Bab. 5 Hadiah Terindah

1505 Kata
Mami Rosa dan para orang tua lainnya segera berdiri, ketika Keyza naik ke atas podium bersama beberapa orang mahasiswa yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Wanita paruh baya itu tampak terharu sekaligus merasa bangga. Ketika melihat putrinya begitu cantik mengenakan toga dan menjadi satu-satunya mahasiswi yang mendapat predikat c*m laude tahun ini. Mami Rosa sangat mencintai putrinya. Ia tidak mau Keyza mengikuti jejaknya yang kelam. Wanita itu tidak ingin mitos yang mengatakan 'Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya' akan terjadi kepada Keyza. Ada cerita tentang seorang ibu yang tega menjual kecantikan anaknya sendiri demi uang, tetapi tidak dengan Rosa. Ia sangat menjaga buah hatinya agar mendapatkan kehidupan lebih baik dan berada di jalan yang benar. Ternyata seburuk-buruknya mami, ia sangat tanggung jawab sebagai seorang ibu. Mungkin pribahasa yang mengatakan 'Sebuas-buasnya harimau tidak akan memakan anaknya sendiri' seperti itulah cinta mami kepada Keyza. Gadis itu di sekolahkan hingga mendapatkan gelar sarjana ekonomi. Ia juga diikuti kursus agama lewat online dan berlatih bela diri. Agar menjaga diri sendiri dari keisengan lelaki ketika Mami Rosa tidak bisa melindunginya. Tanpa wanita itu sadari butiran air mata mulai berjatuhan tanpa bisa di tahan lagi. Bebannya terasa mulai berkurang, tinggal menyerahkan Keyza kepada lelaki yang mencintai dan menyayanginya dengan setulus hati, tanpa melihat masa lalu Mami Rosa yang kelam. Baginya Keyza adalah anugerah terindah di dalam hidup ini. “Mami kenapa menangis?” tanya Keyza sambil menghampiri ibunya dengan heran. Mami Rosa segera menyeka air matanya dan menjawab, “Mami bangga sama kamu sayang, bisa lulus dengan perdikat terbaik.” Mendengar itu Keyza segera memeluk ibunya dengan erat. Ia juga bangga telah dilahirkan dari rahim seorang wanita yang kuat. Bagi gadis itu Mami Rosa adalah seorang ibu yang hebat dan tiada duanya. “Kita foto dulu yuk Mi!” ajak Keyza sambil melepas pelukannya. Sambil menggangguk Mami Rosa pun menjawab, “Ayo sayang.” Ibu dan anak itu pun segera mengambil beberapa gambar diri untuk kenang-kenangan saat wisuda Keyza yang sangat membanggakan. “Oh ya teman kamu mana yang bernama Lisa itu?” tanya Mami Rosa ingin tahu. “Skripsi Lisa ternyata di tolak Mi dan dia ingin mengulang di Australia,” jawab Keyza sambil berjalan beriringan dengan ibunya untuk pulang. “Mami doakan semoga kamu cepat mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan bidangmu,” ujar Mami Rosa dengan penuh harap. Keyza tampak tersenyum dan menjawab, ”Aaminn ….” “Hei Key, selamat ya,” ucap seorang pemuda tampan berkacamata dengan ramah. Keyza menyunggingkan seulas senyum dan mengucapkan, “Terima kasih, oh ya Mami kenalkan ini temanku Rama dia seorang sarjana seni rupa.” “Hai Tante,” sapa Rama sambil menyalim tangan ibunda Keyza. Mami Rosa tersenyum ramah dan membalas, “Iya Ram.” “Oh ya ini buat kamu.” Rama menyerahkan sebuah buku kecil kepada Keyza. “Apa ini Ram?” tanya Keyza dengan heran. “Anggap saja hadiah karena aku akan menetap di Bogor,” sahut Rama memberitahu kepulangannya ke kota ia berasal. Dengan senang hati Keyza menerima pemberian Rama dan mengucapkan, “Terima kaish ya, semoga kamu sukses sebagai seorang komikus," ujarnya mendoakan temannya itu. Rama tersenyum sehingga terlihat lesung pipinya dan membalas, “Sama-sama, aku duluan ya! Mari Tante.” Pemuda itu sekalian berpamitan yang dijawab anggukan oleh Keyza dan Mami Rosa. “Kamu tidak pernah cerita kalau punya teman cowok sayang?” tanya Mami Rosa ketika Rama sudah terlihat menjauh. “Dia cuma teman membaca di perpustakaan Mi,” sahut Keyza yang membuat ibunya mengangguk kecil. Mereka kemudian segera melanjutkan perjalanan untuk menuju ke parkiran. Ketika akan sampai ke mobil, tiba-tiba seorang lelaki memanggilnya. “Mbak Keyza.” Keyza segera menoleh dan melihat seorang pria dengan setelan jas rapi. Gadis itu menatap dengan saksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Keyza merasa tidak asing dengan wajah itu yang entah siapa. Orang berbadan kekar itu tersenyum sambil memegang buket mawar merah. Ia lalu menyodorkan bawaannya seraya berkata,“Bunga ini buat Mbak Keyza.” “Maaf, Mas ini siapa ya?” tanya Keyza yang tidak mau menerima bunga itu. “Mbak lupa ya? Saya yang mengantar malam itu,” jawab pria itu kembali yang membuat Keyza teringat. “Oh iya Mas supir, ini dari siapa?” tanya Keyza yang mengingat malam itu. “Pasti tahu lah, oh ya tolong diterima dong Mbak dan sekalian minta nomor ponsel dan alamat rumah.” Pria itu sedikit memaksa sehingga Keyza tidak dapat menolak pemberiannya lagi. Setelah diterima, pria itu mengeluarkan ponsel untuk mencatat apa yang telah ditugaskan kepadanya. [ Hem ... dasar modus, pasti pria itu menyuruh supirnya untuk mendekatiku. Oke kalau kamu mau kenal siapa aku yang sebenarnya,] lirih Keyza di dalam hatinya. “Tolong di catat ya Mas! 0895 ….” Keyza menyebutkan deretan angka nomor ponsel dan alamat sebuah rumah dengan lengkap. “Terima kasih Mba, permisi,” ucap pria itu sambil memasukan ponselnya ke dalam saku. “Sama-sama, tolong sampaikan terima kasih saya kepada bossmu,” sahut Keyza dengan tersenyum manis. Sementara itu Mami Rosa hanya menyimak dan menatap putrinya lekat-lekat, “Bunga dari siapa sayang?” tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan curiga. “Nanti aku ceritakan Mi,” jawab Keyza sambil bergegas masuk ke mobil. Sesampai di dalam kendaraan yang sedang meluncur. Keyza kemudian menceritakan ketika di ajak ke pesta oleh Lisa. Namun, ia hanya menjelaskan garis besarnya saja. Gadis itu tidak mau membuat ibunya berpikirnya yang tidak-tidak kepadanya. " ... begitu, Mami tidak marah kan?" tanya Keyza ketika mengakhiri ceritanya. “Tidak, tetapi kenapa kamu kasih nomor ponsel dan alamat rumah?” tanya Mami Rosa dengan khawatir. Keyza tertawa kecil dan segera membisikkan sesuatu ke telinga ibunya. “Dasar nakal kamu, tapi janji jangan seperti itu lagi!” ujar Mami Rosa sambil menggeleng. Sementara itu Keyza hanya tersenyum sambil memandangai buket bunga mawar merah ditangannya. Akhirnya mereka sampai rumah juga. Mami Rosa segera menuju ke kamarnya untuk beristirahat, begitu pun dengan Keyza. Gadis itu ingin membasuh dirinya dan tidur. Setelah mengikuti serangkaian acara wisuda hari ini yang cukup melelahkan. Setelah membasuh diri, Keyza duduk di bawah jendela. Angin berhembus semilir, membelai rambut gadis itu yang basah. Ia terlihat menikmati hembusan Sang bayu sambil membuka buku yang diberikan oleh Rama, satu-satunya teman lelaki di kampus. Keyza tertegun ketika melihat lembaran kertas itu yang berisi lukisan dirinya dari coretan pinsil. Terukir persis sekali dengan aslinya. "Maaf sudah melukismu diam-diam selama ini. Sampai jumpa lagi temanku yang cantik." Sebuah pesan tertulis di lembar terakhir. Keyza tersenyum membacanya, Rama juga membubuhkan sebuah tanda tangan dan nomor telepon. Gadis itu segera menyalinnya ke kontak ponsel. Mungkin suatu saat ia membutuhkan temannya itu untuk sharing karena nomor Lisa sudah tidak bisa dihubungi lagi. Tiba-tiba pandangan Keyza tertuju kepada buket yang diterimanya dari Dev. Jujur ia sempat tidak percaya jika pria itu mengirim bunga mawar yang cantik. Sehingga membawa angannya mengingat kencan pertama mereka pada malam itu. Di dalam hatinya Keyza mengakui, kalau Devan adalah lelaki yang tampan dan cool. Bertubuh tinggi tegap dengan hidung yang mancung. Persis seperti tokoh yang digambarkan dalam karya novel. "Masa sih dia suka sama aku? Tapi kalau tidak tertarik buat apa lelaki itu mengirim bunga ini?" tanya Keyza pada dirinya sendiri. Namun, Keyza segera menepis angannya karena tidak yakin jika pria itu orang baik. Dengan uang yang dimilikinya, sudah pasti lelaki itu memiliki banyak pacar yang cantik. Keyra pun tidak mau mengenal Devan lebih jauh lagi karena status sosial mereka berbeda jauh. Gadis itu tidak mau berharap seperti Cinderella. "Dor ...!" Tiba-tiba Dina datang mengagetkan Keyza, membuyarkan lamunannya seketika. "Cie ..., ngelamun aja yang habis diwisuda. Selamat ya?" ujar Dina sambil menyandarkan tubuhnya di tiang. Dengan kesalnya Keyza pun mengumpat,"Rese, sudah tadi ga dateng ke acara wisuda gue." "Sorry, gue bangun kesiangan. Si om pulang pagi, he ... he....," ucap Dina memberikan alasannya sambil terkekeh. Keyza membuang mukanya dan bertanya, "Terus lu ga bawa apa gitu buat gue?" "Itu gue bawain mie ayam bakso sama martabak. Habisin ya!" jawabnya sambil menatap bungkusan yang di letakkan di atas meja. Keyza berbalik dan tersenyum dengan tatapan berbinar. Ia lalu berucap, "Terima kasih cantik." "Modus," sahut Dina yang tidak sengaja melihat sebuah buket mawar, "Bunga dari siapa ni?" tanyanya kemudian. "Fans," jawab Keyza sambil mencomot sepotong martabak manis. "Ga percaya gue, ini bunga setangkainya saja mahal loh. Apalagi jadi buket seperti ini," ujar Dina yang tahu harga pasaran bunga itu. "Kalau lu mau ambil saja!" seru Keyza dengan entengnya. "Buat apa nanti juga layu, kalau bunga bank boleh juga," sahut Dina yang hanya ingin tahu saja bunga itu dari siapa. "Dasar mata duitan," cibir Keyza sambil tersenyum simpul. "Hidup itu memang butuh uang." Dina berkata apa adanya. Wanita itu terus mengatakan tentang prinsipnya soal kehidupan. Keyza tidak menghiraukan lagi. Ia pusing meladeni Dina yang seperti penyiar berita. Gadis itu memilih sibuk menghabiskan martabak kesukaannya sehingga membuat Dina kesal. "Kacang-kacang," gerutu Dina sambil keluar dari kamar Keyza karena merasa diacuhkan oleh gadis itu. Setelah kenyang Keyza pun mulai mengantuk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Gadis itu menganggap apa pun yang ia terima hari ini. Sebagai hadiah terindah yang pernah ia dapatkan. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN