina karena ia prinsipnya gugur satu tumbuh seribu.
Dengan mengunakan sebuah dress sepaha yang dipadu high heels. Wanita itu terlihat sangat cantik bak model profesional. Memang Dina sangat menjaga penampilan agar memuaskan teman kencannya. Namun, ketika membuka pintu. Ia tampak terkejut ketika melihat Keyza berada di depan apartemennya seorang diri dengan wajah yang sedih dan kusut.
Dengan cemasnya wanita itu pun segera bertanya, “Key, ada apa?”
Dengan mata yang kembali mengembun Keyza pun meminta, “Tolongin mami Din!”
Dina tampak mengernyitkan dahinya dan bertanya kembali, “Kenapa dengan mami, drop lagi?”
“Bukan, mami ditangkap polisi,” jawab Keyza yang membuat Dina sangat terkejut sekali mendengarnya.
“Kita bicara di dalam, cepat masuk!” ajak Dina sambil mengajak Keyza ke dalam apartemennya.
Sesampai di dalam, Keyza segera duduk di sofa bersebelahan dengan Dina. Gadis itu kemudian menceritakan awal mula mami ditangkap polisi atas dugaan kasus portitusi online. Mendengar itu Dina tampak kaget dan down, ia takut akan terciduk juga.
"Tolong bantu aku Din, buat bebasin mami!" pinta Keyza sambil memegang tangan wanita itu.
“Tenang Key, gue pasti akan bantu lu, tetapi bagaimana caranya ya?" ujar Dina sambil terus berpikir. "Kita memang harus sewa pengacara untuk mendampingi mami,” sambungnya memberikan saran.
“Pakai jasa pengacara itu tidak murah, gue sudah tidak punya uang lagi Din. Ada juga buat pegangan sewa rumah yang baru,” sahut Keyza yang merasa putus asa. Sehingga membuat Dina berpikir keras.
Sebenarnya Dina juga bingung harus berbuat apa. Tabungannya juga tidak cukup. Semenjak putus dari om dia tidak punya pemasukan tetap. Sementara itu kebutuhan hidupnya harus ada setiap harinya.
"Oke, gue akan cari pinjaman dulu. Buat sementara waktu lu tinggal di sini.
Kalau belum makan ada mie dan masakan siap saji di kulkas. Gue tinggal dulu ya!” pamit Dina sambil berpesan.
Keyza tampak mengangguk dan berkata, “Iya, hati-hati” sahut Keyza
Setelah Dina pergi gadis itu kembali memikirkan keadaan ibunya.
Dina tidak mungkin berdiam diri saja sampai hakim memvonis hukuman buat mami. Wanita itu juga tidak mau terjadi sesuatu terhadap Dewi penolongnya itu. Apalagi mami baru saja selesai di operasi dan masih dalam masa pemulihan. Semoga saja hari ini ada orang yang mau memberikan pinjaman.
***
Dina terlihat masuk ke sebuah club malam yang cukup elit di Ibu Kota. Ia berniat menemui temannya yang bekerja di tempat itu untuk meminjam uang. Wanita itu langsung menuju ke meja bar. Di mana seorang lelaki tengah membuat minuman yang dipesan para tamu.
"Hai cantik, baru kelihatan ke mana saja?" sapa lelaki itu ketika melihat Dina duduk di hadapannya.
"Roy, tolongin gue dong!" balas Dina dengan tatapan penuh harap.
"Aish ... ada apa ni baru ketemu langsung nembak?" tanya Roy dengan heran.
"Gue serius Roy," tegas Dina kembali.
"Oke, lu mau minta bantuan apa?" tanya Roy kemudian.
"Pinjami gue duit," ujar Dina memberitahu maksud kedatangannya.
"Tidak salah dengar ni gue, banyakan lu kali duitnya," sahut Roy kembali dengan santai.
Dina kemudian memasang muka sedih dan berucap, "Please Roy!"
Roy pun jadi tidak tega melihat raut muka Dina. Kemudian ia pun bertanya, "Lu butuh berapa?"
Senyum Dina pun mengembang dengan segera ia menjawab, "Dua ratus juta saja."
Mata Roy tampak mendelik ketika mendengar nominal yang Dina sebutkan. Dengan spontan ia pun menyahut, "Gila lu Din, mau minjem apa ngerampok? Mana ada gue duit segitu. Lu kan tahu berapa gaji bartender?" ujarnya kemudian.
Dina kemudian menarik senyumnya dan membujuk, "Ayo dong Roy! Tolong cariin atau pinjamin sama bos lu."
"Jujur sama gue! Lu buat apaan duit sebanyak itu?" seru Roy sambil.
bertanya.
Dina kemudian menceritakan jika temannya sedang membutuhkan uang buat menyewa pengacara buat membebaskan ibunya. Mendengar itu Roy pun kemudian berpikir untuk membantu mencarikan jalan keluar.
"Oke, begini saja. Bilang sama teman lu ada lowongan sebagai waiters. Gaji UMR dan sering dapat tips. Setelah sebulan kerja dia bisa ajukan pinjaman ke Bos," ujar Roy memberikan sebuah solusi.
"Kelamaan Roy, ibu itu habis operasi dan masih dalam masa penyembuhan. Jadi dalam seminggu ini harus bebas," sahut Dina yang membuat Roy tampak tercengang kembali.
"Hadeh, nyerah deh. Lu kira gue punya pabrik duit. Kalau tidak kita ngepet aja yuk!" canda Roy menanggapi.
"Roy, Biasa!" seru seorang lelaki dari sebuah meja VIP.
"Siap Bos!" sahut Roy sambil mengacungkan jempolnya.
Dina segera mengalihkan pandangan ke arah tatapan Roy. Ia melihat dua orang pria parlente yang sedang bercakap-cakap dengan santai. Kemudian wanita itu pun bertanya,"Siapa mereka Roy?"
"Tuan Darel, pemilik club ini bersama temannya, "jawab Roy sambil menyiapkan minuman.
Mendengar itu sebuah ide terbesit di benak Dina. Dengan spontan ia menahan Roy yang hendak berlalu, "Roy tolong pinjemin sama boss lu dong!"
"Tidak bisa Din karena gue baru pinjam kemarin 50 juta. Itu saja belum dicicil," tolak Roy dengan memberikan alasannya.
"Ya sudah, bilngin gue yang bayar dan lu cuma jadi jaminan buat gue," ujar Dina yang tidak kehabisan akal, "Please Roy!" pinta wanita itu dengan mengiba kembali.
"Iya nanti gue coba, tetapi tidak janji ya," sahut Roy yang kemudian berlalu mengantar pesanan bosnya itu.
Dari kejauhan Dina melihat Roy berbisik kepada bosnya.
"Mana teman kamu?" tanya Darel setelah mendengar apa yang Roy katakan.
"Itu Bos," jawab Roy sambil menoleh ke arah meja bar.
"Ada apa Rel?" tanya Steve ingin tahu.
Setelah melihat Dina sekilas lalu Darel menjawab pertanyaan Steve, " Wanita yang dimeja Bar, mau pinjam uang dua ratus juta dengan jaminan karyawanku."
"Hati-hati Rel, takutnya penipuan. Nanti kabur lagi, kasihan karyawanmu," pesan Steve yang membuat Darel mengangguk.
"Iya, aku juga tidak bodoh percaya begitu saja kecuali dia kerja denganku," sahut Darel sambil meneguk minumannya.
Steve kemudian menoleh ke arah Dina, ia tampak tersenyum melihat wanita itu yang cantik dan seksi, tiba-tiba dirinya teringat akan pesan Devan.
"Kamu suka sama dia?" tanya Darel setelah mengikuti arah pandangan Steve.
"Bagaimana kalau buat Devan, bagus tidak?" tanya Steve meminta pendapat.
"Good, tetapi jangan mau kalau tarifnya segitu. Kemahalan kasihan Devan," jawab Darel sambil menyarankan.
"Iya lah, kalau virgin sih tidak apa-apa. Biar aku tawar dulu," timpal Steve yang kemudian berdiri dan berlalu menuju ke meja bar.
"Hai," sapa Steve sambil duduk di samping Dina. "Kamu lagi butuh uang banyak? Mau one night stand tidak?" tanyanya to the point.
"Berani berapa?" tanya Dina sok jual mahal.
"25 juta, pembayaran biasa setiap akhir kencan," sahut Steve dengan santai.
Dina tampak berpikir sesaat lalu ia pun menjawab, "200 juta dengan pelayanan yang sangat memuaskan."
"No, kalau mau segitu, kecuali kamu masih virgin!" tolak Steve sambil tetap menunggu.
Dina tampak berpikir, sebenarnya ia tertarik dengan tawaran Steve. Lumayan sekali kencan 25 juta. Itu bisa bertambah kalau pelayanannya memuaskan. Namun, saat ini ia harus mendapatkan 200 juta. Dirinya pun jadi bimbang mau ambil atau tidak.
"Sory, ini kartu namaku jika kamu berminat," ujar Steve yang merasa Dina terlalu lama berpikir. Ia kemudian meletakan sebuah kartu diatas meja bar dan berlalu pergi.
Waktu terus beranjak tengah malam, Steve dan Darel sudah pergi dengan wanita kencan mereka. Tentu dengan tarif jauh dari yang Dina tawarkan. Pupus sudah harapan wanita itu mendapat pinjaman di tempat ini. Dina tidak putus asa, ia kemudian pergi untuk mencari ke tempat lain.
BERSAMBUNG