Sementara itu di apartemen Dina, Keyza masih termangu memikirkan keadaan ibunya. Suara detik jam seperti detak jantung gadis itu yang tidak pernah berhenti untuk berharap, akan suatu keajaiban yang dapat membebaskan mami.
“Ya Allah tolong aku, berikan lah jalan keluar dari cobaan ini,” doa Keyza sambil menyeka air matanya.
Keyza tiba-tiba merasakan lapar, ia memang belum makan sejak penangkapan ibunya tadi pagi. Gadis itu segera berdiri dan menuju ke dapur.
Akhirnya Keyza memutuskan memasak mie instant dan membuat segelas teh manis panas. Tidak lama kemudian makanan itu pun siap tersaji dan ia langsung menyantap dengan lahap.
Setelah selesai makan gadis mencuci piring, tanpa disengaja Keyza menatap pantulan dirinya di kaca.
"Kamu boleh berdiam diri saja Key! Bagaimana kalau Dina tidak dapat pinjaman? Kasihan mami jika kelamaan di tahanan. Lihat lah dirimu sangat cantik dan pintar, manfaatkan semuanya dengan baik!" Suara hati Keyza pun mulai berperang dengan logikanya.
Gadis itu terus berpikir, menangis saja tidak akan menyelesaikan masalah. Doa yang tidak disertai oleh ikhtiar juga akan sia-sia belaka
Keyza kemudian membuka tas ranselnya dan mengambil laptop. Lalu ia mengecek email. Berharap ada lamaran yang diterima, tetapi semua nihil. Tanpa putus asa, Keyza kembali mencari lowongan yang bisa langsung kerja dan cepat mendapatkan uang. Hingga tanpa sengaja jarinya mengklik sebuah situs dewasa.
“One Night Stand” menjadi kaya dalam semalam.” Keyza membaca slogan itu dan entah mengapa ia tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.
Baru membaca sekilas, Keyza teringat akan pesan ibunya agar tidak pernah mengenal dunia malam. Ia harus tetap menjaga kesucian, apa pun itu alasannya. Gadis itu kemudian mematikan laptop dan mencoba untuk memejamkan mata.
Namun, Keyza tidak dapat terlelap. Dirinya terus memikirkan ibunya yang berada di tahanan. Ia bisa tidur di kasur yang empuk dan hangat, sedangkan mami berada di balik jeruji besi yang dingin. Sementara itu Dina juga mungkin sedang bergelut dengan pria demi mendapatkan pinjaman buat membebaskan mami.
Keyza merasa miris dan segera terbangun. Ia merasa tidak berguna sekali. Ketika menoleh, dirinya melihat sebuah cermin rias yang cukup besar. Dengan perlahan gadis itu beranjak dan menghampiri benda bening itu.
Gadis itu menatap tajam bayangan dirinya yang tampak mematung dan membisu, "Egois, bisanya aku diam saja dengan mempertahankan sebuah kehormatan. Sementara itu Dina harus mencari pinjaman di luar sana, sedangkan diriku justru enak-enakan di kamarnya. Putri mami itu aku bukan Dina, dasar anak tidak berguna!" umpat Keyza pada dirinya sendiri.
Tangan gadis itu tampak mengepal keras. Sehingga membentuk sebuah tekad yang kuat untuk membebaskan ibunya. Ia mulai terus berpikir untuk mencari jalan keluar sendiri atas masalahnya. Akhirnya Keyza mendapatkan sebuah keputusan dengan bermodalkan nekat.
Malam terus merambat jauh hingga dini hari tiba. Keyza tampak melirik ke arah jam dinding yang telah menunjukan pukul 03.30. WIB. Dina belum juga pulang ke rumah. Beberapa Jam kemudian azan subuh berkumandang. Keyza mulai cemas karena Dina belum juga kembali. Sehingga membuat keputusannya semakin bulat.
"Maafkan aku Mi," ucap Keyza sambil menuju ke toilet untuk mengambil air wudhu.
Gadis itu kemudian segera melakukan salat dua rakaat. Setelah selesai tidak lupa ia memanjatkan doanya dengan khusyuk, "Ya Allah, semoga cara yang akan kutempuh ini bisa membebaskan mami dan tolong ampuni keputusanku jika jalan ini salah. Aaminn ...." Keyza mengusap mukanya yang tampak berderai.
Waktu terus bergulir, langit mulai tampak terang di ufuk timur. Menandakan sebentar lagi Sang Surya akan muncul dengan sinarnya yang hangat. Keyza tampak berdiri menatap keluar jendela seolah siap menghadapi kerasnya hidup.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Dina baru saja pulang dan segera menghampiri Keyza. Ia melihat dua cangkir kopi s**u yang berada di atas meja. Di mana satu cangkir masih mengepul dan sisanya lagi sudah habis. Wanita itu segera duduk di bangku tidak jauh dari tempat Keyza berdiri.
"Buat gue?" tanya Dina sambil menatap ke arah kopi s**u itu.
"Iya," jawab Keyza singkat.
"Lu tidak tidur semalam?" tanya Dina kembali.
Keyza menjawab, "Gue tidak ngantuk."
“Gue ngerti lu pasti masih mikirin mami, tetapi menjaga kesehatan itu juga penting Key," ujar Dina sambil meniup minuman panasnya. Oh ya, gue belum dapat pinjaman, tetapi ada kabar baik buat lu. Ada lowongan jadi waitres di sebuah club elit, lumayan gajinya. Tiga bulan kerja bisa ajukan pinjaman, nanti gue bantu untuk menyewa pengacara buat mendampingi mami." Dina menawarkan pekerjaan dan mulai menyeruput kopi s**u.
Keyza berbalik dan menatap Dina lalu menanggapi, “Kelamaan, mami masih dalam masa pemulihan, jadi harus dibebaskan secepatnya.”
“Semua proses Key, tidak bisa seperti sihir yang langsung jadi.” Dina memberikan pendapat.
“Ada satu cara, tetapi lu harus bantu gue,” ujar Keyza dengan serius.
“Ngapain, ngepet gue jagain lilin begitu?” sunggut Dina yang tidak mengerti jalan pikiran Keyza.
Keyza tersenyum simpul dan berkata, “Cariin gue pelanggan untuk one night stand!"
“Apa?!” tanya Dina dengan spontan dan langsung berdiri, hampir saja kopi panas itu jatuh ke lantai. Ia melihat Keyza dengan mata yang terbelalak, “Jangan gila Key! Gue tidak akan bantuin lu dalam hal itu,” tegas Dina dengan lantang.
“Hanya dengan cara itu gue bisa mendapatkan uang banyak dalam semalam,” ujar Keyza berusaha tetap tenang.
Dina menghampiri Keyza dan menatap gadis itu dengan tajam seraya bertanya, “Percuma lu sekolah tinggi kalau cuma jadi kayak gue. Mami akan sangat kecewa dan menyesal pengorbanannya buat lu selama ini sia-sia."
“Gue merasa jadi anak tidak berguna kalau diam saja Din, mungkin ini saatnya berkorban buat mami,” ujar Keyza sambil menahan tangisnya, “Please Din, bantu sekali ini! Habis ini gue janji tidak akan merepotkan lu lagi,” pinta Keyza dengan mengiba.
Dina tampak mengepalkan tangannya, sebagai orang yang pernah berjanji kepada mami. Apa pun alasannya, ia tidak akan pernah membantu Keyza menapakan jejak di dunia malam. Wanita kemudian kembali menolak dengan tegas, “Gue akan selalu bantu lu dalam hal apa pun, tetapi tidak untuk yang satu itu!”
“Hanya sekali Din, cuma menjual keperawanan, setelah itu gue janji tidak akan mengulanginya lagi,” ujar Keyza yang terus menyakinkan Dina agar mau membantunya.
“Lu tidak tahu dunia malam Key, sekali saja masuk tidak akan bisa keluar dengan mudah,” jelas Dina dengan geram.
“Justru itu gue minta bantuan lu yang sudah berpengalaman. Pasti ada cara kan agar tidak terjerumus lebih jauh lagi.” Keyza terus berdebat dengan Dina agar mau membantunya.
“Jangan gila Key, jika mami tahu dia bisa mati berdiri. Asal lu tahu semalam gue rela tidak dapat job demi mencari pinjaman buat mami," ungkit dan maki Dina yang sudah mulai naik pitam.
“Gue sangat berterima kasih atas semua usaha dan bantuan lu, tetapi tidak ada cara lain,” sergah Keyza yang tetap kekeh dengan keinginannya.
Dina tampak menggeleng menghadapi Keyza yang keras kepala. Ia akan merasa sangat berdosa jika membantu gadis itu untuk jual diri. "Jangan bodoh Key, gue tahu lu sangat sayang sama mami tetapi tidak dengan cara seperti itu.”
Tekad Keyza sudah bulat, apa pun caranya ia harus bisa membebaskan mami. Dengan cepat dan keputusannya tidak akan pernah berubah. “Ya udah kalau lu ga mau bantu, gue akan cari mucikari lain,” ancam gadis itu yang hendak pergi dari hadapan Dina.
Awalnya Dina mengacuhkan, tetapi ketika melihat Keyza keluar dari kamar sambil membawa tas. Ia berlari mengejar dan meraih tangan gadis itu seraya berkata, “Oke gue akan bantu, tetapi lu jangan pergi!” Dina terpaksa menyetujui keinginan Keyza karena menggunakan cara yang sama dengannya dulu ketika mengancam mami untuk membawa ke dunia malam.
Keyza memeluk Dina dengan erat, mereka pun tampak tersedu. Semoga cara ini bisa menjadi awal dan akhir dari pengorbanan gadis itu.
“Gue akan bantu lu, tetapi cuma sekali ini saja. Habis itu pergi lah yang jauh agar tidak terjerumus lebih dalam lagi,” ujar Dina sambil membalas pelukan Keyza. [Maafkan aku Mi yang tidak bisa menjalankan amanatmu dengan baik,] ucap Dina di dalam hatinya.
“Iya Din gue janji hanya sekali saja,” ucap Keyza sambil melepas pelukannya.
“Oke, sekarang kita tidur, nanti malam gue akan carikan lu pelanggan!” seru Dina yang dijawab anggukan oleh Keyza.
Mungkin karena belum tidur semalaman, Keyza cepat terlelap dengan pulas. Dina juga hendak menyusul karena kepalanya mulai terasa berat, tetapi sebelum itu ia mengunci pintu apartemen dulu. Wanita itu takut Keyza melarikan diri dan dimanfaatkan oleh mucikari lain karena Keyza memiliki kecantikan yang luar biasa melebihi wanita pada umumnya.
Kini giliran Dina yang tidak bisa tidur. Ia masih memikirkan keinginan Keyza yang menurutnya nekat. Namun, dirinya juga tidak berdaya untuk membantu. Mencari pinjaman itu tidak lah mudah, apalagi dalam jumlah yang cukup besar. Padahal ia banyak kenalan om-om tajir, tetapi tidak ada yang percaya begitu saja tanpa adanya jaminan.
"Sudah biarin saja sih Din! Itu memang kewajiban Keyza sebagai putri kandung mami. Kenapa lu yang harus repot." suara hati Dina berkata.
"Jangan Din! Kasihan Keyza. Kamu harus ingat kalau mami telah menyelamatkanmu dari rumah bordir itu." Kini logika Dina yang bermain.
Dina terlihat bingung ketika batin dan logikanya berperang. Ditambah lagi ia mulai mengantuk berat sehingga membuat kepalanya terasa pusing. Wanita itu pun merebahkan tubuhnya di samping Keyza dan berharap omongan gadis itu adalah sebuah mimpi buruk.
BERSAMBUNG