Ketika menjelang zuhur Dina tampak menggeliat. Ia sontak terbangun dari tidur ketika tidak mendapati Keyza sisinya. Wanita itu turun dari ranjang untuk mencari gadis itu. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Keyza yang berdiri di hadapannya.
"Din, gue mau jenguk mami. Bukain pintunya!" pinta Keyza yang sudah bersiap untuk pergi.
Dina menarik nafas lega, ia sudah takut Keyza akan nekat kabur. "Kita ke sana bersama. Tunggu sebentar ya!Gue mau mandi dulu!" seru wanita itu yang dijawab anggukan oleh Keyza.
Setelah membasuh diri Dina merasa lebih baik. Kepalanya sudah tidak begitu pusing akibat pertengkarannya dengan Keyza tadi pagi. "Kita mau bawa apa buat mami?" tanya Dina yang sudah rapi.
"Aku sudah siapkan makan siang. Tadi masak sayur bening sama tempe goreng," jawab Keyza sambil memperlihatkan sebuah lunch box," kamu tidak makan dulu?" tanyanya kemudian.
"Nanti saja, aku belum lapar. Ayo jalan!" ajak Dina sambil berlalu.
Mereka segera keluar dari apartemen. Tidak lama kemudian sebuah taksi online tiba. Rupanya Keyza yang sudah mengordernya. Kendaraan itu pun meluncur ke tempat yang di tuju.
"Key, situasi sedang tidak baik, jadi gue tidak bisa ikut masuk ke dalam. Salam buat mami! Gue tunggu lu di rumah makan padang itu," pesan Dina sambil menoleh ke seberang.
Keyza mengerti jika Dina ikut membesuk mami, itu sama aja menyerahkan diri ke mulut harimau. Bisa-bisa wanita itu ikut terseret. "Oke, gue masuk dulu ya," pamit gadis itu yang dijawab anggukan oleh Dina.
Keyza segera masuk ke kantor polisi tempat ibunya ditahan. Tidak lama kemudian seorang polwan membawa mami keluar dan mereka pun bertemu.
Ibu dan anak itu saling berpelukan dengan erat.
"Mami," panggil Keyza dengan perasaan senang dan cemasnya.
"Sayang, kamu sama siapa ke sini?" tanya Mami Rosa dengan senyum yang mengembang. Terlihat kerinduan dan ketegaran yang terpancar dari sorot matanya. Namun, jauh di dalam hati kerapuhan sedang melanda jiwa.
Keyza menatap ibunya dengan saksama. Ia melihat wajah Mami Rosa sedikit pucat dengan spontan gadis itu pun bertanya, "Mami sakit?"
Sambil menggeleng Mami Rosa menjawab, "Mami baik-baik saja, Nak." Ia tetap tersenyum, menutupi beban pikirannya.
Sebenarnya wanita paruh baca itu memang sedang tidak fit. Itu karena selalu memikirkan putrinya. Sehingga berdampak buat kesehatannya sendiri.
"Mami sudah makan belum? Ini aku bawakan makan siang," ujar Keyza kembali.
"Belum, kita makan bareng ya" jawab Mami Rosa sambil mengajak.
"Aku sudah makan, aku suapin ya!" Gadis itu menawarkan diri untuk menyuapi ibunya.
"Kamu apa-apaan sih Nak, mami bisa sendiri," tolak Mami Rosa sambil tersenyum malu.
Akhirnya Keyza menemani ibunya makan siang. Ada getar perih dan sedih melihat orang yang dicintainya itu sedang terpuruk. Entah kenapa Keyza merasa kelahirannya ke dunia ini yang menyebabkan mami harus mengalami seperti ini. Ia tahu ibunya terpaksa menapak langkah di jalan yang gelap. Agar dirinya menjadi gadis malam yang tetap suci.
"Key, kok kamu malah bengong, jam besuk sudah habis!" ujar Mami Rosa yang menyadarkan putrinya dari lamunan.
Cepat sekali waktu berlalu,sedangkan Keyza masih ingin bersama dengan ibunya.
"Aku masih kangen sama Mami," ujar Kezya yang tidak mau pergi dari tempat itu.
"Besok-besok kita masih bertemu lagi sayang. Oh ya sekarang kamu tinggal di mana?" timpal Mami Rosa sambil bertanya.
"Di apartemen Dina, dia titip salam buat Mami," jawab Keyza yang terlihat sedih.
"Sudah mami duga, jaga diri baik-baik ya nak!" pesan Mami Rosa yang segera berdiri. Mereka pun saling berpelukan dengan erat, sebelum wanita paruh baya itu kembali ke dalam sel.
Keyza segera pergi dari tempat itu dan mencari tahu tentang perkembangan kasus ibunya. Berdasarkan info yang ia dapatkan, berkas Mami Rosa hampir rampung. Mungkin dalam satu dua hari lagi kasusnya sudah masuk ke pengadilan.
"Aku harus cari cara untuk dapat membebaskan mami segera, sebelum kasusnya disidangkan," lirih Keyza sambil berlalu dari tempat itu.
Sementara itu Dina segera berdiri dan menghampiri ketika melihat Keyza sudah keluar dari membesuk mami dengan wajah sedih dan murung. Mereka kemudian bertemu di pinggir jalan.
"Bagaimana keadaan mami?" tanya Dina ingin tahu.
"Mami drop Din dan bilang sudah tidak kuat lagi, minta dibebaskan secepatnya," jawab Keyza yang membuat Dina tampak terkejut mendengar hal itu. "Lu sudah janji mau bantuin gue," tagihnya kemudian dengan air mata yang hendak tumpah.
Dina terlihat bingung, jujur dirinya juga mencemaskan keadaan mami. Pikiran wanita itu jadi buntu, sepertinya sudah tidak ada cara lain. Akhirnya Dina pun berkata, "Oke kita bahas di rumah soal keinginan lu itu!"
***
Sesampai di apartemen, Dina segera membahas dengan serius keinginan Keyza untuk menjual kesuciannya demi membebaskan mami dari jerat hukum.
“Oke, one nigt stand adalah kencan satu malam. Di mana kalian tidak perlu mengenal satu sama lain. Datang, nego pembayaran, bercinta dan setelah itu selesai. Lu masih virgin minta bayaran yang mahal. Biasanya lelaki yang akan melakukan kencan itu adalah orang kaya, bagi mereka uang tidak masalah yang penting kepuasan, paham?” ujar Dina memberitahu dengan jelas.
"Berapa pun jumlahnya?" tanya Keyza agar lebih yakin.
"Yes, dengan status masih virgin, lu bisa buka harga misal dari satu milyar. Awalnya memang sakit, tetapi tenang saja hanya sebentar. Setelah itu ... tau lah," sahut Dina sambil menjelaskan kembali, "Satu hal yang harus lu ingat! Dapatkan dulu bayarannya baru berikan kepuasan!" tutur wanita itu kemudian.
Sambil mengangguk Keyza pun menjawab, "Gue mengerti."
"Bagus, jam tujuh kita akan bersiap-siap. Sekarang lu mandi dulu sana sebentar lagi mau magrib!" seru Dina yang langsung dituruti oleh Keyza.
Setelah membasuh diri Keyza baru saja melakukan salat magrib. Dilanjut dengan membaca Al-Quran dan kemudian disambung salat isya. Ada ketakutan, kesedihan dan sebuah tekad yang terpancar dari sorot mata indahnya. Sebentar lagi ia akan melakukan apa yang sangat dilarang oleh agama dan semua itu demi kebebasan ibunya.
Sambil menunggu Keyza selesai salat, Dina membuat makanan untuk mengisi perut. Wanita itu sebenarnya tidak tega kepada Keyza yang sebentar lagi akan melakukan one night stand, tetapi ia juga tidak bisa membantu lebih banyak lagi.
“Masih belum terlambat jika mau mundur sekarang,” ujar Dina menghampiri Keyza sambil membawa dua piring spaghetti siap saji.
“Gue sudah siap dan tidak akan berubah pikiran,” sahut Keyza dengan yakin.
Dina tampak menghela nafas panjang dan berkata, “Jujur gue merasa berdosa sekali telah membantu lu melakukan ini. Asal lu tahu, gue merasa bersalah kepada mami tidak dapat menepati janji."
“Please, jangan dibahas lagi!” pinta Keyza yang tidak mau memperdebatkan lagi keputusannya.
"Oke, ni makan dulu! Tidak lucu kan kalau lu kencan tiba-tiba perut keroncongan," ujar Dina sambil menyodorkan bawaannya.
Mereka kemudian makan bersama dengan saling terdiam satu sama lain.
Setelah selesai bersantap, Dina kemudian meraih sebuah tas kecil. Lalu mengambil kartu nama dan menghubungi nomor yang tertera di sana. Seperti sebuah kebetulan, kencan itu akan diterima buat Keyza.
[Halo, apakah tawaran one night standmu masih berlaku?" tanya Dina dengan serius.
[Yes,] jawab seorang lelaki singkat dari seberang sana.
[Berikan alamatnya!] seru Dina kembali.
[Apartemen Paradise no 1, jam 10 malam kamu harus sudah sampai ke sana!] jawab orang itu sambil berpesan.
[Oke,] sahut Dina dan panggilan itu terputus.
Dina kembali menatap Keyza yang sudah siap, terlihat sebuah ketakutan yang disembunyikan oleh gadis itu. Kemudian wanita itu pun berkata, "Jangan takut dia masih muda dan tampan."
Keyza terlihat sedikit lega mendengar hal itu. Semoga rencannya berjalan dengan lancar.
Dina menatap Keyza dan berseru, "Mendekat lah! Gue akan merias lu." Ia kemudian mengambil kotak make upnya. Keyza segera menghampiri dan duduk di depan wanita itu.
Dina jadi bingung apa yang harus di lakukannya untuk merias wajah Keyra karena gadis itu sudah sangat cantik alami. Alisnya tebal, mata indah dengan bulu yang lentik, hidung macung jadi tidak perlu dishading dan bibirnya merah muda. Dina kemudian hanya mengoles bedak tipis dan lip gloss. Setelah itu menggulung rambut Keyza yang panjang sebahu dan menjepitnya dengan kuat. Sehingga memperlihatkan leher gadis itu yang jenjang.
Setelah merias Keyza, Dina kemudian membuka lemari dan mengambil sebuah gaun terbaiknya. Di mana hanya dikenakan jika sedang melayani tamu dari kalangan elit saja. “Sekarang buka baju dan ganti dengan ini!” seru Dina sambil menyodorkan sebuah gaun berwarna unggu yang kurang bahan di bagian depan dan bawahnya.
Dengan gemetar Keyza menerima gaun itu dan mengamati dengan saksama. Ada keraguan yang terbalut sebuah tekad. Dengan malu dirinya pun berkata,
"Gue ganti di kamar mandi saja." Gadis itu pun berlalu dari hadapan Dina.
Sementara itu Dina segera merias dirinya. Kemudian memilih sebuah gaun buat job malam ini. Tiba-tiba wanita itu tampak tercengang melihat Keyza yang keluar dengan memakai busana yang diberikan. Di mana gaun itu terlihat pas di tubuh gadis itu karena badannya tidak beda jauh dengan Dina.
"Perfect,” puji Dina, jujur di dalam hatinya ia berdecak terkagum melihat body Keyza yang seperti gitar spanyol. Pantas saja mami sangat menjaga putrinya itu dengan baik. Ternyata Keyza memiliki kecantikan yang unik dan berbeda dari wanita lainnya.
Keyza terlihat seperti model dunia.
Sungguh ini kali pertama bagi gadis itu mengenakan busana yang memperlihatkan auratnya. Matanya indah itu mulai mengembun, tetapi seketika disapu oleh sebuah asa yang begitu besar.
[Maafkan aku Mi,] ucap Keyza dan Dina di dalam hati secara bersamaan.
"Din, boleh pakai cardigan dulu?" tanya Keyza yang merasa risih dengan busana yang dikenakannya.
Sambil mengangguk kemudian Dina menjawab, "Boleh, nanti kalau sudah masuk ke apartemen orang itu buka ya!"
"Iya," sahut Keyza yang segera mengambil cardigan dan memakainya. Jadi ia tidak akan merasa malu di dalam perjalanan nanti.
Dina kemudian memberikan Keyza sepatu wedges yang membuat gadis itu terlihat lebih jangkung. Setelah semua sudah siap, ia segera memesan taksi online. Tidak berapa lama kendaraan itu tiba dan segera mengantar kedua wanita itu ke suatu tempat
BERSAMBUNG